10 Film Romantis: Hantu Sedih dan Cinta Kambing

Artikel ini ditulis bersama Permata Adinda

Dari sepuluh film yang disebutkan di bawah, mana film yang paling romantis?

Romantis bukan hanya soal kemesraan. Dia tidak bisa dibatasi dengan kata sifat, seperti sayang, cinta, suka, rindu, dan sinonim lainnya. Sebagai perilaku, romantis juga tidak bisa direduksi dengan laku kirim bunga dan memberi cokelat mahal atau menulis puisi semata. Apalagi, menyanyi lagu cinta di depan orang banyak sehingga mungkin membuat malu sang pujaan hati.

Romantis di era masyarakat kontemporer ini mewujud jadi perilaku yang matang dan lebih menghargai pasangan. Perbuatan yang konsensual dalam hubungan percintaan menjadi barang wajib. Akan tetapi, demi melanggengkan hubungan percintaan, bumbu-bumbu manis tentu penting untuk ditaburkan dalam adonan perilaku sehari-hari kepada pasangan. Kalau perlu, rasa pedas dan asin bisa ditambahkan supaya hubungan makin teruji.

Tak bisa disangkal, hubungan percintaan yang mulus-mulus saja nyaris mustahil terjadi. Akan selalu ada riak maupun gelombang besar yang menggoyang struktur internal hubungan tersebut. Mereka diperlukan untuk menguji daya-daya dukung yang ada terhadap sebuah hubungan. Ini tak terhindarkan karena latar percintaan dua insan tidak menempati ruang yang hampa, dan bakal selalu ada pengaruh dari elemen-elemen dari luar.

Berkaca dari hal-hal tersebut, pada hari (yang katanya penuh) kasih sayang ini, Ruang memilihkan sepuluh film romantis untuk Anda. Sepuluh film yang datang dari era milenium ini semoga dapat lebih relevan dengan kehidupan percintaan Anda.

THE LUNCHBOX (Ritesh Batra, 2013)

Makanan memang ajaib. Jika rasanya lezat, dia mengobati lapar sekalipun juga bisa terus menyebabkan rasa lapar. Makanan lezat juga dapat merekatkan orang-orang yang berbeda pendapat. Jika itu semua masih kurang ajaib, lihatlah yang dialami Saajan dan Ila. Suatu siang, kotak makan yang dikirim Ila (Nimrat Kaur) untuk suaminya malah nyasar ke meja kerja Saajan (Irrfan Khan). Semesta rupanya bersekongkol. Momen kebetulan yang sedap itu lantas mengklopkan berbagai hal yang tidak pas pada hidup Saajan dan Ila.

Dua manusia urban itu juga saling mengisi kekosongan masing-masing. Mereka melakukannya dengan penuh kesadaran dan tahu batasannya. Sebab, Saajan adalah pria lajang di usia paruh bayanya, sedangkan Ila sudah bersuami dan memiliki anak. Sampai tibalah hari yang krusial itu, saat mereka memutuskan untuk bertemu. Apa yang terjadi saat itu dan setelahnya merupakan wujud filmmaking yang matang dan dewasa. Ritesh Batra memahami bahwa cerita dan karakter yang telah dihidupkannya tidak semestinya untuk dicederai demi nafsu dan hasrat belaka. (AR)

COLD WAR (Pawel Pawlikowski, 2018)

Wiktor (Tomasz Kot), seorang musisi, bertemu dengan seorang penyanyi, Zula (Joanna Kulig), dalam audisi untuk sebuah pentas folk music di Polandia. Nyanyian Zula punya karakter dan emosi membuat Wiktor terpana. Ia menyanyikan lagu tentang cinta ketika orang lain menyanyikan lagu sendu tentang perpisahan.

Kisah cinta Wiktor dan Zula sangat dipengaruhi oleh geopolitik Eropa pasca Perang Dunia II. Perang dingin memengaruhi cara hidup mereka dalam lingkup personal: Wiktor tak betah memimpin pentas propaganda, dan Zula perlu menikahi orang Italia agar bisa pindah kewarganegaraan secara legal. Mereka lalu berpindah-pindah negara untuk bisa bertemu dan beradaptasi dengan lingkungan baru.

