Jakarta dalam Sepuluh Bagian: Dari Ruang Melankoli sampai Siasat Masyarakat yang Kelelahan

Cerita Cerita Jakarta

Jakarta, sebagai ibukota negara, bisa dengan mudah didefinisikan siapa saja. Alasannya sederhana, narasi kota ini sudah tersebar ke berbagai ruang, dari obrolan pinggir jalan, ocehan di media sosial, berita di surat kabar, hingga berbagai opini di media daring. Kita, yang barangkali pernah mendengar kisah tentang kota ini, tentu dengan mudah mengamini bahwa Jakarta adalah oksimoron, karena ia tidak hanya menjanjikan impian paling gemilang, tetapi juga hidup paling blangsak.

Sebagai arena pertaruhan, tentu kota ini bisa dibilang sebagai juaranya, tiga kali lipat jumlah penduduk negara Finlandia menghuni kota ini, mereka dari berbagai penjuru Indonesia melempar dadu untuk masa depan yang abu-abu di kota ini. Definisi maupun kisah-kisah tertentu tidak akan pernah benar-benar mewakili Jakarta yang sesungguhnya.

Dari kisah-kisah tentang Jakarta yang bejibun, Maesy Ang & Teddy W. Kusuma dipilih sebagai editor untuk menyusun proyek The Book of Jakarta yang menjadi seri Reading The City penerbit Comma Press, Manchester, Inggris. Kurasi keduanya menghasilkan terbitnya tulisan dari sepuluh penulis (Ratri Ninditya, Hanna Fransisca, Sabda Armandio, utiuts, Dewi Kharisma Michellia, Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie, Ben Sohib, Cyntha Hariadi, Afrizal Malna, dan Yusi Avianto Pareanom) dengan pelbagai kisahnya tentang Jakarta. Buku ini, yang pada edisi perdananya terbit dalam bahasa inggris, kemudian terbit dalam bahasa aslinya sebagai Cerita-Cerita Jakarta

Saya membaca edisi yang menghadirkan cerita-cerita para penulis ini dalam bahasa aslinya, dan menemukan pengantar kedua editor dalam terbitan ini sebagai gambaran awal dari kisah-kisah yang termaktub di dalamnya. Mereka menulis, “memilih dan menyunting cerita untuk sebuah antologi senantiasa rumit dan jauh dari sempurna. Apalagi Jakarta, juga peta kepenulisannya, yang demikian kompleks sehingga tidak mungkin diwakili oleh sepuluh cerita saja. Seberapa pun kami mencoba menghadirkan keragaman di dalamnya, selalu ada sudut pandang dan narasi penting yang luput untuk digaungkan. Untuk itu, kami berharap teman-teman pembaca melihat antologi ini sebagai ruang berhenti sejenak.”

Dengan cara inilah saya membaca Cerita-Cerita Jakarta, sebagai ruang berhenti sejenak dari segala macam Jakarta yang bejibun dan hidup dalam ingatan saya. Juga, sebagai refleksi tentang bagaimana narasi Jakarta yang hidup bersama saya sepanjang hampir tiga dekade berkelindan bersama sepuluh cerita dalam buku ini. Dan tanpa perlu berbasa-basi lagi, beginilah Cerita-Cerita Jakarta menceritakan Jakarta dalam sepuluh bagian:


Jakarta Bagian Pertama: Ruang Melankoli

“B217AN” karya Ratri membawa Jakarta dari sudut pandang seorang wanita urban yang karib dengan aplikasi kencan, melakoni aktivitas seksual sebagai hal biasa, hingga kehidupan pinggir kota yang membuatnya takjub. Pembaca akan diajak keliling Jakarta melalui jalan tikus yang sempit, warung rokok pinggir jalan, rumah makan seafood dan diskotek underground kelas kambing di terowongan dekat rel kereta—dengan bangku dan meja yang terdiri dari patahan semen serta lampu disko ala kadarnya.

Dengan tokoh aku yang hendak menikah keesokan harinya, cerita bergerak. Sebuah petualangan terakhir baginya sebelum momen sakral. Kisah yang mengingatkan saya pada film komedi The Hangover garapan Todd Phillips dengan rasa yang lebih lokal. 

