Belajar Menerjemahkan Bersama Ibu Tati

Sore terik tiba-tiba berubah mendung dan turun hujan. Tepat saat saya dan fotografer tiba di depan rumah sederhana yang terlihat sejuk. Beberapa tanaman dalam pot plastik berjejer di halaman depan rumah. Seorang nenek keluar menyambut kedatangan kami. Dari dalam rumah, seekor anjing berlari keluar dan terus menyalak. Dengan gesit, sang tuan rumah turun tangan untuk membuatnya anteng.

Rumah di kawasan Pamulang, Tangerang Selatan itu sudah ditinggali Maria Antonia Rahartati Bambang Haryo, atau yang biasa dipanggil Ibu Tati, sejak tahun 1980an. Selain bersama anjing peliharaannya, Ibu Tati tinggal bersama cucunya, Antonio Reinhard Wisesa. Di samping berkebun dan membenihkan tanaman hias di halaman depan rumah, Ibu Tati masih sibuk menerjemahkan dan menulis.

Label “penerjemah senior” patut disematkan pada Ibu Tati. Ada lebih dari 90 buku yang sudah diterjemahkan olehnya termasuk 19 komik Astérix yang dialihbahasakannya langsung dari bahasa Prancis. Di ruang tamunya yang dihiasi ilustrasi-ilustrasi berpigura karya Reinhard, kami berbincang mengenai komik Astérix, negara Prancis, dan karya kumpulan ceritanya yang berjudul Jeruk Kristal. Buku berisi sepuluh cerpen dan satu novelet itu diselipi ilustrasi ciamik yang digambar oleh sang cucu.

Ibu Tati dikenal sebagai penerjemah komik asal Prancis Astérix ke dalam bahasa Indonesia sejak tahun 1980an. Itu berawal ketika Ibu Tati yang pada waktu itu adalah seorang guru bahasa Prancis diminta oleh seseorang dari sebuah penerbitan untuk menerjemahkan komik Astérix. Apakah ibu begitu saja menerima tawaran tersebut?

Bapak Trim Soetidja, mantan redaksi majalah anak-anak Si Kuncung, memperkenalkan saya kepada Ibu Elisabeth Soeprapto-Hastrich, penanggung jawab komik Astérix penerbit Pustaka Sinar Harapan. Saya lalu diberi 10 halaman komik Negeri Dewa-Dewa untuk diterjemahkan. Setelah memeriksa hasilnya, Ibu Elisabeth langsung memberikan komik Perisai Arverna, dan sesudahnya, dari tahun 1984 hingga 1999, saya dipercaya menerjemahkan 19 komik; yang terakhir Obélix yang Malang.

Karya apa saja sih yang sudah Ibu Tati terjemahkan?

Jumlah seluruh buku yang sudah saya terjemahkan dan diterbitkan 99 judul; di samping 19 komik Astérix, saya juga menerjemahkan beberapa judul komik Iznogoud, The Brief Wondrous Life of Oscar Wao (Junot Diaz; pemenang hadiah Pulitzer), Wuthering Heights (Emily Brontë), beberapa judul karya Lisa See untuk Mizan (Agustus 2011), dan The Gods of Small Things (Arundhati Roy) untuk Yayasan Obor Indonesia. Sedangkan yang belum diterbitkan Dora Bruder (Patrick Modiano, pemenang Nobel Sastra tahun 2014) dan L’Esprit Démocratique des Lois (Dominique Schnapper) untuk Gramedia Pustaka Utama.

Ibu menerbitkan karya sendiri, Jeruk Kristal, yang diselipkan ilustrasi-ilustrasi sang cucu. Apa yang membuat ibu mengajak sang cucu untuk berkolaborasi pada Jeruk Kristal?

