Misbach Yusa Biran, Antara Reel Life dan Real Life

Foto: Yogi Ardhi/Republika
Foto: Yogi Ardhi/Republika

Pertemuan saya dengan Misbach Yusa Biran untuk pertama dan terakhir kalinya terjadi pada 14 Februari 2012. Hari kasih sayang. Sebuah momen yang tepat, lantaran tak banyak sosok lain di negeri ini yang bisa mewujudkan kecintaan terhadap sinema setotal Pak Misbach. Selama lebih dari lima dekade ia telah melakoni banyak peran—dari sineas, penulis, jurnalis, pendidik, hingga pegiat arsip. Dalam menjalani berbagai perannya itu, tidak sedikit dari karya Misbach yang beririsan dengan kehidupan pribadinya. Lebih luas lagi: kehidupan kita, dari masa ke masa, sebagai warga Nusantara.

“Kamu sudah pernah nonton film saya, Dibalik Tjahaja Gemerlapan?” tanya Pak Misbach. Saya mengangguk, sembari beres-beres setelah mewawancarai beliau. “Nah, di film itu, saya ingin menunjukkan kalau batas antara reel life dan real life itu tipis.”

Begitulah lelaki kelahiran 22 September 1933 ini menekuni jalannya di dunia film. Baginya, dunia nyata dan tontonan tidak terpaut jarak yang jauh. Sinema tidak lahir dari ruang hampa—tidak pernah hadir secara serta merta. Ia selalu terikat dengan dunia di sekitarnya, baik sebagai produk kreatif, ekspresi artistik, komoditas ekonomi, maupun artefak budaya. Lebih dari sekadar hiburan, film selalu mencerminkan zamannya. Misbach Yusa Biran percaya betul akan hal tersebut.

Misbach dalam Sejarah

Kiprah Misbach di dunia film bermula di balik layar, sebagai pencatat skenario untuk produksi Puteri dan Medan pada 1954. Setahun kemudian, ia bekerja sebagai asisten untuk Usmar Ismail dalam produksi Tamu Agung pada 1955—pertama kalinya nama Misbach tercatat dalam kredit sebuah film. Empat tahun berikutnya, alumni Taman Siswa Jakarta ini aktif sebagai penulis naskah. Ada lima film yang dihasilkan: Saodah (1956), Pradjurit Teladan (1959), Mendung Sendja Hari (1960), Satu Budjang Lima Dara (1960), dan Pesta Musik La Bana (1960). Total, sepanjang kariernya ada 34 naskah Misbach yang terwujud jadi film—yang terakhir adalah Cinta Suci Zahrana, yang beredar empat bulan setelah beliau berpulang pada 11 April 2012.

Misbach juga seorang sutradara. Film pertama yang ia sutradarai adalah Pesta Musik La Bana (1960), dilanjutkan dengan delapan film lainnya, termasuk Bintang Ketjil (1963), Dibalik Tjahaja Gemerlapan (1966), dan film terakhir yang disutradarinya, Honey, Money and Djakarta Fair (1970). Dari semua filmnya, Dibalik Tjahaja Gemerlapan patut mendapat sorotan tersendiri. Film ini tidak saja mengantarkan beliau menjadi sutradara terbaik dalam Pekan Apresiasi Film Nasional 1967, tapi juga mengawali penjelajahannya terkait dinamika antara reel life dan reel life.

Cerita Dibalik Tjahaja Gemerlapan berkisar seputar suatu kelompok pertunjukan yang hendak pentas di Bandung. Dalam perjalanan ke sana, berbagai masalah silih berganti hadir—mulai dari promotor yang hobi menipu seniman, kesulitan dana, cekcok, cemburu, serta curiga antarseniman. Lewat cerita yang demikian, segala seluk-beluk terkait bisnis hiburan tersampaikan secara blak-blakan. Batas antara tontonan dan keriuhan di baliknya digariskan, dipertanyakan, dan disingkap ke penonton.

