Bagaimana Film Islam Indonesia Menggambarkan Perempuan?

Jumlah penonton film Indonesia melonjak tinggi pada 2008 dengan angka hingga 32 juta orang. Angka ini meningkat pesat dari tahun sebelumnya yang meraih jumlah penonton 17,57 juta orang. Salah satu penyebab lonjakan ini adalah film Ayat-ayat Cinta yang ditonton lebih dari 3,6 juta orang saat dirilis pada Februari 2008. 

Fenomena ini tak lazim. Sebab, pada tahun-tahun sebelumnya film Indonesia didominasi oleh film horor, sementara peraih penonton terbanyak umumnya adalah film-film romantis remaja. Sebut saja Ada Apa dengan Cinta? (2002) dan Eiffel I’m in Love (2003), yang keduanya ditonton lebih dari dua juta orang

Lantaran popularitas Ayat-ayat Cinta, film-film religi pun mulai menjamuri layar bioskop. Novel karya Habiburrahman El Shirazy lainnya yang berjudul Ketika Cinta Bertasbih juga diadaptasi menjadi film pada 2009. Bahkan, sampai dibuat jadi dua bagian.

Menurut Ariel Heryanto (2014), menjamurnya film-film religi ini bisa terjadi karena Ayat-ayat Cinta telah berhasil merepresentasikan masyarakat muslim Indonesia yang modern. Karakter Fahri dalam film tersebut bukan saja diperlihatkan taat beragama, tetapi juga muda dan bergaya. Alih-alih memakai busana khas muslim, Fahri diperlihatkan mengenakan pakaian santai ala Barat dan wajahnya tercukur rapi tanpa jenggot.[1]

Selain itu, Fahri juga sosok yang berpendidikan. Ia menempuh studi S2 di Universitas Al-Azhar, Mesir—salah satu universitas tertua di dunia. Ia juga menghabiskan waktunya dengan menerjemahkan buku-buku agama. Mengenai karakter Fahri ini, Eric Sasono berpendapat bahwa Ayat-ayat Cinta menambah standar baru kesuksesan bagi seorang muslim: bukan hanya status ketakwaan atau kereligiusan, tetapi juga capaian pendidikan.[2]

Sejak kesuksesan Ayat-ayat Cinta, banyak film religi yang mengadopsi pakem cerita serupa, yaitu seorang laki-laki muslim yang menempuh pendidikan di luar negeri beserta tantangan-tantangan yang mereka alami. Salah satu film tersebut adalah Ketika Cinta Bertasbih (2009). Lalu, ada pula film Sang Pencerah (2010) yang bercerita mengenai kiai Ahmad Dahlan yang mendirikan organisasi Muhammadiyah, dan Negeri 5 Menara (2012) yang berkisah tentang pertemanan lima santri pesantren di Jawa Timur dan perjalanan mewujudkan mimpi mereka di luar negeri.

Semakin ke sini, film-film Islami di Indonesia mengusung tema yang lebih variatif. Walaupun topik poligami dan mengenyam pendidikan di luar negeri masih populer, tetapi terjadi pergeseran fokus cerita. Jika sebelumnya karakter-karakter utama lebih didominasi oleh laki-laki, kini semakin banyak pula perempuan yang menjadi karakter utama. Kita melihat perempuan berkelana ke luar negeri dalam film Assalammualaikum Beijing (2014), La Tahzan (2013), atau 99 Cahaya di Langit Eropa (2013 dan 2014). Kita juga menyaksikan perempuan yang fokus meniti karier dalam film Aisyah Biarkan Kami Bersaudara (2015) dan Hanum & Rangga: Faith & The City (2018).

Lantas, dengan karakter utama yang sudah tidak didominasi oleh laki-laki, apakah jalan ceritanya juga berbeda? Sebagai pemeran utama, otonomi seperti apa yang diberikan kepada karakter-karakter perempuan dan bagaimana mereka diposisikan? 

Berjilbab adalah Wajib?

Ada pandangan tunggal dalam film-film religi Indonesia terhadap pemakaian jilbab/hijab/kerudung bagi perempuan. Perempuan-perempuan yang beragama Islam ditunjukkan sudah memakai jilbab atau sedang dalam proses menuju memakai jilbab. 

