Mengunjungi Museum Kata-kata Avianti Armand

Avianti Armand

Ditemui di Cozyfield, sebuah kafe di Pondok Indah Mall, perempuan kelahiran 21 Juli 1969 itu baru saja menyelesaikan rapat kecil dengan seorang desainer. Ia duduk manis di meja kecil dengan syal abu-abu melingkari lehernya. Di meja telah tersaji air mineral dan camilan siangnya, kentang goreng. Sebagai seorang arsitek aktif, Vivi, sapaan akrab Avianti Armand, memang kerap mendapat berbagai proyek arsitektur di tengah kesibukannya menulis. Siapa yang sangka, namanya kembali melejit usai meraih Kusala Sastra Khatulistiwa (KSK) untuk buku kumpulan puisinya Museum Masa Kecil.

“Untuk penghargaan KSK tahun ini saya merasa senang-senang saja. Semacam kesenangan yang tertunda karena buku itu sudah lebih jauh terbit. Walaupun begitu, buku itu saya tulis bukan untuk sebuah ajang. Lebih untuk menyelesaikan apa yang sudah ada di kepala saya,” ujarnya ketika ditanya bagaimana perasaannya terpilih untuk kedua kalinya di ajang bergengsi itu pada Oktober 2018. Memang pada 2011 ia juga mendapatkan penghargaan serupa untuk buku kumpulan puisinya Perempuan yang Dihapus Namanya

Museum Masa kecil sendiri tidak terlepas dari proyek menulisnya ketika ia mendapat beasiswa dari Komite Buku Nasional (KBN) dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk residensi ke London. Ia bercerita pada awalnya ia memiliki rencana untuk membuat satu buku berjudul Museum Masa Kecil yang akan terdiri atas dua bagian. “Bagian pertama ini yang saya sebut koleksi tetap itu campuran dari bermacam-macam recollection. Yang kedua, yang judulnya Catatan-catatan Menjadi Dewasa. Yang kedua ini sebetulnya saya lakukan risetnya waktu residensi di London. Jadi yang bagian pertama ini, yang sekarang ada di buku Museum Masa Kecil, saat itu sudah rampung delapan puluh persen. Itu yang saya gunakan sebagai proposal pengajuan residensi ke KBN.”

Proses kreatif Museum Masa Kecil berawal dari ketertarikannya pada buku Peter Pan yang telah banyak diadaptasi ke berbagai bentuk. Buku Peter Pan yang ditulis J.M. Barrie memiliki dua bagian. Pertama yang berjudul Peter Pan in Kensington Gardens dan yang kedua berjudul Peter and Wendy. Menurutnya kedua buku petualangan itu sangat puitis.

“Buku anak-anak yang bagus itu yang bisa dibaca anak umur tujuh tahun sampai orang umur 70 tahun, dan Peter Pan ini adalah salah satu buku yang memenuhi kriteria seperti itu,” ujar pencinta buku cerita anak ini.

Baginya buku-buku anak yang baik adalah yang bisa bersuara dengan suara anak-anak, bukan suara orang dewasa yang meceritakan kisah anak-anak. Menurutnya, buku seperti itu jarang sekali ada. Peter Pan dan Little Prince adalah beberapa buku anak yang menurutnya berhasil karena bisa menggambarkan dunia anak-anak sangat riil. “Saya kemudian mendapat ide untuk membuat buku puisi Museum Masa Kecil berdasarkan itu.”

Ia pun pada akhirnya melakukan perjalanan riset terhadap buku Peter Pan. Di tengah perjalanan seru itu ia mengakui banyak hal di masa kecilnya yang juga muncul kembali. Memori masa kecilnya memanggil-manggil seolah minta dikunjungi. “Pada saat saya melakukan kunjungan pada masa kecil saya, ada hal yang menarik. Hampir segala yang saya ingat dari masa lalu itu, sekarang ini—saya nggak berani bilang—bahwa itu yang benar-benar terjadi. Jadi yang saya ingat itu jangan-jangan adalah rekonstruksi dari saya hari ini. Gap semacam ini yang kemudian menarik untuk saya tuliskan.”

