Difalitera: Membaca Sastra Lewat Suara

Difalitera, Membaca Sastra Lewat Suara

Ia memodifikasi mesin telegraf dengan strip panjang yang mengelilingi sebuah silinder. Ia pun mengganti kertas rapuh telegraf menjadi kertas timah. Ia lalu menggerakkan silinder, menarik jarum dan membacakan sajak anak berjudul “Mary Punya Seekor Domba Kecil”. Mesin sederhana yang tampak seperti mesin bubut itu jadi awal mula sejarah alat perekam dan pemutar suara.

(“Machines, Music, and the Quest for Fidelity: Marketing the Edison Phonograph in America”, 1877-1925, Emily Thompson dalam The Musical Quarterly, Vol. 79, No. 1 (Spring, 1995), hlm. 131-171)

Thomas Alva Edison pernah menyatakan bahwa ia akan mengungguli penemuan kamera karena fonograf dapat melestarikan ucapan, suara, dan kata-kata terakhir dari anggota keluarga yang sekarat… dan semuanya terbukti pada hari itu.

Rekaman suara pertama  Edison tersebut terjadi pada 1877. Mesin silinder yang dipasang di atas kertas timah itu merupakan sejarah awal literasi lisan yang terekam. Mesin silinder yang semula hanya muat untuk rekaman berdurasi empat menitan, lama-kelamaan berkembang menjadi muat 12 menit dan terakhir pada 1930-an, muat merekam narasi sepanjang 20 menit.

Fonograf yang dapat menyimpan cerita berbentuk suara untuk diputar kembali jelas menguntungkan, terutama difabel netra. Matthew Rubery dalam bukunya Audibooks, Literature, and Sound Studies mengatakan, buku fonografik temuan Edison ini dapat bercerita kepada orang buta tanpa usaha yang ruwet. Difabel netra yang buta total tak perlu meraba Braille, begitu pula difabel netra low vision, tak perlu mengambil kaca pembesar.

Perang membuat banyak veteran mengalami kerusakan fungsi tubuh. Menurun atau rusaknya indera atau fungsi tubuh menjadikan mereka difabel, differently able people, orang yang mampu dengan cara berbeda. Upaya untuk memberikan akses kepada difabel netra terhadap buku suara itu dipelopori oleh American Foundation for The Blind (AFB) dan Library of Congress books for the Blind melalui “Talking Books Program” atau Program Buku Bicara pada 1932. Naskah yang dialihwahanakan adalah nukilan satu bab novel Midstream: My Later Life karangan Helen Keller dan puisi “The Raven” dari Edgar Allan Poe.

Selain buku audio, terdapat juga sistem tulisan sentuh yang lebih dikenal dengan Braille, penggunaan bermula pada 1824. Louis Braille mengembangkannya dari kode alfabet Perancis yang dipakai para tentara untuk berkomunikasi di malam hari, berupa sel blok persegi panjang yang terdiri dari enam titik timbul. Terbitan pertama sistem Braille pada 1829 berupa notasi musik. Baik Braille maupun buku audio sama-sama berkembang dengan teknologinya masing-masing. Braille berkembang dari mesin ketik menjadi beragam jenis mesin cetak yang cepat dan kompatibel dengan komputer masa kini.

Sementara buku audio yang semula berupa piringan hitam berubah menjadi kaset, cakram padat, dan terakhir, berformat digital—format yang terakhir ini menjadikan buku audio semakin ringkas untuk diakses dibandingkan teks Braille. Dua media tersebut menjadi sangat penting untuk aksesibilitas literasi bagi semua orang difabel netra. Namun, sayangnya, tidak semua difabel netra dapat mengakses buku audio yang saat ini di Indonesia masih jarang dan berbayar, pula Braille yang jarang ada di perpustakaan.

