Eka Kurniawan: Keliling Eropa Bersama Si Cantik

“Dewi Ayu cukup kesal melihat kehidupan ketiga putrinya yang selalu bersinggungan dengan lelaki, menggoda mereka, bahkan membuat pria-pria patah hati dengan sengaja, Ia tahu kecantikan mereka suatu saat akan berakibat buruk bagi mereka sendiri. Sehingga ketika ia tahu kalau ia mengandung anak keempat, Ia berdoa supaya anak dalam kandungannya diberikan wajah yang sangat jelek. Ia membayangkan hidung seperti colokan listrik, telinga serupa panci, kulit hitam legam seperti arang sisa bakaran dan itulah yang terjadi ketika ia melahirkan putri keempatnya, dua belas hari sebelum ia meninggal. Anak terakhirnya itu diberi nama Cantik.” (Cantik Itu Luka, Eka Kurniawan)

Ketika ditemui di kediamanannya, Eka Kurniawan tampak begitu santai. Ia menggunakan kaos berwarna merah marun dan membukakan pintu. Setelah tersenyum lebar ia bertanya bagaimana perjalanan saya ke rumahnya di bilangan Pisangan, Ciputat. Tentu saja saya tersasar karena baru pertama kali ke rumahnya. Tetapi saya merasa senang setelah tiba di rumahnya yang sederhana dengan lingkungan komplek perumahan yang tanpa sekat, sedikit mirip dengan karakternya sendiri. Eka Kurniawan yang selama ini saya kenal, lelaki sederhana yang apa adanya, kalem untuk menyebutnya sedikit pendiam atau low profile. Saya belum pernah menemukan ada emosi yang lain dari wajahnya yang ramah itu. ia lalu membimbing saya ke atas. Begitu masuk ke ruang kerjanya saya langsung terpesona. Rak-rak buku menjulang tinggi di sisi kiri meja kerjanya. Di sisi kanannya berjajar foto-fotonya dengan beberapa orang penting di dunia kepenulisan. Juga ada beberapa foto penulis kesukaan saya yang terpajang besar dalam pigura, Tony Morrison dan Gabriel Garcia Marquez.

Saat itu penulis kelahiran Tasikmalaya, 28 November 1975 ini baru saja pulang keliling beberapa kota di Eropa. Ia menghadiri beberapa festival sastra di sana, yang juga kebetulan bertepatan dengan terbitnya novel Cantik Itu Luka yang sudah diterjemahkan ke dalam 34 bahasa.

Selama satu bulan lebih di Eropa, ia menghadiri festival Sastra Internasional Reykjavik, di Islandia. Kebetulan bukunya juga terbit dan waktunya ditepatkan dengan festival itu. “Di Island beberapa hari ikut festival, lalu setelah itu aku pindah ke Itali. Di sana juga ada festival sastra di kota kecil, di Mantova. Kurang lebih festivalnya seperti Ubud Writer and Reader Festival di Bali.” Menurutnya selama beberapa kali ke festival sastra di Eropa, festival di kota Mantova ini yang paling asyik. Hal ini menarik perhatian karena Mantova hanyalah sebuah kota kecil tapi pengunjungnya banyak dari mana-mana, namun kebanyakan memang orang Itali. Kebanyakan mereka juga menggunakan bahasa Itali meskipun ada juga yang menggunakan penerjemah Inggris.

Setelah dari Itali, Mas Eka, begitu sapaan akrabnya, kemudian pulang dulu ke Indonesia. “Aku terlalu capek kalau harus dibablasin semua di sana,” ia tertawa. Masih ada sekitar beberapa minggu untuk untuk melanjutkan festival ke Swedia. Di Swedia sendiri ia menghadiri acara pameran buku di Goteborg, sebuah kota kedua terbesar setelah Stockholm. “Di sana ada festival dan book fair, tapi semuanya dibarengi dengan bukuku terbit,” jelasnya. Kemudian setelah itu ia berkunjung lagi ke Spanyol. Meski tidak ada acara festival atau pameran buku, tetapi bukunya terbit dalam bahasa Spanyol saat itu. “Sebenarnya ada dua versi yang diterbitkan. Versi berbahasa Spanyol dan Katalan. Yang Katalan itu semacam bahasa daerahnya, tapi memang Katalan juga mau merdeka,” ceritanya memaparkan perjalanannya selama di Eropa Juli lalu. Saat itu tepat pemilihan di hari minggu. Katalan sangat ricuh, suasana politik yang memanas. Tapi memang ia masih di Madrid. Setelah hari itu demo tetap berlangsung selama tiga hari. Ketika tiba di Barcelona acaranya banyak yang dibatalkan karena demo tersebut. Namun untungnya wawancara tetap bisa dilakukan di hotel.

