Ben Anderson dan Gagasan Nasionalisme Pemuda

Revolusi Pemuda, Ben Anderson

Penulis: Mario F. Lawi

Editor: Dewi Kharisma Michellia

Gagasan tentang nasionalisme adalah hal yang mungkin paling diingat dari Benedict Anderson. Dalam karya monumental Imagined Communities, Anderson membagi gelombang nasionalisme yang melanda negara-negara di berbagai belahan dunia. Nasionalisme dalam Imagined Communities adalah gagasan yang cikal-bakalnya bisa kita lacak dalam karyanya sebelumnya. Tulisan ini akan melihat bagaimana gagasan tentang nasionalisme ditampilkan Benedict Anderson dalam karya awalnya, Revoloesi Pemuda: Pendudukan Jepang dan Perlawanan di Jawa 1944-1946 (terjemahan dari versi Inggris Java in a Time of Revolution: Occupation and Resistance, 1944-1946). Sebelum melihat bagaimana nasionalisme awal digagas dalam karya yang diangkat dari disertasinya tersebut, pada bagian pertama saya akan mengisahkan secara singkat bagaimana nasionalisme dipaparkan oleh Anderson dalam Imagined Communities. 

Anderson adalah seorang Kahinian. Istilah ‘Kahinian’ disematkan kepadanya untuk menunjukkan pengaruh Kahin pada sejumlah gagasan dan elaborasi konsep-konsep utama yang terdapat dalam karya-karyanya. Bahkan, sebagai semacam bentuk legitimasi, edisi Inggris Revoloesi Pemoeda diberi pengantar oleh Kahin. Namun, Kahinian juga berarti bahwa Anderson tidak semata meneruskan apa yang telah dikerjakan Kahin, tetapi juga menjadi perevisi dan pengkritik karya Kahin melalui karya-karya yang ia tulis kemudian. Lebih jauh daripada pengaruh-pengaruh Kahin yang secara implisit maupun eksplisit dapat ditelusuri dalam karya-karya Anderson, ia sendiri justru mengakui bahwa Kahin adalah tokoh yang berpengaruh besar dalam orientasi politik dan kehidupan akademiknya. Kahin jugalah yang mendesak Anderson untuk menulis proposal disertasi tentang pendudukan Jepang di Indonesia yang menjadi cikal-bakal Revoloesi Pemoeda.

Dalam Imagined Communities, Anderson menggagas bagaimana nasionalisme yang dirumuskan melalui revolusi tersebut bergerak secara bertahap: pada negara-negara Eropa, negara-negara kreol, dan negara-negara “Dunia Baru”, yakni negara-negara Asia dan Afrika. Sebelum melihat bagaimana nasionalisme di negara-negara seperti Indonesia ditampilkan sebagai nasionalisme gelombang terakhir, penting untuk melihat bagaimana nasionalisme secara umum direfleksikan Anderson dalam Imagined Communities. 

Anderson meminjam gagasan Walter Benjamin dalam Illuminations—terutama dari “Tesis-Tesis tentang Filsafat Sejarah” tentang waktu mesianik—dan mengemukakan bahwa simultanitas masa lalu dan masa depan dalam kehadiran masa kini yang instan. Gagasan tentang waktu adalah gagasan tentang “homogeneous, empty time. Di dalamnya terdapat sejumlah kebetulan untuk bergerak bersama dan masyarakat sebagai entitas sosiologis bersama-sama bergerak dalam waktu yang homogen dan hampa tersebut. Menurut Anderson, waktu yang homogen dan hampa “ditandai bukan oleh citraan awal dan pemenuhannya, melainkan oleh koinsidensi temporal, dan diukur oleh jam dan kalender.” Meski relatif lebih reflektif dan filosofis dalam mendefinisikan nasionalisme, Anderson tetap bersandar pada revolusi sebagai faktor penggerak nasionalisme. Proses menemukan nasionalisme melalui revolusi tidak bisa dibilang singkat dan lancar sebab mesti dirintangi oleh pembunuhan-pembunuhan, penaklukan-penaklukan, perang saudara, penindasan, dan lain sebagainya. Kegagalan bahasa Latin menjadi lingua franca di Eropa, lahirnya industri perbukuan dan surat kabar yang mengiringi pesatnya kapitalisme (print capitalism) adalah awalan bagaimana bangsa-bangsa Eropa menemukan nasionalisme mereka. Anderson menunjukkan bahwa nasionalisme temuan bangsa-bangsa Eropa hadir beriringan dengan dan didukung oleh pesatnya perkembangan kapitalisme cetak dan revolusi bahasa. 

