Buku Rekomendasi 2020: 40 Bacaan Favorit dari 8 Toko Buku Kesayangan

Kolase Buku 2020

Tahun 2020 bukan tahun yang mudah bagi kita. Sebagian besar orang bertahan tinggal di rumah, berusaha memutus rantai penyebaran virus sembari berharap vaksin akan menyudahi pandemi. Diam di rumah sekarang ini tentu tidak sama seperti tahun-tahun sebelumnya. Kabar buruk datang silih berganti: kematian kerabat lantaran pandemi, kompromi dengan kantor tentang gaji dan pemutusan hubungan kerja, dan saat kita menengok ke negara lain, kepanikan dan paranoia yang sama menggelapkan dunia. Kita diingatkan akan betapa rentannya relasi manusia.

Sebagian dari kita mungkin membeli binokuler untuk melihat langit yang tampak lebih cerah. Atau yang paling sering, layar menjadi teman kita untuk terhindar dari berbagai luka yang tak tampak, sampai istilah screen fatigue pun jadi kawan saban hari. Komunikasi dengan perantara bentangan serat optik menghubungkan kita satu sama lain: pertemuan layar tak berkesudahan. Bahkan bernostalgia dengan membongkar dokumen-dokumen lawas pun kita lakukan.

Buku tak terkecuali. Dari tumpukan buku para tsundoku yang sudah lama tak terbaca, saat perlu benteng mekanisme pertahanan diri, buku memberi faktoid-faktoid unik untuk dikulik. Sepanjang tahun buku-buku setia menjadi teman, dan pada akhirnya berhasil ditamatkan.

Di tengah itu semua, tahun 2020 bukan tahun yang mudah untuk industri buku. Orang-orang di penerbitan perlu memutar otak lebih keras untuk memastikan setidaknya mesin cetak masih beroperasi. Distributor mengernyit melihat harga buku yang kian melangit. Para pegiat toko buku bersiasat. Sementara beberapa toko buku mesti tutup gerai dan pindah tempat. Penulis dan tim kreatif berupaya tak kalah keras untuk menyelesaikan manuskripnya, mengesampingkan kenyataan betapa pandemi terkadang mengacaukan emosi dan kognisi mereka.

Tim redaksi Kanal Buku Jurnal Ruang, mengapresiasi perjuangan dunia buku tahun 2020 ini, mengundang delapan toko buku dengan selera dan mutu yang kami percayai, untuk merekomendasikan judul buku favorit mereka di tahun 2020. 

Tradisinya, sih, toko buku menderetkan buku-buku best seller di rak buku mereka. Kali ini spesial, mereka membagikan judul buku favorit, kurasi pribadi para pengelola toko buku dengan tim, terlepas dari apakah buku itu laris terjual. Tidak semuanya menuliskan alasan pribadi mereka dan lebih memilih membuat pembaca tertarik dengan menyuguhkan sinopsis buku yang menggugah bagi mereka.

Harapannya, sih, judul-judul ini dapat memberikan warna bagi rak kita di tahun 2021 mendatang (bagi yang belum sempat beli dan baca), atau mengingatkan kita lagi bahwa di tengah deru laju teknologi blockchain dan internet of things, toh rilisan buku fisik pun masih tak kalah bersaing. 


POST Bookshop

POST Bookshop

POST Bookshop, toko buku alternatif di Pasar Santa Jakarta Selatan, dikelola oleh Maesy Ang dan Teddy W. Kusuma. POST Bookshop menjadi ruang alternatif untuk buku-buku yang sulit ditemukan di toko-toko buku besar. Itu sebabnya, di sini kamu bisa menemukan buku-buku dari penerbit independen, baik lokal maupun mancanegara. Buku-buku koleksi POST Bookshop dikurasi oleh Maesy dan Teddy sendiri: bisa jadi buku yang sedang mereka baca, atau rekomendasi kawan-kawan sesama pencinta buku, dan bisa diakses melalui akun instagram @post_santa. Berikut ini adalah lima judul buku favorit tahun 2020 yang dipilih Maesy dan Teddy:


A CONFEDERACY OF DUNCES – John Kennedy Toole (Grove Press, 1980)

(Bisa diperoleh di Tokopedia POST Press: Tautan)

Kami mengajak teman-teman pergi ke French Quarter di tahun 1960an, di sudut paling gegap gempita New Orleans. Di sana, kita berkenalan dengan Ignatius J. Reilly, pria bertubuh besar dengan kumis tebal dan topi berpenutup telinga. Ia sarjana filsafat abad pertengahan, dan ia benci segala hal tentang era modern — dan ia tinggal bersama ibunya. Si ibu mendesaknya mencari kerja dan kita akan mengikuti perjalanan Ignatius dari satu kekacauan ke kekacauan lain. Di pabrik celana ia mengorganisir protes para buruh yang gagal total. Saat menjadi pedagang hotdog keliling ia memakan sendiri sebagian besar dagangannya hingga terlalu kenyang untuk terus berjalan. Ini salah satu buku terlucu sekaligus tersedih yang pernah kami baca. Dengan jenaka ia mengolok-olok banyak hal; polisi, rasisme, kebobrokan masyarakat, hingga ketakutan berlebih akan komunisme. Jika kamu berjumpa dengan Ignatius, kamu mungkin senang mendengarnya menyumpahi segala sesuatu, hingga titik saat kamu ingin menggamparnya karena menghina segala pilihan hidupmu — dan menggasak makananmu. Cerita di seputar penerbitan buku ini juga tragis sekaligus mengharukan. John Kennedy Toole depresi dan mengakhiri hidupnya sendiri, salah satunya, karena naskahnya ditolak penerbit. Thelma, ibunya, menemukan kopi karbon manuskrip ini dan membawanya ke sana kemari, mendesak semua orang untuk membantu menerbitkannya. Sepuluh tahun kemudian, penulis Walker Percy, demi bersopan santun pada si Ibu yang keras kepala, membaca beberapa halaman buku ini dan mencoba menemukan alasan untuk monolaknya. Ia membaca, membaca, membaca, dan jatuh cinta pada Ignatius Reilly, juga segenap karakter nyentrik dalam kisahnya. Penerbit kecil di universitas Louisiana akhirnya menerbitkan naskah ini beberapa ratus eksemplar saja. Setahun sesudahnya, A Confederacy of Dunces menang Pulitzer dan jutaan kopi karya almarhum John Kennedy Toole dibaca luas — hingga kini.