Setelah pengalaman yang tidak biasa itu, Mas Eka meluncur ke Paris. Di sana juga tidak ada festival atau acara apa-apa. Ia hanya bertemu media dan jurnalis. Meminjam kedutaan Indonesia untuk konferensi pers yang menyediakan makanan prasmanan Indonesia. “Aku senang banget karena berasa udah lama gak makan-makanan Indonesia,” tawa ayah yang memiliki satu putri ini.

Undangan-undangan dan acara seperti itu kerap didapatkan lelaki penerima penghargaan Foreign Policy’s Global Thinkers of 2015 ini dari penerbitnya. Tugas mereka memang selain menerbitkan buku juga mengundang penulisnya, semua itu dilakukan untuk promosi. Mereka sendiri biasanya bekerjasama dengan pameran buku, festival, dan acara-acara serupa. Biasanya yang mengongkosi akomodasi para penulis berasal dari festival-festival itu. “Kayak yang perjalanan kedua yang mengongkosi itu Goteborg Book Fair. Waktu balik karena aku dikasih tiket dari Swedia ke Indonesia. Aku masih di Paris waktu itu jadi terpaksa harus balik lagi ke Swedia dulu. Jauh juga ke utara dulu, capek,” ia tersenyum simpul.

Setelah novel Cantik itu Luka diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh penerbit di Amerika, dengan segera banyak penerbit lain yang juga ingin menerjemahkannya. Ia jadi banyak memiliki literary agent yang sangat aktif mempromosikan buku-bukunya. Ia sendiri mengaku tidak akan sanggup jika harus mempromosikan buku itu sendiri. “Itu memang kerjaan mereka, jualan buku. Mereka punya klien hampir seratus penulis, gak cuma aku saja. Jadi mereka memang sekalian jalan. Biasa dari book fair ke book fair, terutama yang jualan writer, kayak Frankfurt Book Fair, mereka pasti ada di sana. Kemudian mereka juga bertemu penerbit di seluruh dunia, mereka menawarkan, bernegosiasi, bujuk, dan lain-lain.”

Novel Cantik Itu Luka sendiri pertama kali diterjemahkan bukan dalam bahasa Inggris, melainkan bahasa Jepang pada 2006 lalu. Seorang Jepang, Ibu Ribeka Ota, memang suka menerjemahkan karya-karya Indonesia ke Jepang. Ia tinggal di Semarang. Saat kembali ke Jepang ia menawarkan kepada penerbit Jepang (penerbit Shinpusha) untuk menerbitkan novel tersebut. Setelah diterbitkan, efeknya tidak terlalu besar. Ia sendiri tidak tahu bagaimana penerimaan novel itu di sana. Selanjutnya pada 2010 novel tersebut terbit dalam terjemahan Malaysia, berbahasa Melayu. “Rasanya aneh banget,” ia tertawa. Tentu saja aneh karena meskipun ia mengerti bahasa itu dengan baik, tapi pada saat yang sama ia merasa tidak pernah menulis yang seperti itu. Namun ia mengakui, efeknya sangat terasa sekali setelah terbit dalam bahasa Inggris tahun 2015. Annie Tucker menerjemahkannya dengan baik dalam Beauty Is a Wound.

“Sebenarnya mereka sudah beli right-nya dari 2012 akhir. Begitu dibeli right-nya sama New Direction Publishing di Amerika, beberapa penerbit di negara lain itu sudah mendengar. Jadi 2013-2014 sudah banyak yang menghubungi, bahkan sebelum bukunya terbit. Di situ memang aku merasa efek Amerika memang sangat besar.” Di antara semua novel yang ditulisnya novel yang paling banyak diterjemahkan memang novel Cantik Itu Luka. Novel Lelaki Harimau baru diterjemahkan tiga belas bahasa, Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas baru tiga bahasa.