Bahkan sebelum saya menghubungi Gramedia Pustaka Utama, cucu saya, Antonio Reinhard Wisesa, sudah menyampaikan keinginannya untuk membuatkan ilustrasi untuk Jeruk Kristal. Kebetulan redaksi GPU bukan hanya menyetujui, tapi menyarankan agar Reinhard menggarap ilustrasinya. Redaksi memang sudah mengenal Reinhard. Ia pernah menggarap ilustrasi buku Tarian Hujan dari Jane Ardaneshwari. Mungkin juga karena redaksi tahu, bahwa ilustrasi Reinhard, 70+ Kisah Motivasi untuk Anak, karangan Imelda Saputra, terbitan Elex Media Komputindo, berhasil menjadi national best-seller.

Apa yang pada akhirnya membuat Ibu Tati menerbitkan cerita-cerita karya Ibu Tati?

Sudah sejak bertahun-tahun saya ingin sekali kumpulan cerpen saya dapat diterbitkan. Saya memberanikan diri menawarkan Jeruk Kristal ke redaksi GPU pada Januari 2017. Sepuluh bulan kemudian GPU memberikan jawaban yang saya tunggu-tunggu, Jeruk Kristal akhirnya diterbitkan pada akhir April 2018.

Butuh waktu berapa lama sampai semua cerita Ibu Tati terkumpul?

Sudah sejak lama cerita-cerita itu ada, karena pernah dimuat di beberapa majalah, antara lain Femina. Sebagian harus saya ketik kembali karena hanya berupa lembar fotokopian, sebagian lagi harus saya terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, karena aslinya, dalam bahasa Inggris, pernah dimuat di fanstory.com dan faithwriters.com. Saya kebetulan menjadi anggota dari kedua situs tersebut.

Cerita mana yang merupakan favorit Ibu Tati?

Saya suka “La Rue des Écoles”, karena merupakan pengalaman pribadi, menjadi saksi dari sikap seorang anak yang sangat tidak terpuji kepada ibunya. Pengalaman yang mengingatkan saya pada nasehat swargi Ibu, mengapa ada Sepuluh Perintah Allah, salah satunya berbunyi: “Hormatilah orang tua.” Saya ingat sekali kata beliau. Kenapa perintah itu ada? Karena anak tidak dengan sendirinya menghormati orang tua, dia harus selalu diingatkan. Berbeda dengan orangtua; mereka tidak perlu diingatkan untuk mencintai anak, karena biasanya, orang tua sudah dengan sendirinya mencintai anaknya.

Sebagian besar cerita-cerita Ibu Tati yang disajikan dalam Jeruk Kristal berlatar di Prancis. Seberapa dekat Ibu dengan negeri menara Eiffel itu?

Saya belajar bahasa Prancis sedari SMA, ketika bahasa itu masih belum sepopuler saat ini di Indonesia. Setelah melanjutkan kuliah di IKIP Semarang dan mengambil jurusan bahasa Prancis, selama beberapa tahun saya bekerja sebagai pemandu wisata. Saya beruntung menerima beberapa kali beasiswa dari pemerintah Prancis untuk memperdalam bahasa yang sangat saya sukai ini. Pengalaman selama tinggal di sana ikut membentuk dan menambah isi benak saya dengan seluk-beluk dan kebiasaan warga negeri menara Eiffel.

Bila disuruh memilih, Ibu Tati lebih suka menerjemahkan atau menulis?

Lebih suka yang mana? Saya suka sekali menerjemahkan, karena profesi ini menajamkan kesadaran untuk rendah hati, karena bahasa yang saya terjemahkan bukan bahasa ibu. Oleh karenanya, saya harus rajin membuka kamus dan bertanya kepada yang lebih tahu, terutama penutur asli. Menulis saya juga suka, karena memberikan kesempatan untuk mencurahkan isi pikiran sendiri, bukan sekadar menyampaikan pesan dari penulis bahasa sumber ke dalam bahasa Indonesia.

Saya pernah membuat pol di akun media sosial. Saya ingin tahu berapa banyak orang yang suka baca buku versi asli (dalam bahasa Inggris) atau versi terjemahan Bahasa Indonesia. Jawabannya lebih banyak yang suka membaca buku versi aslinya karena mereka lebih menangkap maksudnya. Apa pendapat Ibu Tati soal ini?