THE HOUR OF THE STAR – Clarice Lispector (New Directions, 1977)

(Bisa diperoleh di Tokopedia POST Press: Tautan)

Waktu itu tahun 2016, saat kami melihat koleksi buku penulis Amerika Latin di POST dipenuhi penulis pria saja, dari Gabo, hingga Bolano, hingga Zambra. Saat kami mencari karya penulis perempuan Amerika Latin, kami berjumpa Clarice Lispector, dan begitu menyukainya (kami bahkan memasang fotonya di salah satu sisi toko buku). The Hour of the Star, karya Lispector yang pertama kami baca, adalah novela terakhirnya. Ia berkisah tentang seorang penulis pria bernama Rodrigo SM yang sedang berkutat dengan fiksi yang ditulisnya, terutama dengan tokohnya, Macabea, perempuan juru ketik yang tinggal di kampung kumuh di Rio De Janeiro. Ini bukan saja pergulatan penulis dengan karya yang ia bangun, ini juga pertaruhan ego dan kuasa antara Rodrigo SM dan Macabea. Saat akhirnya Macabea nyaris keluar dari kuasa penciptanya, Rodrigo SM membunuhnya. Namun demikian, yang meledak-ledak dari buku ini bukan hanya karakter dan plotnya, yang ditulis dengan kalimat-kalimat yang tajam, tapi juga observasi Clarice Lispector sendiri tentang hidup, ketimpangan kelas, dan apa artinya menulis. Di tahun yang berat ini, terkadang membaca buku-buku lama yang dulu disukai menghadirkan rasa akrab yang menenangkan. Dan, beberapa karya tetap bersinar bersama waktu. Tahun ini kami membaca ulang The Hour of The Star, dan tetap menyukainya, dan dengan gembira selalu merekomendasikannya untuk teman-teman sekalian.

BAGAIMANA CARA MENGATAKAN “TIDAK”? – Raisa Kamila (Buku Mojok, 2020)

(Bisa diperoleh di Tokopedia POST Press: Tautan)

Kami membaca cerpen Raisa Kamila pertama kali tahun lalu, menjelang sebuah diskusi di Post bersama Raisa dan teman-temannya di Perkawanan Perempuan Penulis. Cerpen itu judulnya “Cerita dari Sebelah Masjid Raya”. Kami suka cerita itu, tentang perempuan muda anak seorang pemangkas rambut pada hari-hari di sekitar perubahan sosial di Aceh. Saat buku kumpulan ceritanya terbit, kami juga menyukai bagaimana Raisa menulis isu-isu sosial yang kompleks, tentang agama, imigran, kapitalisme, melalui kejadian-kejadian sederhana. Kami ingat, misalnya, cerita tentang ruang publik sebelum dan sesudah syariat Islam diberlakukan di Aceh yang dituturkan melalui kegiatan ekstrakurikuler basket seorang remaja putri, atau cerita tentang kejadian mati lampu yang juga memberi gambaran kehidupan seorang anak dan istri dari bapak dan suami aktivis pergerakan. Melalui kisah-kisah sederhana, Raisa membangun dengan baik narasi tokoh-tokoh perempuan; gadis kecil, juga remaja, yang mencoba mencerna dan bernegosiasi dengan situasi yang serba tak pasti, dari pergantian rezim hingga konflik sosial hingga kejahatan kerabat yang seharusnya melindungi. Kami senang karya ini disambut dengan cukup baik oleh pembaca di 2020, dan semoga cerita-cerita Raisa menemui lebih banyak pembaca barunya di tahun yang akan datang.

JOKES FOR THE GUNMEN – Mazen Maarouf (Portobello Books, 2015)

(Bisa diperoleh di Tokopedia POST Press: Tautan)

Cerita-cerita Mazen Maarouf membawa kita ke jalanan Lebanon yang berdebu, dengan puing-puing sisa ledakan, orang-orang bersenjata di sudut jalan yang “menjaga keamanan” sambil menggampari orang sesukanya, dan melihat bagaimana perang berdampak pada mereka yang menjalani hari-harinya dalam teror yang tak henti. Kami menyukai bagaimana Maarouf menyajikan kengerian dengan menyandingkan hal sehari-hari dengan bayangan ketakutan yang diciptakan perang, misalnya, penggambaran suara tembakan yang mulai terbiasa didengar sebagaimana suara klakson mobil yang sesekali lewat di tengah malam. Kami menyukai bagaimana Maarouf menuliskan tokoh kanak-kanak di ceritanya, tentang cara pandang dan tindakan tak terduga yang diambil tokoh kanak-kanak ini dalam dunia yang dipenuhi kekerasan dan kepahitan. Kami selalu ingat cerita buah merica yang dijaga baik-baik karena si tokoh merasa di sana jiwanya tersimpan, juga jiwa saudara dan orang tuanya (walau buah yang menyimpan jiwa ayahnya ia petik dan injak di malam sesudah si ayah memukulnya), atau saat si anak mengumpulkan uang untuk menyewa pengawal agar ayahnya tak lagi dihajar tentara, atau saat ia mencoba menjual hati adiknya yang tuli kepada tentara yang ia yakini nyambi menjadi penyelundup organ. Si tokoh berkata bahwa adiknya punya dua hati, setidaknya itu yang ia dengar dari ibunya saat berkata adiknya yang tuli diberkahi hati yang lebih banyak dari orang lain.

THE BOOK OF JAKARTA – Sabda Armandio, Hanna Fransisca, Cyntha Hariadi, Afrizal Malna, Dewi Kharisma Michellia, Ratri Ninditya, Yusi Avianto Pareanom, utiuts, Ben Sohib, dan Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie. Editor: Maesy Ang dan Teddy W. Kusuma (Comma Press, 2020)

(Bisa diperoleh dengan kontak ke Instagram POST Press: Tautan)

Sekelompok lansia pergi ke Dunia Fantasi untuk sebuah petualangan terakhir, di hari terakhir Istana Boneka beroperasi. Di Kalibata, ibu dan anak mencoba keluar dari hantu masa lalu yang kembali muncul, dari masa ketika mereka hidup di Kramat Tunggak — sebuah cerita masa lalu Jakarta yang juga ingin mereka lupakan. Di perempatan Palmerah, dua pengamen berada di tengah demonstrasi yang berujung bentrok. Di pantai Mutiara, seorang gadis kecil membayangkan di sanalah matahari beristirahat. Sejak awal tahun ini, kami menyunting The Book of Jakarta untuk diterbitkan penerbit Comma Press, di Inggris, sebagai bagian dari seri Reading the City mereka. Buku ini berisi sepuluh cerita pendek dengan latar Jakarta, yang diterjemahkan ke bahasa Inggris dengan indah oleh penerjemah yang juga memiliki ikatan kuat dengan kota ini, tujuh di antaranya penerjemah asal Indonesia. Di bulan Desember ini, The Book of Jakarta terbit di Inggris, dan kami akan senang sekali jika teman-teman juga ikut dalam perjalanan keluar masuk gang berliku, melewati deretan rumah petak, lapangan bulu tangkis tanpa jala, konstruksi yang terbengkalai, dan melihat dari dekat bagaimana sepuluh penulis ini bersentuhan, mengalami, membayangkan, dan menuturkan Jakartanya.