Foto: Dokumentasi Wa Ode Wulan Ratna untuk Jurnal Ruang
Foto: Dokumentasi Wa Ode Wulan Ratna untuk Jurnal Ruang

Museum Masa Kecil memiliki sudut pandang berbeda dengan buku keduanya Catatan-catatan Menjadi Dewasa yang tengah ditulisnya. Buku kedua ini akan berbicara banyak tentang sikap perubahan seorang anak menjadi dewasa. Ada proses menyakitkan, menyenangkan, kebimbangan, penuh kegalauan, misalnya untuk memutuskan sesuatu. Ketika pengetahuan telah memasuki seseorang maka pemahaman terhadap sesuatu akan berubah setiap harinya. Misalnya pemahaman tentang cinta, pasti akan berubah seiring bertambahnya usia dan pengalaman. Hal-hal semacam itu yang coba dituliskannya. Perihal bagaimana seseorang tidak pernah mau untuk menjadi dewasa atau tiba-tiba memutuskan untuk menjadi dewasa.

Dalam pengambilan judul buku, Vivi juga tidak melakukannya dengan sembarangan. Isi buku, judul, dan sampul buku, ketiganya harus memiliki korelasi. Judul menjadi satu daya pikat yang utama, ia harus memukau dalam waktu yang singkat. Selain itu juga harus menunjukkan ketulusan, kejujuran, dan tidak boleh pretensius. “Judul itu harus membangkitkan asosiasi sehingga orang terpancing untuk ingin tahu lebih jauh. Begitu orang mendengar Museum Masa Kecil, orang langsung nyambung, siapa sih yang tidak punya masa kecil?” jelas pecinta karya-karya Arundhati Roy dan Haruki Murakami ini antusias.

Anak pertama dari empat bersaudara ini memang dari kecil sangat suka membaca. Terlahir dari pasangan Pudjianto dan Sri Mulati, ia mulai dilanggankan Majalah Bobo ketika kedua orangtuanya tahu ia sudah bisa membaca. Konon di masa kecil saat pindah ke Jakarta, setiap anak dalam keluarga mendapat jatah untuk membeli satu buku di toko buku setiap minggunya. Vivi sangat senang karena di Jakarta pilihan buku anak terbilang sangat banyak. Pikiran cerdiknya pun tumbuh karena menyadari adik-adiknya tidak terlalu suka membaca. “Saya suka ngeracunin mereka dengan nyuruh beli buku ini atau itu yang saya suka. Agar saya bisa baca semuanya,” kenangnya sambil tersenyum simpul. Buku-buku zaman itu yang dibacanya terus seperti Peter Pan, Alice in Wonderland, Little Prince, dan karya-karya Enid Blyton.

Berlanjut sampai SMP dan SMA, kegemarannya membaca tak dapat dibendung. Ia menjadi pelanggan perpustakaan sekolah yang cukup rajin meminjam buku. “Yang lucu adalah ini, saya itu kalau makan harus sambil baca. Atau kalau baca harus sambil makan. Ya jadinya enggak berhenti baca,” ia tertawa.

Membaca baginya membuka dunia lain, meski terdengar klise, tetapi ia jadi tahu apa yang terjadi di luar sana melalui buku.

Ketika kuliah, awalnya tidak terpikir olehnya untuk menempuh jurusan Arsitektur sebab ia sangat ingin mengambil studi bidang Seni Rupa di salah satu kampus favoritnya di Bandung. Saat itu ia sedang jatuh hati ingin jadi perupa patung. Namun, ia tidak lolos di kampus pilihannya tersebut, “Itu satu-satunya sekolah yang saya ngelamar enggak keterima.” Tapi kemudian dia malah belajar arsitektur di Universitas Indonesia. “Ya akhirnya saya tetap bikin patung, tapi patung yang bisa ditempati, deh,” ia terkekeh.

Selama kuliah arsitektur, Vivi cukup khawatir karena merasa apa yang dipelajarinya sangat pragmatis, seputar bentuk dan syarat aneka gedung. Jurusan tersebut menjadi sama sekali tidak imajinatif baginya. Baru setelah ia bertemu dengan seorang dosen yang mengajar filosofi desain, yang baru menyelesaikan doktoralnya di Amerika, ia merasa terselamatkan.

Arsitektur menjadi sangat menarik perhatiannya ketika mereka terlibat intens membicarakan filosofinya.

“Membicarakan filosofi sebuah bangunan atau gedung, saya seperti ditarik jauh ke belakang. Tidak lagi dimulai dengan pertanyaan how to make a building, tetapi dengan pertanyaan why we make a building?” Selain itu, sepanjang perkuliahan, baru dosen tersebutlah yang mau menawarkan buku-bukunya untuk dipinjamkan kepadanya. “Jadi saya rajin sekali asistensi sama dia. Saya rajin sekali ke rumah dia pinjam buku dan kembali lagi kebiasaan saya untuk membaca, dan itu seru. Saya diingatkan pada hal yang sempat hilang.”