Mungkin saja. Artinya, pesan dari penulis bahasa sumber tidak tersampaikan seperti yang diterima oleh pembaca bahasa sumber. Penyimpangan itu terjadi, karena penerjemah tidak memahami sepenuhnya pesan dari penulis bahasa sumber.

Sebagai penerjemah, kalimat The quick brown fox jumps over the lazy dog (TQBFJOTLD) menjadi pegangan saya. Apa terjemahan dari kalimat TQBFJOTLD? Jika saya menerjemahkannya dengan Cerpelai coklat yang tangkas itu meloncat di atas anjing pemalas (CCYTIMDAAP), berarti saya tidak memahami pesan pembuat kalimat TQBFJOTLD, yang biasa digunakan oleh mereka yang sedang memperbaiki mesin ketik, apakah seluruh abjad berfungsi dengan baik. Maka saya coba membuat ‘terjemahan’ dari kalimat TQBFJOTLD. Hasilnya, Bumper Taxi Cory Aquino dihajar Volkswagen Fariz (BTCADVF), yang sama-sama mengandung seluruh abjad dari A hingga Z.

Apakah Ibu Tati juga sering membaca karya terjemahan bahasa Indonesia?

Ya, semasa Sekolah Rakyat (sekarang SD) saya sudah membaca Winnetou, The Adventure of Tom Sawyer, dan Adventures of Huckleberry Finn. Sejak mulai paham bahasa Inggris, kemudian bahasa Prancis, saya lebih banyak membaca buku aslinya, sekaligus sambil belajar, dengan cara mencari dan menyalin kata-kata yang sukar dan terjemahannya dari kamus.

Oh ya, omong-omong, Ibu Tati juga sedang menulis biografi sang ayah, RC Hardjosubroto. Benarkah?

Bukan RC Hardjosubroto, tapi RC Hardjasoebrata. Ya, saya sedang menyusun biografi keluarga, dengan mengambil judul ‘numpang tenar’, yaitu lirik tembang yang diciptakan swargi Bapak, Gundul Pacul. Karena bagi banyak orang Bapak lebih dikenal sebagai pengarang tembang dolanan anak, seperti Kidang Talun, Mentok-Mentok, Kupu Kuwe, Montor Cilik, dan lebih dari seratus tembang lainnya, saya memilih menulis Bapak sebagai pendamping Ibu, Ayah, dan Mbah Kakung bagi anak-anak dari kakak-kakak perempuan, dan anak-anak saya. Saya berharap akan dapat menyelesaikannya, jika Tuhan mengizinkan, sebelum akhir tahun ini.

Ibu Tati punya buku favorit? Apa saja?

Buku favorit? Hingga hari ini pun sekuel Winnetou karangan Karl May masih menancap dalam pikiran saya. Pertemuan yang akhirnya berlanjut menjadi persahabatan abadi antara Old Shatterhand dan Winnetou, ketua suku Apache disampaikan dengan gaya cerita Karl May yang sangat memukau.

Buku kedua, The Bridges of Madison County karya Robert James Walker karena kebetulan saya diminta menerjemahkan buku itu oleh Penerbit Erlangga. Kisah cinta yang terjadi di sebuah kota kecil di Amerika, yang digambarkan oleh Walker dengan sangat mencekam, membuat pembaca serasa ikut terlibat di dalamnya. Saya juga sangat menyukai filmnya, yang dibintangi oleh Clint Eastwood dan Meryl Streep.

Buku ketiga, Le Journal de Zlata, jeritan seorang anak Bosnia yang dituturkan oleh seorang gadis kecil bernama Zlata Filipovic, pada saat terjadinya perang Bosnia. Kehidupan Zlata yang terlindung dan menyenangkan tercabik-cabik oleh pecahnya perang saudara, dan harus menyaksikan runtuhnya kota Sarajevo yang dia cintai.

Abduraafi Andrian
Penggila karya fiksi populer dengan fantasi sebagai genre favoritnya. Punya blog buku sendiri untuk menuangkan buah pemikiran atas buku yang baru dibacanya. Seorang Libra yang penuh pertimbangan dan tentu saja memesona.