Toko Buku Balzac

Toko Buku Balzac

Toko Buku Balzac dikelola oleh Harri Gieb (IG: @harrigieb). Toko Buku Balzac berlokasi di Pasar Kenari, Salemba, Jakarta Pusat. Bersama sekitar 60 toko buku lainnya, kamu bisa melakukan wisata buku di Pasar Kenari ini. Toko Buku Balzac juga menyediakan tempat untuk berdiskusi kecil-kecilan (30 orang) secara cuma-cuma! Sayangnya, karena pandemi toko offline ini harus tutup sementara, tapi kamu tetap bisa mengakses koleksi-koleksinya secara online melalui instagram pengelola atau melalui tagar #TOKOBALZAC. Koleksi Toko Buku Balzac cukup luas dan beraneka, kamu bisa menemukan buku-buku sastra, desain, sejarah, buku anak, musik, sosial budaya, dan beragam genre lainnya dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Berikut ini adalah lima judul pilihan yang menjadi rekomendasi Harri:


MATI MATI MATI – Mira Sato (Pabrik Tulisan, 1975)

(Informasi tentang buku kontak ke Instagram Harri Gieb: Tautan)

Mira Sato adalah Seno Gumira Ajidarma sebelum berjumpa dengan Alina. Seperti mengikuti ‘jalan ninja’ seorang penulis, bahwa ‘karier’ pertama adalah menulis puisi, meski kita tahu, pada akhirnya SGA menjadi seorang penulis novel, cerita pendek, dan esai. Karenanya, dalam beberapa kesempatan, SGA bilang, buku-buku puisi yang dia terbitkan adalah buku memalukan. Meski dalam catatan Mati Mati Mati, Bakdi Soemanto menulis, ‘…yang menjadi sasaran pengolahannya (Mira Sato) adalah respon-respon manusia terhadap rahasia-rahasia hidup, misteri. Tidak berlebihanlah kiranya jika dikatakan, tiga empat tahun mendatang Mira Sato adalah penyair yang sajaknya pantas diperhitungkan oleh Goenawan Mohamad, Prof. A. Teeuw atau Harry Aveling’.  Langka? Tentu saja.

RACUN CINTA – Enny Arrow (Penerbit Mawar) 

(Informasi tentang buku kontak ke Instagram Harri Gieb: Tautan)

Siapa sebenarnya Enny Arrow biar Ashadi Siregar saja yang tahu. Urusan kita berhenti pada teks-teks ‘menggelinjang’-nya saja. Stensilan ini cukup ‘sadis’ ceritanya. Tuty balas dendam dengan Rudy, laki-laki yang membuat hancur hidupnya. Tak tanggung-tanggung, Tuty nekat memotong kemaluan Rudy sehabis bercinta dengannya. Buku setebal 88 halaman ini memang dipenuhi birahi. Pembaca seperti tak dibiarkan bernafas untuk mengingat Tuhan, hajar terus per-gelinjang-an duniawi!

PEMBERONTAKAN NOVEMBER 1926: PEMBERONTAKAN NASIONAL PERTAMA DI INDONESIA – Lembaga Sedjarah PKI (Jajasan Pembaruan, 1961) 

(Informasi tentang buku kontak ke Instagram Harri Gieb: Tautan)

Meski Tan Malaka ‘menuduh’ pemberontakan ini sebagai ‘Demam Revolusi’, tapi menurut saya, Aliarcham mempunyai ‘kebenaran’ yang cadas, “Suatu pemberontakan yang mengalami kekalahan adalah tetap sah dan benar. Kita terima kekalahan ini karena musuh lebih kuat. Kita terima pembuangan ini sebagai satu risiko perjuangan yang kalah. Tidak ada di antara kita yang salah, karena kita berjuang melawan penjajahan. Pemerintah kolonial yang bersalah. Kita harus melawannya, juga di tanah pembuangan ini. Dan persatuan harus terus kita pelihara. Kita harus terus menggunakan waktu pembuangan ini untuk belajar pengetahuan Marxisme dan pengetahuan umum.” Sangat direkomendasikan bagi yang bercita-cita jadi Social Justice Warrior!

NURNANINGSIH AFFAIR – Djambak (Penerbit “Duaempatlima” Medan, 1955) 

(Informasi tentang buku kontak ke Instagram Harri Gieb: Tautan)

Foto ‘nude’-nya jadi buruan orang hingga sekarang. Nurnaningsih dalam berbagai artikel dinobatkan sebagai ‘bom seks’ pertama dalam dunia film Indonesia. Kisah hidupnya juga tak kalah ‘drama’ dengan skenario film. Kawin cerai demi menemukan arti hidup. Sekiranya hanya 2 buku yang secara khusus menulis kisah Nurnaningsih, salah satunya buku ini. Buku ini sangat direkomendasikan bagi Anda yang merasa dunia ini tidak adil. Silakan baca kisah Nurnaningsih dan bandingkan kesedihan Anda dengannya!

BALADA SI ROY JILID 1-10 – Gola Gong (Kompas Gramedia, 1989) 

(Informasi tentang buku kontak ke Instagram Harri Gieb: Tautan)

Buku ini saya rekomendasikan karena sedang digarap film-nya. Bagi anak 90-an, tentu tak asing dengan Si Roy. Dia-lah tokoh yang menemani kami akil baligh. Pada kondisi tertentu, Si Roy ini-lah yang menjadi role model: dari cara berpakaian, bergaul, dan tentu saja memperlakukan perempuan. Sangat, sangat, saya rekomendasikan bagi Anda yang suka baca Tere Liye!


Toko Mimamsa

Toko Mimamsa

Toko Mimamsa dikelola oleh Stanley Khu. Toko buku ini merupakan bagian dari Penerbit Mimamsa yang berlokasi di Bandung. Yang membuat Toko Mimamsa semakin menarik adalah diskusi-diskusi dan review buku yang secara rutin dilakukan di akun instagramnya, @tokomimamsa. Toko buku dan penerbit Mimamsa merupakan usaha alternatif yang bergerak dalam penerjemahan dan penyebaran sastra Asia Selatan, khususnya India. Namun tentu saja, selain buku-buku terjemahan sastra India, Toko Mimamsa juga memiliki koleksi buku sastra lokal dan mancanegara. Berikut ini adalah lima judul yang direkomendasikan Stanley:


AKU DAN FILM INDIA MELAWAN DUNIA – Mahfud Ikhwan (EA Books, 2017)

(Informasi tentang buku kontak ke Instagram Toko Mimamsa: Tautan)

Aku dan Film India Melawan Dunia (1&2) adalah manifesto sekaligus seruan dari seseorang yang membayangkan dirinya Sang Musuh Dunia. Dunia macam apa yang dimusuhinya (atau memusuhinya)? Sebuah dunia hegemonik di mana secara hierarkis eksis kasta-kasta penikmat film: Film-film Barat selaku kasta teratas dan Film-film India sebagai kasta terbawahnya. Melalui buku ini, Cak Mahfud tampil tak ubahnya Ambedkar yang memimpin kaum Paria untuk mengagitasi status quo jagat perfilman. Membaca tulisannya, saya tersadar bahwa selama ini, atas nama selera dan cita rasa dan kebudayaan, saya pun dimusuhi (diam-diam memusuhi) dunia. Maka bersama Babasaheb Ikhwan saya serukan: Ham duniya ke dushman hain, madar c***!