Penemuan “Dunia Baru”, penaklukannya, termasuk perlawanan bangsa-bangsa “yang pernah ditaklukkan” terhadap para penakluknya, secara fisik maupun ideologis, adalah hal-hal yang melandasi penemuan nasionalisme di negara-negara jajahan. Gagasan nasionalisme negara-negara jajahan justru dibentuk oleh kesadaran akan kesamaan nasib sebuah komunitas yang batas-batasnya ditentukan oleh penjajahan, dan, secara tidak sengaja, adalah usaha untuk membebaskan diri dari eksploitasi alam dan manusia atas nama kapitalisme. Bahasa-bahasa yang dipakai untuk menemukan nasionalisme, dalam mayoritas contoh yang ditampilkan, ‘dipinjam’ atau ‘diterima begitu saja’ oleh kaum tertakluk dari para penakluk, untuk menjadi sarana bagi memori kolektif mempertahankan dan melanjutkan nasionalisme.

Jalan berliku bahasa untuk menemukan nasionalisme melalui pembayangan bahasa bukannya tanpa kritik. Sering kali yang dimaksudkan dalam Imagined Communities sebagai bahasa vernakular perekat nasionalisme bangsa jajahan adalah bahasa yang hadir melalui represi dan regulasi yang diciptakan oleh pemerintah kolonial (termasuk bahasa Melayu yang digunakan sebagai bahasa Indonesia). Jika nasionalisme di Eropa berkembang baik salah satunya akibat tergerusnya bahasa Latin sebagai lingua franca sekaligus naiknya kelas bahasa vernakular dari berbagai bangsa melalui pesatnya perkembangan kapitalisme cetak, maka nasionalisme di negara-negara pascakolonial justru mengambil jalan melenyapkan (atau mendisiplinkan) bahasa-bahasa ibu yang beragam demi tegaknya “bahasa nasional”.

Lembaga dengan pendidikan Eropa maupun berbagai lembaga lain dan bacaan-bacaannya, bagi Anderson, turut mempengaruhi pembentukan nasionalisme gelombang terakhir di negara pascakolonial seperti Indonesia. Dalam pandangan ini, Anderson melalui Imagined Communities mengulangi pendapat sebelumnya dalam Revoloesi Pemoeda, dan pada aspek tertentu menyetujui apa yang sebelumnya disampaikan Kahin. Dengan mengutip tulisan Ki Hadjar Dewantara ”Als ik eens Nederlander was”, Anderson menunjukkan bahwa imperialisme dan kolonialisme adalah bentuk ekstrem dari wajah nasionalisme gelombang pertama.