Indah Darmastuti, seorang penulis asal Solo, gelisah dan berpikir setelah berbincang dengan Agatha Febriany, seorang difabel netra yang juga pegiat sastra dan teater. Indah mengutip pernyataan Agatha, “Kami tidak mudah mendapatkan sastra. Kami sangat ingin mendapatkan akses luas ilmu pengetahuan. Buku sastra dalam Braille sangat minim.”

Pertemuan di komunitas sastra pada Mei 2018 dalam sebuah Bincang Sastra di Solopos tersebut memantik Indah untuk mengalihwahanakan sastra. Sastra yang biasa dicetak dalam bentuk kertas menjadi suara. Indah mulai dengan menyuarakan lima cerpen dalam bukunya, Makan Malam bersama Dewi Gandari. Kawan-kawannya dari Universitas Sebelas Maret membantunya, termasuk juga para pegiat komunitas sastra Pawon, mahasiswa Etnomusikologi untuk membuat ilustrasi musik, dan pegiat isu difabel yang menjembataninya kepada difabel netra.

Indah percaya setiap manusia berhak mendapatkan pendidikan, pengetahuan, dan informasi. Sastra adalah salah satu bagian dari kebutuhan tersebut. Indah membayangkan ada media sastra berperspektif gender, kritis, dan inklusif, yang dapat diakses oleh siapa saja. Idenya tentang Buku Audio Sastra Indonesia itu kemudian menjadi salah satu penerima hibah Cipta Media Ekspresi 2018, lembaga hibah dana tunai yang mendukung perempuan pelaku kebudayaan untuk bergerak, berkarya, dan berkolaborasi. Indah mengemas media buku audio tersebut dalam kepingan CD yang diproduksi terbatas dan situs web www.difalitera.org, laman kumpulan naskah cerpen dan puisi yang dibacakan dan dapat diakses secara bebas dan gratis.

Proses kreatif menjadikan naskah audio cukup panjang. Indah perlu mengelola kerja-kerja pengumpulan naskah, kurasi naskah, penyuntingan, narasi, dan ilustrasi musik. Buku audio ini mengaplikasikan tempo, teknik vokal, dan keselarasan dengan ilustrasi musik sehingga dapat membangun panggung imajinasi yang enak didengar.

Tak melupakan prinsip gerakan difabel “Nothing about us without us”, Indah pun melibatkan difabel dalam pembacaan naskah. Calon narator akan dilatih oleh teman-teman Etnomusikologi dan teater Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta. Kini ada 42 cerpen audio dan 60 puisi audio di laman tersebut, sedangkan masih ada tujuh cerpen dalam tahap penyuntingan dan ilustrasi musik, serta sepuluh puisi siap untuk direkam.

Konten situs web juga melingkupi cerita cekak atau cerpen berbahasa Jawa yang sedang dalam proses narasi. Indah mendaftar lima karya cerpen unggulan baginya : 1. Masjid Biru (Liston Siregar; Narator: Liston Siregar), 2. Belantara (Yesita Dewi; Narator: Yesita Dewi), 3. Mencari Parmin (Udiarti; Narator: Jepri), 4. Percakapan Susu (Angelina Enny; Narator: Angelina Enny), 5. Pertemuan Sore itu (Astuti Parengkuh; Narator: Astuti Parengkuh), dan karya puisi unggulan: 1. “Gending Masalalu” (Seruni; Narator: Indah Darmastuti), 2. “Pujakesuma” (Dhani Laire Awan; Narator: Indah D.), 3. “Menjadi” (Andi Sri wahyudi; Narator: Indah), 4. “Pelayaran Perempuan” (Nurni Chaniago; Narator: Nurni), 5. “Propasal untuk Bandung Bondowoso” (Seruni; Narator: Seruni).