SAPI, BABI, PERANG, DAN TUKANG SIHIR: MENJAWAB TEKA-TEKI KEBUDAYAAN – Marvin Harris (Marjin Kiri, 2019)

(Informasi tentang buku kontak ke Instagram Toko Mimamsa: Tautan)

Salah satu mahakarya klasik antropologi ini bukannya tanpa cela. Tak sedikit pihak (pada dasarnya: para antropolog Prancis) yang mencibir mazhab pemikiran Harris sebagai materialisme vulgar atau materialisme jeroan karena penyajian argumennya yang dirasa kurang subtil dan berputar-putar (alias: kurang mampu membikin pusing pembaca). Tapi bagi saya, inilah buku yang mesti dikenalkan kepada siapa pun yang ingin belajar dan paham apa itu antropologi. Buku-buku ajar antropologi dari tingkat sekolah sampai kuliah, sepengetahuan saya, terlalu banyak dijejali teori abstrak dan contoh tak relevan yang tidak menarik minat baca. Tapi saya berani taruhan, siapa pun akan segera tersihir oleh antropologi begitu disodori pertanyaan: kenapa babi diharamkan oleh Islam? Wahyu dan teologi adalah satu jawaban, tapi manusia tidak hidup dalam kitab suci yang dibacanya. Manusia hidup dalam dunia empirik, sehingga penjelasan atas semua tingkah polahnya haruslah bersandar pada analisis empirik. Inilah, bagi saya, misi antropologi di dunia.

GADIS MINIMARKET – Sayaka Murata (Gramedia Pustaka utama, 2020)

(Informasi tentang buku kontak ke Instagram Toko Mimamsa: Tautan)

Gadis Minimarket adalah bacaan yang, boleh dibilang, menumbangkan konsep ‘kesadaran palsu’-nya Gramsci (sejauh yang saya pahami) dalam beberapa ronde. Kesan awal ketika membacanya adalah: masak iya ada manusia yang girang bukan main hanya karena bisa bekerja di minimarket seumur hidupnya? Saya bayangkan kelak di entah halaman berapa pastilah ada semacam plot twist yang membeberkan alasan sejati (‘tidak palsu’) bagi kepasrahan eksistensial si tokoh utama. Tapi sampai halaman terakhir, ternyata tidak ada yang berubah. Si gadis tetap girang dalam statusnya sebagai karyawati minimarket. Cara tutur penulisnya juga begitu gamblang dan sederhana dan apa adanya, sehingga memang tak ada yang disembunyikan: pengakuan si gadis memang valid. Justru, dunia dan orang-orang di sekitarnyalah yang keliru karena telah memaksakan definisi ‘normal’ padanya.

SANG PENGOCEH – Mario Vargas Llosa, diterjemahkan oleh Ronny Agustinus (Oak, 2016)

(Informasi tentang buku kontak ke Instagram Toko Mimamsa: Tautan)

Inisiasi perdana saya ke dalam khazanah kesusastraan Amerika Latin. Setahu saya kebanyakan orang mulai dari Garcia Marquez atau Borges atau Rulfo. Kasus saya beda. Saya bahkan kenal Vargas Llosa hanya gegara dulu Mimamsa sempat jadi reseller buku-buku terjemahan penerbit lokal (salah satunya mendiang Oak). Seratus Tahun Kesunyian memang judul yang saya akrabi, tapi itu pun karena stok bukunya yang langka dan harganya di pasar yang tak masuk akal (ini sebelum Gramedia akhirnya merilis terjemahan mereka). Jadi singkat kata, Sastra Amerika Latin cuma kabar burung di telinga saya, sesuatu yang sayup-sayup. Itu sebelum saya kenal Sang Pengoceh, yang terus mengoceh dan mengoceh dan membius saya masuk lebih dalam ke kosmologi Amazon. Sebuah pengalaman trance dan mabuk kalimat yang tak terlupakan.

CAPITALISM: A GHOST STORY – Arundhati Roy (Verso, 2014)

(Informasi tentang buku kontak ke Instagram Toko Mimamsa: Tautan, Verso)

Momok dalam manifesto duet maut Marx-Engels adalah komunisme, yang menghantui Eropa dan menebarkan ancaman revolusi yang sewaktu-waktu bakal tiba. Di sisi lain, momok yang dimaksud dalam buku Roy – sebuah manifesto dalam silsilah radikal yang sama – bukanlah -isme tertentu, melainkan suara-suara marjinal yang pilu, kelam, gelap, namun tak kelihatan publik; persis kisah momok standar. Membaca esai-esai Roy, kita dibikin paham bagaimana kapitalisme – karena corak internalnya yang eksploitatif – menumbalkan nyawa-nyawa tak berdosa dan lantas menjadikan mereka sebagai momok dalam dua artian: pertama, karena mereka yang tadinya hidup kini mati secara harfiah, dan kedua, karena tak ada yang tampaknya peduli pada keberadaan dan ketiadaan mereka. Kaum marjinal ini, secara paradoksal, adalah mayoritas penduduk Bumi ini. Jadi kaum marjinal ini adalah kita. Siapa pun yang membaca Capitalism akan mendapat kesan bahwa dirinya adalah calon hantu yang sedang membaca kisah hantu.


Littera Textilis

Littera Textilis

Littera Textilis didirikan oleh Mario F. Lawi dan Pradewi Tri Chatami dan saat ini dikelola mandiri oleh Pradewi Tri Chatami dan berpusat di Bandung. Koleksi buku Littera Textilis didominasi buku-buku sastra, sosial, dan budaya dan bisa diakses melalui akun instagram @litteratextilis atau website litteratextilis.com. Di bawah ini adalah lima judul favorit Pradewi yang direkomendasikan:


KISAH DARI KEBUN TERAKHIR – Tania Murray Li, diterjemahkan oleh Nadya Karimasari dan Ronny Agustinus (Marjin Kiri, 2020) 

(Bisa diperoleh di Instagram Littera Textilis: Tautan, kunjungi webnya juga: Tautan)