Nasionalisme Awal Seorang Kahinian

Karya George Kahin, Nationalism and Revolution in Indonesia, yang terbit pada 1959 adalah titik tolak yang perlu kita ambil untuk sampai pada Revoloesi Pemoeda, karena karya Anderson, sebagaimana kita baca dalam memoarnya, berangkat dari hal yang tidak ditampilkan Kahin. Ada lima poin yang dapat dirangkum dari narasi Kahin dalam Nationalism and Revolution in Indonesia: (1) Kahin tidak secara filosofis menjabarkan makna nasionalisme. Meski demikian, benturan-benturan gagasan para elite yang menggerakkan revolusi Indonesia melawan kolonialisme dan imperialisme ditunjukkan oleh Kahin untuk mengemukakan secara implisit apa yang dimaksudnya dengan nasionalisme. (2) Nasionalisme Indonesia adalah nasionalisme elite. (3) Kesadaran akan nasionalisme yang tumbuh dalam benak para elite adalah hasil dari pendidikan Barat, dan kebutuhan mendefinisikan Indonesia adalah kebutuhan bersama untuk melawan kolonialisme yang juga datang dari Barat. (4) Karena yang menumbuhkan kesadaran akan nasionalisme adalah pendidikan, maka revolusi Indonesia membutuhkan para elite terdidik sebagai aktor utama. (5) Peran tokoh-tokoh Kiri dalam revolusi Indonesia cenderung diabaikan oleh Kahin dalam narasinya.

Menurut Anderson, bagian lemah dalam karya Kahin adalah periode masa pendudukan Jepang. Inilah salah satu alasan awal Anderson menulis Revoloesi Pemoeda. Dengan kata lain, karya Anderson awal ini adalah perbesaran terhadap salah satu bagian narasi sejarah revolusi yang sebelumnya telah ditampilkan Kahin. Dalam buku Revoloesi Pemoeda, ada sejumlah tawaran wacana lain atas wacana yang disodorkan Kahin. Revoloesi Pemoeda dibuka dengan diskusi tentang rentang kategori usia pemuda di kalangan masyarakat Jawa, sistem pendidikan tradisional pesantren dan keadaan kolonial Jepang yang membentuk pemuda. Pembahasan Anderson kemudian bergerak ke pengaruh-pengaruh lembaga bentukan Jepang, yang pada bagian tertentu, mirip pesantren. Dalam pembahasan ini, pemuda yang masif dan anonim mulai bergeser dan dikerucutkan kepada beberapa nama pemuda dari golongan elite dan lembaga-lembaga yang membesarkan mereka. Namun, pada bagian ini, penjelasan tentang pengalaman nasionalisme yang dirasakan para pemuda dari golongan elite sebagaimana disampaikan Kahin dalam karya sebelumnya, digeser Anderson.

Jika dalam karyanya Kahin percaya bahwa pendidikan Barat dan pengalaman kolonialismelah yang menumbuhkan rasa nasionalisme dalam diri para elite Indonesia, dalam Revoloesi Pemoeda, Anderson menambahkan bahwa nasionalisme dalam diri para elite tumbuh bukan saja berkat pendidikan modern Barat, melainkan juga melalui pendidikan masyarakat tradisional, yakni pesantren. Para elite yang dimaksudkan Anderson tentu saja para elite yang datang dari kelompok pemuda, kelompok yang menurutnya memainkan peranan terbesar dalam revolusi, bukan kelompok elite sebagaimana ditampilkan dalam narasi Kahin. Para elite yang kemudian muncul dari para pemuda adalah para elite yang tidak hanya mengalami keterasingan sebagaimana ditunjukkan Kahin, tetapi juga yang mengecap sendiri pahit getir revolusi bersama teman-teman sebaya mereka. Dalam pengalaman penjajahan Jepang, pemahaman implisit tentang nasionalisme yang diperoleh para pemuda dari lembaga pendidikan zaman Belanda bertemu wujudnya melalui organisasi-organisasi pemuda yang didirikan Jepang. Pergolakan golongan pemuda dengan golongan tua, sebagai akibat dari dinamika perpolitikan masa kependudukan, juga kegelisahan menyongsong masa depan baru, berpuncak pada kegagalan Gerakan Rakyat Baru. Kegagalan gerakan di ambang masa pemerintahan kolonial Jepang ini juga menandai dimulainya era baru gerakan yang regulasi-regulasinya tidak lagi ditetapkan oleh pemerintah kolonial, tetapi oleh kebutuhan-kebutuhan masing-masing organisasi untuk mendefinisikan gerakan berdasarkan ideologi yang dianut dan kepentingan yang dituju.

