Fanny Chotimah tentang “You and I”: Aku Ingin Memperlihatkan Mereka sebagai Survivor

Cuplikan film "You and I" (2020). Sumber: KawanKawan Media

“Why do you often dream about dead people? If they ask you to join them, please say no.”

“Of course, no. I still want to be with you.”

Puluhan tahun telah berlalu sejak Kusdalini dan Kaminah bertemu pertama kali di penjara sebagai tahanan politik 1965. Hingga akhir hayat menjemput, mereka tidak terpisahkan. Kisah mereka di masa-masa senja itu terekam dalam film You and I (2020) yang disutradarai oleh Fanny Chotimah.

Fanny lewat You and I lebih banyak mengambil pendekatan observasional dibandingkan wawancara. Sekalipun ada wawancara bersama Kaminah, momen itu diinterupsi oleh Kusdalini yang menanyakan hal penting tidak penting—seolah meneguhkan fakta bahwa keduanya tak bisa dipisahkan, bahkan oleh layar kamera.

Lewat pendekatan observasional itu pula, penonton bisa melihat keseharian Mbah Kus dan Mbah Kam, panggilan akrab keduanya, mulai dari mencuci baju, menggoreng kerupuk, hingga menonton TV di sore hari. Alih-alih membosankan, aktivitas itu ikut memperlihatkan kasih sayang keduanya yang tak pudar dimakan zaman. Mbah Kam mengingatkan Mbah Kus untuk tak melupakan sejarah. “Jas merah (jangan sekali-kali melupakan sejarah),” katanya. Sementara Mbah Kus yang menderita demensia sudah semakin sulit bahkan untuk mengingat nama teman-temannya.

You and I meraih penghargaan di level nasional dan internasional. Film ini memenangkan penghargaan Film Dokumenter Panjang Terbaik di Festival Film Indonesia 2020 hingga “The Asian Perspective Award” di DMZ International Documentary Film Festival ke-12.

Simak wawancara Ruang tentang You and I bersama Fanny Chotimah berikut ini.

Bagaimana awal cerita kamu bertemu dengan Mbah Kusdalini dan Kaminah? Apa yang membuatmu tertarik untuk membuat dokumenter tentang hidup mereka?

Awalnya, pertemuan pertama itu dari buku Pemenang Kehidupan (2016) karya Adrian Mulya. Itu proyek produserku, Amerta Kusuma (Aam) dan Yulia Evina Bhara (Ebe). Mereka main ke Solo, terus mengajak aku bertemu Mbah Kaminah dan Mbah Kusdalini. Itu pertemuan pertamaku dengan mereka secara langsung.

Setelah itu, karena aku tinggal di Solo dan kebetulan rumahku dekat dengan mereka, masih satu kelurahan, jadinya sering bertemu. Mereka sangat ramah dan hangat, jadi aku juga ingin kenal mereka lebih jauh. Makanya, aku sering menengok dan sering datang.

Dari sana, mengobrol, mendengarkan kisah mereka, aku merasa kayak—kalau cuma aku yang tahu nggak adil banget. Nggak adil kalau aku nggak membagikan pengalamanku berkenalan dengan Mbah Kaminah dan Mbah Kusdalini. Aku merasa aku ingin membagikan pengalaman mereka ke dunia. Jadi, ide itu muncul.

Kemudian, aku juga mengobrol dengan Aam dan Ebe. Mereka akhirnya jadi produserku juga. Mereka memang juga terbuka sekali jika setiap karya di buku Pemenang Kehidupan bisa direspons dalam bentuk media apapun, nggak mesti film. Aku pun mengobrol dengan Mbah Kam dan Mbah Kus, apakah kira-kira mereka bersedia aku buatkan film yang mendokumentasikan kehidupan mereka.

Menurutmu, apa yang membuat Mbah Kus dan Mbah Kam setuju untuk difilmkan?

Mereka, bagaimanapun, adalah seorang aktivis. Mereka senang berbagi cerita, menyuarakan tentang kehidupan mereka. Mereka juga nggak gentar. 

Mereka mungkin juga senang karena kami anak muda. Kebetulan juga kru-kru kami kan perempuan. Aku pikir itu membuat mereka jadi lebih nyaman untuk melakukan hal-hal di ruang-ruang privat.

Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk proses riset dan pengambilan gambar?

