Banjir Drama Pelukis Hendra

Surga Kemelut Pelukis Hendra

Surga Kemelut Pelukis Hendra: Dari Pengantin Revolusi Sampai Terali Besi merangkum ketokohan pelukis Hendra Gunawan. Hendra adalah salah satu dari tiga seniman Indonesia modern terpenting, bersama Sudjojono dan Affandi.

Seni rupa Indonesia modern muncul dan tumbuh pada masa revolusi. Seniman-seniman muncul dan berdaya tahan di tengah masyarakat yang masih dilanda ketidakpastian. Perang masih terjadi sewaktu-waktu. Krisis ekonomi juga masih membayangi.

Maka seni rupa menjadi semacam alat, demi mengobarkan gairah perjuangan, memupuk semangat kebangsaan dan mempersatukan umat manusia untuk lepas dari penjajahan.

Praktik seni lukis tiga serangkai ini menjadi kritik atas praktik seni lukis Mooi Indie yang sempat marak di Hindia Belanda pada abad ke 18 dan 19. Gaya seni lukis ini seperti berada dalam waktu dan tempat yang salah. Seni lukis ini menghadirkan keindahan alam (gunung, sawah, sungai, pohon kelapa) yang dilihat dari jauh.

Keindahan ini hanyalah keindahan yang semu, yang “menyembunyikan keberadaan petani-petani yang mengeluh, merintih dan menangis karena kakinya kena pacul, berdarah dan luka parah.”[1] Lukisan Mooi Indie menyajikan pandangan mata burung, yang menangkap objek dari jarak yang jauh. Ia memperlihatkan watak antroposentris manusia, menjadikan alam dan manusia lain sebagai objek pengetahuan yang kemudian melegitimasi mereka untuk melakukan eksploitasi dan penjajahan.

Sudjojono, Affandi dan Hendra punya kesadaran untuk melawan praktik melukis Mooi Indie, yang dibawa oleh pelukis-pelukis Eropa ke Hindia Belanda. Praktik ini kemudian makin melembaga. Para pelukis Eropa makin banyak yang tinggal di sini. Pelukis lokal juga mulai mempraktikkannya.

Lukisan-lukisan ini laku di pasaran, menjadi cinderamata bagi turis barat yang plesir ke Hindia Belanda. Imaji lukisan mooi indie juga direproduksi ke poster-poster, reklame dan kartu pos sebagai promosi wisata Hindia Belanda.

Melawan seni lukis mooi indie, lukisan Sudjojono, Affandi dan Hendra kebanyakan menampilkan manusia dalam pandangan mata katak. Gaya lukisan ini menampilkan dalam jarak dekat orang-orang yang mengungsi, ibu-ibu yang sedang bertransaksi di pasar, pengemis, hingga gerilyawan semenjana yang sedang mengaso.

Praktik seni lukis ini terilhami oleh gerakan seni lukis realisme di Perancis yang digaungkan oleh Gustave Courbet pada abad ke 19. Lukisan-lukisan Courbet menggambarkan keadaan rakyat yang sedang bekerja, atau orang-orang biasa dalam situasi keseharian dalam jarak dekat. Gaya seni lukis ini menjadi kritik atas gaya romantisisme yang menekankan glorifikasi masa lalu dan kemegahan yang mencerminkan fragmen-fragmen kehidupan kelas borjuis.

Tiga serangkai ini juga tak lupa untuk mencari dan menemukan gaya ungkap dalam menggambarkan objek-objek yang mereka lukis. Hal ini bisa dilihat sebagai keragaman wajah genre seni rupa Indonesia modern.

Sudjojono dengan kredo jiwa ketok: melukis sebagai praktik menggoreskan jejak kepengarangan sang seniman, sehingga meninggalkan aura yang menggetarkan pelihat. Affandi melukiskan objek dan suasana dengan plototan cat yang memperlihatkan ekspresi dan vitalitas manusia. Sedangkan Hendra dikenal melalui pemiuhan figur manusia yang khas wayang dan pengadopsian elemen dekoratif batik.