Sulit untuk tidak mengagumi kemampuan meneliti Tania Li yang ia imbangi dengan kecakapan menulis yang baik. Sejak pendahuluan, kita akan bertemu dengan Kasar yang menceritakan sepetak kebun terakhirnya. Kebun terakhirnya gersang dan hanya itu yang ia punya. Orang-orang Lauje yang tinggal di perbukitan miskin dan terbelakang dan mereka ingin memperbaiki nasib mereka. Begitulah yang tampak. Di baliknya, ada kebijakan kolonial sejak abad ke-18, kebijakan negara, dan pasar. Ada juga persoalan jenis tanaman yang dapat tumbuh di lahan tertentu, pola curah hujan, persuaan antara orang bukit dan pesisir. Ketika orang-orang mulai menanam tanaman komoditas, perubahan pemanfaatan lahan mendorong berakhirnya sistem adat berbagi lahan, hingga berakhirnya hutan primer sebagai cadangan tanah. Petani yang bisa mengakumulasi lahan dan modal menjadi pemenang dan sejahtera, Kasar dan yang tak dapat bertahan dalam persaingan kalah keluar dari arena. Buku ini menjadi penting karena “penggusuran ruang hidup” tidak hanya yang terjadi dengan paksaan dari segala sisi dan dilaksanakan dalam tempo sesingkat-singkatnya, tapi juga bertahap, melibatkan banyak pihak, dengan hasil yang tidak kalah merusak. 

ROMAN SUNDA ANTIKOLONIAL: RESISTENSI PRIBUMI TERHADAP KOLONIALISME DALAM SITI RAYATI (1923-1927) KARYA MOH SANOESI – Neneng Yanti Khozanatu Lahpan (Penerbit Layung, 2020) 

(Bisa diperoleh di Instagram Littera Textilis: Tautan, kunjungi webnya juga: Tautan)

Seingat saya, Siti Rayati tidak dibahas dalam pelajaran Basa Sunda semasa SMP (yang dibahas hanyalah Roman Sunda pertama: Baruang ka nu Ngarora karya D. K. Ardiwinata). Akses yang terbatas pada sastra Sunda lama membuat saya selalu senang jika menemukan orang yang membahas serius buku-buku sastra berbahasa Sunda, apalagi jika buku-buku tersebut tidak ada dalam “kanon”. Judul asli roman ini adalah Siti Rajati: Ti Noe Poek Ka Noe Tjaang, Asal Hina Djadi Moelia, terbit dalam tiga jilid tipis di Bandung, dengan bahasa Sunda yang tidak mengindahkan Undak Usuk Basa Sunda (semacam tata bahasa Sunda yang dianggap resmi). Neneng Yanti menemukan bahwa roman ini ternyata pernah dimuat sebagai feuilleton dalam Surat Kabar Mingguan Matahari dalam bahasa Melayu. Untuk buku ini, ia menggunakan Siti Rajati dalam bahasa Sunda. Selain membahas Siti Rajati, Neneng Yanti juga menyempatkan untuk memberi konteks latar roman ini lahir, mengapa ia masuk ke dalam geng sastra antikolonial, sebuah bacaan liar dengan membandingkannya dengan buku-buku Balai Pustaka. Moch, Sanoesi, sang pengarang roman, adalah aktivis SI yang kemudian aktif di SR. Ia juga sempat dibuang ke Digoel.  Di bagian akhir, Neneng Yanti juga menyertakan sinopsis cerita tiga jilid Siti Rajati. 

60 EPIGRAM TENTANG PUISI DAN PENYAIR – Martialis, diterjemahkan oleh Mario F. Lawi (Perkumpulan Komunitas Sastra Dusun Flobamora, 2020)

(Bisa diperoleh di Instagram Littera Textilis: Tautan, kunjungi webnya juga: Tautan)

Di antara beberapa terjemahan Latin Klasik yang telah dikerjakan Mario F. Lawi, 60 epigram ini boleh jadi akan saya rekomendasikan untuk dibaca pertama. Hal pertama yang terlintas ketika membaca buku ini adalah kamu duduk memegang kaleng Khong Guan dengan macam-macam kue di dalamnya. Kamu bisa jadi lebih menyukai wafer Ovid atau cracker Catullus, tapi kamu juga bisa mencicipi biskuit lain dalam satu kaleng, sekali duduk, Mario memberikan pengantar yang cukup memadai untuk berupaya memahami mengapa penyair ini penting: posisi Martialis sebagai penyair, pilihannya menulis epigram, relasinya dengan teks penyair lain. Kalau masih penasaran, setelah membaca terjemahan puisi dan pengantar di buku ini, bisa juga membaca kajian dari William Fitzgerald, Martial: The World of the Epigram. 

KUHARAP KAU MENEMUKAN BULAN – Alois A. Nugroho (Gramedia Pustaka Utama, 2020)

(Bisa diperoleh di Instagram Littera Textilis: Tautan, kunjungi webnya juga: Tautan)

Pandemi, kesepian, pemerintah tidak bisa diandalkan. Sewaktu-waktu kita (baiklah, saya) menutup pintu pada dunia dan membaca puisi-puisi yang memngkinkanmu untuk duduk diam dan membaca, mengistirahatkan beberapa macam emosi dan mengisi ulang tenaga. 

PESTA DI SARANG KELINCI – Juan Pablo Villalobos, diterjemahkan oleh Gita Nanda (Labirin Buku, 2020)

(Bisa diperoleh di web Littera Textilis: Tautan)

Menggunakan suara anak-anak untuk bicara hal-hal yang rumit memerlukan teknik bercerita yang baik dan Juan Pablo Villalobos melakukannya di buku ini, Kita terhibur dengan perkenalan Tochtli, tokoh-tokoh lain, kehidupan sehari-harinya, tanpa sadar kita sudah masuk perangkap dan ketika suasana sudah mencekam, kita tidak bisa melakukan apa-apa selain membuka halaman berikutnya dan ikut bersama Tochtli. 


Buku Akik

Buku Akik

Buku Akik berlokasi di Ngaglik, Sleman, dikelola oleh Tomi Wibisono dan tim. Koleksi Buku Akik mencakup sastra, politik, sosial, filsafat, dan buku nonfiksi berbahasa Indonesia dan Inggris. Selain menjual buku, Buku Akik juga mengadakan banyak kegiatan yang berkaitan dengan perbukuan, seperti mengulas buku dan diskusi. Selain bisa diakses melalui akun instagram @bukuakik, kegiatan-kegiatan yang dilakukan Buku Akik dapat juga disimak di kanal Youtube dan podcast di Spotify. Berikut ini adalah lima judul yang direkomendasikan oleh Tomi dan tim untukmu:


ON WRITING – Charles Bukowski (Shira Media, 2020) 

(Bisa diperoleh di Tokopedia Buku Akik Bookshop: Tautan)

Mungkin sejak namanya disebut pada buku best seller Sebuah Seni Bersikap Bodo Amat, banyak penerbit indonesia yang mulai menerjemahkan karya-karya Bukowski, sang penyair sekaligus pemabuk yang sinis ini. Buku On Writing adalah kumpulan surat-surat Bukowski, yang dikurasi oleh editornya khusus untuk tema-tema tentang dunia kepenulisan. Namun, jika yang dicari adalah motivasi positif atau tips dan trik menulis pada umumnya, tentu saja buku ini bukan pilihan tepat, dan itu yang membuat buku ini menarik, sebab berisi sebaliknya.  On Writing tak hanya untuk dibaca penggemar puisi-puisi Bukowski, tetapi juga untuk mereka yang para penulis maupun calon penulis. 