Aku kenalan dari 2016. Proses ke syutingnya cukup lama. Memang banyak penyesuaian. Jadi, sebelum aku syuting, aku juga bawa kamera, bawa alat-alat produksi.

Karena rumahnya sempit, aku juga nggak bawa banyak kru. Cuma bertiga, termasuk aku. Satu sound, satu kamera. Kadang aku juga pegang kamera. Terus, nggak ada lighting. Natural saja. Aku juga nggak mau terlalu mengintimidasi mereka dengan alat-alat dan kru yang banyak. Jadi, memang pelan-pelan menyesuaikan. Kadang beneran syuting, kadang nggak aku rekam. Yang pasti, mereka sudah terbiasa dengan alat-alat itu.

Terus ya sudah, 2016 itu riset. 2017 syuting. Sampai tahun berikutnya, tahun berikutnya. Penyuntingannya juga kurang lebih tiga tahun. Jadi, proses membuat dokumenter panjang memang panjang. Nggak bisa buru-buru. Totalnya, sampai waktu rilis, butuh waktu empat tahun. Ceritanya pun sempat berubah, dari awal aku cerita soal memori, kemudian jadi fokus ke soal relasi.

Jadi, proses pengambilan gambar dan penyuntingan dilakukan secara simultan, ya?

Iya. Simultan. Dari 2017 sudah mulai menyunting juga. Kami juga ikut banyak workshop. Editing lab gitu. Jadi, memang berproses ceritanya. 

Dengar-dengar proses penyuntingannya pelik, ya?

Oh, iya, pelik sekali. Pertama, aku sebenarnya tidak tahu apakah aku mau pendekatan yang murni observasional atau ada wawancara.

Selama syuting, ada adegan seperti wawancara, padahal ya ngobrol biasa. Dulu, aku tidak mempertimbangkan untuk menggabungkan adegan wawancara itu dengan adegan observasional. Tapi, di proses akhir penyuntingan, kami lihat-lihat lagi, kok, sayang. Tapi, pertanyaannya, bagaimana cara menggabungkannya?

Untungnya, aku tetap merekam wawancara dengan Mbah Kam meskipun Mbah Kus mengganggunya. Dan itu ternyata membantu banget. Kalau misalnya aku nggak pernah mempertimbangkan gangguan-gangguan seperti itu untuk direkam, mungkin akan jadi semakin aneh untuk menggabungkannya. Tidak jadi unik juga. Itu kupikir jadi salah satu kekuatan film You and I.

Lalu, di ending pun ada banyak pilihan adegan. Ending-nya pasti akan sedih. Tapi, aku nggak mau yang rasanya membuat kita putus asa, kehilangan harapan. Aku nggak mau kasih mood atau kesan itu ke penonton. Itu juga yang jadi pertimbangan mengapa adegan Mbah Kam berdoa jadi yang paling tepat mewakili.

Selama proses pengambilan gambar, apakah ada hal khusus yang kamu harapkan akan terjadi dan hal yang kamu tidak sangka justru terjadi?

Aku kan memang melakukan observasi dahulu. Melihat kegiatan mereka apa saja setiap harinya. Momen mereka, keintiman mereka di saat menggoreng kerupuk, misalnya, itu selalu terulang. Apalagi, Mbah Kus juga agak demensia, jadi kadang ia melontarkan pertanyaan yang sama. Aku juga bisa menebak reaksi Mbah Kam karena sudah sering melihat. Jadi, saat syuting, kupikir semua sudah terukur karena kegiatan mereka, keseharian mereka, reaksi mereka selalu terulang.

Tapi, yang tidak aku sangka adalah kepergian Mbah Kus, kemudian disusul oleh kepergian Mbah Kam. Aku nggak mengerti kenapa bisa secepat itu. Itu yang agak mengguncang diriku dan cukup menguras emosiku. Karena, aku juga sudah sangat terikat dengan mereka. Kami sudah berteman. Kami patah hati kehilangan seseorang yang sudah begitu dekat dengan kami. Itu yang di luar kuasaku.

Kamu tak menyangka kamu akan mendapatkan footage saat Mbah Kus sakit dan meninggal. Apakah sempat ada keraguan atau kegamangan untuk memasukkan adegan itu ke dalam film?

