Enola (Tidak) Sendirian dalam Semesta Sherlock Holmes

Seri Sherlock Holmes

Seperti yang diutarakan di filmnya, nama Enola jika dibalik akan menjadi kata Alone, yang berarti sendirian. Namun, sesungguhnya Enola tidak sendirian di tengah lautan cerita Sherlock Holmes.

Sedari dua minggu lalu, kita sudah bisa menonton film Enola Holmes di Netflix. Bisa jadi banyak fans yang kaget mendengar judulnya, karena Sir Arthur Conan Doyle hanya pernah menuliskan bahwa satu-satunya saudara Sherlock adalah kakak lelakinya yang bernama Mycroft Holmes. Namun, di film terbaru Netflix ini, justru Sherlock dan Mycroft tiba-tiba saja memiliki seorang adik perempuan remaja berusia 16 tahun bernama Enola Holmes.

Enola Holmes sendiri merupakan karakter ciptaan Nancy Springer yang kali pertama muncul dalam novel The Case of the Missing Marquess, terbit pada 2006(terjemahan bahasa Indonesia: Kasus Hilangnya Sang Marquess).

Springer terus menulis kisah petualangan Enola sampai enam buku. Film Enola Holmes merupakan adaptasi pertama dari seri novel tersebut. Ya, Enola Holmes memang bukanlah karakter ciptaan Sir Arthur Conan Doyle.

Dia menciptakan karakter Enola Holmes setelah editornya memintanya menuliskan cerita berlatar London akhir abad ke-19. Awalnya, sang editor ingin Springer menulis tentang Jack the Ripper, tetapi karena pengarang lain sudah menulis tentang itu, Springer akhirnya beralih ke semesta Sherlock Holmes.

Nancy Springer sebelumnya dikenal karena menulis seri novel tentang putri Robin Hood yang bernama Rowan Hood pada 2001 sampai 2005.

Sementara itu, untuk proyek barunya, dia merasa tidak bisa menuliskan tentang putri Sherlock karena terbentur akan konsep karakter Sherlock yang oleh Conan Doyle tidak pernah diceritakan jatuh cinta.

Akhirnya, Springer memutuskan untuk menciptakan adik perempuan Sherlock dan Mycroft. Nama Enola pun datang begitu saja di benak Springer.

Berbeda dari cerita-cerita asli mengenai Sherlock Holmes, Enola Holmes versi Nancy Springer ditujukan untuk pembaca remaja.

Springer tidak ingin Enola memecahkan kasus pembunuhan. Kasus-kasus yang ada di seri bukunya selalu berkisar pada kehilangan. Enola hanya memakai kemampuannya untuk menemukan orang atau benda yang hilang.

Aktris Millie Bobby Brown merupakan penggemar seri buku Enola Holmes, sehingga dia mengusulkan kepada ayahnya agar seri novel tersebut bisa diadaptasi menjadi film. Legendary Pictures sebagai rumah produksi pun menyetujui usul tersebut. Mereka memulai proses adaptasi sejak Februari 2019, dengan Millie Bobby Brown memerankan Enola Holmes.

Begitu pandemi COVID-19 datang, Netflix mendapat hak distribusinya pada April 2020 sehingga film tersebut tidak perlu masuk bioskop. Enola Holmes pun lantas tayang pada 23 September 2020.

Seperti yang diutarakan di filmnya, nama Enola jika dibalik akan menjadi kata Alone, yang berarti sendirian. Namun, sesungguhnya Enola tidak sendirian di tengah lautan cerita Sherlock Holmes.

Sherlock Holmes?

Bisa jadi ada yang belum pernah membaca kisah-kisah Sherlock atau menonton berbagai macam adapatasinya. Conan Doyle memulai semua kisah mengenai karakter ini dengan novel A Study in Scarlet (Penelusuran Benang Merah), yang terbit pada 20 November 1886.

Sekuelnya pun terbit empat tahun kemudian, dilanjutkan dengan 24 cerita pendek tentang petualang-petualang Sherlock lainnya di majalah The Strand. Berkat cerita-cerita pendek itulah karakter Sherlock Holmes sang detektif menjadi sangat populer di Inggris, akan tetapi si pengarang sendiri tidak begitu senang akan kepopuleran itu.

Sir Arthur Conan Doyle merupakan dokter umum lulusan University of Edinburgh. Dia juga sempat belajar botani, dan sebenarnya hanya menulis cerita di waktu senggang. Kepopuleran Sherlock Holmes di tengah karier kedokteran yang masih dirintis membuatnya lumayan benci dengan karyanya sendiri.

Dia pernah menyurati ibunya pada November 1981 bahwa dia ingin Sherlock mati di salah satu ceritanya, tetapi sang ibu menolak habis-habisan.