HARDCORE YEARS: LAPORAN DARI SKENA HARDCORE PUNK 80-AN – Pushed (Octopus Publishing, 2020) 

(Bisa diperoleh di Tokopedia Buku Akik Bookshop: Tautan)

Kemunculan buku ini adalah kabar baik bagi penikmat skena hardcore-punk. Kumpulan artikel dan artwork dari seorang perupa cum jurnalis punk legendaris bernama Pushead (Brian Schroeder) akhirnya bisa menyapa pembaca indonesia. Buku setebal 470 halaman ini berisi kumpulan tulisan dan artwork yang berserakan di zine-zine legendaris macam Maximum Rock’n’Roll, Touch and Go, Majalah Thrasher dan berbagai media lain dengan tema hardcore-punk. Sebuah harta karun! 

PERJAMUAN KHONG GUAN – Joko Pinurbo (Gramedia Pustaka Utama, 2020)

(Bisa diperoleh di Tokopedia Buku Akik Bookshop: Tautan)

Ada banyak buku puisi terbit di tahun yang brengsek ini tapi siapa bisa menandingi kecerdikan dan keasyikan Joko Pinurbo meramu kata-kata lewat buku Perjamuan Khong Guan? Kumpulan puisi di buku ini mencakup banyak tema, termasuk tema-tema yang cukup serius tetapi disuguhkan secara santai. 

DARI DALAM KUBUR – Soe Tjen Marching (Marjin Kiri, 2020) 

(Bisa diperoleh di Tokopedia Buku Akik Bookshop: Tautan)

Sebuah novel tentang tragedi terbesar di negeri ini yang dibalut melalui kisah sebuah keluarga, khususnya hubungan antar ibu dan anak yang penuh misteri, yang menuntunnya kepada sebuah realitas yang keji. Kehadiran Dari Dalam Kubur menjadi penting sebagai bagian menolak lupa tragedi 65, yang belakangan ini terasa mulai tidak dibicarakan lagi. 

ERA EMAS FILM INDONESIA 1998-2019: MEMOAR GARIN NUGROHO – Garin Nugroho (Warning Books, 2020) 

(Bisa diperoleh di Tokopedia Buku Akik Bookshop: Tautan)

Membaca buku ini seperti mengintip diary seorang sutradara kawakan yang berbicara banyak hal tentang film, menceritakan sejarah dunia perfilman yang terasa sangat aktual. Garin menuturkan pengalamannya yang berlimpah itu secara padat sekaligus menghibur. Sebuah buku yang bisa dinikmati pelaku hingga penikmat film. 


DemaBuku

Dema Buku

Dema Buku, dikelola oleh Djamal, merupakan salah satu toko buku terpercaya di kalangan pembaca karena menghadirkan koleksi lengkap dan beragam, juga selalu gesit merespons pemesanan buku. Koleksi Djamal terbagi ke dalam empat kategori: fiksi, nonfiksi, umum, dan anak-anak. Mereka menyediakan buku-buku dari berbagai bidang, mulai dari sastra dan filsafat, bahkan hingga parenting. Berpusat di Cilincing, Jakarta Utara, koleksi buku Dema Buku dapat diakses melalui akun instagram @demabuku dan web http://demabuku.com. Di bawah ini adalah lima judul yang dipilih oleh Djamal:


SEMASA – Teddy W. Kusuma & Maesy Ang (POST Press, 2019)

(Bisa diperoleh di Tokopedia Demabuku: Tautan)

Semasa bercerita tentang sepasang sepupu Coro dan Sachi yang harus melepaskan rumah masa kecil mereka, rumah yang mengingatkannya akan masa lalu, keluarga dan kenangan-kenangan masa kecil yang hidup di dalamnya. Buku ini sangat bisa diselesaikan dengan sekali duduk—jika tidak ada kegiatan lain yang sangat mendesak. Karena Teddy dan Maesy bercerita dengan sangat mengalir, membuat kita ikut hanyut ke dalam cerita. Seperti restoran padang, Semasa adalah cerita yang sederhana. Juga hangat.

MENGAPA AKU HARUS MEMBACA? – Abinaya Ghina Jamela (Penerbit Gorga, 2019)

(Bisa diperoleh di Tokopedia Demabuku: Tautan)

Naya mengajak kita melihat dunia dari kacamata anak-anak lewat buku yang ia baca dan film yang ia tonton lalu menceritakannya sambil menyampaikan opini, kritik, dan keluhan-keluhannya tentang kehidupan. 

PENDIDIKAN JASMANI DAN KESUNYIAN – Beni Satryo (EA Books, 2016)

(Bisa diperoleh di web Dema Buku: Tautan. Buku Beni yang terbaru biisa diperoleh di Tokopedia Demabuku: Tautan)

Membaca buku pwissie ini bisa jadi salah satu cara menyegarkan pikiran yang tidak keruan, melupakan masalah yang tidak ada habisnya, dan memulai makan pecel lele, atau mie cakalang, atau soto, atau klepon, atau onde dan lain-lain yang sudah disediakan lalu menutupnya dengan mengunyah Yupi sambil menertawakan kesedihan bersama puisi-puisi Beni.

KISAH SEEKOR CAMAR DAN KUCING YANG MENGAJARINYA TERBANG – Luis Sepúlveda (Marjin Kiri, 2020)

(Bisa diperoleh di Tokopedia Demabuku: Tautan)

Buku ini bercerita tentang Zobras, kucing pelabuhan yang bertemu seeokor camar betina. Camar itu terjatuh karena terkena tumpahan minyak. Sebelum meninggal ia meminta Zobras untuk berjanji tidak memakan telurnya, menjaganya hingga si piyik lahir dan mengajarinya terbang. Buku tipis yang manis, yang diterjemahkan dengan baik, dan tentu saja tidak hanya berbicara tentang persahabatan, janji yang harus ditepati, tapi juga tentang kerusakan lingkungan yang dibuat manusia. Mengajarkan banyak hal tanpa menggurui.