Dalam 99 Cahaya di Langit Eropa 2 (2014), Surga yang Tak Dirindukan (2015), atau Ayat-ayat Cinta 2 (2017), kita disuguhkan dengan karakter-karakter perempuan muslim yang awalnya tidak memakai jilbab. Dalam tiga film tersebut, adegan para perempuan memutuskan untuk memakai jilbab diperlakukan secara khidmat: kain jilbab yang dipegang oleh suami atau teman dikenakan secara slow motion di atas kepalanya. Adegan ini mengimplikasikan bahwa memakai jilbab bukan sekadar menyematkan secarik kain pada tubuh perempuan, tetapi juga sebuah pencapaian dan bukti bahwa sang perempuan telah berhijrah serta lebih bertakwa.

Karakter-karakter pria dalam tiga film tersebut juga tampak berhak untuk menyuruh perempuan memakai jilbab. Seperti yang ditunjukkan Andhika (Fedi Nuril) dalam Surga yang Tak Dirindukan saat membeli kain jilbab untuk Mei Rose (Raline Shah) yang tidak memakai jilbab. Atau Rangga (Abimana Aryasatya) dalam 99 Cahaya di Langit Eropa yang berkata bahwa Hanum akan lebih cantik jika memakai jilbab. Tindakan-tindakan ini dibingkai sebagai sesuatu yang wajar dan sopan meskipun telah mencoba untuk mengatur tubuh perempuan. Bahkan, para perempuan ini justru merasa terinspirasi hingga akhirnya berinisiatif untuk mengenakan jilbab.

Konsep perempuan muslim yang memilih untuk tidak memakai jilbab (maupun sedang dalam perjalanan untuk berjilbab) semata-mata tidak diterima oleh film-film ini. Padahal, pada kenyataannya, bertemu dengan perempuan muslim berjilbab maupun yang tidak berjilbab adalah hal yang lazim di Indonesia. Negeri ini sendiri memiliki tokoh publik perempuan muslim yang memilih untuk tidak mengenakan jilbab. Najwa Shihab, misalnya. Sebagian besar perempuan dalam keluarga besar saya pun memilih untuk tidak berjilbab. Meski begitu, mereka adalah muslim yang taat, rajin mengaji dan salat lima waktu.

Dalam risetnya, peneliti Nancy Smith-Hefner pernah mewawancarai seorang mahasiswi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta yang secara sadar memilih untuk melepas jilbabnya. Ia berargumen, dorongan untuk memakai jilbab dari masyarakat seringkali didasarkan oleh alasan agar “laki-laki tidak melampiaskan hasrat seksualnya dan melakukan dosa”. Tidak memakai jilbab adalah cara mahasiswi ini untuk memprotes dan mempermasalahkan mengapa bukan laki-laki yang mengontrol dirinya sendiri.[3]

Ketika keputusan memakai atau tidak memakai jilbab di Indonesia begitu beragam dan sifatnya personal, lantas mengapa film-film Islami tersebut masih merasa nyaman untuk berpegang dalam kerangka pikir baik dan buruk? Bahkan, karakter Rangga dalam 99 Cahaya di Langit Eropa 2 beralasan bahwa perempuan memakai jilbab agar “orang-orang tidak melihat mereka dari segi fisik”. Alasan ini adalah sebuah bentuk objektifikasi perempuan yang disayangkan bisa terjadi tetapi tidak mengagetkan. Sebab, film ini juga mereduksi karakter perempuan lain yang tidak berjilbab dan bukan muslim menjadi sebatas pengagum dan penggoda Rangga.

Konstruksi yang saklek terhadap tubuh perempuan di film-film ini juga turut membentuk pola pikir bahwa gambaran perempuan muslim yang berbeda tidak bisa diterima masyarakat. Ini terlihat pada film Hijab yang menampilkan karakter-karakter perempuan muslim yang memutuskan berjilbab karena alasan non-religius, bahkan keterpaksaan. 

