Mengenal “Indonesia” Lewat Komik Prancis

Selain Jepang, Perancis adalah negeri surga komik. Di negeri Astérix, komik dikenal dengan sebutan bandes dessinées (BD). Sama seperti manga di Jepang, BD di Perancis tidak hanya dikonsumsi oleh anak-anak, melainkan juga sudah sejak lama oleh orang dewasa. Terlebih, dengan hadirnya novel grafis (roman graphique) yang dapat dinikmati oleh semua kalangan, dan jumlahnya makin banyak akhir-akhir ini. 

Seperti dilansir The New York Times, industri BD memang punya kedudukan penting di negeri ini. Ada sekitar 1.500 seniman yang mencari nafkah sepenuhnya di industri ini, di samping ribuan lainnya yang kerja paruh-waktu. Bahkan BD diakui sebagai “seni ke-9” (le neuvième art), setelah berturut-turut: arsitektur, patung, lukisan, musik, sastra (termasuk puisi dan prosa), seni pertunjukan (termasuk tari dan teater), film, dan seni media (radio, televisi dan fotografi). Selain itu, ada gerakan yang cukup kuat di kalangan seniman BD independen.

Tulisan ini membahas tentang gambaran “Indonesia” di dalam BD Prancis. Secara khusus, lima novel grafis yang terbit 20 tahun terakhir ini: Jeronimus: Un homme neuf (2008), La Javanaise, La fille de Mata Hari (2012), Tsunami (2013), Le maître des crocodiles (2016), dan Mentawaï! (2019). Bagaimana Indonesia digambarkan dalam lima novel grafis tersebut? Sejauh mana gambaran tersebut disajikan bagi pembaca umum di Prancis? 

Kisah Petualangan

Umumnya, novel grafis mengandalkan kisah petualangan sebagai resep utama guna menarik minat pembaca. Novel grafis tentang Indonesia tidak lepas dari resep ini – seperti halnya juga novel grafis tentang negara-negara lain yang ada. 

Berlatar belakang sejarah, Un homme neuf mengangkat kisah petualangan Jeronimus Cornelisz, seorang apoteker dan pedagang VOC yang terdampar. Sementara itu, La Javanaise mengangkat kisah petualangan Jeanne Louise MacLeod yang merupakan anak perempuan Mata Hari. Kisah petualangan mereka dianggap misterius, mengesankan, juga menantang.

Sementara tiga novel grafis lainnya berlatar belakang antara tahun 1980an hingga 2018. Tsunami mengangkat kisah petualangan Romain Mataresse, pemuda Prancis (24 tahun), di Banda Aceh pada 2013 usai bencana tsunami. Le maître des crocodiles mengangkat kisah petualangan Léonard Sougal, sutradara film dokumenter Prancis, di pulau Banyak, sebuah pulau fiktif di lepas perairan Sumatra, pada 1984. Mentawaï! mengangkat kisah petualangan Tani, antropolog perempuan Prancis di pulau Siberut pada 2016-2017.  

Kelima novel grafis ini, bila dibaca berturut-turut, memberikan gambaran tentang Indonesia yang lumayan lengkap, baik dari sejarah masa penjajahan Belanda, masa pemerintahan diktator Orde Baru, dan juga masa reformasi sekarang ini. Mesti diakui, publik Prancis tidak begitu mengenal Indonesia yang mereka anggap negara yang letaknya jauh di Asia dan kurang punya gaung di panggung internasional, baik di sektor perdagangan maupun diplomatik.    

Para pengarang kelima novel grafis tersebut sadar akan hal ini. Justru lewat media ini, mereka mengajak pembaca umum Prancis untuk lebih mengenal Indonesia. Terlebih, dengan menyajikan informasi-informasi tambahan yang menjadi latar kisah petualangan tokoh utama. Misalnya, gambaran keculasan pejabat VOC, gambaran polisi pada masa Orde Baru yang tidak simpatik, dan perubahan sosial politik yang cepat sepanjang masa Reformasi.  

Meski fiksi sejarah, Un homme neuf karya Christophe Dabitch (kelahiran 1968) dan La Javanaise karya François Debois (kelahiran 1975) memberikan gambaran yang nyata tentang situasi Hindia Belanda, untuk membangun imajinasi atas suatu tempat dan waktu yang asing bagi pembaca Prancis masa kini. Hal ini agak berbeda dari karya seniman Belanda yang bernuansa nostalgia, misalnya Rampokan Java (1998) dan Rampokan Celebes (2004) karya Peter van Dongen, dan De Terugkeer (2010) karya Eric Heuvel dan Ruud van der Rol (ketiganya juga tersedia dalam terjemahan bahasa Prancis), karena publik Belanda umumnya tahu tentang Indonesia dan punya keterikatan langsung.

Meskipun kehidupan keseharian ala Indonesia tergambar jelas di dalam kelima novel grafis tersebut, tokoh orang Indonesia hadir sebagai pedagang warung, penunjuk jalan, tokoh adat, atau lainnya—tidak sebagai tokoh utama. Tokoh utama kelima novel grafis ini adalah orang asing (bukan orang Indonesia). Sebagai kisah petualangan, kelima novel grafis ini memang menempatkan tokoh utama yang dapat dengan mudah dirujuk dan dikenali oleh publik Prancis sebagai individu yang berada di wilayah “asing” di luar kebiasaannya. Hal ini memang terkait erat dengan tujuan umum kisah petualangan dalam menciptakan realitas yang liyan bagi publik pembacanya. Jadi, “Indonesia” hadir dalam imajinasi pembaca Prancis sebagai tempat petualangan yang “eksotis”.