TERDEPAN, TERLUAR, TERTINGGAL: ANTOLOGI PUISI OBSKUR INDONESIA 1945-2045 – Martin Suryajaya (Penerbit Anagram, 2020)

(Edisi terbaru bisa diperoleh di Tokopedia Demabuku plus bonus buku Sastra Indonesia Ditinjau dari Atas Yamaha Mio edisi terbatas: Tautan)

Sulaiman H. mengumpulkan dan menyunting puisi yang ia temukan di tepian halaman buku, postingan oot di situs, zine dan lain sebagainya dari penyair-penyair obskur Indonesia, kemudian menuliskan profilnya. Ia memilihnya berdasarkan kuratorial yang cukup ketat, yakni seleranya sendiri. Meski sebenarnya ditulis satu orang, kita bisa menikmati puisi dengan suara yang berbeda-beda, seperti puisi anak dari Siti Kertapati, puisi yang tak biasa dari Yayasan Pancaroba, yang jenaka dari Nutrisari, sampai yang menggunakan bahasa unik dari Ircisor Gulagat. Buku ini bisa dibaca sebagai kumpulan puisi, novel, naskah drama, kritik sastra atau sebagai apa pun yang diyakini pembaca.


Berdikari Book

Berdikari Book

Berdikari Book adalah toko buku di Ngemplak, Sleman, yang digawangi oleh Dana. Jika kamu ingin mengakses buku-buku bertemakan sosialisme, Berdikari adalah toko buku yang tepat buatmu. Koleksi buku Berdikari mencakup buku agama, filsafat, sastra, sosial politik, sejarah, buku anak-anak, dan buku umum yang diterbitkan oleh penerbit-penerbit independen lokal. Selain mengelola laman di marketplace, mereka memiliki aplikasi yang tersedia di Apple Store dan Google Apps, yang membuat mengakses buku di Berdikari menjadi lebih mudah. Berikut ini adalah lima judul rekomendasi dari Dana dan tim:


PARADE HANTU SIANG BOLONG – Titah AW (Warning Books, 2020) 

(Bisa diperoleh di Tokopedia Berdikaribook: Tautan)

Parade Hantu Siang Bolong: Kumpulan Reportase Jurnalistik Menyoal Mitos dan Lokalitas. Perhatian pada detail merupakan salah satu jurus yang diajarkan banyak sekolah jurnalisme, serta diulang-ulang pada materi pelatihan menulis (berita). Tapi, nyatanya, tak semua produk jurnalistik berhasil menangkap detail secara piawai. Sebab, sebelum sampai ke sana, ada satu prasyarat yang tampaknya harus dikuasai terlebih dulu oleh seorang jurnalis. Hal itu adalah kepekaan.

Kepekaan Titah menjadi pembeda utama, sehingga laporan tentang pentas seni tradisi menikahkan bongkahan batu, tarian memanggil roh halus di Banyumas, atau cerita soal desa di Yogyakarta yang dihuni oleh hanya tujuh keluarga, memiliki daya gedor lebih buat pembaca. Bukan sekadar karena bahan dasar cerita “dari sononya” sudah menarik. Tidak. Percayalah, di tangan jurnalis yang belum mengasah kepekaan, cerita-cerita di atas hanya akan mengejar aspek sensasional, serta justru tidak menangkap pergolakan batin mereka yang menjadi subjek ceritanya.

SAINS DAN AGAMA – Albert Einstein, diterjemahkan oleh Hari Taqwan Santoso (Penerbit Circa, 2020)

(Bisa diperoleh di Tokopedia Berdikaribook: Tautan)

Meskipun agama dan sains saling bertentangan, tapi ada hubungan timbal balik dan saling ketergantungan yang kuat di antara keduanya. Meskipun memang agama yang menentukan tujuan-tujuan fundamental bagi manusia, tapi bagaimanapun, agama telah belajar dari sains, dalam arti luas, tentang sarana-sarana yang berkontribusi pada pencapaian tujuan-tujuan mendasar yang telah ditetapkan, sementara itu sains hanya dapat diciptakan oleh mereka yang sepenuhnya diilhami oleh aspirasi terhadap kebenaran dan pemahaman. Sumber perasaan ini, bagaimanapun, memancar dari ranah agama. Selain itu, ada kepercayaan pada kemungkinan bahwa tatanan yang valid bagi dunia eksistensi ini adalah rasional, yakni dapat dipahami dengan nalar. Saya tak dapat membayangkan seorang ilmuwan sejati tanpa iman yang mendalam semacam itu. Situasi ini dapat diungkapkan oleh sebuah gambaran: sains tanpa agama lumpuh, agama tanpa sains buta.

MENGAPA PEREMPUAN BERCINTA LEBIH BAIK DI BAWAH SOSIALISME – Kristen R. Ghodsee, diterjemahkan oleh Cep Subhan KM (Jalan Baru, 2020)

(Bisa diperoleh di Tokopedia Berdikaribook: Tautan)

Mengapa Perempuan Bercinta Lebih Baik Di Bawah Sosialisme? Sosialisme, jika dilakukan dengan benar, mengarah pada kemandirian, kondisi kerja yang lebih baik, keseimbangan kerja/keluarga yang lebih baik dan, ya, seks yang lebih baik.

MAP OF THE SOUL: PERSONA – Murray Stein (Shira Media, 2020)

(Bisa diperoleh di Tokopedia Berdikaribook: Tautan)

Persona adalah semacam topeng. Ia menutupi bagian dari dirimu yang tidak ingin kau tampakkan kepada orang lain, sekaligus mengekspresikan dirimu pada saat yang bersamaan. Persona tercipta melalui pilihan gaya hidup tertentu; melalui pakaian, gaya rambut, aksesori seperti perhiasan, tato, atau tindikan, melalui kosmetik dan wewangian, melalui orang-orang yang kau pilih sebagai kawan, melalui pilihan profesi, fan club, atau partai politik. Persona juga meliputi perilaku, ia bekerja di balik peran yang menunjukkan siapa dirimu di tengah-tengah orang lain. Namun, persona tidak menunjukkan siapa dirimu saat engkau sendirian. Dan ia sama sekali bukan gambaran dirimu secara keseluruhan.

GAGAL MENJADI MANUSIA – Osamu Dazai, diterjemahkan oleh Asri Pratiwi Wulandari (Penerbit Mai, 2020)

(Bisa diperoleh di Tokopedia Berdikaribook: Tautan)

Hidupku penuh aib. Catatan pria itu dimulai dengan pengakuan demikian. Ia menggunakan lawak untuk menipu dirinya sendiri, menipu orang lain, membuat kesalahan yang tidak dapat diperbaiki, lantas menjatuhkan keputusan atas dirinya sendiri bahwa ia gagal menjadi manusia.

Akan tetapi, begitu pria itu tidak ada, seorang wanita berkata dengan nada penuh rindu, “orangnya tulus, penuh perhatian… ia tetaplah anak yang baik, seperti tuhan.”

Karya Dazai Osamu yang mempertanyakan apa itu hidup sebagai manusia, dan apa itu hidup bersama manusia. Karya yang dipercaya menjadi surat wasiatnya.