Akibatnya, film ini menuai banyak protes. Hanung Bramantyo sebagai sutradara dituduh telah melecehkan Islam dan mencitrakan hijab dengan cara yang salah. Bahkan, ia langsung dituding sebagai anggota Jaringan Islam Liberal (JIL). Padahal, film ini sebenarnya tetap melanggengkan pembingkaian yang sama. Satu-satunya karakter perempuan muslim bernama Anin (Natasha Rizki) yang tidak memakai jilbab akhirnya memutuskan untuk mengenakannya di akhir film setelah terinspirasi oleh para sahabatnya.

Hal seperti ini tak hanya terjadi sekali. Bid’ah Cinta (2017), misalnya, bukan hanya dianggap telah menyebarkan aliran sesat lantaran memperlihatkan dua kubu atau aliran Islam yang berbeda, tetapi juga karena karakter utama perempuannya, Khalida (Ayushita Nugraha), tidak memakai jilbab yang menutupi seluruh rambutnya. Menurut para pemrotes, cara pakai jilbab Khalida tidak benar dan tidak merepresentasikan ajaran Islam yang baik.

Begitu pula reaksi yang muncul terhadap film La Tahzan. Film ini dianggap bukan film Islami karena karakter perempuan Islamnya tidak memakai jilbab. Padahal, sejatinya plot La Tahzan tak jauh berbeda dengan Assalammualaikum Beijing. Keduanya sama-sama bercerita tentang seorang perempuan yang menjalin kasih dengan warga negara lain. Bahkan, karakter laki-laki Jepang di La Tahzan juga hampir menjadi mualaf karena ingin menikahi si karakter perempuan. Bedanya, Asmara (Revalina S Temat) sebagai karakter utama dalam Assalammualaikum Beijing memakai jilbab.

Pada dasarnya, Assalammualaikum Beijing dan La Tahzan memang lebih layak disebut sebagai film romantis. Elemen-elemen Islam mengambil porsi yang tidak seberapa dibandingkan adegan-adegan mesranya. Namun, apakah karena Asmara secara konsisten memakai jilbab dari awal hingga akhir film, maka Assalammualaikum Beijing patut dianggap sebagai film Islami? Kalau begitu, bagaimanakah standar film Islami kita? Apakah hanya sebatas pada simbol-simbol Islam yang sifatnya tempelan?

Karakter Perempuan: Antara Menikah dan Menyenangkan Suami

Pada 2014, ada dua film bernuansa Islam yang menonjol, yakni Haji Backpacker dan Assalammualaikum Beijing. Tema keduanya serupa dengan jalan dan akhir cerita yang berbeda. Dalam Haji Backpacker, seorang laki-laki bernama Mada (Abimana Aryasatya) patah hati setelah calon istrinya membatalkan pernikahan. Sementara dalam Assalammualaikum Beijing, karakter utamanya yang bernama Asmara membatalkan pernikahan begitu mengetahui bahwa calon suaminya berselingkuh dengan perempuan lain.

Masing-masing film lalu mengarahkan ceritanya secara berbeda. Mada begitu sakit hati dan merasa kepercayaannya terhadap Tuhan dikhianati karena batal menikah. Hal ini memotivasinya untuk pergi ke Thailand dan juga menjadi awal perjalanannya untuk menemukan kembali kepercayaan terhadap Islam. Mada beberapa kali bertemu dan akrab dengan perempuan dari negara lain, tetapi ia diperlihatkan tidak berniat untuk menjalin cinta dengan mereka. Di akhir film, Mada berdamai dengan dirinya dan memutuskan untuk beribadah haji. Film akhirnya puas dengan kesimpulan bahwa Mada telah kembali percaya pada Allah.

Sementara itu, Asmara, yang juga pergi ke luar negeri (Cina) setelah pernikahannya batal, tetap berkutat pada perkara jodoh. Walaupun tujuan kepergiannya ke Beijing untuk bekerja, ia justru dipertemukan dengan Zhongwen (Morgan Oey), warga negara Cina yang menaruh hati padanya. Bahkan, teman-temannya di Beijing juga punya perhatian khusus terhadap kisah asmara Asmara. Tak lama setelah ia menginjakkan kaki di Beijing, Sekar (Laudya Cynthia Bella) secara terang-terangan langsung mendoakan agar Asmara mendapatkan jodoh di negara tersebut. Di akhir film, Asmara menikah dengan Zhongwen yang telah menjadi mualaf. 