Sejarah perang dingin dalam Cold War adalah sejarah yang spesifik, karena berkaitan dengan perkembangan musik saat itu dan kekontrasan pemerintahan negara-negara Eropa Timur dan Barat. Pengaruh intrik politik masuk ke dalam kehidupan personal, seperti yang dialami Wiktor dan Zula. Mereka tak hidup di dunia yang serasa hanya milik berdua. Banyaknya wide shot yang memperlihatkan situasi masyarakat sekitar membuktikan hal tersebut. Kisah cinta Cold War sendiri amat dekat dengan sejarah Polandia. Maka, latar tempat dalam film ini pun menjadi sumber kekayaan narasinya. (PD)

IN THE MOOD FOR LOVE (Wong Kar-wai, 2000)

Sinema ibarat kanvas lukisan bagi Wong Kar-wai. Ia menggoreskan warna-warna yang ceria. Ia juga membubuhi warna-warna yang sendu. Di kanvas lain, ia menaruh warna pastel. Beginilah rupa film yang berlatar Hong Kong pada era 1960-an. Bagi sang sutradara, Hong Kong semasa itu cukuplah disajikan dengan bentuk begini. Dinamika aktif kehidupan warga tak diperlukan. Sebab, dua karakter utamanya, Su Li-zhen alias Nyonya Chan (Maggie Cheung) dan Chow (Tony Leung), adalah insan-insan malang yang terkhianati hatinya dan kebetulan hidup bertetangga.

Sebab lain, mereka juga tipe orang-orang yang tak mencari keributan dan memendam emosinya sendirian. Akhirnya, mereka pun sadar saling membutuhkan pundak satu sama lainnya untuk berkeluh kesah atau sekadar ditatap. Meski begitu, mereka saling mengingatkan untuk tidak menerabas batas. Mereka tak mau berperilaku seperti halnya para pengkhianat. Mereka mempertahankan prinsip itu sekalipun harga yang harus dibayar adalah perpisahan tanpa kata-kata dan tiupan rahasia di kuil sunyi di Kamboja. (AR)

A GHOST STORY (David Lowery, 2017)

Ditinggal mati orang-orang terkasih tentu menimbulkan kesedihan mendalam. Namun, bagaimana perasaan orang yang meninggalkan? Apakah hantu juga dapat bersedih? A Ghost Story menunjukkan rasa dukayang dialami sosok arwah yang masih berkeliaran di dunia setelah ia meninggal.

Hantu (diperankan Casey Affleck) tak hanya melihat sang kekasih (Rooney Mara) terpukul, tapi juga menyaksikannya meneruskan hidup. Ia bertemu kekasih baru, pindah rumah, dan meninggalkan sang hantu sendirian di rumah lama mereka. Maka, ketika manusia bisa menyembuhkan rasa pedih seiring dengan berjalannya waktu, hantu yang hidup di dimensi berbeda dan punya konsep waktu yang berbeda jadi tak bisa ke mana-mana. Ia menunggu sesuatu yang tak pasti.

A Ghost Story berhasil membuat penonton bersimpati dan turut merasakan kesepian seorang hantu serta ketidakmampuannya bereaksi atas perubahan di sekeliling. Di film ini, benda melayang atau tuts piano yang berbunyi sendiri bukan jadi hal menakutkan, tetapi justru menyedihkan. Sebab, begitulah cara sang hantu mengeskpresikan rasa frustrasi dan sedihnya. Maka, A Ghost Story bukan kisah yang mengeksploitasi sosok hantu. Mereka bukanlah makhluk seram, membahayakan, atau perlu diusir. Mereka adalah sekumpulan perasaan yang tak tuntas dan hanya bisa pergi jika telah berdamai dengan perasaannya sendiri. (PD)

ONCE (John Carney, 2007)

Lazimnya romansa bermula, pertemuan adalah kunci. Ia bisa terjadi di mana pun tanpa peduli waktunya. Ia juga bisa memilih sasaran orangnya secara acak. Dan yang pasti pula akan selalu ada benang merah awal yang menyebabkan kedua orang yang bertemu merasa sama-sama tertarik. Soal pertemuan itu akan berlanjut sejauh mana kelak, benang merah ini jugalah yang punya peran. John Carney lihai merentangkan benang merah itu tanpa putus sembari menaruh karakter-karakter yang sedang kalut hati di atasnya. Dan, benang merah di sini adalah musik serta lirik.

