Untuk Pak Sapardi: Kenangan di Halaman Belakang, di Tepi Situ Gintung

Sapardi Djoko Damono
Foto: Dymussaga

Seorang sahabat hilang dari hidupku. Dua hari lalu, di Minggu pagi yang segar, ponselku tak berhenti berbunyi.

Banyak sekali pertanyaan dan ucapan belasungkawa dari rekan-rekan dan nomor tak dikenal yang mampir ke ponselku. Ponsel penuh lecet itu panas karena terlalu banyak notifikasi. Aku tak membukanya satu persatu, tapi aku tahu kabar apa yang sampai padaku pagi itu.

Pak Sapardi berpulang.

Setiap kali mendapat kabar kematian, aku selalu merasa sulit mengelola kata-kata.

Pak Sapardi berpulang, dan aku tahu beliau berpulang dalam keadaan bahagia. Setidaknya, kini ia tak perlu merasakan sakit lagi dan bolak-balik ke rumah sakit untuk transfusi darah.

Memori-memori berhamburan, suaranya nyaring di dalam kepala.

Yang paling menyedihkan dari sebuah kabar duka, menurutku, adalah bagaimana dunia tetap berjalan seperti biasanya setelah orang yang kita kasihi tiada.

Aku teringat halaman belakang rumahnya di tepi Situ Gintung. Angin ramah, dan burung-burung berkicau, pagi itu, ketika aku datang.

Pak Sapardi pernah bercerita, ada seekor burung yang selalu hinggap di tiang jemuran di rumahnya setiap pagi. Burung yang sama, di posisi yang sama pula.

Ketika menerima kabar ia berpulang, aku menerka-nerka, apakah pagi itu si burung hinggap lagi di tiang jemuran. Apakah si burung tahu, bapak tua yang pernah menceritakan kebiasaannya hinggap itu tak akan pernah lagi menyimak kicaunya.

Di halaman belakang ada banyak bunga-bunga. Aku selalu suka halaman belakang yang teduh itu, meskipun saat malam terasa seram. Di pagi hari, akan selalu ada lebah dan kupu-kupu yang menyemarakkan hari.

Tiap menjelang Natal atau Lebaran, halaman belakang wangi oleh aroma kaastengels yang dipanggang Ibu Sonya, istri Pak Sapardi.

Dua hari lalu, bunga-bunga tak hanya ada di halaman belakang dan halaman depan rumah, tapi juga memenuhi hingga ujung jalan. Semua berduka. Tapi bunga-bunga yang ratusan banyaknya itu juga mengatakan bahwa Pak Sapardi begitu dicintai.

Di dalam kepalaku seperti sedang diputar ratusan film. Di semua film itu, Pak Sapardi adalah tokoh utamanya. Layaknya tokoh-tokoh dalam film, kostumnya selalu sama: kemeja, jaket, dan topi pet kesayangan. Juga tongkatnya yang selalu dianggapnya sebagai properti yang tepat untuk menampilkan persona seorang profesor.

Sosoknya yang lain barangkali akan tampak anomali dari kesannya sebagai profesor. Langkah kakinya cepat, kuat berlama-lama memutari Pondok Indah Mall.

Di suatu masa, pernah Pak Sapardi hampir setiap hari menanyakan pertanyaan yang sama untukku: “Aga, kapan mau beli handphone baru di PIM?” Ketika itu ponselku memang sudah hampir rusak. Usianya sudah tiga tahun. Tak bisa ditinggal terlalu lama tanpa powerbank. “Ayo cepat beli handphone baru nanti diskonannya keburu habis.” Tenggat pekerjaan masih menumpuk. “Kalau kamu belum punya uang bisa pakai kartu kredit Ibu dulu.” PIM cukup jauh dari tempat tinggalku, tapi dekat dari rumah Pak Sapardi di Ciputat. Aku pikir, akhir pekan adalah waktu yang tepat. “Aga, aku sudah siap antar kamu ke PIM tapi kamu nggak beli-beli handphone juga.

Sore itu akhirnya kami ke PIM, ditemani Ibu Sonya. Ponsel baru sudah dibeli, kemudian kami makan bistik bersama. Itu dua tahun lalu, ketika aku akhirnya membeli ponsel yang penuh notifikasi ini.

Di film yang lain, ada juga yang menampilkan Pak Sapardi dengan sarung dan kaos putih polos, sedang menikmati sajian nasi putih hangat dan kerupuk karak kesukaannya. Lagi-lagi sambil menghadap halaman belakang yang penuh bunga.

Sedang apa Pak Sapardi saat ini jika arwah memang benar ada? Barangkali bertemu Soekram, atau Den Sastro, atau Dogot, atau Sarwono dan Pingkan? Bisa jadi juga bertemu Suti, juga Gendis? Entah.

Tapi yang kutahu, Pak Sapardi akan menjadi rumput dan bunga di makamnya di Giritama sana. Kupikir, suatu saat aku akan berkunjung ke makam sambil diam-diam memutar lagu Bob James. Beliau suka sekali Bob James.

Aku berharap aku bisa menulis sesuatu yang jauh lebih indah daripada ini. Semacam, barangkali, penghormatan terakhir. Tapi setelah kupikir-pikir lagi, ini tentu bukan penghormatanku yang terakhir.

Masih akan ada banyak lagi tulisan-tulisanku yang lain, yang akan kulahirkan untuk menghormati dan mengenang Pak Sapardi.

Menulislah dan kamu tidak akan mati, katanya selalu. Pak Sapardi adalah seorang sahabat. Sahabat yang, kebetulan, usianya jauh lebih tua daripadaku dan teman-temanku, dan begitu kusayangi.

Tugas-tugas telah tunai.

You may rest now in peace. I cannot thank you enough for everything you’ve done to me.

I love you.

Dymussaga
Sebagian hidupnya habis untuk melakukan riset dan mengedit tulisan sendiri maupun tulisan orang lain. Kebanyakan menulis nonfiksi, pusing, dan ingin kembali menulis fiksi supaya kepalanya tidak cepat meledak.