Perempuan Punya Cerita dan Desakan Melodrama

Foto: Kalyana Shira Films/Perempuan Punya Cerita

Perempuan Punya Cerita dan Desakan Melodrama” adalah tulisan pilihan yang dihasilkan dari PERIOD Workshop: Kelas Kritik Sastra dan Film yang digagas oleh Intan Paramaditha dan Lily Yulianti Farid dan diselenggarakan pada 17-18 Desember 2018.

Kebebasan berekspresi membuat hak perempuan untuk berbicara dilindungi, tetapi tak berarti perempuan telah didengar. Apalagi, masih banyak yang percaya kalau kesetaraan gender telah tercapai. Padahal, bentuk-bentuk diskriminasi gender masih terjadi di mana-mana. 

Kepercayaan perempuan telah terbebas dari kungkungan patriarki itu disanggah oleh Perempuan Punya Cerita (2007) yang menampilkan kemalangan perempuan dari berbagai tempat. Tapi, di sisi lain, ada paradoks dalam film ini: untuk melahirkan kesadaran penonton atas kejamnya kekerasan terhadap perempuan, film justru menunjukkan adegan kekerasan. Hal ini membuat keberpihakan Perempuan Punya Cerita pada saat bersamaan terasa seperti potret album kumpulan perempuan gagal.

Bicara Meski Mungkin Tak Didengar

Perempuan Punya Cerita adalah film omnibus dari empat fiksi pendek bergenre drama yang diproduseri, ditulis, dan disutradarai oleh perempuan. Berdurasi 106 menit, film ini terbagi menjadi fragmen Cerita Pulau, Cerita Yogyakarta, Cerita Cibinong, dan Cerita Jakarta.

Segmen Cerita Pulau dengan sutradara Fatimah Rony mengisahkan bidan Sumantri (Rieke Diah Pitaloka) yang akan berhenti mengabdi dan melindungi para perempuan di Kepulauan Seribu karena menderita kanker stadium lanjut. Wulan (Rachel Maryam), seorang tuna grahita, menjadi pasien terakhir Sumantri.

Cerita Yogyakarta yang disutradarai oleh Upi Avianto menggambarkan seluk-beluk kehidupan remaja: gejolak darah muda serta kegagapan dalam memahami cinta dan seksualitas menjadi sisi lain kehidupan di kota pelajar.

Sementara itu, Cerita Cibinong dengan sutradara Nia Dinata mengangkat kehidupan para pekerja tempat hiburan malam. Kenaifan Esi (Shanty) dan Cicih (Sarah Sechan) membuat anak Esi, Maesaroh (Ken Nala Amrytha), menjadi korban pelecehan seksual dan perdagangan perempuan di bawah umur.

Alih-alih menampilkan ingar-bingar ibukota, Cerita Jakarta yang disutradarai oleh Lasja Fauzia Susatyo menutup rangkaian omnibus dengan nuansa sendu. Dengan HIV yang perlahan menggerogoti tubuhnya, Laksmi (Susan Bachtiar) berusaha terus bertahan hidup agar dapat membesarkan putrinya, Belinda (Ranti Maria).

Keempat kisah dalam Perempuan Punya Cerita menunjukkan bahwa perempuan dari berbagai kelas sosial dan tingkat intelektual dapat menjadi korban. Sebaliknya, siapa pun bisa menjadi pelaku penindasan, tak terkecuali sesama perempuan.

Imaji dan Relasi

Dalam The Image of Man: The Creation of Modern Masculinity, George Mosse menunjukkan bahwa ruang gerak perempuan direpresi oleh keharusan untuk tampil suci. Kesucian kemudian diasosiasikan dengan keluguan, bahkan kenaifan.

Perempuan Punya Cerita menampilkan keluguan perempuan dalam berbagai perwujudan. Contoh mencolok ditampilkan dalam salah satu adegan Cerita Cibinong ketika Maesaroh mengatakan kepada ibunya, Esi, “nggak kok, Mak. Saroh nggak pernah diapa-apain. Saroh cuma disuruh isep-isep aja sama Kang Narto.” Film ini bahkan menuding kenaifan sebagai sumber malapetaka, sebagaimana Cicih menyebabkan Maesaroh menjadi korban perdagangan perempuan.