Karakter Guy (Glen Hansard) dan Girl (Markéta Irglová) segera ngeklik bukan saja lantaran sama-sama mencintai musik, tapi juga karena masih mencintai (mantan) pasangan masing-masing. Walau mereka jelas kentara saling menaruh hati, tapi urusan masa lalu yang belum rampung tidak boleh diabaikan begitu saja. Carney sadar kedua karakter utama harus memilih dan pilihan yang mereka ambil janganlah sampai merugikan hati lagi. Kalau sudah begitu, maka ketika Guy dan Girl bernyanyi “Take this sinking boat and point it home/We’ve still got time/ Raise your hopeful voice you have a choice/You’ll make it now” dengan syahdu dan magis, kisah film La La Land pun jadi terasa tenggelam. (AR)

ZIARAH  (BW Purbanegara, 2016)

Kisah cinta bukan hanya milik yang muda-mudi. Begitu pula dengan rasa patah hati ditinggal orang tercinta. Mbah Sri (Ponco Sutiyem) telah berusia 95 tahun. Ia ditinggal suaminya, Pawiro Sahid, pergi perang pada masa Agresi Militer Belanda II. Sejak itu, ia tak pernah melihat sang suami lagi. Mbah Sri pun pergi sendirian mencari makam sang suami demi bisa dikubur di sampingnya.

Ziarah adalah perjalanan menjejaki sejarah. Perjalanan Mbah Sri turut menguak fakta-fakta baru tentang sang suami yang tak pernah ia tahu sebelumnya. Dengan demikian, cerita-cerita lisan oleh orang-orang mengenai Pawiro juga bagian dari sejarah, meskipun ia tak pernah tercatat dalam buku.

Sejarah pun bukan hanya relevan dengan masa lalu. Ia dapat dibandingkan dengan kondisi masa kini, seperti ketika Ziarah membandingkan peran prajurit dahulu dan sekarang. Dahulu, tentara melindungi rakyat dari serangan tentara Belanda, tapi kini mereka justru melawan rakyat sendiri dan membela penguasa, seperti yang terjadi pada pembangunan Waduk Kedung Ombo. Di sinilah Ziarah membuktikan bahwa riwayat hidup individu dapat berkaitan erat dengan sejarah sebuah bangsa itu sendiri. Dan, film ini pun menuntun penonton menyusuri sejarah dalam lingkup yang lebih intim. (PD)

ALI, THE GOAT & IBRAHIM (Sharif El-Bindari, 2016)

“Kita semua sedang dikutuk di negeri ini.” Demikian kata Ali kepada Ibrahim, sahabatnya yang sering diserang bunyi melengking. Saking tak kuat, Ibrahim (Ahmad Magdy) ingin bunuh diri. Bentuk kutukan lain menimpa Ali, walau ia tak akan mau mengakuinya. Bagi Ali (Ali Subhi), yang dialaminya adalah cinta yang murni. Suatu hari di masa lalu, kejadian nahas yang menimpa kekasihnya malah dipercayai Ali sebagai reinkarnasi. Sejak itu, Ali meyakini kambingnya, Nada, adalah jelmaan sang kekasih. Ibu Ali yang khawatirkan kewarasan anaknya lalu mencari pengobatan lewat ritual berbau metafisik. Hal sama dilakukan Ibrahim.

Hasilnya, Ali dan Ibrahim harus melempar batu di perairan yang dimiliki Mesir: Mediterania, Laut Merah, dan Sungai Nil. Perjalanan pun dilakukan, tentu saja Nada ikut serta, dan El-Bindari menuturkannya secara humoris dengan bumbu-bumbu absurditas. Namun, sesungguhnya perjalanan ini adalah proses penerimaan akan keadaan yang memampatkan ketidakwarasan dan kewarasan (dalam negara yang sempat digoyang turbulensi politik). Di titik tersebut, cinta Ali kepada Nada jadi dapat diterima dengan nalar, seperti yang akhirnya diperlihatkan Ibrahim dan ibu Ali. (AR)

MALILA: THE FAREWELL FLOWER (Anucha Boonyawatana, 2017)

Baisri adalah rangkaian bunga yang dibuat dari pelepah pisang dan bunga melati. Biasanya, ia dibuat untuk upacara pemberkatan atau pelantikan seorang monk. Dalam Malila: The Farewell Flower, tradisi membuat Baisri ini ditekuni oleh seorang lelaki, Pich (Anuchit Sapanpong), yang mengidap kanker paru-paru. Ia percaya aktivitas membuat Baisri dan obat herbal yang dikonsumsinya bisa menyembuhkan kankernya.