Petualangan dalam kisah Ratri ini berakhir dengan Jakarta yang melankolis, yang hadir melalui perasaan masygul tokoh aku di bagian akhir, “Di pinggir rel ini aku merasa begitu hidup, namun begitu jauh dari kehidupan. Aku tak akan bisa lari dari kengehekanku sendiri… Perlahan bagian diriku yang paling kusukai akan hilang di antara gang-gang kota yang carut marut, warung rokok pinggir jalan, warung seafood si Montok.”

Dari “B217AN”, Ratri membawa jalanan kampung serta kehidupan kelas coro dengan segala nilai yang dimilikinya, bukan sekadar pemandangan yang ada bagi masyarakat kelas atas Jakarta untuk mensyukuri hidup.

Jakarta Bagian Kedua: Ruang Apak dan Jalan Tikus

Cerita “Aroma Terasi” menghadirkan Jakarta yang culas di suatu kantor pemerintahan. Melalui tokoh aku yang merupakan keturunan Tionghoa, Hanna mengajak kita menjadi konsumen jasa calo paspor. Alih-alih memudahkan urusan birokrasi atau terima beres, yang didapatkan tokoh aku malah sebaliknya. 

Hanna dengan cermat menampilkan betapa merepotkannya menjadi seorang keturunan Tionghoa meski sudah memilih jalan pintas. “Bukan seperti itu maksud saya, Nyonya. Seluruh warga keturunan Tionghoa yang sudah menjadi warga negara Indonesia, otomatis adalah asli. Cuma harus dibuktikan dengan membawa surat Warga Negara Indonesia yang betul-betul asli.”

Hal yang menyenangkan sekaligus getir dalam kisah ini terjadi ketika tokoh aku yang dengan terpaksa meminjam baju dari pedagang di depan kantor yang berbau terasi—agar urusannya rampung—dan membuat baunya menyebar ke seluruh ruangan. Pilihan yang tepat sebagai ruang berbau apak di Jakarta.

Selain itu, cerita “Aroma Terasi” ini juga mengingatkan saya pada jargon iklan rokok yang sekali waktu pernah memenuhi sudut-sudut di Jakarta, yakni jalan pintas dianggap pantas, namun ditambah dengan tanda bintang disertai keterangan: syarat berlaku untuk warga keturunan tertentu.

Jakarta Bagian Ketiga: Ruang Horor Bernama Penghilangan Paksa

Melalui cerita “Masalah”, Sabda Armandio membawa pembacanya menuju ruang Jakarta yang horor dan membuat kita dapat berandai-andai dengan mudah tentang kiamat yang sepertinya bakal datang lebih dulu sebelum praktik orde baru tumbang. 

Ruang horor ini dibangun secara perlahan melalui satu tokoh misterius yang datang di tengah-tengah kehidupan dua tokoh sentral, Yuli dan Gembok—dua pengamen lampu merah di bilangan Salemba. Dengan penceritaan episodik, pembaca lebih dulu dikenalkan dengan dua sentral tersebut dan dilanjutkan narasi yang menggiring pembaca untuk mempertanyakan sosok misterius yang merupakan teman Gembok, “Tapi lihat situasi dong. Bisa jadi teman barumu juga intel.”

Ruang horor dalam cerita ini juga tercipta dengan munculnya satu tokoh stereotip, polisi, yang membuat kedua pengamen ini memilih tidak lanjut mengamen. Ruang honor juga berlanjut dengan bombardir prasangka yang dilontarkan Yuli, yang sayangnya menjadi kebalikan dari sifat alamiah Gembok—yang percaya bahwa semua manusia itu baik.

“Gembok adalah orang yang paling tidak mencurigai siapa-siapa. Gembok lahir dan tumbuh dengan keyakinan bahwa semua manusia terlahir baik.” Alasan mengapa terjadi penghilangan paksa dan membuat kita meyakininya, barangkali sudah dipikirkan Dio sejak menulis paragraf barusan. Kita, sebagai pembaca, tentu akan dengan mudah menebak siapa pelakunya, dan seperti yang sudah-sudah, akan sangat sulit menemukan di mana korbannya.

Jakarta Bagian Keempat: Ruang Imajinatif dan 4.0 yang Terlalu Cepat

utiuts membawa Jakarta dari masa depan beserta masalah-masalahnya dalam cerita “Buyan”. Dari permukaan air akibat krisis iklim yang menenggelamkan sebagian kota, datangnya teknologi baru, dan masyarakat yang kebingungan serta mengalami gegar teknologi.