Kesenangan membaca akhirnya membawa ia pada kreativitas menulis. Awalnya ia sering nulis cerpen. Tetapi banyak orang mengatakan cerpennya seperti puisi. Akhirnya ia mulai menulis puisi, meski pada mulanya puisinya dianggap tidak cukup bagus oleh kawan diskusinya, Goenawan Mohamad. “Saya suka dikritik oleh Mas Gun, tapi bagi saya kritik itu bagus. Karena dengan begitu saya jadi belajar.”

Dengan kritik yang sering ia dapat dari Goenawan Mohamad, ia mulai banyak membaca puisi. Ia membaca puisi-puisi Goenawan Mohamad, Sapardi Djoko Damono, Chairil Anwar, Amir Hamzah, dan banyak lagi. Wawasannya tentang puisi menjadi sangat terbuka.

“Tapi anehnya dari semua puisi-puisi itu, puisi Sapardi-lah yang membuat saya bisa menulis. Ada satu puisi Sapardi yang judulnya Sonet I sampai XII. Itu saya gunting dari koran Kompas minggu waktu itu, dan kemudian saya baca berulang-ulang. Saya bilang pada diri saya sendiri, saya bisa bikin puisi kayak gitu. Dan puisi pertama saya yang saya buat karena itu dimuat di Koran Kompas,” kenang peraih penghargaan cerpen terbaik Kompas 2009 itu.

Vivi akhirnya berinisiatif membuat buku kumpulan puisi. Dimulai dengan mengambil satu tema tertentu yang saat itu ia beranggapan bisa didapat dari kitab suci. Menurutnya kitab suci sangat menarik karena isinya multi-interpretasi. Dari situ ia mengangkat satu tema tentang perempuan-perempuan yang ada dalam kitab suci. Ambigu memang, karena banyak tokoh perempuan yang tidak bisa dengan segera dikatan baik atau buruk, jahat atau jujur.

Ia mengakui, ia butuh penelitian selama empat bulan untuk bisa menuliskan puisi-puisi itu. “Empat bulan secara intens saya mempelajari perempuan-perempuan itu dari berbagai sudut pandang, buku, dan bahasan lainnya. Tiap pagi saya duduk di meja yang sama dan membuat catatan. Akhirnya keluarlah Perempuan yang Dihapus Namanya.”

Ibu satu anak yang sedang giat melakoni program vegan ini mengakui kalau kemampuannya menulis cerpen mulai berkurang ketika ia memperdalam puisi. “Waktu saya masih nulis cerpen, ya gampangan nulis cerpen. Begitu saya mulai nulis puisi, saya kayak nggak bisa lagi nulis cerpen dengan cara biasa, yang sudah selalu saya lakukan. Sampai sekarang saya belum menemukan lagi bagaimana caranya menulis cerpen, karena saya sudah nggak bisa menulis dengan cara yang lama.”  Bahkan dalam penulisan puisi pun ia menyadari adanya lompatan yang jauh sekali antara Perempuan yang Dihapus Namanya, Buku Tentang Ruang, dan Museum Masa Kecil.

Baginya menulis bukan hanya sekadar memiliki bakat. Kegiatan kreatif itu juga berkorelasi dengan pengetahuan dan pengalaman. Bakat saja tidak cukup. Bakat bahkan tidak akan bertahan lama. Penulis harus rajin mengekspos dirinya terhadap banyak hal lain. “Saya bersyukur karena saya punya dua dunia yang secara aktif saya lakukan. Mungkin bukan cuma dua, tapi tiga atau empat. Karena selain dari arsitektur sebagai profesi, saya juga jadi kurator arsitektur. Saya juga melakukan aktivitas sosial politik, jadi sebetulnya lingkaran saya cukup banyak. Kemudian saya juga menggemari musik, seni rupa, dan sebagainya. Itu memberikan pandangan dan wawasan yang luas bagi saya.” Menurutnya begitu seseorang berhenti belajar dengan mengekspos diri ke banyak hal, maka sesungguhnya ia berhenti juga menjadi kreatif.

Ia berharap bisa kembali menulis cerpen dengan gaya yang berbeda. Bahkan ia juga ingin menjajal menulis novel.