Kepercayaan berlebih orang-orang terhadap hal-hal yang tak bersifat ilmiah berusaha dikritik oleh Malila: The Farewell Flower. Tak seperti yang diyakini Pich, kankernya justru semakin parah karena ia tidak berobat ke dokter. Namun, di sisi lain, film ini juga menunjukkan bahwa kepercayaan spiritual akan menyembuhkan jiwa. Sebagaimana perjalanan Shane (Sukollawat Kanarot) menjadi seorang monk juga telah menyelamatkannya dari kesedihan yang berlarut-larut.

Malila: The Farewell Flower memperlihatkan hubungan asmara antara dua laki-laki. Dengan tempo lambat, film ini mengemas cinta dan rasa kehilangan tanpa emosi yang meledak-ledak, serta menunjukkan suasana yang damai nan harmonis. Film ini sejatinya percaya pada keseimbangan antara kepercayaan spiritual dan kepercayaan ilmiah—yang berarti juga percaya bahwa hubungan asmara nonheteroseksual dapat berjalan beriringan dengan kepercayaan spiritual. Keduanya tidak perlu dibingkai sebagai hal-hal yang kontras. (PD)

45 YEARS (Andrew Haigh, 2015)

Langgengnya pernikahan tak menjamin sepasang suami-istri mengetahui luar dalam karakter masing-masing. Dalam 45 Years, Kate (Charlotte Rampling) baru mengetahui sejarah asmara suaminya, Geoff (Tom Courtenay), ketika hendak merayakan ulang tahun pernikahan ke-45. Sejarah tersebut ternyata punya pengaruh besar terhadap kisah asmara mereka selama ini.

Kate dan Geoff sama-sama sedang memproses sebuah informasi baru yang mereka terima secara mendadak di suatu pagi. Namun, cara mereka berbeda: Geoff menjadi melankolis saat diingatkan tentang mantan kekasihnya, Katya, yang meninggal secara tragis; sementara Kate berusaha menahan cemburu akan sikap Geoff yang hanya bisa membicarakan mantan kekasihnya.

Di usia pernikahan yang sudah tua, Kate malah baru mempertanyakan makna pernikahannya. Apakah Geoff benar-benar mencintainya? Ataukah ia hanya menjadi ilusi dari perempuan yang benar-benar Geoff cintai? Nama Kate sendiri tak begitu berbeda dengan Katya. Pilihan-pilihan hidup mereka, seperti tujuan berlibur, keputusan memelihara anjing, hingga pilihan parfum, ternyata didasarkan oleh kebiasaan-kebiasaan Geoff dan Katya di masa lampau. Maka, 45 Years sedang menggambarkan tiga hubungan sekaligus: nostalgia Geoff akan Katya, kecemburuan Kate kepada Katya, dan ilusi asmara antara Geoff dan Kate. Semuanya tak berjalan dengan mulus, tetapi tak dipungkiri telah terjadi. (PD)

YOUR NAME (Makoto Shinkai, 2016)

Apalah arti sebuah nama jika nama itu tak mampu terekam secara solid dalam memori. Mitsuha (Mone Kamishiraishi) dan Taki (Ryunosuke Kamiki) merupakan tipe nama yang mudah diingat, tapi nyatanya tak begitu dalam narasi Your Name. Soalnya, apa yang dialami mereka adalah pertemuan metafisik. Suatu pagi, Mitsuha dan Taki alami pertukaran tubuh. Bagi Mitsuha, proses demikian ternyata turun-temurun terjadi di setiap generasi keluarga mereka lantaran tugas yang mereka emban sebagai penjaga kuil di kota kecil Itomori.

Berkali-kali proses tukar tubuh itu terjadi sehingga makin mengakrabkan dua remaja yang tinggal di beda kota dan hidup berselang waktu tiga tahun ini. Sampai akhirnya pecahan sebuah komet jatuh di Itomori, ingatan Mitsuha dan Taki pun memudar. Melalui animasi kelas wahid, Makoto Shinkai menuturkan kisah dramatik yang magis ini dengan nada yang sesekali kontemplatif. Mistikisme dalam narasi Your Name pun disampaikan secara imajinatif dan romantis. Dengan cara tutur seperti itu, kita pun berharap Mitsuha dan Taki bisa mengingat lagi nama satu sama lain. Atau, setidaknya mereka kelak bertemu kembali di masa depan dengan saling menanyakan nama. (AR)