27 Steps of May: Langkah May untuk Pulih

Sumber: Green Glow Pictures

Peristiwa kekerasan seksual penting untuk diceritakan dari perspektif penyintas dan juga harus berpihak kepada mereka.

May (Raihaanun) menyetrika baju berwarna kremnya hingga semua bagiannya licin, tak terkecuali sela-sela kancing. Ia mengikat rambutnya ke belakang. Berkaca untuk memastikan dirinya sudah rapi. Membuka pintu kamar. Menggeret meja ke dalam kamarnya bersama bapak (Lukman Sardi). Membuat baju untuk boneka-bonekanya. Makan bersama bapak. Kembali ke kamar. Olahraga. Tidur. Begitulah rutinitas harian May sejak delapan tahun yang lalu, setelah ia diperkosa beramai-ramai oleh tiga pria. Satu perubahan kecil akan membuat May kembali hancur.

“Dia perlu rutin. Karena rutin dia bisa bertahan,” ujar Bapak kepada kurir (Verdi Solaiman).

May dapat menjadi gambaran atas kondisi mental seorang korban dan penyintas kekerasan seksual. Lantas, bagaimana cara mereka agar bisa pulih dari trauma? Apalagi penyintas kekerasan seksual rentan menerima stigma negatif dari lingkungan sekitarnya, mulai dari orang-orang terdekat hingga aparat penegak hukum. Hal tersebut menyebabkan banyak penyintas yang tidak melaporkan kasusnya, dan berakhir tidak mendapatkan bantuan profesional untuk memulihkan kondisi fisik dan mentalnya. Mereka pun rentan kehilangan kepercayaan diri, mengucilkan diri, menyalahkan diri sendiri, bahkan berkeinginan bunuh diri.

Kondisi tersebut tidak bisa dianggap remeh, mengingat jumlah korban yang tak sedikit di Indonesia. Menurut hasil Survei Pengalaman Hidup Perempuan Nasional (SPHPN) pada 2016, satu dari tiga perempuan di Indonesia pernah menjadi korban kekerasan fisik maupun seksual. Terlepas dari maraknya kasus kekerasan seksual yang terjadi, respons dan trauma psikis yang dialami penyintas sayangnya tak banyak digambarkan secara realistis dalam film. Kekerasan seksual dalam film-film Indonesia lebih sering dijadikan narasi sampingan atau latar belakang dan motif bagi karakter untuk melaksanakan aksi utama.

Biasanya, narasi film akan fokus pada upaya karakter utama untuk membalas dendam. Contohnya, sosok hantu Alisa (Suzzanna) dalam Sundelbolong (1981) yang menghantui dan membunuh semua laki-laki yang telah memerkosanya. Atau Marlina (Marsha Timothy) dalam Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak (2017) yang melakukan pembunuhan sebagai upaya membela diri ketika ia diperkosa.

Maka, 27 Steps of May (2018)yang fokus utamanya memperlihatkan trauma psikis yang dialami penyintas menjadi penting. Delapan tahun setelah tragedi yang dialaminya, May masih menyimpan luka yang tak kunjung sembuh. Jangankan berpikiran untuk membalas dendam, ia bahkan tak sanggup melangkahkan kaki keluar rumah.

Hidup May jauh dari ingar-bingar. Adegan-adegan dalam film garapan Ravi Bharwani ini minim diiringi musik. Shot-shot sepanjang film kebanyakan statis dan berdurasi lambat. Suasana rumah May dan bapaknya digambarkan selalu sepi dan muram, berbeda dengan suasana di luar rumah yang terlihat lebih santai dan ramai—seolah-olah mereka tinggal di dunia yang berbeda. Orang lain bisa berguyon dan tertawa, mereka tidak. Orang lain bisa melanjutkan hidupnya, May dan bapaknya masih terjebak dalam luka masa lalu.

Trik-trik Pesulap dan Keterasingan May

Trauma May tak pernah benar-benar hilang. Ia dapat kembali muncul saat ada kejadian yang membuatnya teringat momen ketika ia diperkosa. Makanan berwarna akan bikin May mengingat sewaktu ia dipaksa melahap makanan oleh para pemerkosa. Kontak fisik juga akan mengingatkan May pada kekerasan fisik yang dialaminya saat pemerkosaan itu terjadi.

Apa yang terjadi pada May selaras dengan hasil penelitian Emily R Dworkin. Setelah menelaah data dari 100 ribu penelitian lain selama 50 tahun terakhir, ia menemukan pengaruh kekerasan seksual terhadap kesehatan mental. Menurutnya, trauma yang diderita penyintas kekerasan seksual punya gejala yang serupa dengan trauma yang dialami prajurit sepulangnya dari medan perang, yaitu gangguan PTSD (post-traumatic stress disorder atau gangguan stres pascatrauma). Emily melanjutkan, para penyintas kekerasan seksual kerap teringat kembali pada pengalaman traumatisnya dalam bentuk mimpi atau flashback, sehingga mereka menghindari hal-hal yang dapat memicu kemunculan ingatan tersebut.

