Dua Garis Biru: Antara yang Publik dan Privat

Sumber: Starvision

Dua Garis Biru mencoba mempertanyakan ulang hal-hal yang seharusnya menjadi urusan privat dan yang seharusnya diatur oleh keluarga, masyarakat, ataupun negara. 

Garis-garis stretch mark terlihat jelas di perut Dara (Adhisty Zara) yang telah membesar. Payudaranya mendadak basah oleh ASI ketika ia sedang mencoba baju di sebuah pusat perbelanjaan.

Dua Garis Biru bisa saja memilih untuk sekadar menampilkan perut besar yang halus tanpa kerutan, seperti adegan-adegan kehamilan di film pada umumnya. Film ini juga bisa saja memilih untuk tidak memperlihatkan Dara yang terkejut dadanya basah atau keluhan Dara tentang tubuhnya yang terasa asing dan “kencang”.

Namun, mendengar pekikan dan tawa canggung dari beberapa penonton di sebuah bioskop di Jakarta, mungkin Gina S. Noer selaku sutradara dan penulis skenario justru sengaja hendak membuat penonton tak nyaman dan mempertanyakan ketidaknyamanan itu: apa yang salah dari memperlihatkan proses alami dari kehamilan? Apakah proses tersebut terasa terlalu privat untuk ditonton bersama di ruang penuh orang—seperti seorang ibu yang mesti mencari ruang privat untuk memberikan ASI pada anaknya?

Jika proses laktasi adalah urusan privat, mengapa kehamilan itu sendiri diintervensi oleh keluarga, sekolah, bahkan negara? Di Indonesia, hamil di usia remaja cenderung dianggap sebagai tragedi. Apalagi jika terjadi di luar nikah atau tidak direncanakan. Iklim masyarakat yang religius akan mengutuk si pasangan karena telah berbuat zina. Keluarga akan menganggap hal ini sebuah aib yang akan mencoreng nama baik mereka di hadapan tetangga. Belum lagi negara yang lewat undang-undang melarang perempuan untuk melakukan aborsi, kecuali ia terbukti sebagai korban perkosaan.

Jadi, mana yang urusan privat, mana yang publik?

Tak seperti Juno dalam Juno (2007), Dara (Adhisty Zara) dalam Dua Garis Biru (2019) tak punya privilese untuk melanjutkan sekolah dalam keadaan hamil besar. Ia juga tak bisa mengambil langkah praktis seperti Maeve dalam Sex Education (2019) untuk menggugurkan kandungannya di klinik aborsi yang aman dan legal. Tak seperti Juno dan Maeve yang filmnya berlatar tempat di Amerika Serikat, Indonesia dan masyarakatnya punya caranya sendiri dalam merespons kehamilan remaja (hint: lebih menguras emosi).

Yang Publik

Bima (Angga Yunanda), pacar Dara, bukan anak yang terlalu pintar dari segi akademik. Nilai ujiannya 40 dari 100. Ia juga tak bisa membedakan antara merkuri dan merkurius serta menganggap test pack bisa memperkirakan jenis kelamin janin. Sementara itu, Dara adalah siswa berprestasi di kelasnya. Nilainya hampir selalu sempurna. Namun, tak peduli berapa nilai mereka di sekolah, keduanya sama-sama tak banyak paham tentang risiko berhubungan seks, kehamilan di usia muda, maupun dampak sosial dan finansial dari tindakan-tindakan mereka.

Ketika Bima berkali-kali bilang akan bertanggung jawab dan tidak merepotkan orang tua, kita sebagai penonton berdecak gemas. Di balik ketulusan itu, kita juga melihat kenaifan anak remaja yang belum khatam pahit manis kehidupan dan sulitnya mencari uang. Dua Garis Biru membiarkan Bima berkata demikian, bahkan ia pun diberi kesempatan untuk bekerja di restoran milik ayah Dara.

