Setan Orde Baru dan Setan Reformasi

Ratu Ilmu Hitam
Ratu Ilmu Hitam

Motif seseorang mengunjungi bioskop bermacam-macam. Merasakan ketakutan kadang adalah salah satunya. Di sinilah kemudian film horor memiliki penonton setia. Melalui medium yang mampu menawarkan pengalaman reka-percaya (make-believe), cerita horor selalu memiliki daya pikat yang tak tergantikan. Saking spesialnya, kadang kita mendengar seseorang tak bisa tidur sesudah menonton film horor di bioskop; namun beberapa hari kemudian justru kembali lagi ke bioskop untuk menonton film horor terbaru.

Wajar kemudian bila dalam urusan meraup jumlah penonton film horor terbilang sukses. Di Indonesia, meski masih kalah dengan film drama, film horor mampu mendapat rata-rata penonton yang cukup tinggi. Tahun 2009 misalnya, ada 22 film horor yang beredar dengan rata-rata 320 ribuan penonton per film (Pasaribu, 2013). Sekalipun angka penonton film horor mulai menurun, jumlah film horor yang diproduksi justru meningkat. Pada 2015 misalnya, tercatat 31 film horor yang diproduksi. Angka tersebut adalah jumlah produksi film horor tertinggi di Indonesia, sesuai dengan yang tercatat di filmindonesia.or.id.

Dari angka-angka tersebut, boleh jadi kita memang cukup dekat dengan film horor. Kedekatan itu pun bukan sekadar kedekatan dalam urusan kunjungan ke bioskop, melainkan juga dalam urusan potret atau bahkan refleksi kehidupan kita. Sekilas, film horor mungkin memiliki jarak dengan realitas nyata karena nilai dramatik yang kerap digunakan—eksistensi hantu serta ancamannya yang bisa menghilangkan nyawa. Namun, pilar-pilar pembangun nilai dramatik, seperti karakter atau konsep yang ditawarkan, umumnya masih relevan dengan masyarakat. Sebut saja sosok pocong, yang terkait secara kasat mata dengan proses mortalitas mayoritas masyarakat Indonesia. Seperti kita tahu, dalam aturan agama Islam, seseorang yang meninggal harus dikubur dengan bungkusan kain kafan—dengan mitos bilamana tali kafan belum dilepas, maka jenazah akan bergentayangan.

Selain memiliki relevansi visual dalam sosok-sosok hantunya, film horor kadang juga memiliki kaitan simbolik tertentu dengan kondisi sosial-politik-ekonomi masyarakat. Inilah kekuatan film horor yang cukup istimewa—selain kekuatannya dalam membuat orang takut. Film horor ternyata bisa memiliki muatan sosial. Contohnya film-film horor yang hantunya adalah korban pemerkosaan. Tersirat kemudian, lantaran tingkah biadab pria tertentu, serta hukum seputar kasus pemerkosaan yang masih terbilang lemah, maka korban pun berubah menjadi arwah penasaran—dan menciptakan hukumnya sendiri. Atau, yang paling mudah, simbol kesenjangan sosial-ekonomi. Perkara klasik ini tersiratkan dengan kuat dalam film-film yang mengangkat masalah pesugihan, tuyul pencuri, ataupun babi ngepet.

Dalam hal membingkai zaman, film-film horor juga memiliki pola-pola yang menarik untuk ditelusuri. Di Indonesia, kita bisa melihat dua zaman yang cukup kontras, yakni era Orde Baru dan Reformasi. Perbedaan situasi sosial-politik dua era tersebut ternyata melahirkan film horor yang berbeda. Baik itu pada level kemasan, maupun pada gagasannya. Untuk mempermudah mengidentifikasi perbedaan tersebut, kita bisa mengambil salah satu elemen yang mewakili, yakni latar tempat film berlangsung. Di sini, kita berbicara tentang desa dan kota.

Desa dan Kota

Film horor Indonesia tahun 1970 sampai akhir 1980, lekat dengan kisah yang berlatarkan pedesaan (Paramita, 2016). Ratu Ilmu Hitam (1981) dan Bayi Ajaib (1982) adalah contoh film dari rentang waktu tersebut. Mereka memberi gambaran betapa lekatnya masyarakat yang tinggal di daerah pedesaan dengan hal-hal berbau takhayul. Alhasil, dalam kemunculan konfliknya, kejadian mistis bukan menjadi suatu hal yang terlalu mengejutkan bagi tokoh-tokoh di film.