Dengan demikian, tak heran dalam 27 Steps of May, May menjalani rutinitas harian yang sama untuk menjaga stabilitas mentalnya. Ia juga hanya mengonsumsi makanan yang berwarna putih dan berasa tawar. Sebab, warna dan rasa yang berlebihan dapat memicu ingatan buruk May kembali lagi.

Namun, cara May menangani traumanya ini justru membuat kondisinya tak kunjung membaik. Dengan merepresi ingatan tersebut, ia malah sedang membendung gejolak yang besar di dalam dirinya. Padahal, menurut Emily, tubuh manusia tak kuat menahan respons emosi yang intens dalam waktu lama. Inilah sebabnya mengapa trauma May tetap muncul sewaktu-waktu, kendati ia berusaha keras untuk menghindarinya.

Oleh karena itu, penyintas kekerasan seksual justru disarankan untuk mencoba menghadapi hal-hal yang dapat memicu rasa trauma tersebut, sehingga mereka dapat kembali menguasai emosi dan pikirannya sendiri. Salah satu cara yang dapat dilakukan oleh orang terdekat adalah menciptakan ruang yang aman bagi penyintas untuk menceritakan pengalaman traumatiknya. Tentunya ini dilakukan dengan persetujuan dari penyintas. 

Dalam 27 Steps of May, kehadiran sang pesulap (Ario Bayu) menjadi krusial. Ketika bapak hendak melindungi May dengan cara menjauhkannya dari hal-hal yang dapat memicu kembali trauma May, sang pesulap—tanpa ia sadari—mendampingi May untuk menghadapi traumanya tersebut.

Perlahan-lahan, sang pesulap mendapat kepercayaan May. Lewat trik-trik sulapnya, May jadi berani berinteraksi dengan orang luar serta mempunyai minat dan cita-cita. Di akhir cerita pun, May meluapkan emosinya yang selama ini terbendung kepada sang pesulap. Hadir lewat belakang rumah, sang pesulap menjadi tanda akan pentingnya bantuan atau support system dari pihak ketiga selain keluarga terdekat penyintas.

Namun, hubungan antara May dan sang pesulap rentan diromantisasi. Tanpa mengetahui kondisi May, sang pesulap sempat mencium pipi May. Menganggap hubungan keduanya romantis menjadi problematis lantaran kondisi May yang rentan, sehingga dapat berpotensi dimanfaatkan dengan mudah oleh sang pesulap. Untungnya, 27 Steps of May sadar akan hal itu. Trauma May sontak terpicu. Keduanya jadi menjaga jarak. Maka, film ini bukan hanya sadar bahwa membantu penyintas mengatasi trauma kekerasan seksual bukan hal yang main-main, tetapi juga membiarkan May untuk membuat keputusannya sendiri. Sebab, ia berhasil pulih dari trauma bukan akibat dari menjalin hubungan romantis dengan sang pesulap. Walaupun pesulap dan bapak adalah pihak-pihak yang mendukung May, keputusan untuk menghadapi traumanya dan pulih tersebut datang dari diri May sendiri.

Kedatangan sang pesulap memang terkesan surreal, bahkan eksistensinya bisa dianggap sebagai khayalan. Film 27 Steps of May seakan sengaja memberikan batas kabur antara yang nyata dan yang abstrak, sebagaimana lubang tembok yang menghubungkan antara May dengan sang pesulap adalah sebuah metafora. Selama delapan tahun May hidup di balik tembok kamarnya: tembok-tembok tersebut telah melindungi May dari ancaman dunia luar sekaligus mengasingkannya. Semakin sering May dan sang pesulap berinteraksi, lubang di tembok itu pun semakin membesar, seolah-olah May juga semakin lepas dari keterasingannya.

Sayangnya, dengan kesadaran pentingnya otonomi diri dalam narasi 27 Steps of May, pemutaran film ini tak diawali dengan adanya trigger warning (peringatan pemicu). Padahal, beberapa adegan perkosaan dan self-harm diperlihatkan sangat eksplisit dan berisiko memicu trauma, terutama bagi orang-orang dengan pengalaman serupa. Dengan adanya trigger warning, penonton dapat memilih tetap menonton atau tidak. Memang, seperti yang juga ditunjukkan film ini, penting bagi penyintas kekerasan seksual untuk bisa menghadapi trauma mereka. Namun, 27 Steps of May juga menekankan pentingnya keinginan dan keputusan tersebut datang dari diri penyintas sendiri. Dengan absennya trigger warning, otonomi penonton untuk memilih tetap menonton atau tidak justru jadi terampas.