“Menulis novel itu tantangannya besar karena butuh intensitas yang enggak sekadar datang dan pergi. Tapi benar-benar harus duduk dan nulis plot, setia pada plotnya, riset, cocokin lagi sana-sini. Ada keinginan sih, cuma belum dapat ritme yang pas untuk nulis novel. Mungkin nanti kalau saya sudah berhasil vegan enam bulan ya,”  kelakarnya jenaka.

Vivi yang kala itu baru saja kembali dari Sharjah Book Fair di UEA juga menceritakan sedikit pengalamannya. Sharjah Book Fair pada awalnya adalah sebuah pameran buku lokal yang kemudian berkembang menuju skala internasional dengan menyewa Midas Agency untuk menangani strategi media dan publikasinya mendekati London Book Fair dan Frankfurt Book Fair. Dengan begitu mereka banyak mengundang penulis-penulis dari luar. Satu-satunya penulis wakil Indonesia yang diundang adalah dirinya. “Saya nggak tahu kenapa saya yang diundang. Tapi mungkin karena waktu di London Book Fair 2017 lalu saya mengisi satu acara poetry corner yang acara itu juga juga dipegang oleh Midas Media Publication,” duganya.

Di Sharjah  ia mengisi satu diskusi mengenai posisi puisi kontemporer untuk generasi muda bersama dua penyair dari negara lainnya.

“Saya cerita bahwa ada pergeseran media puisi. Kita sekarang itu tidak terlalu tergantung pada media konvensional seperti buku, karena ada saluran lain, ada koridor lain, yaitu media sosial. Sebagai contoh Rupi Kaur, Lang Leav, mereka itu menggunakan Instagram untuk posting puisi mereka ditambah dengan ilustrasi. Hal serupa juga dilakukan oleh Lala Bohang. Dan itu tengah menjadi tren.”

Menurutnya, fenomena pergeseran media puisi maupun teknik komunikasinya menjadi menarik. Salah satu contoh yang paling mudah adalah puisi-puisi Aan Mansyur yang akhirnya dikenal khalayak melalu film Ada Apa Dengan Cinta 2. Vivi menilai tidak ada yang salah dengan pergesaran itu. Justru dengan demikian puisi tetap hidup mengikuti zamannya dan yang utama dapat digemari kalangan anak muda.

Selain dari itu, di Sharjah juga merupakan satu acara yang sangat inspiratif baginya. Ia mengikuti kunjungan ke satu sekolah internasional. Anak-anaknya sangat antusias terhadap acara yang dibawakannya. “Di sini saya benar-benar sadar bahwa puisi adalah satu media yang sangat ekspresif terutama bagi anak muda.” Memperkenalkan literatur, puisi, di usia SMP dan SMA adalah waktu yang sangat tepat. “Ya itu, kan usia paling galau sepanjang hidup kita dan paling ekspresif.” Ia juga sangat sebal dengan kurikulum pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah-sekolah karena siswa tidak diperkenalkan bagaimana cara mengapresiasi puisi, menulis puisi, atau membahas puisi-puisi.

Kegiatannya selama di Sharjah Book Fair ini menginspirasi dan memicu semangatnya untuk bisa membuat program kunjungan ke sekolah-sekolah dan membuat apresiasi puisi. “Kita lihat aja ke depannya, I will do that! Saya harap tahun depan itu bisa menjadi program saya.” Selama menulis puisi, Vivi merasa puisi adalah bahasa paling jujur sebab secara personal mampu menyuarakan pikirannya. “Kalau secara general puisi itu untuk selalu mengingatkan kita bahwa di dunia ini tidak semua hal harus selesai, harus definitif, harus baku, dan kaku. Puisi itu adalah salah satu bendera yang menurut saya bisa kita kibarkan paling tinggi supaya orang lihat, ada hal-hal yang kalau dibilang nggak berguna, yang nggak apa-apa juga kita bikin selama itu membuat kita senang,” tutupnya meringkas obrolan sore itu.

Wa Ode Wulan Ratna
Wa Ode Wulan Ratna, seorang penulis yang karyanya mulai bermunculan di media cetak dan daring pada awal 2000. Buku kumpulan cerpennya Cari Aku di Canti meraih penghargaan Kusala Sastra Khatulistiwa 2008. Selain menjadi Project Officer di Dewan Kesenian Jakarta, ia juga seorang editor lepas serta pengajar lepas di Universitas Multimedia Nusantara dan Institut Kesenian Jakarta. Ia mengampu kanal sastra Jurnal Ruang pada periode 2016-2018.