Gitar, rebab, biola, kecapi, dan suling adalah beberapa alat musik untuk ilustrasi cerpen dan puisi. Pandu Restu Widy, illustrator musik Difalitera, menuturkan ia menggunakan program digital khusus untuk menyusun musik. Buku audio ini menghadirkan ilustrasi musik berdasarkan latar belakang cerita. “Kalau misal kita bandingkan dengan film, ada elemen visualnya, jadi bisa saling menguatkan. Nah, kalau buku audio ini, dia berbentuk suara, sedangkan musik juga berbentuk audio. Kalau enggak hati-hati dalam mengatur, nanti bisa saling mengganggu satu sama lain,” ujar Pandu.

Difabel dan Caranya Menikmati Sastra

Alih wahana sastra pernah pula dilakukan sebelumnya pada April 2006 dari kertas biasa ke kertas Braille. Mitra Netra, Gagas Media, Forum Indonesia Membaca dan Departeman Pendidikan Nasional adalah yang melakukan kerja kolektif mencetak delapan karya sastra populer dalam bentuk Braille. Penulis delapan karya tersebut di antaranya Dewi Lestari, Fira Basuki, Ayu Utami, dan Adhitya Mulya. Prosesnya lebih panjang dari pembuatan buku audio.

Naskah novel berbentuk dokumen akan dikonversi ke dalam huruf Braille menggunakan Braille Converter. Sebelum diterbitkan, naskah melalui pembacaan cetak-coba (proofread) lewat perangkat pemeriksa naskah di atas papan ketik Braille, baru setelah melewati semua prosesnya, naskah pun dicetak.

Keberadaan buku Braille untuk memfasilitasi minat baca difabel netra (lagi-lagi) masih dipertanyakan. Tidak semua perpustakaan mudah terakses bagi difabel karena proses produksinya membutuhkan modal sangat banyak. Sumber daya produksi juga amat minim karena jarangnya lembaga yang mempunyai alat cetak Braille. Braille membutuhkan jenis kertas lebih tebal dari buku biasa. Belum lagi, tak banyak orang menguasai operasi mesin cetak. Buku-buku Braille di sekolah-sekolah luar biasa kebanyakan adalah buku pelajaran sekolah, bukan buku cerita ataupun sastra. Seiring dengan berkembangnya teknologi, tak sedikit difabel yang mulai meninggalkan Braille karena aksesnya masih sulit. Tidak tersedianya akses dan tidak inklusifnya penggunaan Braille dalam skena kebudayaan merupakan cerminan kurangnya kesadaran atas keberagaman dan sikap acuh tak acuh pemerintah dalam memenuhi hak masyarakatnya.

Kurangnya inklusivitas dalam seluruh segi kehidupan berbangsa dan bernegara berawal dari tidak adanya pengarusutamaan difabel maupun data konkret difabel. Indonesia tak punya data pasti jumlah difabel netra di Indonesia.

Beberapa lembaga melakukan penelitian independen, salah satunya Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia mengatakan bahwa pada 2016 jumlah difabel di Indonesia mencapai 12,15% dari seluruh populasi, yaitu hampir 30 juta jiwa. Hanya 54,26% jumlah difabel berpendidikan setingkat SD ke atas, sisanya tidak pernah mengenyam pendidikan dasar.

Ajiwan Arief, salah satu difabel low vision asal Yogyakarta menyambut baik adanya karya sastra yang inklusif dan dapat diakses oleh semua pihak. “Memang ada kenikmatan masing-masing antara membaca cetak, yang aku menggunakan kaca pembesar, dan mendengarkan lewat buku audio,” ujar laki-laki berdomisili di Yogyakarta ini dihubungi melalui telepon (8/11).  Ajiwan mengaku saat membaca buku sastra lewat suara itu seperti didongengkan dan mudah karena bisa dilakukan bersamaan dengan melakukan kegiatan lain. “Kalau membaca buku cetak biasa, usahanya harus lebih. Harus duduk di kursi, menghadap ke meja dengan pencahayaan bagus, baru bisa menikmati buku,” katanya.