Ia merasa senang dan tidak menyangka Cantik Itu Luka diterjemahkan ke banyak bahasa. Awalnya ia hanya mengira kalaupun diterjemahkan paling sekitar 2-3 bahasa saja. Setelah empat tahun terbit di Jepang ia tidak berpikir akan diterjemahkan dengan bahasa lain lagi. Kini novel itu telah membawanya meraih World Readers’ Award pada 2016 lalu. Penghargaan ini bergengsi  di Asia, digagas oleh sukarelawan yang tergabung dalam Asia Pacific Writers” and Translators” Association, bekerjasama dengan PPP, sebuah perusahaan penerbitan dan penyelenggara penghargaan di Hong Kong.

Beberapa versi terjemahan novel “Cantik Itu Luka”. (Fotografer: Adhitya Putra)

Kita juga pasti sudah pernah mendengar, diawal kelahirannya, Cantik Itu Luka sempat mengalami penolakan dari penerbit. Bagi Mas Eka itu suatu hal yang biasa sebab banyak alasan sebuah novel ditolak. Bisa karena selera editornya berbeda atau bukunya terlalu tebal sehingga takut tidak laku, tentu banyak pertimbangan lainnya. Bisa juga karena dianggap penulis baru, yang memang pada saat itu novel tersebut adalah karya pertamanya. “Ketika ditolak, aku sih gak terlalu ambil pusing. Aku pikir kalau memang layak untuk terbit suatu ketika akan terbit juga.”

Novel tersebut mengalami proses penulisan sekitar dua tahun. Lulusan Fakultas Filsafat, Universitas Gadjah Mada, Jogyakarta tahun 1999 ini mengerjakannya hampir setiap pagi, kadang-kadang sampai sore atau malam. Istirahat hanya ketika makan dan tidur. Pada zaman itu masih sangat mungkin ia menulis intens seperti itu, sebab ia baru lulus kuliah dan tidak punya pekerjaan. Ia anak indekos di Jogja dan tidak punya gangguan khawatir tidak makan karena ibu kosnya mempunyai warung makan dan dia bisa mengutang di sana. Dalam pengerjaan novel itu pun tidak ada riset tertentu yang ia lakukan. Ia menuliskannya berdasarkan pengetahuan yang selama ini ia pelajari. Sebelumnya ia juga banyak membaca buku-buku sejarah, mendengarkan dongeng orang-orang, menonton wayang, menyimak dongeng radio, banyak hal. “Bahkan waktu aku menuliskannya belum terbayangkan novel ini akan jadi seperti apa ha ha ha….”

Inspirasi yang didapatkannya pun dari mana saja. Seperti Dewi Ayu yang hamil tapi ingin anaknya buruk rupa, itu terinspirasi dari cerita ibunya. “Jadi ada tetangga jauh sedang hamil. Dia syukuran tujuh bulanan dan ingin anaknya cakep kayak Arjuna.” Ia bercerita, biasanya di saat acara adat syukuran seperti itu ada upacara, ada tempurung kelapa yang digambarkan sesuai keinginan yang hamil, sehingga digambarkan sosok Arjuna seperti yang diinginkan sang tetangga. Akan tetapi tidak lama setelah itu sang tetangga itu kemudian melahirkan, prematur tujuh bulan. “Anaknya benar seperti Arjuna, tapi bukan Arjuna yang ganteng, melainkan yang seperti wayang.” Ceritanya itu tidak hanya membuatnya terawa tetapi saya pun ikut tertawa. Menurut Mas Eka cerita tersebut ada twist-nya dan ia terus kepikiran cerita itu. Anak yang lahir prematur itu berumur pendek. Tidak lama kemudian meninggal. “Dari situlah inspirasi cerita Dewi Ayu yang ingin punya anak buruk rupa.”

Waktu menulis novel itu ia sendiri sudah membayangkan tebalnya. Ia pernah bekerja sebagai grafik disain dan mendisain buku sehingga ia bisa membayangkan jika ia menulis sebanyak 150.000 kata, buku itu akan jadi sekitar 500 halaman. Tapi ia tidak terpikirkan nasib pembacanya karena di dalam kepalanya saat itu adalah itu karya pertamanya. Mas Eka juga tidak memikirkan apakah kelak ada yang mau menerbitkannya atau tidak.