Iya. pasti. Kami sangat mempertimbangkan momen-momen yang harus masuk atau nggak. Apalagi, kami banyak menemani mereka. Membantu Mbah Kam, merawat Mbah Kus. Jadi, kru-kru aku juga tidur di rumah sakit, membantu ganti pampers, dan lain-lain.

Malah, aku selalu bilang lupakan saja syutingnya kalau memang momennya kami harus membantu mereka. Jadi, seringkali aku juga nggak memedulikan itu. Terus, yang pasti, ketika mereka butuh kami, kami harus bantu. Kadang juga ada momen-momen Mbah Kus mau berdiri saja susah sampai harus memegang tembok. Di situ kami inginnya membantu saja. Kami jadi kayak, “Aduh, jangan sampai jatuh ya, Mbah, hati-hati.” Ada ketakutan seperti itu saat syuting.

Lalu, Mbah Kam setahun kemudian menyusul Mbah Kus [meninggal dunia]. Kami memutuskan untuk menampilkan sampai Mbah Kus saja. Soalnya, aku juga ingin film ini memberi harapan. Tidak mau kayak, yah, semuanya pergi, keadilan belum ada. Malah jadi apa ya, jadi kecewa, patah hatinya berkali-kali.

Banyak momen yang sebetulnya, katakan lah dramatis dan segala macam. Tapi, aku pikir porsinya dibuat seimbang saja, lah. Aku juga nggak mau terlalu eksploitatif, dibikin harus sesedih itu. Kupikir yang kami pilih itu sudah jadi porsi yang pas.

Jadi, kalau misalnya kemarin ada yang menonton sampai sesunggukan, menangis, ataupun nggak kuat, aku tuh sampai kayak, “Oh, ya? padahal itu sudah kita tahan-tahan.” Tapi mungkin karena memang mengharukan filmnya, jadi wajar sih kalau sampai menangis.

Udah ditahan-tahan saja masih 😭

Dinda sudah nonton, ya? Itu sudah ditahan-tahan, Dinda. Hahaha. Masih ada footagefootage yang kami, wah, ini terlalu—porsinya terlalu begitu [sedih].

Kamu bilang kamu nggak mau terlalu mendramatisir kehidupan mereka. Kalau boleh tahu kenapa?

Karena memang, apa ya, aku ingin film ini menunjukkan mereka sebagai karakter yang kuat, yang berhasil survive. Mereka yang sebagai penyintas punya harkat dan martabat. Bukan korban yang perlu dikasihani atau perlu dibantu.

Jadi, sebisa mungkin yang kutunjukkan adalah bagaimana mereka itu memang mandiri dan saling merawat. Mereka punya keunikan, keintiman, relasi persahabatan. Bagaimana Mbah Kam sangat sabar dengan Mbah Kus yang, misalnya, selalu menginterupsi saat wawancara ataupun bertanya soal hal yang sama berulang-ulang. Jadi, itu yang sebetulnya yang aku ingin tunjukkan. Bukan kesedihannya.

Memang, sih, itu semua manusiawi. Kita sedih, bercanda, senang, ataupun kecewa itu manusiawi. itu yang ingin aku tunjukkan. Tapi, porsi kesedihan itu bukan yang paling dominan. Makanya ending-nya itu: Mbah Kam yang berdoa sendiri ketika biasanya mereka berdoa berdua di depan. Intinya itu, ingin memberikan harapan.

Di film, kamera lebih banyak merekam aktivitas mereka sehari-hari dibandingkan mewawancarai mereka. Ada alasan khusus untuk ini?

Isu di film ini kan sebenarnya cukup berat dan sensitif, ya. Aku pun membuat film ini untuk membantu mengamplifikasi suara mereka. Jadi, kalau dilakukan secara hard sell, sepertinya sudah banyak banget, gitu.

Lain halnya dengan menunjukkan sisi humanis mereka, di mana penyintas itu manusia juga. Mereka bisa sama seperti nenek kita, misalnya. Jadi, aku ingin melepaskan stigma-stigma dan stereotip yang melekat kepada mereka. Dengan itu, mungkin, orang jadi punya rasa empati.

Karena aku juga banyak mendapatkan respons seperti, “Aku jadi ingat nenekku, orang tuaku.” Terus juga kayak, “Kayaknya aku juga punya tetangga seperti mereka.” Jadi, seperti relate ke keseharian penonton.

