Beragamnya Karakter Ciptaan: Perlukah Pengarang “Mengalami” Hidup Karakternya?

Becky Albertalli, Simon vs the Homo Sapiens Agenda

Awal September lalu, pengarang novel remaja Becky Albertalli mengungkap identitas seksualnya dalam sebuah tulisan panjang di Medium.

Karya pertamanya “Simon vs. The Homo Sapiens Agenda” (2015) mengisahkan seorang remaja laki-laki bernama Simon yang dipaksa mengaku gay karena berkirim surel dengan remaja laki-laki lain. Saat orang lain menuntut untuk come out, Simon harus bersiap dengan akibat jika ia menuruti tuntutan itu atau tidak.

Simon memang gay, tapi ia tidak—atau, dalam cerita, setidaknya belum—punya urgensi untuk menyebarluaskan identitas seksualnya. Tiga tahun setelah buku itu terbit, kisah Simon dialihwahanakan menjadi film remaja berjudul “Love, Simon” yang diperankan Nick Robinson. Setelah kemunculan film itu, nama Becky Arbetalli melangit. Ia semakin dikenal karena ‘melahirkan’ Simon. Namun, seiring ketenaran yang mengikuti, hujatan juga banyak diterima oleh Becky. Alasannya: Becky seorang cishet.

Cishet adalah gabungan kata cisgender (seorang yang mengikuti identitas seksualnya sesuai dengan jenis kelamin saat lahir) dan heterosexual (seorang yang memilih untuk melakukan hubungan seks dengan orang yang berbeda jenis kelamin). Biasanya, cishet dilabelkan pada mereka yang tidak mempertanyaan jenis kelamin dan identitas seksualnya. Bila kamu seorang perempuan sejak lahir lalu menikah dan berhubungan seksual dengan seorang laki-laki, itu berarti kamu adalah cishet.

Alih-alih penuh kebahagiaan, perasaan tertekan lebih cocok untuk menggambarkan tulisan coming out Becky itu. Ia lebih banyak bercerita tentang pengalaman dirinya yang ‘diejek’ karena novel karangannya tidak merepresentasikan dirinya yang seorang cishet dan malah menciptakan karakter seorang gay.

Banyak pertanyaan yang cenderung menghakimi datang saat ia diwawancarai terutama setelah film “Love, Simon” rilis. Pertanyaan seperti “Mengapa kamu, seorang perempuan cishet, menulis buku tentang seorang laki-laki remaja gay?” bermunculan sehingga membuatnya tidak nyaman. Dalam tulisannya itu, Becky mengatakan bahwa ia ‘membenci pertanyaan’ yang berhubungan dengan inspirasi pembuatan novelnya karena itu kerap akan berlanjut dengan pertanyaan-pertanyaan sejenis itu. Pertanyaan yang perlu digarisbawahi dari Becky adalah, “Mengapa kita, berulang kali, melewati batas antara mengkritik buku dan membuat asumsi perihal identitas si penulis?”

Tulisan Becky mengingatkan pada tulisan tahun 2017 berjudul “Representasi Karakter Diversitas Pada Novel Remaja”. Esai tersebut mengedepankan ide pentingnya ragam unsur karakter dalam karya remaja termasuk agama, kelompok/ras, identitas seksual, dan kelas sosial.

Dalam tulisan itu, terdapat contoh karya remaja dalam negeri yang merepresentasikan diversitas, dilengkapi wawancara dengan pengarangnya.

Pengarang pertama menyampaikan bahwa ia menciptakan karakter gay dalam novelnya atas dasar keinginan pribadi dan itu untuk merepresentasikan apa yang ada dalam pikirannya. Sementara pengarang kedua menyampaikan bahwa karakter buatannya murni fiksi dan tidak merepresentasikan pemikirannya.

Dari dua pengarang ini, terdapat dua pandangan dalam pembuatan karakter yang ‘beragam’.

Representasi karakter ciptaan: asli atau tidak?

Inspirasi dalam menciptakan suatu karya bisa datang dari mana saja. Dari dua contoh di atas, setidaknya ada dua opsi: yang berasal dari diri sendiri dan yang datang dari orang lain.

Ketika membicarakan karakter fiksi, opsi pertama berarti si pengarang menuangkan unsur-unsur dirinya sendiri dalam karakter karangannya, sedangkan si pengarang dengan opsi kedua menggunakan imajinasi atau bisa jadi meriset dalam penciptaan karakter buatannya dengan unsur-unsur penunjangnya. Penciptaan karakter tersebut mau tidak mau mengekspos hal lain: identitas si pengarang.

Melirik beberapa karya dari Amerika Serikat, upaya menumbuhkan karya remaja dengan representasi karakter yang menghadirkan diversitas agaknya meningkat.

Siapa yang tidak tahu novel remaja “The Hate U Give” (2017) karya pengarang kulit hitam Angie Thomas? Novel yang juga dikenal dengan singkatan “THUG” itu mengisahkan seorang gadis kulit hitam bernama Starr yang terpaksa harus melihat sahabatnya, Khalil, ditembak polisi. Cerita berlanjut pada perjuangan Starr menegakkan kebenaran dan keadilan dari sikap rasisme yang terjadi di sekitarnya pascakematian Khalil.