“Banyak cerita dalam Dibalik Tjahaja Gemerlapan yang memang terinspirasi dari peristiwa-peristiwa sejenis yang saya lihat langsung. Banyak sekali cerita di balik layar yang asyik diangkat ke layar,” jelas Misbach kepada saya, “Kebanyakan saya dapat dari cerita kawan-kawan saya. Tidak persis betul memang, ya namanya juga inspirasi,” tambahnya, terkekeh.

Kepiawaian Misbach mengolah peristiwa di sekitarnya juga tertuang lewat buku kumpulan cerita, yaitu Keajaiban di Pasar Senen dan …Oh Film. Buku pertama merupakan kumpulan kisah tentang pergaulan di Pasar Senen, Jakarta, pada 1950-an. Kala itu, Pasar Senen merupakan tempat berkumpulnya para seniman muda—seiring dengan kian maraknya produksi film Indonesia dan ramainya pementasan sandiwara. Buku kedua juga kumpulan cerita, dari dekade yang sama pula, tentang orang-orang film dan seluk-beluk di balik kegiatan mereka.

“Proses menulisnya kurang lebih sama dengan Dibalik Tjahaja Gemerlapan. Terinspirasi dari cerita kawan-kawan, beberapa dari cerita-cerita yang saya lihat sendiri. Cerita-cerita itu yang saya kumpulkan dalam bentuk tulisan,” kenang Misbach.

Ketika Keajaiban di Pasar Senen dan …Oh Film naik cetak pada 1971, Misbach sudah berjarak dari dunia produksi film. Setahun sebelumnya, ia memutuskan untuk tidak lagi menyutradarai film, walau masih menulis naskah. Keputusan ini ia ambil usai menyelesaikan Honey, Money, and Djakarta Fair pada 1970. Misbach kecewa dengan film-film Indonesia yang makin kental dengan bumbu seks, semisal Bernafas dalam Lumpur dan Noda Tak Berampun.

Misbach dan Arsip Sejarah

Undur diri dari produksi bukan berarti sepenuhnya berhenti. Nyatanya, langkah Misbach berikutnya bisa dibilang merupakan kontribusi terbesarnya bagi sinema Indonesia. Pada 1971, ia merintis sebuah lembaga dokumentasi sejarah bernama Arsip Film, sebagai penyokong perkembangan film nasional dan pembelajaran untuk masa mendatang. Lima tahun kemudian, ia dan Asrul Sani mengembangkan Arsip Film menjadi Sinematek Indonesia—yang Misbach pimpin hingga 2001.

“Saya mencoba mengumpulkan semua film yang saya bisa dalam koleksi Sinematek,” jelas Misbach. “Berpuluh-puluh tahun lagi, kalau orang mau tahu budaya Indonesia zaman dulu, bisa lihat film-film koleksi Sinematek. Semuanya kan terekam dalam film. Ceritanya, cara bicaranya, cara berpakaiannya. Pembuat film juga jadi bisa belajar. Supaya bikin film enggak begitu-begitu saja.”

Sinematek adalah lembaga arsip film pertama di Asia Tenggara. Lembaga ini mengumpulkan dan melestarikan beragam artefak terkait perfilman nasional, mulai dari film, buku, skenario, majalah, kliping, biografi, data organisasi dan perusahaan film, peralatan, hingga undang-undang perfilman dan peraturan pemerintah. Berkat inisiatifnya, Misbach pun menerima Lifetime Achievement Award dari South-East Asia and Pacific Film and Audio-Visual Archive Association (SEAPAVAA)—asosiasi untuk arsip film dan audiovisual di wilayah Asia Tenggara dan Asia Pasifik.

“Dulu kan ada izin produksi. Setiap bikin film harus minta izin dan memberikan dua skenario. Nah satunya saya ambil, jadi lengkap,” ujar Misbach tentang cara mengumpulkan koleksi untuk arsip Sinematek Indonesia. “Sekarang karena enggak perlu minta izin, ya susah dapat skenarionya. Kadang dikasih, kadang enggak.”