Hendra berfokus untuk menghadirkan jiwa manusia Indonesia, yang berabad-abad tercerabut dari akarnya oleh penjajahan. Masing-masing wajah itu menyerukan bahwa manusia Indonesia bisa punya keberanian untuk menyampaikan gagasan sebagai manusia seutuhnya, sebagai “bangsa muda menjadi”, yang “baru bisa bilang aku.”[2]

Posisi mereka juga signifikan karena di tengah masa-masa yang susah itu mereka mau bekerja lebih repot: menyumbang banyak pemikiran melalui tulisan, menginiasi serta mengelola sanggar atau kolektif untuk mematangkan teknik seni lukis demi memapankan seni rupa Indonesia modern dan menyebarkan kepercayaan dan harapan bahwa seni rupa Indonesia itu ada.

Konteks-konteks di atas memperlihatkan perlunya mengangkat narasi sosok ataupun pembacaan mendalam atas kekaryaan seniman-seniman Indonesia modern lainnya melalui publikasi-publikasi yang dapat dijangkau oleh semua kalangan.

Narasi seni rupa di Indonesia acapkali hadir dalam buku-buku meja kopi yang berukuran besar, bersampul keras dan tebal, berbahan premium yang membuatnya berharga mahal. Publikasi semacam ini hanya terjangkau bagi kalangan kelas menengah. Ini merupakan masalah dalam pertukaran dan diseminasi pengetahuan kesenirupaan di Indonesia. Maka dari itu format buku Surga Kemelut Pelukis Hendra ini yang berukuran tidak terlalu besar, bersampul paperback dan berharga terjangkau layak diapresiasi.

Judul “Surga kemelut” seperti berhasil menempatkan kisah-kisah Hendra menjadi yang paling dramatik dibandingkan dua pelukis lainnya. “Surga kemelut” mengandung ironi.

Frasa ini menggabungkan dua kata yang bermakna sangat bertolak belakang. Surga seperti apa yang berisi kemelut yang lekat dengan tragedi atau kesan ketidakstabilan? Terminologi surga bisa menyaran kepada tempat yang membuat kita nyaman. “Surga kemelut” mengesankan bahwa Hendra justru menikmati kemelut yang tak pernah usai dari hidupnya.

Dramatisasi yang terasa berlebihan ini juga menghiasi beberapa gaya pengisahan sang penulis terhadap detil-detil kehidupan Hendra yang lain. Mereka ibarat laku penyuntingan gambar bergerak zoom in, diimbuhi potongan musik yang menegangkan pada sebuah adegan sinetron kejar tayang.

Subjudul Dari Pengantin Revolusi Sampai Terali Besi sebenarnya kurang menggarisbawahi muatan apapun selain bunga dramatisasi. “Pengantin Revolusi” merujuk kepada salah satu judul lukisan Hendra yang terbaik. “Terali Besi” merujuk kisah tragis Hendra sebagai tapol saat dipenjara pada tahun 1967. Kendati diceritakan dalam buku, dua hal ini tidak memiliki hubungan yang terlalu jelas sebagai fondasi pendukung narasi tentang kemelut Hendra dalam buku ini.

Agus Derwaman T. adalah penulis yang paling sering menuliskan sosok pelukis Hendra, baik dalam buku kumpulan tulisan ataupun dalam monograf.

Beberapa informasi dalam buku ini pernah ia sebutkan dalam sebuah buku yang berjudul Hendra Gunawan: A Great Modern Indonesian Painter (2001). Buku ini ia tulis bersama Astri Wright, seorang sejarawan seni dari Kanada. Pengisahan buku ini enak diikuti, setidaknya hingga bab IV. Bab V hingga bab VIII nampak seperti kumpulan informasi yang terserak, alias tidak terjahit dengan baik, meskipun mengandung informasi-informasi penting.

Kemelut Drama dan Peristiwa-peristiwa Ganjil dalam Kehidupan Hendra

Hendra lahir pada 11 Juni 1918 di tengah keluarga menak. Ayahnya, Raden Prawiradilaga, adalah pegawai mapan di perusahaan kereta milik negara yang berkantor di Bandung. Ibunya, Raden Odah Tedjaningsih, seorang kelas menengah juga yang berasa dari Desa Jelekong, Bandung Selatan. Ibunya adalah putri dari Raden Karna Soemantri ang menjadi salah satu organisator kongres Boedi Oetomo pada 1928. Silsilah keluarga Hendra sekali lagi membuktikan bahwa kelas menengah acapkali menjadi pendorong perubahan.