Bahkan, dia sampai sengaja menaikkan harga ceritanya agar majalah menghentikan serialisasi Sherlock Holmes, tapi justru harga tersebut malah disetujui.

Ketika “The Final Problem” (“Kisah Penutup”) terbit pada Desember 1983, karakter Sherlock diceritakan mati akibat jatuh dari air terjun. Reaksi para pembaca setia Sherlock pun sangat keras dalam menolak perkembangan cerita tersebut.

Banyak surat protes yang melayang ke majalah The Strand maupun Conan Doyle, bahkan ada sekitar 20.000 pembaca yang membatalkan langganan majalah tersebut. Konon penduduk London kompak mengikat kain hitam di lengan sebagai tanda duka atas kematian Sherlock Holmes.

Bisa terbayang betapa melekatnya Sherlock dalam budaya urban London kala itu. Konsep fandom untuk tiap karya fiksi terkenal pada masa sekarang pun dimulai dari Sherlock. Bahkan, ada dua fandom besar Sherlock Holmes yang masih aktif sampai sekarang, yaitu The Baker Street Irregulars dan Sherlock Holmes Society.

Alih wahana, kanon, dan pastiche

Ada sangat banyak adaptasi kisah Sherlock Holmes dari tulisan ke wahana lain. Bahkan Guinness World Records mencatatnya sebagai karakter yang paling banyak diperankan sepanjang sejarah.

Conan Doyle sendiri pernah ikut andil dalam adaptasi tulisannya ke sandiwara panggung sejak tahun 1899. Ia menuliskan naskah sandiwara panggung yang berjudul Sherlock Holmes. Sejak itu, mulai banyak alih wahana yang sampai sekarang sudah berjumlah lebih dari 25.000 judul.

Conan Doyle hanya pernah menulis empat novel dan 56 cerita pendek Sherlock Holmes. Para anggota fandom Sherlock pun bersepakat mereka hanya akan menganggap enam puluh karya tersebut saja sebagai “kanon”.

Namun, bagaimana dengan karya-karya yang dikarang penulis selain Sir Arthur Conan Doyle?

Kali pertama cerita Sherlock bukan ditulis oleh Conan Doyle adalah pada cerita pendek berjudul “The Late Sherlock Holmes” terbit tahun 1893 di koran The St. James’s Gazette. Penulisnya adalah sahabat dekat Conan Doyle, J.M. Barrie. Kelak, satu dekade kemudian, J.M. Barrie menciptakan karakter Peter Pan.

Karya-karya yang ditulis selain oleh Conan Doyle masuk ke dalam kategori pastiche. Pastiche sifatnyaseperti parodi, ia merupakan imitasi karya lain. Namun, ketika parodi menertawakan, pastiche malah menyanjung. Sekarang, pastiche berbentuk tulisan lebih umum disebut sebagai fanfiksi.

Bukan hanya para anggota fandom Sherlock yang menulis berbagai pastiche atas karakter Sherlock, pengarang-pengarang terkenal pun ikut melakukannya juga.

Mark Twain, Maurice Leblanc, sampai Neil Gaiman pun pernah melakukannya. Karya-karya baru Sherlock Holmes ini pun tidak jarang sengaja melenceng dari kanon.

Maurice Leblanc mempertemukan Sherlock dengan Arsène Lupin sang pencuri berbudi. Neil Gaiman mencampurkan kisah Sherlock dengan Mitos Cthulhu karya H.P. Lovecraft. Semua kemelencengan itu tidak pernah membuat marah penggemar Sherlock, karena kanon aslinya tidak akan pernah berubah.

Bahkan Enola Holmes bukan satu-satunya karakter orisinal di pastiche Sherlock. Basil of Baker Street mengubah sosok Sherlock menjadi seekor tikus. Ada juga Sherlock Hound yang merupakan seekor anjing. Shirley Holmes, Sherlock Shellingford dari Tantei Opera Milky Holmes, dan Sara “Sherlock” Futaba dari Miss Sherlock merupakan beberapa karakter wanita orisinal seperti Enola Holmes. Selain itu, juga sempat ada Iris Watson, putri dari John Watson, rekan Sherlock, di salah satu seri Ace Attorney.

Ada banyak preseden tentang pelencengan cerita Sherlock dari kanon selama 130 tahun lebih sejak Conan Doyle menerbitkan novel pertamanya. Enola Holmes karya Nancy Springer merupakan anggota terbaru dari tradisi pastiche fandom ini.

Jadi, jika demikian adanya, kenapa pada 23 Juni 2020 ada tuntutan hukum yang dilayangkan oleh Conan Doyle Estate kepada Nancy Springer, Legendary Pictures, dan Netflix?