Kini ketika Cantik Itu Luka telah diterjemahkan ke berbagai bahasa, ia sempat bertemu dengan salah satu editor yang menolaknya dulu. Editor itu cukup terkenal tapi ia juga tidak terlalu menyesal tidak pernah menerbitkan novel itu. Hubungan mereka pun baik-baik saja.

Tentu saja semua buku Cantik Itu Luka yang sudah diterjemahkan ke berbagai bahasa itu diterima dengan baik olehnya. Memang belum semuanya sampai karena masih dalam proses penerjemahan. Ia lalu mengeluarkan beberapa koleksi terjemahan Cantik itu Luka yang sudah diterimanya. Satu sampul unik yang kami sukai adalah dalam terjemahan bahasa Portugis: A Beleza É Uma Ferida. Sampunya bergambar setangkai mawar merah muda dengan jahitan timbul ditangkainya.

“Tiga puluh empat itu right-nya yang mereka beli. Jadi beberapa masih proses penerjemahan. Yang sudah keluar baru separuhnya. Rata-rata mereka bilang tahun ini sebagian besar terbit. Mungkin ada sebagian kecil tahun depan.”

Suami dari penulis Ratih Kumala ini juga menanggapi pendapat Bennedict Anderson yang menyatakan dirinya sebagai penerus Pramoedya. Eka Kurniawan memang menggemari karya-karya Pram. Bahkan tugas akhir kuliahnya saat itu mengkaji karya-karya sosialis magis Pram. Hasilnya pun telah dibukukan dalam judul Pramoedya Ananta Toer dan Sastra Realisme Sosialis (GPU, 1999). Namun, ia tidak bisa melarang seseorang untuk berpendapat apa saja tentangnya. Ia sendiri tidak tahu mengapa Ben berpendapat seperti itu dan dalam konteks apa dia mengatakan hal itu. “Aku kenal Ben itu sejak sekitar 2008. Jadi sebelum ketemu dia asistennya kirim email, jadi Om Ben itu mau ke Jakarta pingin ketemu. Akhirnya ketemulah. Waktu itu aku masih tinggal di Benhil, apartemen. Datanglah dia. Aku belum kepikiran apa pun, awalnya aku pikir biasa saja. Dia kan memang seorang peneliti tentang Indonesia. Mungkin saja aku hanya sebagai salah satu narasumbernya.” Itu merupakan pertemuan pertamanya dengan Ben. Mereka mengobrol hal-hal perkenalan yang biasa saja. Tidak spesifik.

Namun tidak lama setelah itu Ben pulang dan ia membaca dua tulisan pertama Ben yang menulis tentang kematian Soeharto di New Left Review. Tetapi dalam tulisan tersebut, ada sebagaian kecil Ben berbicara tentang sastra dan menyebutnya sebagai penerus Pram. “Tulisan itu hanya sepenggal kecil aja, tapi aku rasa orang-orang membicarakannya terlalu banyak. Aku sendiri tidak tahu pendapat itu untuk karyaku yang mana.” Setelah tulisannya itu kemudian Ben menerjemahkan ceritanya Corat-Coret di Toilet di Jurnal Indonesia. “Sejak itu aku merasa dia memang membaca tulisanku dan tertarik.”

“It is nice that, after half a century, Pramoedya Ananta Toer has found a successor. The young Sundanese Eka Kurniawan has published two astonishing novels in the past half-decade. If one considers their often nightmarish plots and characters, one could say there is no hope. But the sheer beauty and elegance of their language, and the exuberance of their imagining, give one the exhilaration of watching the first snowdrops poke their little heads up towards a wintry sky.”
—Benedict R. O’G. Anderson, New Left Review