May Bukan Satu-satunya

Film 27 Steps of May menggambarkan dampak kekerasan seksual dari sudut pandang seorang penyintas. Trauma yang dialami May membuatnya mengasingkan diri dari dunia luar. Namun, tak semua kasus kekerasan seksual berakhir dengan kondisi mental yang sama persis dengan May. Terdapat pula kasus lain di mana penyintas masih dapat melakukan aktivitas sehari-hari secara nomal.

Sebab, bentuk kekerasan seksual bermacam-macam, kasusnya pun beragam, dan setiap penyintasnya punya coping mechanism yang berbeda-beda pula. Ada yang justru menjadi hiperaktif, ada pula yang mengalami delay effect, yakni ketika seseorang baru menyadari bahwa kejadian traumatik yang pernah ia alami dahulu adalah bentuk kekerasan seksual. http://www.balairungpress.com/2019/03/sintas-dan-pulih-dari-trauma-kekerasan-seksual/

Film The Light of the Moon (Jessica M. Thompson, 2017) bisa menjadi pembanding sekaligus pelengkap yang baik bagi 27 Steps of May. Sama seperti 27 Steps of May, perkosaan yang dialami oleh karakter utama dalam The Light of the Moon, Bonnie (Stephanie Beatriz), memberikan dampak traumatik baginya dan orang terdekatnya, yaitu kekasihnya. Namun, berbeda dengan May yang menutup dirinya rapat-rapat, Bonnie justru berusaha menganggap semuanya baik-baik saja. Ia bahkan menyembunyikan peristiwa tersebut dari orang tua dan teman-temannya.

Apa yang dilakukan Bonnie lumrah terjadi pada para penyintas kekerasan seksual di dunia nyata. Banyak penyintas yang menyembunyikan apa yang terjadi pada mereka dan melanjutkan hidup sebagaimana biasa. Mengingat kasus kekerasan seksual begitu jamak terjadi setiap harinya, sangat mungkin orang-orang terdekat kita sendiri yang juga menjadi penyintasnya, dan mereka memilih untuk tidak memberitahu siapa pun. Perbedaan sikap May dan Bonnie mengimplikasikan secara penting bahwa penyintas kekerasan seksual bukanlah satu entitas yang aspirasi dan pengalamannya dapat diwakilkan oleh satu film saja.

Lebih dari itu, The Light of the Moon juga memperlihatkan kecenderungan penyintas kekerasan seksual untuk mengecilkan tragedi yang menimpanya, sehingga mereka jadi merasa tak butuh mencari bantuan profesional. Roxane Gay, dalam bukunya Not That Bad (2018), bercerita tentang bagaimana ia menganggap kekerasan seksual yang menimpa dirinya tak seberapa buruk justru membuatnya semakin menderita. Hal tersebut membuat Roxane menerima untuk diperlakukan semena-mena oleh orang lain. Ia pun jadi marah kepada diri sendiri karena tak juga pulih dari traumanya.

“Jika diperkosa ramai-ramai dianggap tak begitu buruk, maka apalah artinya ketika seseorang menarik tangan saya begitu keras hingga meninggalkan bekas, atau ketika saya di-catcall karena punya payudara yang besar, atau ketika sebuah tangan mendesak masuk ke dalam celana saya, atau ketika seseorang bilang saya harus bersyukur akan perhatian yang ia berikan karena saya tak cukup pantas untuk itu. Saya menetapkan standar begitu rendah hingga ia terkubur di dalam tanah,” ujar Roxane.

Film 27 Steps of May memperlihatkan pentingnya menceritakan kisah kekerasan seksual yang tak hanya mengambil sudut pandang penyintas, tetapi juga berpihak kepada mereka dengan menggambarkan kondisi dan trauma yang dialami secara riil. Namun, lantaran bervariasinya situasi dan respons setiap orang dalam menghadapi trauma, film ini bukan satu-satunya patokantentang cara penyintas kekerasan seksual merespons traumanya.

Selain itu, karena tidak adanya trigger warning dalam promosi film maupun sebelum pemutaran berlangsung, sekiranya penting bagi calon penonton untuk mendapatkan informasitentang adanya adegan-adegan yang berpotensi memicu rasa trauma. Film 27 Steps of May dan upayanya meningkatkan kesadaran akan kesehatan mentalmemang penting, tetapi menjaga kesehatan mental diri sendiri juga tak kalah pentingnya.(*)

Referensi

Gay, Roxane. Not That Bad: Dispatches from Rape Culture. 2018. New York: Harper Perennial.

Catatan editorial: Jika Anda mengalami trauma kekerasan seksual dan membutuhkan bantuan psikologis, Anda bisa menghubungi Yayasan Pulih pulihfoundation@gmail.com (email) atau pulihcounseling@gmail.com (e-counseling).

Permata Adinda
Pernah jadi partisipan workshop kelas kritik Festival Film Dokumenter dan Yamaga International Film Festival. Tulisan-tulisannya juga dapat ditemukan di Asumsi.co, Cinema Poetica, dan Magdalene.co.