Dengan menggeser aktor revolusi dari elite ke pemuda, narasi-narasi besar yang beredar mendapat versi alternatifnya. Dalam narasi tentang perumusan teks Proklamasi, misalnya, susunan teks yang dianggap memuaskan golongan politisi tua tersebut justru diprotes golongan pemuda karena dianggap berhati-hati dan kompromistis.

Vickers menulis, melalui Revoloesi Pemoeda:

Kisah Anderson menggeser kisah Kahin ke bawah, satu tingkat lebih rendah, dalam arti melihat pada kepemimpinan alternatif (tercermin di atas segalanya dalam diri Marxis Tan Malaka) dan pada landasan barisan pemuda yang lebih luas. Oleh karena itu, argumen Kahin bergeser dari penjelasan material ke penjelasan voluntaris. Dengan demikian, kelas lenyap sebagai sebuah kategori, atau masuk ke dalam kategori bangsa.

(Vickers, 2013:70)

Meski Anderson kerap menampilkan pemuda secara masif dan anonim, dimunculkannya para intelektual dari para pemuda tidak mengingkari kebutuhan akan elite dalam narasinya untuk menjelaskan bagaimana revolusi pemuda digerakkan. Namun, hal yang paling penting adalah bagaimana gagasan nasionalisme yang ditawarkan Kahin mulai bergerak dalam narasi Anderson. Dengan bergesernya aktor yang ditonjolkan selama periode revolusi, dapat dikatakan bahwa konsep nasionalisme yang ditawarkan juga bergeser: bukan lagi nasionalisme elite, melainkan nasionalisme pemuda. 

Kritik Anderson atas narasi Kahin tidak hanya dengan menggeser nasionalisme ke bawah, tetapi juga dengan menampilkan peran Tan Malaka yang diabaikan Kahin. Anderson menyediakan satu bab khusus yang membahas Tan Malaka beserta biografi personal dan politiknya yang meski singkat tetapi lebih komprehensif dari biografi para tokoh di bagian “Lampiran Biografi”. Peran “antagonis” Tan Malaka dalam narasi testamen politik dengan Soekarno-Hatta yang ditampilkan Kahin dalam bukunya diimbangi Anderson dengan menampilkan Sjahrir, tokoh yang menurutnya tak kalah vital perannya dalam kisah tersebut.

Peran penting Tan Malaka bahkan diajukan Anderson hingga bab terakhir. Empat proklamasi susulan untuk ditandatangani Soekarno memuat nama Tan Malaka sebagai satu dari sepuluh anggota Dewan Kepemimpinan Politik (Political Leadership Council) pada poin keempat, dan sebagai Menteri Kesejahteraan/Kemakmuran pada poin kelima. Penonjolan peran Tan Malaka dalam narasi Anderson memberikan wajah lebih kompleks pada bangunan nasionalisme yang digagas. Yang ada pada nasionalisme pemuda tidak hanya nasionalisme yang relatif kanan sebagaimana ada pada nasionalisme elitis. Nasionalisme pemuda adalah nasionalisme yang pernah dengan sepenuh hati memperjuangkan perdjuangan ketimbang mengharapkan diplomasi.

Pada bagian epilog, Anderson menyampaikan dua konsekuensi dari Peristiwa 3 Juli 1946. Pertama, perubahan signifikan dalam distribusi kekuasaan dan otoritas; kedua, berakhirnya kemungkinan mempertahankan Indonesia dengan cara perdjuangan yang lebih radikal dari diplomasi. Meski nasionalisme perdjuangan ini pada akhirnya terhenti, warna berbeda narasi nasionalisme telah diberikan Anderson melalui pemberian porsi lebih besar pada peran Tan Malaka dan gerakan sosialis masa revolusi dibandingkan yang ditampakkan Kahin dalam karyanya. 

