Representasi Karakter Diversitas pada Novel Remaja

representasi karakter diversitas

Mengawali obrolan di kanal Fiksi Populer, mari kita bahas mengenai novel remaja dan unsur diversitasnya yang sedang digandrungi beberapa tahun terakhir ini. Mungkin kita ingat The Fault in Our Stars yang dielu-elukan sebagai fenomena dari kisah romansa remaja yang tak biasa. Berbeda dengan cerita remaja yang kerap kali rupawan dan menjadi idola, buku ini menghadirkan tokoh utama yang mengidap kanker. The Fault in Our Stars dibilang menjadi pionir atas ketidaksempurnaan karakter dalam fiksi remaja yang biasanya tak bercela. Kesuksesan novel remaja karya John Green itu hingga filmnya meraih box office memberikan dorongan kepada pengarang lainnya untuk menuliskan kisah remaja dengan tema cerita dan karakter yang ‘berbeda’.

Novel berunsur diversitas memiliki ciri khas tokoh yang menganut agama yang beragam, memiliki tema dan karakter LGBT, tokoh dengan penyakit kejiwaan atau cacat fisik, serta berlatar di kelas sosial yang lebih rendah atau yang termasuk jarang diceritakan.

Di indonesia sendiri, cerita yang diusung novel-novel remaja masih berkutat pada tema cinta dan persahabatan. Dengan masih banyaknya peminat bacaan seperti itu, penerbit tidak akan berhenti meminta pengarang-pengarangnya untuk menuliskan kisah yang tidak jauh-jauh dari dua tema tersebut. Namun, kehebohan novel-novel dengan unsur diversitas yang datang dari luar negeri memengaruhi pembaca di Indonesia dan membuat penerbit serta pengarang lokal meladeni keinginan mereka.

Pada tahun 2014, Penerbit Kepustakaan Populer Gramedia (KPG) membuat lomba menulis Young Adult Realistic Fiction (YARN). Melalui ajang itu, lini remaja KPG bernama Ice Cube telah menerbitkan lebih dari 10 karya para finalisnya. Bisa dibilang, kehadiran novel besutan YARN adalah napas segar bagi penggemar novel remaja lokal. Salah satu finalis yang paling menonjol adalah Above the Stars karya D. Wijaya.

“Danny Jameson sejak awal memang sudah berbeda. Ia buta. Segalanya akan selalu terlihat hitam sampai Will Anderson hadir dalam hidupnya. Murid pindahan itu memperlihatkan dunia kepadanya, membuat Danny merasa hidup kembali. Kepada Will, Danny menyebutkan keinginannya. Danny percaya Will dapat membantunya untuk mengabulkannya.”

Keinginan pribadi untuk memasukkan unsur diversitas dalam tulisannya membuat D menciptakan tokoh Danny Jameson. Ia ingin menunjukkan bahwa diversitas itu ada, bahwa penerimaan diri itu penting, dan tidak apa-apa untuk jadi berbeda. Melalui Danny Jameson, D merepresentasikan apa yang ada dalam pikirannya. Ia percaya bahwa para penulis memutuskan untuk menulis karena mereka punya sesuatu yang ingin dibagi, seperti pemikiran-pemikiran. Dan Above the Stars adalah perwakilan dari pemikiran D tentang diversitas.

Pada April 2015, Miranda Malonka merilis novel perdananya yang berjudul Sylvia’s Letters. Berbeda dengan D yang membuat karakternya sebagai representasi pemikirannya, tokoh Sylvia sama sekali tidak berhubungan dengan diri Miranda. Sylvia murni fiktif. Menurut Miranda, seiring bertambah dewasanya proses kreatif sang penulis, biasanya malah akan semakin jauh hubungan antara penulis dan karakter yang diciptakannya. Itulah yang terjadi antara Miranda dan Sylvia.