Drama mulai hadir ketika ayahnya mulai tak betah di rumah dan menemukan pujaan baru di sosok Anna, seorang Indo Belanda. Prawiradilaga akhirnya bercerai dengan Odah. Hendra pun menjadi lebih dekat kepada ibunya dan diam-diam membenci ayahnya. Hendra kemudian sering pergi dari rumah selama berhari-hari. Hendra bisa berjalan-jalan mengelilingi kebun teh, ataupun memasuki hutan dan menyeberangi sungai hingga merasa terpanggil untuk menjadi pelukis. Panggilan ini menurut saya bertolak dari gejolak eskapisme Hendra dari kehidupan keluarga yang disfungsional.

Hendra banyak memetik pelajaran hidup dari sang ibu. Diceritakan ada sebuah peristiwa yang terus menginspirasi Hendra seumur hidupnya. Saat di sungai kecil ia menangkup segerombolan ikan cethul berwarna-warni dan ditunjukkan ke ibunya. Ibunya kemudian berkata “tingali nu laleutik, maneh bakalan manggih nu galede” yang artinya “perhatikan yang kecil, kamu bakal menemukan yang serba besar”.

Keterpesonaan Hendra atas warna-warna ikan cethul itu mendorongnya untuk memperhatikan ratusan jenis ikan lain, dengan warna yang lebih beraneka. Warna-warna ikan itu kemudian menginspirasi warna lukisan-lukisannya di masa depan.

Kesan kedekatan Hendra dengan sang ibu muncul dari lukisan-lukisannya yang sarat menampilkan sosok-sosok perempuan berdada besar, berkebaya dengan beraneka aktivitas: berjualan di pasar, kerokan, mencari kutu dan lain-lain.

Di masa kecil Hendra juga suka iseng membongkar kuburan-kuburan orang dan mengumpulkan tulang-tulang manusia tanpa alasan yang jelas. Hal ini mungkin dapat dihubungkan dengan kebisaan Hendra di masa depan sebagai dukun yang mampu menyembuhkan orang-orang gila.

Kisah yang paling sinetron mungkin saat Hendra remaja diangkat anak oleh seorang pria di Bandung. Periode ini adalah saat di mana sering lari dari rumah. Di rumah pria itu Hendra selalu disuguhi makanan enak. Ia tinggal di sana dalam waktu yang cukup lama hingga sebuah momen yang menggerus hati dan emosinya.

Saat ia berjalan-jalan untuk mencari objek menggambar ia melihat seorang pengemis menyodorkan nampan di di bawah jendela sebuah restoran. Ia mendekati pria itu dan terhenyak karena pria itu adalah ayah angkatnya sendiri. Ternyata makanan mewah ia santap hampir setiap hari adalah hasil mengemis sisa-sisa makanan di restoran. Perut Hendra mendadak mual. Ia kemudian memohon pamit kepada ayah angkatnya sembari dalam hati berjanji bahwa ia akan berkarya dengan memberi tempat pada orang-orang miskin.

Kisah-kisah superlatif dan nyeleneh ini makin didramatisasi oleh sang penulis dengan pilihan diksi atau ungkapan yang berlebihan atau penggunaan kalimat langsung yang seolah-olah berasal dari Hendra sendiri.

Drama kehidupan Hendra kembali hadir saat ia dicokok aparat pada Desember 1965 di Bandung. Sebagai Ketua Lekra Jawa Barat ia dianggap sebagai simpatisan komunis oleh pemerintah Orde Baru.

Saat ditangkap, salah satu yang paling ia khawatirkan adalah beberapa lukisannya. Dan kekhawatirannya menjadi kenyataan. Saat ia sudah dipenjara di Kebon Waru, Bandung, situasi di luar sangat kacau. Kemarahan rakyat terhadap PKI tak terbendung. Rumah Hendra juga dijarah. Barang-barang banyak yang dihancurkan, termasuk lukisan. Oleh penjarah lukisan Pengantin Revolusi digorok oleh seseorang. Sebelum penggorokan tuntas lukisan itu bisa diselamatkan oleh sahabat Hendra, Tatang Ganar (hlm 80).