Haji Backpacker dan Assalammualaikum Beijing memang dibuat oleh sutradara dan rumah produksi yang berbeda, sehingga tak heran dua film tersebut mempunyai treatment ceritanya tersendiri. Namun, tampak sebuah pola lazim dalam film-film Indonesia bernuansa Islami. Pola tersebut berupa kecenderungan karakter laki-laki untuk mempunyai motivasi yang lebih luas dari sekadar menikah, urusan rumah tangga ataupun mencari jodoh; sementara karakter perempuannya hanya memikirkan masalah asmara., adalah sebuah pola lazim dalam film-film Indonesia bernuansa Islami lainnya.

Perhatikan saja Mencari Hilal (2015) yang mengisahkan perjalanan seorang ayah dan anak laki-lakinya untuk mencari hilal. Film diakhiri dengan sang anak yang bisa berdamai dengan ayahnya. Sampai situ saja. Film tak merasa perlu untuk membuat karakter utama laki-lakinya dipertemukan dengan jodohnya. Berbeda halnya dengan Aisyah Biarkan Kami Bersaudara, yang sejatinya berkisah tentang seorang perempuan yang dihadang pelbagai kesulitan dan tantangan saat mengajar di Nusa Tenggara Barat (NTB). Namun, film ini masih saja diembel-embeli dengan adegan Aisyah dilamar oleh teman dekatnya di akhir cerita.

Padahal, narasi yang ditawarkan Aisyah Biarkan Kami Bersaudara menarik. Ketika film-film religi lain berkutat pada masalah pernikahan dan poligami, Aisyah Biarkan Kami Bersaudara memilih berbicara tentang seorang perempuan muslim yang memperjuangkan kariernya. Aisyah memutuskan untuk tetap mengajar di daerah terpencil, meskipun ibunya tidak setuju. Posisi film ini terhadap perempuan yang memilih berkarier tampak jelas jika dibandingkan dengan Hanum & Rangga: Faith & The City. Film yang disebut terakhir ini berbelit-belit dalam menjawab pertanyaan yang disodorkan kisahnya sendiri: bagaimana seorang istri memilih antara meraih cita-cita atau kewajiban melayani suami?

Karakter Hanum (Acha Septriasa) lebih memilih ikut menemani sang suami untuk menuntaskan pendidikan di Vienna karena tidak cocok dengan atasannya yang gila profit dan islamofobia. Lantas, bagaimana jika selama ini atasannya bersikap baik dan lingkungan kerjanya sehat? Kompromi seperti apa yang akan dilakukan oleh sepasang suami istri ini? Film Hanum & Rangga: Faith & The City memilih untuk bermain aman dengan tidak menjawabnya.

Perbedaan agama antara Aisyah (Laudya Cynthia Bella) dan penduduk desa di NTB juga dihadapi secara rileks oleh film Aisyah Biarkan Kami Bersaudara. Mayoritas warga yang non-muslim di daerah tersebut menerima Aisyah dan membiarkannya menunaikan ibadah. Sedangkan Aisyah sendiri turut membantu para muridnya untuk membuat pohon natal. Adegan-adegan ini menjadi gestur kecil yang penting, mengingat sebagian besar umat Islam di negara ini masih berdebat tentang boleh tidaknya mengucapkan selamat hari natal kepada umat nasrani. 

Ketika 99 Cahaya di Langit Eropa dan Bulan Terbelah di Langit Amerika mempunyai misi untuk menaklukkan dunia barat (Eropa dan Amerika) dan membuat orang-orang kulit putih mengagumi agama Islam, Aisyah Biarkan Kami Bersaudara malah lebih tertarik untuk memperlihatkan masyarakat majemuk di Indonesia yang saling menjaga kerukunan. Dengan kata lain, film ini tidak sibuk dengan glorifikasi agama, apalagi mendudukkan agama Islam lebih tinggi dari agama lainnya.  