Bagi Misbach pribadi, Sinematek melengkapi penjelajahan dirinya akan reel life dan real life. Dari awalnya mengumpulkan cerita-cerita di sekitarnya, ia kini mengabadikan cerita-cerita di Nusantara, yang pernah diabadikan melalui sinema. Walaupun begitu, Sinematek sendiri bukanlah akhir dari perjalanan Misbach. Ia turut terlibat dalam perancangan berdirinya Akademi Sinematografi pada 1970, yang nantinya berkembang menjadi Jurusan Film dan Televisi Institut Kesenian Jakarta.

Pada 1978, Misbach mendirikan Yayasan Citra, sebuah badan pendidikan film. Ia menjadi pengurus, sempat menjabat sebagai ketua umum, dan rutin mengajar di situ. Misbach jugalah salah satu perumus pendirian Karyawan Film dan Televisi—asosiasi pertama bagi pekerja film di Indonesia—pada 1964. Selain itu, ia menuliskan Sejarah Film 1900-1950: Bikin Film di Jawa yang beredar pada 2009.

Kini

Sekarang ini kian relevan bagi kita untuk merenungkan kembali daya hidup Sinematek. Terlebih lagi beberapa tahun belakangan ini film klasik Indonesia satu per satu direstorasi dan diedarkan ke publik—Lewat Djam Malam pada 2012 dan Tiga Dara pada 2016. Terkesan kemudian bahwa ada secercah kepedulian terhadap sejarah. Walaupun, bisa jadi justru kenyataan berkata sebaliknya.

Satu hal yang kerap terlupakan dari setiap euforia pascarestorasi sebuah film adalah fakta bahwa restorasi sejatinya merupakan langkah darurat. Pelestarian sebuah film utamanya dilakukan lewat penyimpanan dan perawatan berkala. Baru ketika keduanya gagal, restorasi wajib untuk dilakukan. Maka dari itu, alih-alih menjadi bukti kepedulian terhadap sejarah, restorasi justru menunjukkan hal sebaliknya, yakni ketertinggalan kita terkait pengarsipan.

Dalam hal pengarsipan yang kurang, menyalahkan Sinematek Indonesia jelaslah kontra produktif. Fakta bahwa lembaga tersebut bisa bertahan sampai sekarang saja sudah merupakan sebuah prestasi tersendiri. Tanggungjawab yang begitu besar bisa mereka jalankan walau dengan dukungan dan dana operasional yang begitu minim. Sehari-harinya, mereka menghadapi fasilitas yang tidak memadai, koleksi film yang mulai reyot termakan usia, hingga larutan kimia yang dipakai berulang-ulang.

Potret tersebut berhasil direkam, salah satunya oleh film dokumenter berjudul Anak Sabiran, Di Balik Cahaya Gemerlapan (2013) garapan Forum Lenteng. Film ini amat penting, karena dibuat pada tahun-tahun terakhir, sebelum Misbach Yusa Biran berpulang. Banyak hal yang Misbach Yusa Biran kemukakan dalam film tersebut. Salah satu yang menohok adalah soal Sinematek, jerih payahnya selama kurang lebih 30 tahun yang semakin tak terurus.

Kini, Sinematek memang masih beroperasi, dan tetap merupakan arsip publik terbesar di Indonesia terkait film. Koleksinya sudah mencapai 15 ribu dokumen tentang film, dan 2.700 kopi dari sekitar 600 judul film—produksi 1934 sampai 2016. Beban seberat itu harusnya tidak berada pada pundak pengurus-pengurus Sinematek semata, karena bukan mereka saja yang menghidupi sejarah bangsa ini.

Sejarah kita adalah tugas kita semua, baik negara maupun warga. Pertanyaannya: mau sampai sejauh mana kita kehilangan sejarah, sampai akhirnya kita hanya bisa meratapi sejarah kehilangan?

Misbach sudah memulainya. Giliran kita yang melanjutkannya. Selangkah demi selangkah.

Tulisan ini pertama kali diterbitkan di situs Jurnal Ruang pada Agustus 2016.