Sejak pertemuan pertama itu Ben tiap tahun datang ke Indonesia dan mereka bertemu. Pada pertemuan kedua Ben mulai tertarik menerjemahkan novelnya yang lain, dia tidak menyebutkan novel yang mana. Dia menawarkannya juga ke penerbit Verso, penerbit di mana buku-buku Ben juga diterbitkan. Sebuah penerbit yang cukup terkenal dan banyak menerbitkan buku-buku sosial dan politik, dan terkadang juga sastra. Pada 2012 salah satu bos penerbit Verso datang ke Jakarta atas rekomendasi Ben untuk menerbitkan salah satu novelnya, maka disepakatilah Lelaki Harimau yang diterjemahkan dan diterbitkan oleh Verso Books. Untuk kemudian buku Man Tiger akhirnya rilis tahun 2015 lalu dan berhasil meraih penghargaan utama untuk kategori literatur fiksi di FT/Oppenheimer Funds Emerging Voices Awards pada 2016. Sebelumnya buku ini juga mendapat penghargaan IKAPI’s Book of The Year 2015 dan sempat menempati nominasi untuk penghargaan The Man Booker Prize 2016, sebuah penghargaan bergengsi di Inggris yang dinilai satu tingkat di bawah nobel.

Ketika ditanya tentang novelnya yang paling berkesan ia tidak bisa langsung menjawab. Sebab baginya semua novelnya selalu tidak memuaskannya setelah diterbitkan, selalu saja ia merasa masih bisa menulis lebih baik dari itu. Hal ini juga karena sebagai penulis ia terus berkembang. Tetapi Lelaki Harimau adalah novel yang paling malas dibicarakannya, “Soalnya di novel itu aku banyak menceritakan tetangga-tetanggaku dulu. Aku khawatir mereka membeli buku itu dan membacanya,” ia terkekeh geli.

Saat ini, setelah tidak bekerja sebagai Komite Sastra di Dewan Kesenian Jakarta, ia banyak menghabiskan waktu di rumah saja. Ia baru saja menyelesaikan skenario dari novelnya yang berjudul Seperti Dendam Rindu harus Dibayar Tuntas yang rencananya akan difilmkan pada 2018. “Yang menulis skenarionya aku sama Edwin, dia juga kan sutradaranya. Jadi aku tinggal menunggu editan dari dia saja. Aku menuliskan apa adanya sesuai dengan novelnya.”

Kini ia banyak menghabiskan waktu di rumah dan membaca buku. Di saat suasana sepi tidak ada orang di rumah karena putri semata wayangnya yang berusia enam tahun, Kidung Kinanti sudah mulai bersekolah dan sang istri tercinta bekerja di sebuah Publhishing House, ia justru anteng sendirian. Ia menghabiskan waktu dengan membaca buku, kalau bosan membaca ia menonton sesuatu di Youtube atau menonton pertandingan sepak bola di malam hari. Ia juga tidak terlalu sering mengantar putri semata wayangnya yang baru menginjak kelas satu SD ke sekolah sebab sudah ada mobil antar jemput dari sekolah. Meski terkadang jika Kinan terlambat bangun dan tertinggal jemputan menjadi kebiasaan yang menyenangkan mengantarnya ke sekolah. Jika ia bosan sendirian berada di rumah, ia biasa pergi ke The Reading Room, bertemu Richard Oh dan berkumpul bersama kawan-kawan.

Karena kesenggangan waktunya itu, saya pun tergelitik untuk menanyakan ketertarikannya pada residensi. Di tengah waktu luangnya ini Mas Eka bisa saja mengikuti residensi penulis yang diprogramkan oleh Komite Buku Nasional. Ia bisa pergi ke beberapa tempat yang disukainya untuk menulis. Namun ia meluruskannya, “Residensi itu kan seperti ini, ada sebuah pihak, pemerintah, yang menyediakan waktu kepada seorang penulis untuk menulis. Jika kamu sebagai penulis merasa kekurangan waktu padahal kamu ingin menulis novel tapi waktu tersita untuk kerja atau rumah tangga, kamu dikasih waktu satu sampai tiga bulan. Tergantung dengan banyaknya waktu yang kamu butuhkan. Kamu ambil kesempatan itu dan kamu selesaikan naskahmu. Sesederhana itu saja dan itu praktik yang sangat normal.” Bagi Mas Eka sendiri, ia tidak membutuhkan waktu seperti itu karena memang waktunya sangat luang dan ia bisa menulis kapan saja. Sejauh ini ia belum membutuhkan residensi semacam itu. Tetapi ia menyadari problem setiap penulis berbeda-beda.