Namun, dengan segala kelebihan tersebut, Aisyah Biarkan Kami Bersaudara tetap memperlakukan karakter perempuannya sebagaimana film-film Islami lainnya. Film ini bahkan memperlihatkan Aisyah jadi bahagia karena telah dilamar oleh laki-laki idamannya. Porsi percintaan ini tak seberapa memang, apalagi jika dibandingkan dengan film-film lain yang secara khusus membuat karakter perempuannya hanya punya misi mengejar cinta. Dan, justru itulah yang menjadi pertanyaan. Ketika bagian cerita tersebut tidak begitu relevan untuk disematkan, mengapa masih saja dipertahankan?

Selain motivasi para karakter perempuannya, pengakuan laki-laki juga menjadi penting dalam film-film bernuansa Islami saat ini. Hal ini terlihat pada adegan-adegan di mana perempuan merasa tak pantas disandingkan dengan laki-laki idamannya. Entah karena masalah fisik, penyakit, atau perilaku yang menurut mereka tidak cukup baik bagi pasangannya. Akhirnya, sang laki-laki diposisikan sebagai pahlawan. Ia menerima sang perempuan apa adanya dan seakan-akan telah berperan dalam mengangkat derajat mereka. 

Dalam Assalammualaikum Beijing, Asmara yang mengidap sindrom antibodi antifosfolipid merasa sudah tak cukup baik bagi Zhongwen. Aisha dalam Ayat-ayat Cinta 2 tak berani untuk mengungkap jati dirinya kepada sang suami karena wajahnya rusak. Bahkan, Aisha merelakan Fahri untuk menikah dengan perempuan lain. 

Sementara itu, perempuan-perempuan dalam Hijab memilih untuk menutup bisnisnya karena suami mereka mengidap fragile masculinity—yang membuat para suami ini cemburu begitu mengetahui pendapatan istrinya lebih besar. Bisnis para istri ini akhirnya bisa tetap berjalan, karena salah satu suami telah berhasil mengatasi masalah maskulinitas toksik tersebut dan berbalik mendukung kelangsungan bisnis.  

Akhirnya, walaupun film-film Islami saat ini telah banyak menempatkan perempuan sebagai pemeran utama, tetapi pada kenyataannya karakter-karakter perempuan ini masih digarap dalam kerangka pikir yang sempit. Terlebih jika dibandingkan dengan cara film-film ini mengkonstruksi karakter laki-lakinya. Capaian final karakter perempuan masih tak jauh-jauh dari mengenakan jilbab, menikah, atau menyenangkan suaminya. 

Padahal, pada 2009 silam, Indonesia pernah melahirkan film Perempuan Berkalung Sorban, yang karakter perempuannya secara konkret berjuang membongkar status quo. Anisa (Revalina S Temat) memperjuangkan haknya untuk meraih pendidikan dan menolak melayani suaminya yang abusive. Ia bahkan secara vokal membicarakan tentang seksualitas perempuan, sesuatu yang hingga saat ini masih dianggap tabu dan tak muncul lagi dalam film-film religi Indonesia. 

Maka, ketika pada tahun ini, dengan segala paparan akan kesadaran tentang kesetaraan gender, film Islami yang beredar (contohnya Hanum & Rangga: Faith & The City) masih tak lepas dari pakem-pakem karakter perempuan yang submisif, maka kita patut bertanya-tanya: apakah nalar dan kompas moral kita kini justru sedang mengalami kemunduran?

Referensi

[1] Heryanto, Ariel. 2014. Identitas dan Kenikmatan: Politik Budaya Layar Indonesia. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia.

[2] Sasono, Eric. 2014. Mencatat Film Indonesia 2014. Sumber: https://ericsasono.com/2015/01/03/mencatat-film-indonesia-2014-bagian-1/

[3] Smith-Hefner, Nancy J. 2007. Javanese Women and the Veil in Post-Soeharto Indonesia. The Journal of Asian Studies Vol. 66, No. 2, Halaman 389-420. Doi: 10.1017/S0021911807000575.

Permata Adinda
Senang menulis tentang film sejak bergabung di Kineklub Liga Film Mahasiswa ITB. Kini ia jadi penulis tetap di Asumsi.co untuk meliput berita-berita terkini. Ia juga pernah jadi partisipan workshop kelas kritik Festival Film Dokumenter dan Yamaga International Film Festival. Tulisan-tulisannya juga dapat ditemukan di Cinema Poetica dan Magdalene.co.