Paperplane Bookstore

Paperplane Bookstore

Paperplane Bookstore adalah toko buku berbasis di Kotagede, Yogyakarta yang dikelola oleh Azwar R. Syafrudin. Mereka menyediakan perpustakaan mini dan toko buku dengan judul beraneka dari penerbit-penerbit independen lokal, di antaranya dari Marjin Kiri, Mojok, dan Basa Basi. Buku secondhand milik pribadi dengan kualitas yang baik juga menjadi kekhasan mereka. Berikut ini adalah lima judul buku yang menjadi favorit Paperplane Bookstore yang direkomendasikan untuk Kanal Buku Jurnal Ruang:


SENI MENCIPTA PUISI – Iman Budhi Santosa (Penerbit Circa, 2020)

(Bisa diperoleh di Tokopedia Paperplane Bookstore: Tautan

Buku Seni Mencipta Puisi: Menyingkap Rahasia dan Teknik Penciptaan Puisi dari Sang Maestro ini sengaja diperuntukkan bagi siapa pun yang ingin belajar mencipta puisi secara praktis. Sedangkan yang dimaksud belajar secara praktis adalah belajar mencipta puisi dengan mempelajari sendiri langsung pada pilihan-pilihan puisi yang dijadikan referensi. Sama halnya belajar mencangkul dengan memperhatikan bagaimana seorang petani mencangkul dan seperti apa hasil cangkulannya di sawah. Kemudian menirukan atau meneladaninya, sampai kemudian bisa mencangkul dengan baik di sawah milik pribadi.

MEDITASI – Marcus Aurelius, diterjemahkan oleh Nisa Khoiriah (Penerbit Basabasi, 2020)

(Bisa diperoleh di Tokopedia Paperplane Bookstore: Tautan)

Meditasi disusun dari tahun 161 hingga 180 M. Buku ini adalah salah satu karya terbaik mengenai filsafat Stoisisme. Ditulis dalam bahasa Yunani oleh satu-satunya kaisar Romawi yang juga seorang filsuf, Meditasi menawarkan serangkaian refleksi dan latihan spiritual menantang yang dikembangkan ketika Marcus Aurelius berjuang untuk memahami dirinya sendiri dan alam semesta.

AKU MENULIS MAKA AKU ADA – Kang Maman (Diva Press, 2020)

(Bisa diperoleh di Tokopedia Paperplane Bookstore: Tautan)

Menulis itu bukan cuma sulit, tapi sulit sekali. Ada juga yang bilang, menulis itu gampang. Bahkan, gampang sekali. Buku ini tidak membenturkan dua pendapat itu. Tapi, memaparkan perihal “menulis itu membaca berulang-ulang”. Berkarier di dunia kepenulisan sejak 1986, Kang Maman pun membuka rahasia sederhana “mengail 100 ide dalam sehari”.

Bukan omong kosong, 24 buku tercipta dalam 8 tahun adalah salah satu buktinya. Belum terhitung karya tulisnya yang tertuang di berbagai media, dialihwahanakan menjadi lirik lagu, acara radio dan televisi berbagai genre, pertunjukan panggung, dan ratusan film pendek melalui festival film pendek yang diadakan Gramedia dan belasan karya akhir mahasiswa institut seni di Yogyakarta.

RAB(B)I – Kedung Darma Romansha (Buku Mojok, 2020)

(Bisa diperoleh di Tokopedia Paperplane Bookstore: Tautan)

Susastra pantura? Dari telembuk alias pelacur sampai santri adalah para tokoh dalam kumpulan cerita pendek ini. Sebuah kolase: tentang peradaban urban pinggiran, yang dalam kemiskinannya tiada pernah putus asa meraih kebahagiaan. Namun kebahagiaan macam apakah yang sahih dalam dunia seperti itu? Kedung Darma Romansha mengisi ruang kosong sastra sejak novel Telembuk, begitu juga dengan Rab(b)i ini, tempat penulisnya terus berdangdut dengan mumpuni. Ya, kiranya istilah susastra dangdut sungguh relevan, sebagai genre baru yang lebih dari layak untuk terus digali. Telembuk maupun Rab(b)i adalah terapi bagi susastra Indonesia, yang kelewat dipenuhi kasus-kasus kejiwaan elitis kosmopolitan.

KERTAS BASAH – Dea Anugrah (Penerbit Gambang, 2020)

(Bisa diperoleh di Tokopedia Paperplane Bookstore: Tautan)

Seorang penyair yang perlu memperoleh tempat di rak buku kita tahun ini. Dea Anugrah dengan sangat jujur mengungkapkan alasannya menulis buku puisi ini:

Selepas menerbitkan Misa Arwah lima tahun lalu, saya tak mau menulis dengan cara yang sama, tetapi alangkah sukar melepaskan diri. Alih-alih menemukan suara dan gaya bicara yang lain, saya hanya tergagap-gagap. Semua yang saya ketik terasa palsu dan menyedihkan.

Kemudian saya menemukan buku-buku Nicanor Parra. Jika puisi sepatutnya berlapis, mendalam, mencerahkan, serta sanggup memindahkan para pembaca ke labirin khayali yang megah dan berbelit-belit, Parra menolak. Dia menyentak kita dengan keterus-terangan, klise, humor sepele. Puisi-puisinya menerbitkan senyum orang kebanyakan, bukan sekadar bahan ngocok para kritikus. “Puisi telah jadi surga si dungu yang khidmat selama setengah abad, sampai aku datang dan mendirikan roller coaster-ku,” katanya. “Naiklah, kalau kau mau. Bukan salahku kalau kau turun dengan hidung dan mulut berdarah.” Pada waktu yang sama, saya juga menemukan kembali William Carlos Williams, yang dulu saya baca sekilas-sekilas saja. Dalam pengantar Spring and All, Williams bercerita bahwa seorang kritikus menyebut karya-karyanya antipuisi, bukan puisi, sebab dia mengabaikan rima dan ritme. Williams tak sepakat. Baginya, puisi pada umumnya justru menghalangi persepsi pembaca terhadap kenyataan dengan berbagai ilusi. Dia kepengin memulangkan pembaca ke sini, saat ini.

Parra dan Williams punya kegelisahan serupa, memilih pendekatan yang berbeda, dan keduanya mengubah cara banyak orang memikirkan serta menulis puisi.

Buku ini tak sepatutnya dibaca sebagai upaya meneruskan inisiatif mereka. Saya hanya berusaha menolong diri sendiri, bukan puisi, apalagi bahasa Indonesia, dari kebuntuan yang menyengsarakan.

Kepada para pembaca yang berharap saya selamanya menulis seperti dalam Misa Arwah, saya mohon maaf. Janganlah menusuk saya kalau kita bertemu. Apa boleh buat, hal paling menggembirakan bagi saya sebagai penulis adalah kesempatan baru untuk bermain-main.