“Seperti remaja lain, Sylvia sedang dalam fase ‘mencari jati diri’. Meskipun punya pemikiran-pemikiran yang terkadang brilian sampai absurd, namun terkadang masih kontradiktif bahkan membahayakan. Rasa sukanya kepada Anggara membuat Sylvia berhasrat untuk menuliskan surat-surat yang tak akan pernah sampai kepada penerimanya. Obsesinya yang tinggi terhadap apa yang orang lain katakan kepadanya juga membuat Sylvia merasa insecure sehingga ia ‘terpaksa’ menderita anoreksia nervosa dan depresi.”

Miranda mengungkapkan bahwa ia sebenarnya tidak berniat untuk menonjolkan masalah diversitas dalam Sylvia’s Letters. Ia hanya ingin membahas apa yang kira-kira menjadi konflik batin remaja pada umumnya, dan bagaimana cara menghadapinya. Melalui Sylvia, Miranda mengangkat fenomena yang mungkin terjadi pada remaja. Ia ingin mengajak pembaca, terutama para remaja, untuk lebih bisa waspada terhadap fenomena ‘berat’ seperti yang terjadi pada Sylvia.

Masa pubertas pada remaja memberikan dampak pada perilaku yang berubah cepat, gangguan identitas, serta emosi yang kuat. Kala remaja adalah saat-saat yang sangat cocok bagi seseorang untuk mulai merasa suka kepada lawan jenis atau terhadap hal-hal yang ia inginkan. Tidak heran bila banyak novel-novel remaja yang merepresentasikan karakter-karakter di dalamnya dengan kisah cinta dengan berbagai bentuk dan fase percintaan. Dari saling suka, saling menyatakan perasaan kepada satu sama lain, permasalahan-permasalahan kecil yang menjadi konflik di antara dirinya dan pasangannya, hingga perasaan sakit hati karena putus cinta.

Perubahan pada remaja juga harus diwaspadai. Apabila seorang remaja merasa tidak siap dengan hal-hal terkait percintaan, aktivitas sehari-harinya akan terganggu, atau bahkan lebih jauh lagi membuatnya depresi, pendek akal hingga akhirnya memutuskan menuntaskan hidupnya. Karakter yang seperti ini jugalah yang harus banyak ditonjolkan pada novel-novel remaja. Remaja tidak hanya mendapatkan hal-hal utopis tentang apa yang akan terjadi dalam hidupnya, tetapi juga kewaspadaan atas apa yang bisa terjadi dalam hidupnya. Di sinilah peran novel dengan unsur diversitas dibutuhkan.

Representasi diversitas dalam karakter remaja yang dihadirkan karya fiksi bukan hanya penting bagi remaja untuk mengantisipasi kehidupan yang sebenarnya sudah terjadi pada remaja lainnya, tetapi juga menumbuhkan rasa empati yang kuat agar lebih bisa menerima segala macam perbedaan. Seorang remaja akan merasakan betapa menjadi berbeda seperti Danny Jameson itu butuh kekuatan dan dukungan. Remaja yang lain juga akan mengetahui betapa obsesi yang berlebihan seperti yang terjadi pada Sylvia akan membuatnya melakukan hal-hal di luar akal.

Daftar Referensi:

Destiny Burnett. 2014. “Diversity Matters: Privilege & Representation in YA Lit” dalam yalsa.ala.org/thehub. 20 Oktober 2014. Diakses dari http://www.yalsa.ala.org/thehub/2014/10/20/needs-title-diversity-in-ya-teen-blogger/

Patresia Kirnandita. 2017. “Kemurungan Remaja Bisa Jadi Pertanda Depresi” dalam tirto.id. 12 Maret 2017. Diakses dari https://tirto.id/kemurungan-remaja-bisa-jadi-pertanda-depresi-ckyY

Abduraafi Andrian
Penggila karya fiksi populer dengan fantasi sebagai genre favoritnya. Punya blog buku sendiri untuk menuangkan buah pemikiran atas buku yang baru dibacanya. Seorang Libra yang penuh pertimbangan dan tentu saja memesona.