Tuntutan hukum dari Conan Doyle Estate

Sepeninggalan Sir Arthur Conan Doyle, hak-hak kekayaan intelektualnya dipegang oleh Conan Doyle Estate. Hak cipta atas karya-karya Conan Doyle telah masuk domain publik di Britania Raya dan Kanada. Sebagian besar karyanya juga masuk domain publik di Amerika Serikat, kecuali yang terbit pada 1923 ke depan. Itu artinya, ada sepuluh cerita pendek Sherlock Holmes yang belum masuk domain publik Amerika.

Karakter Sherlock Holmes yang awalnya diciptakan Conan Doyle merupakan ahli deduksi berhati dingin yang jarang menunjukkan emosinya ke orang lain. Conan Doyle Estate berargumen bahwa sisi emosional Sherlock baru mulai dimunculkan di sepuluh cerita pendek terakhir Conan Doyle.

Pasalnya, karakter Sherlock di seri novel Enola Holmes juga digambarkan lebih humanis dan emosional. Atas dasar itulah, Conan Doyle Estate melayangkan gugatan pelanggaran hak cipta terhadap novel dan adaptasi film Enola Holmes. Padahal series novel karya Nancy Springer telah terbit sejak 2006.

Apakah itu berarti film Enola Holmes memang melanggar hak cipta milik Conan Doyle Estate? Sampai artikel ini ditulis, belum ada kejelasan tentang kapan kasus tersebut disidangkan.

Baca kembali kisah-kisah Sherlock Holmes

Tidak ada kata terlambat untuk mulai mengikuti petualangan Sherlock Holmes. Namun, sejarah publikasinya yang panjang mungkin membuat beberapa orang bingung mau mulai membaca dari mana.

Semua penggemar Sherlock setuju untuk memulai dari novel pertama karya Conan Doyle, Penelusuran Benang Merah. Narator novel ini adalah Dr. John Watson, asisten dan sahabat Sherlock Holmes yang tinggal sekamar di apartemen 221B Baker Street, London. Ini adalah novel pembunuhan pertama yang detektifnya memakai kaca pembesar sebagai alat penyidikan.

Selanjutnya banyak yang terpecah antara membaca novel Sherlock kedua, The Sign of the Four (Empat Pemburu Harta) atau membaca kumpulan cerita-cerita pendek Sherlock di The Adventure of Sherlock Holmes (Petualangan Sherlock Holmes) dan The Memoirs of Sherlock Holmes (Memoar Sherlock Holmes).

Begitu selesai membaca “Kisah Penutup”, lanjutlah ke The Hound of the Baskervilles (Anjing Setan). Sherlock dan Watson bertualang mengungkap mitos anjing setan pembunuh, yang berlatar sebelum kematian Sherlock di “Kisah Penutup”. Bisa dibilang ini novel Conan Doyle yang paling terkenal. Suksesnya buku ini membuat Conan Doyle yakin untuk menghidupkan Sherlock Holmes kembali.

Sisa kanonnya adalah tiga kumpulan cerita dan satu novel. Jika kalian sudah menghabiskan semua, mungkin barulah saatnya mencoba menyelam ke beragam pastiche yang terbit.

The Seven-Per-Cent Solution karya Nicholas Meyer menceritakan tentang usaha kesembuhan Sherlock dari kecanduan kokain dan pemecahan kasus penculikan. Ditulis seolah-olah sebagai naskah Watson yang hilang, novel tahun 1974 ini cukup sukses sampai diadaptasi menjadi film pada 1976. Meyer pun melanjutkan dengan dua sekuel.

Seri novel Irene Adler oleh Carole Nelson Douglas, yang dimulai pada 1990 dengan Good Night, Mr. Holmes, mengedepankan karakter yang awalnya hanya muncul di satu cerita kanon. Irene sendiri memang sudah sering dijadikan kekasih Sherlock di berbagai pastiche lain, padahal Conan Doyle sendiri tidak pernah menuliskan hal itu.

Kumpulan cerita pendek Shadows Over Baker Street mencampurkan unsur Mitos Cthulhu dengan Sherlock Holmes. Salah satu ceritanya ditulis oleh Neil Gaiman, berjudul “A Study in Emerald”, dan pernah memenangkan Hugo Award pada 2004.

Masih banyak lagi pastiche Sherlock yang telah terbit. Bahkan, siapa pun bisa menulisnya sekarang juga. Dengan puluhan ribu jumlah karya berbasis Sherlock, Enola Holmes benar-benar tidak sendirian dalam semesta ini. Bisa jadi besok akan ada sosok baru yang memastikan bahwa Sherlock Holmes tidak akan hilang ditelan masa.

Kira-kira, Conan Doyle yang menghindari popularitas itu kesal tidak, ya, jika ia masih hidup saat ini dan melihat semua orang rajin menghidupkan karakter Sherlock “yang hampir dibunuhnya”?