Namun, film ini juga memberikan teaser kepada Dara dan Bima akan masa depan mereka. Dua Garis Biru memperlihatkan dinamika kehidupan tetangga-tetangga di sekitar rumah Bima: sepasang suami istri yang bertengkar tentang masalah finansial di depan rumah petaknya di pinggir sungai yang keruh dan sepasang suami istri lain yang tinggal di gang yang gelap dan sempit. Realitas itu mendadak jadi dekat dan menyeramkan, terutama bagi Dara yang terbiasa hidup secara berkecukupan.

Maka, walaupun Bima telah membuktikan ia bisa bekerja keras, tetapi ia juga adalah seorang remaja berumur 17 tahun yang seharusnya belum cukup umur untuk menjadi suami dan bekerja penuh waktu. Di usia yang belum matang, jadi wajar jika Bima bisa mendadak meninggalkan Dara di parkiran motor sekolah, atau kembali ke rumah orang tuanya setelah berargumen panas dengan Dara.

Dara dan Bima akan terus cekcok tentang siapa yang seharusnya melanjutkan pendidikan dan menjaga anak di rumah—ketika mereka seharusnya sedang sama-sama sibuk mempersiapkan diri untuk ujian nasional dan tes masuk perguruan tinggi. Kecanggungan-kecanggungan itu pun terlihat secara visual: cincin pernikahan Bima terlihat terlalu besar melingkari jari manisnya dan warna peraknya terlalu kontras dengan kulit Bima yang gelap.

Bima pun diberi wewenang untuk menandatangi surat persetujuan melakukan tindakan operasi pada Dara, sedangkan orang tua Dara sendiri tak bisa berkutik dan hanya bisa menatap nanar. Betul, Bima adalah suami Dara. Namun, apakah bijak memberikannya wewenang tersebut? Bima sendiri tak paham mengapa dirinya dianggap pantas. Maka penonton pun turut diminta untuk berpikir: adakah yang salah dari sistem ini? Siapa yang salah? Dara dan Bima yang melakukan hubungan seksual atau orang tua yang menyetujui pernikahan mereka?

Dua Garis Biru sadar sebesar apa pun risiko dan kerugian kehamilan di usia muda, kesalahan tersebut bukan untuk ditanggung Dara dan Bima. Tak seperti dalam Virgin: Ketika Keperawanan Dipertanyakan (2004) atau MBA: Married By Accident (2008) yang berprasangka bahwa kehamilan remaja/di luar pernikahan disebabkan oleh “pergaulan bebas” (sepaket dengan klub malam, narkoba, hyper-sex, atau keluarga berantakan), Dua Garis Biru memperlihatkan Dara dan Bima sebagai remaja biasa.

Keduanya punya hubungan baik dengan orang tua, main keluar rumah pada malam hari sekadar untuk makan malam bersama-sama teman yang lain. Mereka berhubungan seks pada siang hari setelah mereka bercanda dengan satu sama lain dan Dara iseng memakaikan Bima make-up. Hubungan mereka lebih tak berbahaya dari Dilan dan Milea dalam Dilan 1991 (2019) yang banyak adegan gaslighting dan melibatkan kekerasan geng [Baca ulasan film Dilan 1991 di sini….].

Jika ada yang perlu bertanggung jawab terhadap situasi Bima dan Dara ini, ia adalah pihak-pihak yang tidak hadir untuk memberikan edukasi seks. Orang tua Bima dan Dara menyadari kesalahan mereka. Namun, bukan berarti tanggung jawab tersebut hanya dipikul oleh mereka. Pihak sekolah juga ikut berdosa (jika bukan yang paling berdosa) karena edukasi seks yang diajarkan hanya seputar sistem reproduksi dan malah lepas tangan serta mengeluarkan Dara dari sekolah.

Yang (Seharusnya) Privat

Penulis skenario Juno, Diablo Cody, protes keras ketika filmnya digunakan sebagai propaganda “pro-life” oleh sekolah-sekolah katolik di Amerika Serikat. Dua belas tahun setelah Juno rilis, Diablo yang seorang “pro-choice” menyesalkan cerita Juno yang dulu ia tulis. Di tengah maraknya penerapan rancangan undang-undang anti-aborsi di beberapa negara bagian Amerika Serikat kini, ia merasa dirinya pada 2007 silam tidak cukup mempertimbangkan konsekuensi politik dalam membuat film tersebut.