Lain dengan Ajiwan yang terkadang masih membaca buku fisik dengan kaca pembesar, Suharto yang juga difabel lowvision menggunakan program Magnifier untuk membaca layar. Suharto adalah penulis  novel berjudul Layang-Layang Putus (Akademi Kebudayaan Yogyakarta, 2003). Ia merasa sangat bahagia dengan dimulainya kesadaran bahwa difabel juga membutuhkan akses sastra mudah. “Kalau tidak ada Difalitera, mungkin saya tidak tahu ada cerpen-cerpen baru. Saya dapat pembaharuan dari perkembangan sastra,” ujar Masharto Al Fathi yang sekarang menjabat sebagai Direktur Sasana Inklusi dan gerakan Advokasi Difabel (SIGAB).

Sastra yang Inklusif, Sastra untuk Semua

Sebagai pencetus ide Difalitera bersama kawan-kawan yang menyertainya dalam gerakan sastra yang lebih inklusif itu, Indah Darmastuti, berani keluar dari zona nyamannya. Dalam peluncuran Difalitera pada 10 November 2018 di Rumah Pelayanan Sosial Bhakti Chandrasa di Solo, Indah mengatakan bahwa ia tak berhenti belajar dalam menekuni proses alih wahana sastra ini. Indah ingin lebih menyebarluaskan Difalitera ke sekolah-sekolah dan lembaga-lembaga supaya Difalitera dapat diserap maksimal oleh difabel netra dan menjadi rujukan sastra yang dapat dinikmati oleh semua orang. Ia membayangkan Difalitera dapat menjadi teman siapa pun dalam menghabiskan hari, mendengarkannya sambil beraktivitas—berada dalam kendaraan, memasak, ataupun relaksasi.

Naomi Srikandi, salah satu juri Cipta Media Ekspresi, menuturkan bahwa hibah ini ditujukan untuk perempuan yang ingin keluar dari zona nyamannya, membuat peta perjalanannya sendiri, dan mau mengambil risiko. Indah Darmastuti akan segera membuat dan menelusuri peta perjalanan Difalitera bersama penggerak lain. Dalam hibah Cipta Media ekspresi, Indah mengutamakan karya-karya perempuan, selanjutnya Indah akan meluaskan ke segmen remaja dan cerpen berbahasa daerah. Ia sendiri masih berpikir untuk membuat Difalitera versi Braille karena proses produksinya yang cukup lama dan tidak sederhana. Ia masih akan fokus untuk menyosialisasikan situs web kepada difabel netra sekaligus pendidiknya.

Gerakan sastra yang inklusif melalui Difalitera ini juga “mengganggu” kenyamanan berpikir bahwa sastra sebagai seni, dapat dinikmati oleh siapa saja, padahal kenyataannya belum begitu. Hal tersebut perlahan tapi pasti menggerakkan Indah dan kawan-kawan, terbukti kegiatannya ini menarik minat banyak narator yang berkeinginan ikut memproduksi buku audio cuma-cuma. Salah satu narator tersebut adalah Liston Siregar, penyiar BBC yang sekarang berdomisili di London.

Difalitera berisi teks naskah cerpen dan puisi serta audio dengan ilustrasi musik. Mereka berupaya menyediakan akses tersebut dan memang ditujukan untuk semua orang tanpa kecuali. Jika ada tuli atau difabel pendengaran yang ingin menikmati sastra Indonesia, ia dapat menikmati teks yang disediakan. Ia juga hadir dalam bentuk yang lebih gampang dituju sekaligus mengurangi penggunaan kertas. Sastra menjadi hadir untuk siapa saja menembus dimensi ruang dan waktu.

Brita Putri Utami
Senang membaca dan mengikuti gerakan inklusi difabel di Indonesia. Sebelumnya pernah menggeluti isu advokasi difabel dan media, selalu suka membaca sastra, esai-esai kebudayaan, dan cerita narasi. Sekarang aktif di British Council di bidang pendidikan dan masyarakat.