Jika anda kebetulan bisa masuk ke ruang kerja Direktur Museum Seni Rupa dan Keramik di kompleks Kota Tua Jakarta, anda akan dapat melihat lukisan Pengantin Revolusi. Anda hanya membutuhkan sedikit kecermatan untuk melihat beberapa garis samar yang saling berpotongan membagi-bagi lukisan tersebut yang menandai bekas sambungan. Lukisan ini bersejarah karena menggambarkan sebuah peristiwa unik yang dialami Hendra saat menjadi saksi di garis depan pertempuran saat berlangsungnya revolusi fisik. Hendra saat itu tergabung dalam kelompok Pelukis Front yang bertugas merekam situasi pertempuran baik dengan lukisan maupun sketsa.

Salah satu peristiwa yang terekam dalam sketsa Hendra adalah pernikahan warga biasa di sela-sela pertempuran di kawasan Karawang. Sepasang pengantin itu berjalan diarak dengan iringan orkes tanjidor. Keunikan sepasang pengantin itu muncul dari busana pernikahan mereka. Sang mempelai pria mengenakan baju tentara. Sedangkan mempelai perempuan menggunakan busana penari topeng betawi. Sang pengantin perempuan duduk di rangka sepeda yang dipegang kemudinya oleh sang pria tanpa dikendarai. Dalam lukisan sepasang pengantin itu menatap kosong ke depan. Sementara Hendra dan dua orang kawannya nampak menatap mereka dengan tawa yang sedikit menghina. Momen yang terekam dalam lukisan ini amat mengharukan. Pasangan pengantin ini memulai sebentuk komitmen kehidupan baru dalam situasi yang serba sederhana, sama seperti ketika republik ini pertama kali terbentuk.

Kendati sketsa ini sudah ada sejak jaman revolusi fisik, baru pada 1955 ia ditindaklanjuti sebagai lukisan. Hidup di jaman yang susah membuat perekonomian Hendra dan keluarga tak menentu.

Sketsa-sketsa Hendra harus mengantre cukup lama untuk dieksekusi sebagai lukisan. Meskipun jadi lukisan-lukisan Hendra pada periode revolusi ini rata-rata berwarna kusam. Hendra dan pelukis-pelukis lain susah mendapatkan material melukis yang bermutu.

Mereka hanya bisa memberi pigmen-pigmen murahan di toko besi dan mencampurnya dengan bahan-bahan lain. Hendra pun kesusahan mendapatkan kanvas sehingga sampai-sampai menggunakan jarit istrinya karena saking kebeletnya melukis.

Detik-detik saat Hendra ditangkap disampaikan sekali lagi secara dramatis. Mengutip pernyataan Hendra, “Saya dulu juga ikut perang, memerdekakan Indonesia.” Pernyataan Hendra itu secara ironis dapat berarti negeri di mana Hendra ikut memperjuangkan kemerdekaannya ternyata kemudian memenjarakannya.Hendra dipenjara dan meninggalkan istri dan ketiga anaknya. Karmini sang istri harus banting tulang menghidupi tiga anaknya. Untungnya Hendra masih diperbolehkan melukis di penjara. Lukisan-lukisan itu Karmini jual dari rumah ke rumah.

Meskipun dinaungi keterbatasan, hasrat melukis Hendra tak pernah padam. Bahkan periode penjara adalah periode paling produktif Hendra sebagai pelukis. Merujuk lagi ke judul “Surga Kemelut”, Hendra menjumpai drama kembali ketika ia bertemu Nuraeni. Nuraeni adalah juga seorang tahanan atas aktivitasnya dalam Ikatan Pemuda Pelajar Indonesia (IPPI) yang juga dikaitkan dengan simpatisan komunis oleh aparat. Nuraeni pada awalnya adalah murid melukis Hendra yang kemudian Hendra angkat menjadi asistennya. Setelah itu ada cinlok (diksi yang dipilih penulis) di antara mereka berdua. Mereka berdua akhirnya menikah di penjara. Kisah semacam ini menjadi bumbu klise namun menyesakkan. Kebencian Hendra terhadap ayahnya yang menduakan ibunya seolah tidak berbanding lurus terhadap lakunya sendiri.