Residensi sendiri program yang umum, bisa di dapat di mana-mana dalam bentuk yang bermacam-macam. Ada yang menyediakan akomodasi tempat saja,  kita cari tiket sendiri lalu ke sana. Atau ada yang menyediakan tempat dan uang saku. “Kalau aku sih masih mikir-mikir juga, karena menurutku hitungan-hitungan dananya mepet. Aku tanya ke beberapa kawan saja. Misalnya, aku hidup di kota di Eropa dengan uang sejumlah itu kayaknya gak akan sempat mikir nulis justru mikir bagaimana caranya supaya irit, meski memang kita akan melakukan berbagai cara agar bisa menjalani itu dengan baik,” paparnya jenaka.

Tentu saja ia punya beberapa catatan soal residensi ini dari sudut pandangnya secara pribadi. Tidak ada bedanya tempat residensi, yang terpenting adalah punya waktu dan tempat untuk menulis. Ia juga merasa program residensi ini sedikit blunder dengan program riset. Karena setahunya residensi memang untuk menulis, adapun riset memiliki program yang berbeda lagi. Karena agak susah jika residensi sekaligus meriset juga. Riset membutuh waktu dan klasifikal, menuliskannya bisa di lain waktu. “Ya, tapi tidak apa-apa. Ini kan juga masih tahun kedua. Komite Buku juga mungkin masih mencari pola.”

Baginya sendiri hal paling penting dari sebuah program harusnya berdasarkan dari sebuah problem. Ada problem dalam sastra Indonesia, kemudian pemerintah dalam hal ini Komite Buku, mencoba mengatasi problem ini. Jika problem sastra Indonesia adalah waktu untuk menulis, program residensi ini memang sangat tepat. Nyatanya setiap tahun hampir semua penulis Indonesia bekerja, berumah tangga, punya kerjaan lain, tetapi tiap tahun juga bukunya terbit. Menurut pandangannya, persoalan waktu menulis bukanlah sebuah problem sebab mereka bisa menulis di waktu luang. “Itu hanya asumsiku, mungkin Komite Buku memiliki pandangan lain terhadap problem itu yang aku tidak tahu.”

Menurutnya jika membicarakan problem sastra Indonesia, problem terbesarnya adalah infrastruktur bacaan. “Kita percuma saja punya ratusan dan ribuan penulis, pembacanya gak ada. Dan ketidakadaan pembaca itu bukan karena minat baca yang rendah atau apa. Buatku yang paling mencolok adalah infrastruktur. Tidak ada perpustakaan yang layak di daerah-daerah. Tidak ada toko buku yang layak dan itu problem paling besar. Kalau mau menyelesaikan atau menghidupkan sastra Indonesia, selesaikan saja problem-problem yang nyata di depan,” ungkapnya serius dan saya rasa baru kali ini saya melihatnya seperti itu.

Eka Kurniawan berharap kelak ia bisa memiliki perpustakaan di daerah. (Fotografer: Adhitya Putra)

Ia sendiri berharap kelak memiliki perpustakaan untuk kawan-kawan dan anak-anak di daerah. Bahkan ia bermimpi kalau perlu pemerintah juga turut mendirikan perpustakaan di mal-mal di seluruh kota di Indonesia, bukan toko buku. Seperti mal yang pernah dikunjunginya di Brisbane, Australia, yang memiliki perpustakaan. Anak-anak bisa dititipkan ke sana sementara orangtua mereka berbelanja, orang-orang bisa membuat janji di sana, mereka tidak perlu membeli buku jika memang tidak sanggup, pertemuan dan diskusi juga bisa diadakan di sana. “Sebab bayangan orang tentang perpustakaan itu sesuatu yang tua dan membosankan. Ditambah lagi jika membayangkan penjaganya yang sudah seperti pegawai pemerintah. Ada mental block untuk mereka datang ke perpustakaan. Jadi ini juga suatu cara mendekatkan buku ke ruang publik.”