Melalui tokoh Tante Nana yang komikal, cerita bergulir dengan lelucon khas masyarakat kota gemar yang menertawakan orang-orang yang gagap teknologi—yang ironisnya, lebih dulu dialami orang-orang yang tinggal di kota. Mobil tanpa supir dalam semesta cerita ini adalah inovasi baru yang masih dalam tahap percobaan, dan Tante Nana, sebagai representasi masyarakat kota, adalah korban dari 4.0 yang datang terlalu cepat.

Melalui mobil canggih tanpa sopir yang gagal berfungsi dan respons Tante Nana, utiuts mengajak kita merenungkan kembali. Bahwa, masyarakat di kota yang katanya paling maju di antara banyak kota lainnya, barangkali justru adalah yang paling mungkin menghasilkan tokoh seperti Tante Nana dalam kisah ini.

Jakarta Bagian Kelima: Ruang yang Bergerak sekaligus Duduk 

Cerita “Rahasia dari Kramat Tunggak” karya Dewi Kharisma Michellia barangkali menjadi gambaran nyata akan Jakarta yang tidak pernah beranjak, meski pembaca dibawa ke beberapa tempat lewat tokoh Dia dan kilas balik cerita Ibunya. Pemilihan latar dari Kramat Tunggak ke Apartemen Kalibata City adalah cara Michellia menuliskan bagaimana kota ini bergerak sekaligus duduk, berpindah tapi tak beranjak.

Melalui tokoh Dia dan Ibunya, pembaca akan menelusuri dua tempat pelacuran paling terkenal dari dua generasi berbeda dengan detail yang mewah. Menyelami bagaimana bisnis lendir berjalan, perdagangan manusia dan bagaimana orang-orang yang hidup bersamanya dapat bertahan dengan segala kegilaan dan harapan.

Lalu, bersamaan dengan hadirnya tokoh Ayah dalam obrolan mereka, rasa was-was muncul ke permukaan sebagai sebab mengapa masa-lalu enggan beranjak dari kehidupan—alasan mengapa ibunya memilih kembali menjadi penjaja seks, dan melulu melakoni kehidupan yang tidak layak dijalani.

“…berkali-kali ibunya ingin pergi, tapi berkali-kali pula niatnya gagal.” adalah harapan dari nasib buruk yang kadung dipilih ibunya karena menikahi seseorang yang cuma jago bercinta. Konsekuensi yang juga dialami Jakarta yang jalan di tempat, karena memilih membangun peradaban hanya dengan mengganti dan menggusur ruang dengan bangunan baru, bukan kualitas masyarakat yang hidup bersamanya.

Jakarta Bagian Keenam: Ruang Tragikomedi dan Kejutan

“Anak-anak Dewasa” karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie membawa Jakarta dengan segala lakon sedih dan jenaka disertai kejutan paling gila yang bisa dibayangkan dari manusia-manusia kota ini. Melalui rombongan lansia yang hendak liburan ke dufan yang hendak tutup dan rencana klandestin masing-masing tokoh, pembaca akan dihadapkan pada petualangan yang berakhir dengan cara paling tak terduga.

Lakon ini juga begitu meriah dengan pertunjukan berbagai karakter di dalamnya, dari yang melankolis seperti Ny. M dan Tn. M, Ny. N yang selalu dirundung gelisah, Ny. O yang masygul dan perfeksionis, hingga Ny. P yang eksentrik dan cukup liar. Kisah bergulir dengan dialog yang mengundang tawa, kilas balik yang romantis, juga imajinasi gelap para tokoh.

Bagaimana cara Jakarta memberi kita tragikomedi dengan kejutan yang tak terduga? Saya rasa kutipan cerita ini menjawabnya: “Mereka tidak kepikiran akan ada manula bengal yang coba-coba peruntungan naik wahana pemicu adrenalin dengan sakit jantung yang sudah parah?… Mereka cuma pikir, anak-anak lah satu-satunya biang masalah mereka, karena itu batasan hanya ada untuk orang pendek. Orang dewasa dan orang tinggi bisa berpikir lebih jernih, menurut mereka, barangkali.”

Jakarta Bagian Ketujuh: Ruang Humor dan Ironi Keyakinan

Ben Sohib membawa kehidupan masyarakat Kampung Melayu Pulo—beserta segala keganjilan yang mengundang tawa dan lara—dalam kisah “Haji Syiah”. Lakon para Haji yang humoris dan hidup di lingkungan ini barangkali adalah yang paling sering terekam dalam siaran televisi di Indonesia, terlebih mendekati bulan Ramadan. 