Angie mengaku bahwa ia terinspirasi dari gerakan Black Lives Matter. Namun, tentu saja unsur-unsur dirinya seperti kisah hidupnya sebagai seorang gadis kulit hitam juga tertuang dalam karakter Starr. Ada sentuhan autentisitas yang diberikan Angie kepada Starr. Kemasyhuran “The Hate U Give” semakin bergaung setelah diadaptasi menjadi film pada 2018.

Tidak dimungkiri bahwa Angie Thomas dan “The Hate U Give” adalah preseden dari opsi pertama. Angie menaruh unsur dirinya sebagai orang kulit hitam beserta pengalaman kelompok/rasnya ke dalam karakter Starr. Angie mampu dan, tentu saja, amat boleh melakukannya.

Di sisi lain, Becky Albertalli dengan Simon-nya bisa masuk ke opsi kedua. Itu karena Becky yang (sebelum tulisan panjangnya di Medium itu) seorang cishet membuat karakter gay. Ia membuat karakter yang tidak memiliki unsur dirinya dan itu dinilai keliru dan tidak asli dalam pengupayaan representasi keragaman.

Penilaian yang terlampau jauh

Dari Angie dan Becky, terlihat bahwa ada kecenderungan pembaca melakukan penilaian atas karakter rekaan dalam cerita yang, entah sengaja ataupun tidak, dikaitkan ataupun dianggap mesti berkaitan dengan identitas pengarangnya.

Dalam penilaian semacam itu, autentisitas atau keaslian yang coba dihadirkan oleh pengarang menjadi barometer yang tidak bisa dipisahkan. Penilaian itu akan berkutat pada ada atau tidaknya karakter “berbeda” dalam sebuah karangan sebagai bentuk representasi diversitas.

Belum cukup sampai di situ, penilaian kerap dilanjutkan semakin jauh dengan membandingkan karakter dengan identitas pengarang. Itu memberi kesan seolah-olah karakter kulit hitam hanya boleh ditulis oleh pengarang kulit hitam atau karakter gay harus diciptakan oleh pengarang gay. Jika berkaca pada karakter penulisan di Indonesia sebagai negeri dengan identitas yang majemuk, seakan-akan perkara SARA hanya dapat ditulis oleh orang-orang yang terlibat di urusan SARA tersebut.

Bagaimanapun, pembaca akan tetap menilai karya-karya yang dibacanya. Mereka akan memberikan rating di Goodreads. Mereka akan membuat ulasan singkat di media sosial ataupun resensi panjang untuk dimuat di media massa atau blog pribadi.

Seiring meningkatnya karya dengan representasi karakter beragam, sebagian pembaca juga merasa perlu untuk mempertanyakan autentisitasnya. Dan cara paling mudah melakukannya adalah dengan mencocokkan unsur-unsur dalam sebuah karya dengan identitas pengarang—atau yang pengarang novel remaja Ashley Woodfolk sebut dalam utasnya sebagai ’identity policing’.

Memahami ragam kreasi karakter dalam karya

Bertumbuhnya rilisan novel remaja dengan karakter beragam adalah satu hal. Namun, menghubung-hubungkan karakter dalam karya tersebut dengan identitas pengarang adalah hal lain. Keduanya kerap dileburkan demi mencari seberapa valid representasi diversitas sebuah karya—seberapa autentik itu.

Asalkan representasinya tepat, pengarang bisa menciptakan karakter dengan unsur diversitas apa pun. Representasi tepat itu terkait pada apakah keragaman karakter yang diusung sudah sesuai dengan gambaran sebenarnya, apalagi jika menyangkut kelompok ras atau identitas seksual tertentu.

Pada tataran itu, pengarang perlu mencari tahu unsur-unsur di luar dirinya yang akan dituangkan ke dalam karakter ciptaannya. Seorang pengarang tentu sangat mungkin dan sangat bisa meriset serta mewawancarai orang/kelompok dengan label identitas yang sesuai.

Becky menyampaikan dalam sebuah wawancara pada 2015 bahwa ia “meriset, mendengarkan, dan meminta masukan dari para pembaca gay” saat menulis “Simon vs. The Homo Sapiens Agenda”. Itu merupakan responsnya atas pertanyaan bagaimana ia menulis seputar orang-orang yang berbeda dari dirinya sendiri. Dalam wawancara yang sama, Becky pun menekankan pentingnya pendekatan masalah diversitas secara sungguh-sungguh.

Pemahaman bahwa ada latar belakang riset yang dilakukan pengarang pun amat perlu dimengerti oleh pembaca sehingga mereka tidak asal menembak pengarang apabila karakter dalam sebuah karya tidak sejalan dengan identitas pengarang sebagaimana yang diidealkan.

Dengan begitu, mungkin Becky tidak akan diberondong pertanyaan mengapa ia yang (dulunya) seorang cishet menciptakan karakter Simon yang gay. Dengan begitu, mungkin Becky tidak perlu membuat tulisan panjang itu di Medium.

Revisi: Pengubahan terjadi pada bagian deskripsi novel “The Hate U Give” yang sebelumnya keliru dan malah menggambarkan jalan cerita novel kedua Angie Thomas, “On the Come Up”. Diubah pada 20 September 2020 pukul 5:20 pagi.

Abduraafi Andrian
Penggila karya fiksi populer dengan fantasi sebagai genre favoritnya. Punya blog buku sendiri untuk menuangkan buah pemikiran atas buku yang baru dibacanya. Seorang Libra yang penuh pertimbangan dan tentu saja memesona.