Drama kehidupan Hendra juga belum habis tatkala Hendra sudah berpulang. Setelah meninggal pada 1983 kasus-kasus pemalsuan lukisan Hendra semakin menjadi  karena harga lukisan Hendra yang membumbung di balai lelang. Banyak sekali muncul lukisan Hendra yang dipalsukan dengan beberapa cara. Misalnya menggambar sama persis dengan lukisan Hendra yang pernah dibuat. Ataupun melukis dengan gaya Hendra dengan perupaan yang belum pernah Hendra buat. Keduanya membubuhkan tanda tangan yang serupa dengan tanda tangan Hendra. Kasus pemalsuan lukisan ini memanas tatkala muncul buku monografi berjudul Hendra Gunawan Sang Pelukis Rakyat yang diterbitkan oleh Agung Tobing dan keluarga Hendra Gunawan pada 2014.

Ratusan lukisan Hendra di buku terindikasi palsu dan saya pun meyakininya. Status kasus ini masih mengambang sampai sekarang dan memperlihatkan pincangnya pranata seni rupa Indonesia. Seni rupa Indonesia masih terlalu dikuasai pasar. Norma dan standar moral terhadap penghormatan atas hak cipta masih belum terwadahi. Proses pertukaran pengetahuan juga masih terkendala akibat masih dipingitnya karya-karya seni rupa penting di rumah-rumah kolektor sehingga publik kurang dapat menjangkaunya.

Ada juga cerita tentang momen-momen penting Hendra dalam hidupnya saat berhubungan dengan tokoh-tokoh besar di Indonesia, yang menjadikan Hendra juga menjadi seorang tokoh. Interaksi dengan tokoh-tokoh ini memberikan sejumlah dorongan bagi Hendra untuk keputusan-keputusan penting dalam hidupnya. Tentu saja kisah-kisah ini tak luput dari drama.

Pertama adalah interaksi Hendra dengan Abdullah Suriosubroto dan anaknya, Basoeki Abdullah hadir saat Hendra akan berguru melukis. Pada suatu hari Hendra sedang berada di rumah Abdullah untuk menunggu keputusan apakah ia akan diterima sebagai murid oleh Abdullah. Ia tak sengaja mencuri dengar percakapan mereka berdua.

Basoeki meminta sang ayah untuk tidak menerima murid karena takut saingan melukis akan bertambah. Setelah itu Hendra kemudian pergi tanpa pamit menunggu jawaban Abdullah. Hendra kesal oleh percakapan itu, sembari bersumpah bahwa kelak, saat ia akan menjadi pelukis yang mapan ia akan membuka rumahnya sebagai sanggar agar para calon pelukis bisa belajar melukis darinya dengan percuma. Sumpah ini terbukti saat Hendra mendirikan Pelukis Rakyat.

Setelah tidak jadi berguru kepada Abdullah, Hendra kemudian berguru kepada Wahdi Sumanta, seorang pelukis pemandangan yang cukup terkenal di Bandung. Setelah lumayan cakap  melukis ia kemudian berusaha menimba ilmu kepada Affandi. Untuk meluluhkan hati Affandi Hendra kerap menyapu halaman, membuatkan kopi atau teh untuk Affandi. Hingga Affandi pun mengijinkan ia untuk berguru kepadanya sembari menyindir dia sebagai anak bangsawan yang mau belajar ke orang miskin. Mengutip pernyataan Affandi sebagai berikut, “Bagus kalau anak tunggal keluarga ningrat mau jadi batur.” Saya lagi-lagi tidak bisa memastikan apakah itu pernyataan dari Affandi sendiri atau gubahan yang merujuk kepada esensi pernyataan Affandi yang sebenarnya.