Lewat tokoh Haji Syiah yang tindak-tanduknya mengundang tawa dan penuh belas kasih, pembaca akan dipertontonkan humor kelas wahid a la warga Kampung Melayu dan perasaan tulus yang menguar ke permukaan—dari sikap Haji Syiah pada dua berandal pemabuk, Faruk dan Ketel.

Tak hanya itu, Ben Sohib juga mendedahkan pada kita bagaimana sebuah lelucon berangkat dari kisah fiksi yang garib, hingga soal keyakinan yang selalu menjadi tempat paling niscaya bagi masyarakat kelas menengah ke bawah di kota.

Dari kisah “Haji Syiah”, Jakarta muncul dengan ruang humor a la betawi yang menghadirkan gelak sebagai sisi profan, dan persis di sampingnya, iman dan keyakinan sebagai ruang suci yang kokoh, juga tergesa-gesa—persis bagaimana Faruk dan Ketel bersikap di akhir cerita.

Jakarta Bagian Kedelapan: Ruang Memorabilia dengan Kelas-kelasnya

Peristiwa Mei ‘98 di Jakarta tak bisa dimungkiri adalah ruang memorabilia, dari sini, banyak para penyintas yang masih berjuang untuk pulih dari trauma. Cerita “Matahari Tenggelam di Utara” karya Cyntha Hariadi hadir sebagai dokumentasi untuk peristiwa kelam tersebut. Lewat tokoh Tata dan Ace—dua orang keturunan Tionghoa yang juga siswi sekolah menengah atas—cerita persahabatan dengan kelindan asmara khas novel remaja, ditambah piranti budaya pop ‘90-an didedahkan.

Kisah keduanya nyaris sempurna dan baik-baik saja, jika saja demo besar-besaran dan rentetan kematian sebagai harga yang harus dibayar untuk melengserkan satu diktator terbesar bangsa ini tidak terjadi, dan membuat keduanya mesti berpisah untuk selama-lamanya.

Cyntha, dengan apik memberi gambaran yang terang tentang orang-orang Tionghoa ketika menghadapi serangkaian teror dan bagaimana kelas sosial berperan penting dalam memorabilia itu.

Meski sama-sama memikul beban stigma, cara keduanya menghadapi keganasan Jakarta ‘98 begitu kontras. Ace dan keluarganya dengan enteng pergi mencari suaka di negeri lain, sedang Tata beserta sanak familinya harus bertahan di tengah teror, membakar identitasnya agar tidak jadi korban amuk, juga memberi ruang pada khawatir yang salah alamat. Sisanya, di Jakarta, adalah tembok pagar rumah yang tinggi menjulang sebagai wasiat dari amuk api yang belum juga padam.

Jakarta Bagian Kesembilan: Ruang Teatrikal dan Muslihat

“Pengakuan Teater Palsu” karya Afrizal Malna barangkali memberi kita gambaran akan muslihat yang mau tak mau dilakoni kaum-kaum yang kalah bertaruh di Jakarta. Sebuah tema klasik yang digarap dengan cara yang lebih jenius. Melalui tokoh Frans, seorang aktor teater hidup menggelandang dan tidak jelas tindak-tanduknya, kisah ini memberi sudut pandang baru dalam melihat sosok gelandangan-seniman yang hidup di sekitar monumen kesenian di Jakarta yang megah dalam imajinasi banyak orang.

Dalam imajinasi Afrizal, Frans yang menggelandang dan tidur di sembarang tempat, memungut puntung dan makanan sisa, hingga mencuri sepatu dan menjualnya untuk beli makan, adalah peran dalam pertunjukan teaternya.

“Seorang aktor hanya hidup dan berjalan bersama tubuhnya sendiri. Tanpa teater yang yang pernah dimasukinya, tanpa sebuah pertunjukan yang pernah dilakukannya, maka siapa yang mau percaya dirinya sebagai seorang aktor. Tetapi, apakah orang tahu, setiap hari, setiap saat, seseorang sedang melakukan pertunjukan. Karena dia hidup, atau karena dia percaya dia hidup.”

Persis bagaimana sebuah pertunjukan berakhir, Afrizal mengakhiri kisahnya dengan Frans yang pergi entah ke mana pasca melakoni pementasan besarnya dan mengakhiri perannya sebagai orang gila. Pertunjukan teater berakhir, dan tidak ada yang tersisa selain muslihat-kekalahan yang buruk.