Meski digelayuti mitos kesucian, bukan berarti perempuan selalu di posisi korban. Langkah Sumantri untuk memperjuangkan keadilan bagi Wulan justru terhenti ketika nenek Wulan menerima uang dari pelaku yang memerkosa cucunya. Demikian pula tokoh mertua perempuan dalam Cerita Jakarta yang menimpakan kegagalan dalam mendidik anak laki-lakinya kepada sang menantu.

Karakter nenek maupun mertua Laksmi tersebut mengisyaratkan beberapa hal. Pertama, generasi lampau melanggengkan dan mewariskan cara pikir patriarkis. Kedua, perempuan sangat mungkin menjadi “duri dalam daging” dengan turut andil menciptakan kemalangan bagi sesamanya. Ketiga, penindasan terjadi di kelas sosial mana pun, serta berkelindan dengan kepemilikan kapital (ketiadaan kapital pada nenek Wulan, penguasaan kapital pada mertua Laksmi).

Berbanding terbalik dengan imaji kesucian perempuan, maskulinitas bersikap mendua. Di satu pihak, laki-laki mengklaim dirinya sebagai makhluk rasional dan superior. Tetapi di lain pihak mereka meminta agar agresivitasnya dimaklumi. Pelecehan verbal yang dilakukan pemuda kota dalam bagian awal Cerita Pulau dan geng laki-laki teman sekelas Safina dalam Cerita Yogyakarta menjadi contoh sempurna dari pemeo klise yang kerap diucapkan sehari-hari: “maklumlah, namanya juga laki-laki”.

Barangkali, bukan kebetulan bila pemuda-pemuda kota yang melancong ke pulau (Cerita Pulau) dan penjajakan Jay Anwar ke Yogyakarta (Cerita Yogyakarta) selaras dengan pemikiran Suzzane Moore dalam esainya Getting a Bit of the Other: The Pimps of Postmodernism. Laki-laki menjadikan dunia perempuan sebagai semacam destinasi turisme, demikian metafora Moore.

Relasi yang rumit antara laki-laki dan perempuan membuat Perempuan Punya Cerita berisiko terjatuh pada stereotip yang menempatkan laki-laki pada posisi yang selalu antagonis, walaupun dapat dihindari salah satunya berkat karakter Rokhim yang mendukung Sumantri serta menghajar para pemerkosa Wulan—mengamini bahwa keberpihakan pada perempuan juga dapat dilakukan laki-laki seperti Rokhim.

Impotensi dan Ambivalensi

Dalam psikoanalisis, laki-laki diposisikan sebagai pemelihara orde dan superior. Mosse mengatakan bahwa norma-norma masyarakat berpihak pada laki-laki. Konsekuensinya, perempuan yang tidak patuh pada norma tersebut akan berhadapan dengan masyarakat. Berbagai institusi, tak terkecuali negara, dianggap analog dengan laki-laki.

Laki-laki sebagai otoritas secara ironis menunjukkan bahwa fungsi tidak serta-merta hadir bersamaan dengan posisi. Dalam salah satu adegan Cerita Yogyakarta, seorang pelajar laki-laki mengolok-olok materi pelajaran biologi mengenai reproduksi karena dianggap tertinggal dari apa yang ia pelajari lewat dunia digital (video/internet). Sekolah kemudian hadir kembali pada bagian akhir kisah dengan upaya meyakinkan masyarakat bahwa dunia pendidikan baik-baik saja tanpa ada masalah. Di sini, sekolah turut menjadi agen yang berkontribusi melahirkan generasi muda yang gagap akan pengetahuan tentang gender dan seksualitas.

Sementara dalam Cerita Pulau, perangkat pemerintahan dan warga laki-laki diperlihatkan terbiasa menutup mata atas persoalan yang menimpa perempuan. Mereka bahkan menimpakan kelalaiannya pada perkara reproduksi dan keselamatan ibu hamil dengan menuding Sumantri sebagai bidan aborsi. Ironisnya, mereka tiba-tiba memprotes lantang ketika pasangan Sumantri-Rokhim memperkarakan kasus pemerkosaan Wulan. Kedua plot cerita tersebut menunjukkan bahwa dalam penindasan terhadap perempuan, otoritas hanya akan menunjukkan batang hidungnya ketika ada ancaman terhadap status quo.