Seperti Juno, Dua Garis Biru juga punya kecenderungan untuk dianggap sebagai film yang anti-aborsi. Dara yang telah sampai di tempat aborsi kemudian mengurungkan niatnya setelah melihat stroberi (yang saat itu seukuran janinnya) dihancurkan menjadi jus, diiringi dengan suara tangisan bayi dari lingkungan sekitar tempat aborsi.

Entah apakah Dua Garis Biru berintensi untuk menjadi “pro-choice” atau “pro-life”, tetapi mempertimbangkan hukum di Indonesia yang masih mengatur tubuh perempuan (melarang perempuan untuk menggugurkan kandungannya kecuali terbukti diperkosa dan mandeknya pengesahan RUU Anti Kekerasan Seksual karena diangap pro-aborsi), tak mengagetkan jika Dua Garis Biru akan bernasib sama seperti Juno, dijadikan alat kampanye “pro-life” oleh lembaga-lembaga terkait.

Namun, tak seperti Amerika Serikat pula, tak ada klinik yang aman dan legal untuk menggugurkan kandungan di Indonesia. Jadi wajar jika Dara mengurungkan niatnya setelah melihat kondisi tempat aborsi yang ia datangi. Dua Garis Biru justru memperlihatkan realitas bahwa klinik aborsi akan tetap ada, legal ataupun tidak legal itu di mata hukum—sebuah langkah yang cukup progresif untuk saat ini. Pertanyaannya: akankah yang tidak legal bisa menjamin keamanan prosesnya?

Lagi pula, ternyata level kesadaran masyarakat Indonesia masih jauh dari itu. Sekelompok masyarakat justru sibuk melarang orang lain menonton Dua Garis Biru dengan alasan “film ini mendorong pergaulan bebas”, tanpa menonton filmnya dahulu. Padahal, kehamilan remaja adalah hal yang cukup sering terjadi di Indonesia. Hasil penelitian UNICEF pada 2017 menunjukkan satu dari lima belas perempuan berusia 20-24 tahun di Indonesia pernah melahirkan pada usia 16 tahun.

Larangan untuk menonton Dua Garis Biru tak akan mengurangi jumlah kehamilan di usia muda. Justru, orang-orang akan semakin bebal akan masalah ini, sementara seks tanpa proteksi dan proses kelahiran yang menewaskan ibu dan bayi akan terus terjadi. Jika Pong si ondel-ondel dalam Dua Garis Biru saja bisa mengerti dan tanpa banyak tanya meminjamkan Bima uang, mengapa kita tak bisa?

Dua Garis Biru menunjukkan kritiknya terhadap negara yang justru terlalu sibuk melarang perempuan dan anak mendapatkan hak-hak dasarnya: aborsi, wewenang terhadap tubuh dan organ, dan longgarnya implementasi aturan pernikahan anak. Sementara itu, hal-hal yang bersifat preventif seperti akses terhadap edukasi seks justru tak diberikan.

Maka, mana yang urusan privat dan mana yang publik? Dua Garis Biru mencoba mempertanyakan ulang tentang hal-hal yang seharusnya menjadi urusan privat dan yang seharusnya diatur oleh keluarga, masyarakat, ataupun negara. Melalui karakter Dara dan Bima, film ini memperlihatkan bahwa meskipun kehamilan remaja dan kurangnya edukasi seks adalah hal yang berbahaya dan berisiko, tetapi jangan hakimi pelakunya.(*)

Permata Adinda
Pernah jadi partisipan workshop kelas kritik Festival Film Dokumenter dan Yamaga International Film Festival. Tulisan-tulisannya juga dapat ditemukan di Asumsi.co, Cinema Poetica, dan Magdalene.co.