Jakarta Bagian Kesepuluh: Ruang Bersiasat Masyarakat yang Kelelahan

Naik kereta komuter tujuan Jakarta pada pagi hari atau tujuan Bogor pada petang menuju malam adalah ritual bunuh diri berjamaah masyarakat Jakarta yang tinggal di pinggir kota—berangkat dengan kantuk dan pulang dengan badan yang remuk redam.

Dan cerita “Suatu Hari dalam Kehidupan Seorang Warga Depok yang Pergi ke Jakarta” karangan Yusi Avianto Pareanom adalah cara masyarakat pinggir Jakarta bersiasat menghindari hal tersebut—bekerja dari rumah, memilih naik kereta pada kondisi lowong, menumpuk jadwal sekaligus dalam satu kali kunjungan, dan tidak menyia-nyiakan waktu.

Kita akan dibawa Yusi mengikuti aktivitas tokoh aku yang menjalankan siasatnya, dari mulai naik komuter, turun dari stasiun, pergi ke kedutaan, menikmati makan siang, nonton bioskop, mampir ke kedai kopi, cuap-cuap ngalor-ngidul, hingga pulang kembali menuju Depok dengan taksi. Sebagaimana siasat yang tidak mulus, selalu ada konsekuensi. Lewat tokoh Aku yang silap mempersiapkan dokumen, Yusi memukul telak bagaimana siasat itu runtuh seketika dan membuat tokoh Aku harus kembali lagi melewati sekian banyak momen yang barusan ia lalui.

Jakarta dalam cerita “Suatu Hari dalam Kehidupan Seorang Warga Depok yang Pergi ke Jakarta” adalah potret ‘siasat masyarakat kota yang kelelahan tanpa ketelitian’, suatu kekeliruan yang lain—atau cara bunuh diri masyarakat pinggir kota nomor dua.


Dalam Kota Rumah Kita (2006) karya Marco Kusumawijaya, saya menemukan satu esai yang membahas program kolektif seniman Jakarta yang dihelat pada 2004 dan diberi tajuk “Membayangkan Jakarta”. Di bagian penutup, Marco menulis, “Membayangkan Jakarta mengajak kita semua membayangkan Jakarta-Jakarta lainnya. Dengan demikian ia juga mengisyaratkan bahwa setiap proyek tentang Jakarta seharusnya dibuka di hadapan khalayak agar dapat memasuki proses imajinasi kolektif dan dapat dicapai oleh partisipasi khalayak. Membayangkan Jakarta berharap memunculkan dialog nilai-nilai menyertai proses produksi artefak kota.”

Tujuh belas tahun berselang, terbit antologi Cerita-Cerita Jakarta. Kisah ini bagi saya menjawab apa yang diharapkan Marco dari program kolektif seniman tersebut.

Melalui sepuluh cerita, tiap pengarang menghamparkan Jakarta-Jakarta versi mereka untuk dihadapkan kepada pembaca—yang juga memiliki Jakarta versinya sendiri—dan menjadikan hal ini sebagai dialog. 

Kisah-kisah ini—meski diyakini oleh dua editornya jauh dari sempurna dan memiliki kemungkinan tak memberi sudut pandang pada suatu narasi penting tertentu—barangkali sudah cukup berlimpah dalam mendokumentasikan ingatan kolektif untuk orang-orang yang tinggal, hidup, singgah, dan tumbuh di The Big Durian ini. Sebuah antologi yang istimewa—setidaknya bagi saya.


Judul Buku: Cerita Cerita Jakarta

Editor: Maesy Ang & Teddy W. Kusuma

Penulis: Ratri Ninditya, Hanna Fransisca, Sabda Armandio, utiuts, Dewi Kharisma Michellia, Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie, Ben Sohib, Cyntha Hariadi, Afrizal Malna, dan Yusi Avianto Pareanom

Penerbit: POST Press, 9 April 2021

Tebal: 213 halaman

Info pembelian: POST Press, Stan Buku

Doni Ahmadi
Doni Ahmadi. Menulis cerita pendek dan esai. Sehari-hari bekerja sebagai editor di laman kebudayaan dan mengelola rumah penerbitan kecil bersama empat rekannya. Bukunya, kumpulan cerita Pengarang Dodit (2019).