Salah satu hal yang membuat karakter Mbah Kus dan Kaminah menarik adalah latar belakang mereka sebagai penyintas Tragedi 65. Bagaimana cara kamu mengangkat itu ke film?

Pastinya sudah dijelaskan di awal latar belakang pertemuan mereka. Mereka bertemu sebagai tahanan politik 65. Peristiwa itu juga—masa lalu yang sangat tidak mudah—yang mungkin membuat ikatan persahabatan mereka jadi sangat kuat.

Terus, keseharian mereka, mereka memang ikut arisan bersama teman-teman sesama mantan tahanan politik. Mereka bertemu sesama penyintas. Di sana memang tidak terlalu aktif membicarakan tentang masa itu—karena juga sudah sepuh-sepuh, ya. Jadi, justru mereka lebih sering bertemu untuk tanya-tanya tentang kesehatan masing-masing. “Kolesterolnya berapa? Tekanan darah tingginya berapa?” 

Tapi, mereka tetap update, mereka nonton berita terus. Di film ada adegan mereka menonton berita, karena memang setiap sore mereka menonton berita.

Kadang juga kalau ada situasi apa, gitu, yang menurut mereka berbahaya, Mbah Kus dan Mbah Kam selalu mengingatkan kami. “Jangan syuting dulu. Jangan ke sini dulu.” Mereka takut apa yang menimpa mereka menimpa kami. Bagaimana aku nggak semakin sayang. Padahal, ya ampun, itu risikoku. Mereka saja bisa melewati itu. Aku pun harus bisa. Aku sudah memilih masuk ke kehidupan mereka, jadi semua risiko itu aku ambil. Tapi, kadang mereka juga—ya mungkin aku naif tidak tahu apa yang mereka alami.

Yang muncul di film memang segitu aja. Tidak hard sell. Hahaha. Ini juga jadi strategi supaya film-film seperti ini bisa diterima masyarakat secara luas, berbagai kalangan, berbagai kelas. Harapan kami semua bisa mengakses, semua bisa menonton.

Aku sebagai penonton melihat relasi antara Mbah Kus dan Mbah Kaminah begitu intim. Mereka terlihat bukan sekadar sahabat, tetapi juga pasangan. Bagaimana kamu sendiri memandang relasi mereka?

Banyak banget pertanyaan, “Apakah mereka lesbian?” Yang pasti aku nggak pernah menanyakan itu ke mereka. Dari aku pribadi pun, filmku bukan tentang itu. Karena, aku nggak mau mereka semakin distigma macam-macam, mendapatkan stereotip lagi. Dan aku pikir hal tersebut sangat privat. Aku sendiri merasa hubungan mereka sudah seperti beyond love itself.

Ada harapan atau doa yang ingin kamu sampaikan?

Kalau buatku sih, pencapaian dan apresiasi untuk You and I membuatku punya mixed feeling. Di satu sisi aku senang, tapi di sisi lain juga sedih karena Mbah Kus dan Mbah Kam sudah nggak ada. Mereka nggak bisa melihat orang-orang, anak muda mengapresiasi mereka.

Aku sendiri masih nggak bisa move on. Masih selalu sedih, “Kok mereka cepat banget pergi?” Masih nggak terima juga.

Juga, penyintas yang lain banyak sekali. Mereka pasti memiliki kisah-kisah yang luar biasa juga, dan semakin banyak dari mereka yang berguguran. Memang, film cuma berkontribusi sedikit terhadap gerakan. Kadang juga dibilang begitu, “Sudah banyak film yang berbicara tentang isu 65. Tapi, apa sih dampaknya?” Ya, film kan hanya bisa menginspirasi, menggerakkan hati orang. Untuk menjadi sebuah kebijakan, itu kan butuh kerja-kerja lain di luar film. Tapi, semoga sih bisa ke arah sana. Semoga.

“You and I” tayang pertama kali di Indonesia lewat Jogja-NETPAC Asian Film Festival pada November 2020. Saat ini, Fanny dan kru-kru lain masih berdiskusi dengan berbagai platform offline dan online agar kisah Mbah Kus dan Mbah Kam dapat diakses semakin banyak orang.

Permata Adinda
Pernah jadi partisipan workshop kelas kritik Festival Film Dokumenter dan Yamaga International Film Festival. Tulisan-tulisannya juga dapat ditemukan di Asumsi.co, Cinema Poetica, dan Magdalene.co.