Suara yang Diteriakkan The Hate U Give

for ruang the hate u give

“It’s dope to be black until it’s hard to be black.”

Pada 1955, seorang bocah kulit hitam berumur 14 tahun dari Chicago dibunuh secara brutal atas tuduhan menggoda wanita kulit putih. Suami si wanita dan saudara lelakinya membawa bocah itu ke sungai Tallahatchie dan memerintahnya untuk melepaskan pakaiannya. Kedua pria itu kemudian memukulinya hingga hampir mati, mencongkel matanya, menembak kepalanya, lalu melempar tubuhnya yang diikat dengan kawat berduri pada kipas mesin pemisah kapas seberat lebih dari 31 kilogram ke sungai. Jenazahnya ada di sana selama tiga hari sebelum ditemukan. Ibu sang bocah malang yang bernama Emmett Louis Till itu bersikeras meminta kepada layanan pemakaman umum membiarkan peti mati anaknya terbuka untuk menunjukkan kepada dunia kebrutalan atas rasisme yang terjadi di Amerika Serikat bagian selatan kala itu.

Lebih dari setengah abad berlalu, tepatnya pada malam pergantian tahun 2009, Oscar Grant harus berurusan dengan petugas kepolisian Oakland karena terlibat dalam perkelahian di atas kereta. Salah satu petugas berhasil membekuk pria kulit hitam yang tak bersenjata itu. Namun, karena terus berontak, sang petugas menembak punggungnya. “Anda menembak saya! Saya punya anak perempuan berumur empat tahun!” teriak Grant kepada petugas yang menembaknya. Detik-detik kematiannya menjadi begitu heboh dan penting karena terekam oleh CCTV setempat dan tersebar viral. Warga Amerika Serikat yang menuntut keadilan semakin geram ketika Pengadilan Tinggi Los Angeles setempat memberikan vonis tidak bersalah kepada sang petugas yang menembak.

Tahun saat Oscar Grant meregang nyawa itulah saat Angie Thomas tercetus ide menulis buku ini yang berawal dari proyek cerita pendek untuk tahun seniornya itu. Proyek yang dilakukan secara mendalam itu ternyata memberikan tekanan emosional tersendiri baginya. Kehidupan orang-orang kulit hitam sebagai minoritas masih menjadi sorotan utama mengingat mereka sudah ada di Amerika Serikat sejak lama. Kenyataan ini menyentak Thomas untuk meneruskan kisahnya. Dan sebulan setelah pelantikan presiden Amerika Serikat Donald Trump, Thomas merilis The Hate U Give.

“Starr dan Khalil sedang berada dalam perjalanan pulang selepas pesta saat mobil mereka dicegat oleh polisi. Salah satu polisi bernomor satu-nol-lima menghampiri jok pengemudi dan berkata kepada Khalil bahwa lampu belakang mobilnya mati. Sang bocah yang meminta cepat-cepat surat tilang malah disuruh keluar dari mobil dan angkat tangan. Semuanya terjadi begitu cepat; satu-nol-lima menembakkan tiga peluru dan membuat Khalil terkapar. Starr segera keluar dari jok depan penumpang dan menghampiri sahabatnya yang bersimbah darah. Starr menurut saja ketika satu-nol-lima memerintahnya angkat tangan sambil mengarahkan pistol yang digunakan untuk membunuh Khalil padanya.”

Dinarasikan dalam bahasa slang yang khas, aroma kehidupan orang kulit hitam sudah menguar sejak halaman pertama. Sudut pandang orang pertama membuat narasi yang dibawakan oleh remaja 16 tahun terasa begitu personal. Personalisasi itu bahkan sudah ditumpahkan sejak bab-bab awal dan berlanjut ketika Starr dihadapkan pada sikapnya untuk menguak apa yang sebenarnya terjadi pada Khalil atau tidak. Alur maju yang digunakan menjadikannya begitu intens dan terasa cepat.

Bersamaan dengan rasa trauma dan bersalah yang menghampiri, Starr ditantang untuk berani mengemukakan apa yang sebenarnya terjadi pada malam itu. Starr harus memutuskan bagaimana dia akan memberikan pembelaan pada Khalil saat penyelidikan atas kematiannya.

Seperti halnya pada Emmett Till dan Oscar Grant, apa yang menimpa Khalil amat mungkin terjadi. Perbedaan sudah menjadi satu hal yang amat sulit untuk ditaklukan. Mereka yang merasa bahwa ras dan golongannya lebih unggul akan merasa terganggu dengan kehadiran orang lain yang bukan seperti mereka. Mereka menjadi waswas dan siaga dan apabila terancam, mereka akan melakukan segala hal untuk melindungi diri mereka sendiri bahkan kelompoknya.

Rasialisme orang kulit putih terhadap orang kulit hitam Amerika Serikat sudah terjadi sejak lama seiring dengan datangnya orang-orang keturunan Afrika-Amerika di sana. Di Indonesia, kehadiran orang-orang keturunan Tionghoa membuat hubungan antaretnis di Indonesia tidak terjalin dengan baik. Bahkan sampai sekarang. Rasialisme bisa terjadi di mana saja dan pada siapa saja terutama bagi minoritas dalam sebuah lingkup sosial.

Tak melupakan perannya sebagai novel remaja, buku ini tidak hanya menyorot hal berat yang menimpa sang tokoh utama. Starr masih memiliki kehidupan lain. Ia punya pacar bernama Chris dan harus kucing-kucingan dengan ayahnya ketika akan bertemu pacar kulit putihnya itu. Bila ketahuan, ayahnya tidak akan merestui hubungan mereka berdua. Starr juga berteman dengan beberapa cewek di sekolah elitenya. Walaupun sedang dalam masalah, Starr selalu bisa menutupinya dan bertingkah normal di hadapan mereka.

Di tengah-tengah isu rasialisme, diskriminasi, dan segala bentuk intoleransi yang semakin marak akhir-akhir ini, hadirnya buku ini bagai panasea. Buku ini secara eksplisit menyuarakan keadilan dan kesetaraan antarsesama manusia. Bercerita tentang orang-orang kulit hitam di Amerika Serikat, buku ini secara ajaib juga dapat dikaitkan dengan kaum minoritas lain di seluruh dunia. Apa yang menimpa Khalil juga bisa menimpa orang lain—anak-anak lain—dari belahan dunia lain. Dan kita harus berjuang untuk menegakkan keadilan atas mereka. Karena kehidupan mereka itu penting. Karena kehidupan itu sendiri penting!

Pada catatan di akhir buku, Thomas menyampaikan bahwa melalui buku ini penting bagi para remaja untuk tahu kalau mereka tidak sendiri dalam merasa frustrasi, takut, marah, dan sedih saat menghadapi masalah. Ia juga berharap dengan buku ini, Emmett Louis Till benar-benar akan menjadi sejarah—tidak ada lagi korban brutal mengerikan seperti dirinya.

Satu hal: apa pun warna kulit, orientasi seksual, agama, ras, dan hal lainnya yang menjadi pembeda, bukankah manusia terbentuk dari tulang-belulang yang serupa? Lalu, mengapa harus merasa lebih tinggi dan mulia dari yang lain?

“Sometimes you can do everything right and things will still go wrong. The key is to never stop doing right.”

Keterangan Buku:
The Hate U Give
Angie Thomas
Walker Books
Februari 2017

Abduraafi Andrian
Penggila karya fiksi populer dengan fantasi sebagai genre favoritnya. Punya blog buku sendiri untuk menuangkan buah pemikiran atas buku yang baru dibacanya. Seorang Libra yang penuh pertimbangan dan tentu saja memesona.