Mengenai buku-buku yang disukainya, ia hanya tersenyum sambil menunjuk sederetan buku di rak-raknya yang menjulang tinggi hampir menyentuh langit-langit. Dalam deretan rak itu ada berbundel-bundel dan berseri koleksi bacaannya di waktu belia; Ashadi Siregar, Abdullah Harahap, Chin Ying, Kho Ping Hoo. Ia memang berangkat dari pembacaan terhadap novel-novel populer di masa remaja, novel-novel mistis yang seram seperti Bangkit dari KuburTumbal Kalung SetanTarian Iblis karya Abdullah Harahap dan cerita-cerita silat menjadi favoritnya. Mungkin karena hal itu juga gaya bertutur dalam tiap karyanya sangat langsung dan cair, ada suasana sedikit gelap, dengan penamaan tokoh-tokoh yang membumi.

Setelah menjadi penulis dan zaman berganti ia membaca lebih banyak buku yang beragam, baik sastra Indonesia maupun sastra luar. Walau demikian, karena ia menulis dengan bahasa Indonesia otomatis karya-karya yang memberi pengaruh kepadanya adalah karya-karya dalam bahasa Indonesia.

Selalu ada juga keinginannya untuk bisa menulis cerita-cerita silat seperti buku-buku yang dibacanya. Tetapi ia tidak cukup berani. “Kalau tulisan silatku jauh dari baik lebih baik aku menulis seperti yang sekarang saja,” gurau penulis Cinta Tak Ada Mati  (kumpulan cerpen, 2005), Gelak Sedih (kumpulan cerpen, 2005), Perempuan Patah Hati yang Kembali Menemukan Cinta Melalui Mimpi (kumpulan cerpen, 2015), O (Tentang Seekor Monyet yang Ingin Menikah dengan Kaisar Dangdut) (Novel, 2016).

Jika dari luar ada novel-novel yang disukainya ia akan membelinya. Kalau buku-buku favorit biasanya ia membeli yang hard cover, rata-rata memang karya klasik. Kadang-kadang memang ia membelinya bukan untuk dibaca lagi tapi untuk disimpan.

Adapun penulis luar yang sangat menginspirasi dan benar-benar membuatnya ingin menjadi penulis adalah karya Knut Hamsun. Bukunya yang dalam bahasa Indonesia diterjemahkan oleh Marianne Katoppo berjudul Lapar dan Pan. Setelah membaca novel itu ia ingin menjadi penulis. Ia pun membaca hampir semua buku-buku Hamsun dalam bahasa Inggris.

Ia tidak bisa melupakan novel Lapar yang ceritanya sangat sederhana. Novel itu bercerita tentang seorang penulis muda yang luntang-lantung di Kristiania, sebuah kota di Norwegia yang sekarang bernama Oslo. Karena keinginannya yang besar menjadi seorang penulis, pemuda itu menulis setiap hari sampai berhari-hari, dia tidak bekerja apa-apa sampai kelaparan. Pada akhir ceritanya, dia gagal menjadi penulis, kemudian hanya menjadi kelasi kapal dan pergi ke Amerika.

Tetapi yang paling disukai oleh Mas Eka adalah bayangan begitu heroiknya menjadi penulis yang menahan lapar, dia harus menunggu berhari-hari karyanya yang dikirim ke penerbit atau koran-koran. “Berapa hari ternyata gak terbit. Dia jual mantelnya buat makan. Begitu dia jual mantelnya dapat uang terus dia lihat di jalan, dia mau beli roti, ada peminta-minta. Dia kasihan. Akhirnya dia kasih roti itu.” Selain itu, ia juga suka dengan humor-humor yang ditawarkan Knut Hamsun. “Meskipun ceritanya sangat pedih, tapi dia melihat dengan humor yang gelap.”

Selain Knut Hamsun, ia juga menyukai karya-karya Fyodor Dostoyevsky. Karya-karyanya Dostoyevsky sangat inspiratif, selalu detail terhadap psikologi manusia. Eka sendiri sangat terbantu dengan karya-karya Dostoyevsky. “Aku banyak belajar bagaimana dia melihat karakter-karakter individu manusia yang satu dengan yang lain. Terutama kejelekan-kejelekannya. Karena sangat mudah bagi orang untuk melihat kebaikan-kebaikan. Melihat kejahatan-kejahatan orang, pikiran-pikiran busuk dan culas orang itu tidak gampang karena kita selalu punya prasangka terhadap keburukan-keburukan tanpa tahu alasan dibaliknya.”