Selain itu yang harus disebut adalah interaksi Hendra dengan Sukarno. Hendra adalah salah satu dari banyak seniman yang hijrah ke Yogyakarta saat ibukota negara sementara berpindah ke sana.

Hendra meminta Sukarno untuk membuka pameran tunggalnya pada 1946. Pameran adalah pameran pertama setelah Indonesia merdeka, menempati gedung KNIP di Jalan Malioboro. Kisah pameran ini nyeleneh karena Hendra mengumpulkan para pengemis untuk menjadi pagar bagus dan pagar ayu untuk seremoni pembukaan. Sukarno yang pada awalnya tidak mengetahui bahwa mereka pengemis akhirnya menitikkan air mata. Keharuan sang proklamator muncul karena mungkin ia merasa diingatkan bahwa kerja kemerdekaan saat itu “belum selesai, belum apa-apa.”[3] Peristiwa ini juga seakan melunasi janji Hendra kepada ayah angkatnya dulu untuk mengangkat derajat kaum miskin. Penggambaran kaum-kaum kecil ini juga acapkali hadir pada lukisan Hendra.

Interaksi berbau kebatinan adalah saat Hendra berhubungan dengan Panglima Besar Jenderal Sudirman. Saat itu Hendra dan anggota-anggota Pelukis Rakyat sedang getol melakukan eksplorasi memahat patung dengan material batu kali. Teknik ini amat susah sehingga membuat Hendra untuk menimba ilmu kepada ahli pembuat kijing atau nisan kuburan di Yogyakarta. Eksplorasi ini masuk akal, Hendra hendak mewarisi kembali ilmu seni pahat batu khas Nusantara yang ada di candi-candi yang pengetahuannya makin hilang akibat penjajahan.

Setelah melakukan beberapa kali eksperimen Hendra akhirnya memberanikan diri untuk membuat patung tubuh Jenderal Sudirman yang niatnya untuk ditaruh di depan Gedung Agung pada 1950. Karena Sudirman sudah meninggal—dan entah kenapa dia tidak mencari fotonya saja— Hendra memutuskan untuk melakukan semedi untuk bertemu Sudirman “di dalam hati dan alam pikir”.

Setelah mendapatkan wangsit Hendra memberanikan diri untuk membuatnya. Momen saat Hendra menatahkan besi pahatnya di atas batu tatah itu ia rasakan berjalan sendiri membentuk sesuatu. Setelah patung itu selesai istri dan anak Sudirman dikabarkan sampai pingsan saat melihat saking persisnya wajah patung Sudirman itu dengan wajah Sudirman dalam kenyataan.

Ada lebih banyak lagi kisah-kisah drama di buku ini. Setelah membaca buku ini pembaca akan mendapatkan kesan bahwa Hendra mengalami momen-momen dramatik yang berada di luar kewajaran. Momen-momen itu mungkin dapat membuat pembaca menitikkan air mata atau geleng-geleng kepala atau malah sedikit jengah.

Di balik fasihnya drama hidup pelukis Hendra dikisahkan, narasi tentang kepakaran melukis Hendra justru lumayan terabaikan, meski kita masih dapat menemukan pemikiran-pemikiran Hendra yang otentik tentang kebudayaan di buku ini. Padahal narasi kepakaran melukis itu dapat memperlihatkan bagaimana seni rupa Indonesia modern menyumbang diskursus yang khas kepada kebudayaan Indonesia modern.

Judul: Surga Kemelut Pelukis Hendra: Dari Pengantin Revolusi Sampai Terali Besi

Penulis: Agus Dermawan T.

Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia (Jakarta), 2018

Tebal: xiii, 290 halaman


[1] Dikutip dari S. Sudjojono, Seorang Seniman dengan Sendirinya Harus Seorang Nasionalis dalam Seni Lukis, Kesenian dan Seniman, Yayasan Aksara Indonesia, 2000, hal.33.

[2] Dari Buat Gadis Rasid oleh Charil Anwar (1948)

[3] Dari Karawang Bekasi oleh Charil Anwar (1949)

Chabib Dwi Hapsoro
Chabib Duta Hapsoro, seorang kurator independen dan mahasiswa doktoral di Malay Studies Department, National University of Singapore.