Lingkungan hidup dan Masyarakat pinggiran

Di balik kisah petualangan yang “eksotis”, tiga novel grafis yaitu TsunamiLe maître des crocodiles, dan Mentawaï! secara langsung mengangkat tema lingkungan hidup dan masyarakat pinggiran di dalam cerita mereka. 

Tsunami menyajikan gambaran tentang kondisi sosial dan lingkungan Banda Aceh (dan sekitarnya) usai bencana tsunami. Le maître des crocodiles dan Mentawaï! menyajikan gambaran tentang perubahan lingkungan hidup sebuah pulau pinggiran. Secara khusus, Mentawaï! juga memberikan gambaran tentang perubahan masyarakat lokal yang terdesak akibat globalisasi ekonomi, politik identitas, dan ketidakpastian sosial.

Hal ini dapat dimengerti karena ketiga novel grafis tersebut beranjak dari pengalaman para penulis naskah dan perupa saat mengunjungi Indonesia. Tsunami dan Le maître des crocodiles adalah karya kolaborasi penulis naskah Stéphane Piatzszek (kelahiran 1971) dan perupa Jean-Denis Pendanx (1966). Keduanya sudah berulang kali mengunjungi Indonesia. Tidak heran pula, karena dinilai mengenal Indonesia, Jean-Denis Pendanx menjadi perupa untuk Mentawaï!

Penulis naskah Mentawaï! adalah Tahnee Juguin, seorang antropolog muda kelahiran 1993. Ia juga terlibat dalam satu film dokumenter tentang pulau Siberut, Le nouveau chamane de la forêt des espirits  (2016), oleh Patrick Bernard dan Ken Ung, yang mengangkat kisah Aman Goddai menjadi kerei (dukun tradisional). Film dokumenter yang ditayangkan oleh TV5, televisi pendidikan Prancis, ini diterima baik di kalangan publik Prancis. 

Tema lingkungan hidup dan masyarakat pinggiran adalah gambaran keprihatinan global abad kita sekarang ini. Ketiga novel grafis ini menyajikan Indonesia sebagai contoh negara yang mengalami perubahan-perubahan lingkungan hidup dan, secara berbarengan, tantangan modern bagi masyarakat pinggiran. Pembaca Prancis diajak untuk melihat permasalahan-permasalahan seputar Indonesia secara nyata.

Permasalahan ini tentu saja bukan hal yang baru sebab keprihatinan yang sama telah lama disuarakan oleh banyak sarjana, wartawan, dan penggiat lingkungan hidup – dalam berbagai medium (buku, laporan film dokumenter, dll.). Di samping medium yang telah ada itu, novel grafis menjadi media ‘baru’ lewat penyajian kisah fiksi dan gambaran yang nyata. Itu bagaikan botol anyar bagi anggur lama. Novel grafis mengembuskan nafas baru bagi pembaca abad ke-21 akan pentingnya keterlibatan masyarakat umum dalam mendukung, menjaga, dan memperjuangkan bersama kelestarian lingkungan hidup dan masyarakat pinggiran.   

Sekadar catatan, La Javanaise diterbitkan oleh penerbit Glénat (berdiri 1969), sedangkan empat novel grafis lainnya diterbitkan oleh penerbit Futuropolis (berdiri 1974). Kedua penerbit tersebut tergolong penerbit BD papan atas di Prancis, dan buku-buku terbitan mereka dapat dibeli di toko buku umum. Glénat dikenal umum sebagai penerbit manga Dragon Ball edisi bahasa Prancis yang populer di era 1980-an. Futuropolis menerbitkan banyak novel grafis sejak 2005. Publik Prancis mengenal kedua penerbit tersebut, dan buku-buku terbitan mereka kerap tersedia di perpustakaan kota untuk dipinjam oleh masyarakat luas. 

Di samping kelima novel grafis di atas, perupa Stéphane Bouillet (alias Obo; kelahiran 1976) juga menghasilkan beberapa BD berdasarkan pengalamannya selama berada di Bali dan Kalimantan pada 2016, dan menerbitkannya secara mandiri. Karya-karyanya ditujukan khusus bagi pembaca dewasa, dan tidak dijual di toko buku umum.

Rujukan:

Christophe Dabitch dan Jean-Denis Pendanx. 2008 Jeronimus: Un homme neuf. Paris: Futuropolis.
François Debois, Cyrus, dan Annabel. 2012. La Javanaise, La fille de Mata Hari. Issy-les-Moulineaux: Glénat.
Jean-Denis Pendanx dan Stéphane Piatzszek. 2013. Tsunami. Paris: Futuropolis.
Stéphane Piatzszek dan Jean-Denis Pendanx. 2016. Le maître des crocodiles. Paris: Futuropolis.
Jean-Denis Pendanx dan Tahnee Juguin. 2019. Mentawaï!. Paris: Futuropolis.