Sebaliknya, Perempuan Punya Cerita juga menjadikan otoritas negara sebagai sumber harapan dan tumpuan, seperti yang ditampilkan oleh adegan Cicih dan Esi saat hendak melapor ke kepolisian, serta Laksmi yang mendapatkan pengobatan HIV gratis dari rumah sakit pemerintah. Padahal, pada fragmen Cerita Pulau, aparat kepolisian digambarkan sebagai otoritas yang kurang berpihak pada perempuan. Dengan begitu, jika kita bisa menyeragamkan sikap dari semua kisah dalam Perempuan Punya Cerita, maka dikesankan bahwa sikap kritis itu bukan berarti perempuan tak membutuhkan dukungan dan layanan dari otoritas.

Ke(tidak)berdayaan Perempuan

Cerita Pulau ditutup dengan adegan kapal Sumantri yang meninggalkan pulau, sementara di pantai Wulan meraung kehilangan. Cerita Cibinong menutup kisahnya dengan adegan di tengah jalan yang menunjukkan keputusasaan Esi. Sementara Cerita Jakarta mengakhiri keseluruhan film dengan adegan Laksmi menyerahkan Belinda pada keluarga suaminya, kemudian dirundung lara dalam laju bus kota. Ketiga fragmen tersebut menunjukkan kecenderungan serupa.

Pertama, usaha para perempuan dijegal oleh lingkungannya, dan berakhir dengan kekalahan pada patriarki―yang juga berkelindan dengan kuasa kapital. Bahkan, ketika perempuan masih hendak berjuang, kondisi fisik-biologis akan menghalanginya seperti pada kasus Sumantri dan Laksmi. 

Kedua, perempuan berada pada kondisi ketidakberumahan (homelessness), sebagaimana para tokoh ditampilkan berakhir “terombang-ambing” di kapal, pantai, jalan, dan bus. Ketiga, agaknya Perempuan Punya Cerita bersikap skeptis pada sisterhood, dengan seolah mengatakan bahwa sang penolong sebenarnya juga memerlukan pertolongan. Lihatlah bagaimana Sumantri yang sakit tidak lagi dapat melindungi Wulan, serta Mbak Ira tidak lagi dapat mendukung Laksmi karena persoalan kapital.

Perempuan Punya Cerita seakan berjalan di atas seutas tali tipis: memotret realitas muram atau tergelincir pada melodrama mengenai kegagalan perjuangan perempuan. Perjuangan perempuan dimungkinkan, tetapi tidak ada jaminan perempuan terbebas dari aneka himpitan. Bahkan, hampir pasti bahwa tekanan akan menguat seiring upaya perempuan untuk melawan. Demikianlah nuansa pesimisme diisyaratkan oleh Perempuan Punya Cerita.

Menariknya, sikap moderat Perempuan Punya Cerita terhadap laki-laki yang mengkritisi sekaligus membutuhkan menciptakan relasi ganjil. Jika Perempuan Punya Cerita percaya bahwa laki-laki tidak dapat digeneralisasi sebagai pelaku keburukan, dan perempuan bisa menjadi pelaku penindasan terhadap sesamanya, mengapa ia mengasosiasikan perjuangan perempuan pada kenihilan?

Kecenderungan yang fatalistik ini mengesankan bahwa Perempuan Punya Cerita pada akhirnya mereproduksi juga stereotip perempuan selalu berada pada posisi kalah. Lantas, untuk apa film ini dibuat jika perempuan pasti kalah? Persis karena memiliki ruang untuk berbicara, jalan yang dipilih oleh Perempuan Punya Cerita jadi terkesan agak kontraproduktif. Seperti halnya kehadiran film ini, bukankah angkat bicara adalah juga kemenangan dari kebungkaman?

Pertanyaannya kemudian adalah kepada siapa perempuan dalam Perempuan Punya Cerita bercerita? Jika kegagalan total pada empat fragmen cerita dimaksudkan untuk menunjukkan kemendesakan―bahwa masih banyak perempuan bernasib nelangsa― maka kepada siapa hal tersebut pertama-tama dialamatkan?

Jika memang menunjukkan kemendesakan adalah hal yang dimaksudkan oleh Perempuan Punya Cerita, barangkali hal tersebut itu ditujukan bagi kesadaran kelas menengah yang terkadang tanpa sadar kelewat menyederhanakan persoalan. Tak terkecuali penonton bioskop yang menyangka hanya dengan menonton film semacam ini―bersama berondong jagung dan minuman bersoda―berarti serta-merta sudah berpihak terhadap perempuan.

Gorivana Ageza
Sehari-hari berkutat pada ranah filsafat, budaya, & sinema. Echa, demikian biasa ia disapa, sejak 2015 tergabung dalam komunitas film Bahasinema.