Dari Nasionalisme Pemuda ke Nasionalisme Populer

Terlepas dari narasi panjang tentang revolusi dalam Nationalism and Revolution in Indonesia dan Revoloesi Pemoeda, nasionalisme dalam kedua karya tersebut, baik nasionalisme elitis maupun nasionalisme pemuda, ditampilkan sebagai konsep yang dimatangkan melalui realitas perjuangan bangsa dan benturan gagasan tokoh-tokoh elite maupun pemuda yang pada saat itu disadarkan oleh sistem pendidikan—entah yang diadopsi dari tradisi Eropa, maupun yang diperam oleh sistem tradisional pesantren. Dalam Imagined Communities, Anderson melanjutkan bahwa para pemuda terdidik ini, selain merupakan pihak yang bergerak dan digolongkan sebagai salah satu kelompok penting dalam perlawanan terhadap kolonialisme, adalah juga pihak yang mengalami keterasingan. Mereka berbeda dari leluhurnya karena mengenyam pendidikan Eropa, juga berbeda dari sebaya mereka yang tidak terdidik.

Dari pengaruh lembaga pendidikan dan perjumpaan para pemuda di lembaga-lembaga tersebut dengan sebayanya dari wilayah berbeda di daerah administratif kolonial, Anderson melanjutkan bahwa peristiwa Sumpah Pemuda berperan penting dalam memperkokoh peran bahasa persatuan sebagai sarana untuk menghasilkan imagined community. Dengan menekankan peran bahasa, nasionalisme digerakkan ke titik yang paling populer.

Nasionalisme, pada akhirnya, bukan lagi yang digulirkan para elite, bukan juga yang digerakkan para pemuda. Nasionalisme adalah yang secara elastis mengikat orang-orang dari berbagai daerah dan latar belakang bahasa ibu untuk membayangkan dan memperkokoh bayangan tentang komunitas bersama bernama Indonesia dalam sebuah bahasa bersama, apa yang menggerakkan mereka secara bersama menyeberangi arus waktu yang homogen dan hampa itu.

Bacaan:

Anderson, B.R.O’G. 1972. Java in a Time of Revolution: Occupation and Resistance, 1944-1946. Ithaca & London: Cornell University Press.

________________. 2006. Imagined Communities: Reflection on the Origin and Spread of Nationalism. London & New York: Verso.

________________. 2016. Hidup di Luar Tempurung. (penerjemah: Ronny Agustinus). Tangerang Selatan: Marjin Kiri.

________________. 2018. Revoloesi Pemoeda. (penerjemah: Jiman Rumbo). Tangerang Selatan: Marjin Kiri.

Benjamin, W. 2007 [1968]. Illuminations: Essays and Reflections.Schocken Books: New York. 

Kahin, G. McT. 1959. Nationalism and Revolution in Indonesia. Ithaca, New York: Cornell University Press.

Maier, H.M.J. 1993. “From Heteroglossia to Polyglossia: The Creation of Malay and Dutch in the Indies”, dalam Indonesia Vol. 56.

Vickers, A. 2013. “Mengapa tahun 1950-an penting bagi kajian Indonesia”, dalam H.E. Nordholt, et al. (editor). Perspektif Baru Penulisan Sejarah Indonesia. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia, KITLV-Jakarta & Pustaka Larasan.

Keterangan Buku:
Revoloesi Pemoeda: Pendudukan Jepang dan Perlawanan di Jawa 1944-1946
Benedict Anderson
Marjin Kiri
2018

Mario F. Lawi
 Buku-buku puisinya adalah Memoria (2013), Ekaristi (2014), Lelaki Bukan Malaikat (2015), Mendengarkan Coldplay (2016) dan Keledai yang Mulia (2019). Memoria menjadi salah satu buku Puisi Rekomendasi Majalah Tempo 2013. Ekaristi dipilih oleh Majalah Tempo sebagai buku Puisi Terbaik 2014.