Dalam Ratu Ilmu Hitam yang disutradarai Lilik Sudjio, digambarkan warga suatu desa berkonflik dengan suatu kekuatan gaib yang mengancam nyawa mereka. Bahkan, berjalan sendiri di bawah terik matahari, kekuatan gaib masih dapat memberi mereka ajal. Untuk mengakhiri teror tersebut, pembuat film menawarkan suatu kekuatan kolektif—dengan cara yang telah ditentukan di dalam film—sebagai jurus ampuh untuk mengalahkan Ratu Teluh. Suatu solusi yang juga terpola dengan baik di Bayi Ajaib, film tentang seorang anak yang disemayami roh jahat di dalam tubuhnya. Tampak pada bagian akhir kedua film, hadir keramaian masyarakat yang bahu-membahu mengalahkan kekuatan gelap yang mengancam desa mereka.

Masuk ke era Reformasi, horor mulai berpindah tempat—seperti mayoritas penduduk di negeri ini, film horor juga melakukan urbanisasi. Sekalipun ada film horor pada era Reformasi yang mengambil latar pedesaan, protagonis biasanya tetap berasal dari wilayah urban (kehadirannya hanya sebagai turis), contohnya adalah Keramat (2009), Tuyul (2015), dan Kampung Zombie (2015). Walaupun begitu, umumnya, film-film horor era Reformasi lebih berfokus di kota. Ambil contoh film Mirror (2005) dan Kesurupan (2008). Mirror bercerita tentang dilema anak SMA terhadap kemampuannya yang dapat membaca ajal seseorang lewat pantulan cermin. Sementara itu, Kesurupan mengisahkan tentang fenomena—tentu saja—kesurupan yang mengancam nyawa beberapa mahasiswa berduit yang iseng bermain boneka misterius. Keduanya sama-sama mengambil latar di kota.

Berbeda dengan Ratu Ilmu Hitam dan Bayi Ajaib, film horor kota macam Mirror dan Kesurupan tidak memperlihatkan sebuah ancaman terhadap kelompok masyarakat besar. Kehadiran arwah penasaran biasanya hanya menyerang sekelompok kecil orang, atau bahkan individu. Tidak ada ancaman kalau kota akan hancur apabila kekuatan mistis tersebut menang. Ancamannya bersifat mikro. Ketegangan di film horror era Reformasi lebih menyangkut pada nasib protagonis dalam film—apakah masih bernafas atau tidak sebelum credit title keluar. Bukan seperti film horor Orde Baru, yang ketegangannya adalah nasib desa secara keseluruhan.

Pengaruh Politik vs Pengaruh Pasar

Beda film horor era Orde Baru dan Reformasi, yang terwakili oleh pilihan latar ceritanya, memantik pembacaan lebih lanjut seputar semangat kedua fase politik tersebut. Contohnya, kita bisa lihat bagaimana visi Orde Baru memengaruhi sedikit banyak film horor Indonesia. Pemerintah Orde Baru mendoktrin masyarakat agar menjunjung Pancasila serta mendukung rencana pembangunannya dilakukan di segala sisi, termasuk di bidang perfilman. Hal ini diwujudkan melalui Pola Dasar Pembinaan Perfilman dan Pengembangan Perfilman Nasional atau P4N yang dirumuskan Dewan Film Nasional pada 1980 (Prayogo, 2009).

Hasilnya, film-film nasional yang diproduksi harus bersifat “kultural edukatif”. Ini kemudian dapat terlihat dari bagaimana film horor menggunakan latar dan masyarakat pedesaan. Kekuatan mistis, yang masih dipercaya oleh penduduk desa dalam film, menjadi metafor akan kebiasaan kuno yang pada akhirnya memberi mereka malapetaka. Hal ini harus dibenahi oleh orang dari kota atau kalau tidak sosok kiai, sebagai sosok penyelamat desa yang sedang huru hara. Orang kota itu memiliki pendidikan tinggi dan dapat dipastikan mengembalikan kedamaian masyarakat desa. Sedangkan kiai kerap kali menjadi simbol dari agama yang diposisikan sebagai solusi untuk masalah-masalah keseharian. Tampak kemudian, kita mulai mengarah ke modernisme, namun pada saat yang bersamaan tetap menekankan nilai-nilai keagamaan.

Berbeda dengan film horor pada Orde Baru, film horor pada Reformasi banyak mengambil setting kota. Absennya kontrol ketat pemerintah soal film membuat film-film horor pada era Reformasi bisa dibilang lebih dipengaruhi faktor pasar. Landasan pemilihan kota dapat ditarik akarnya ke dua unsur, salah satunya adalah karakter-karakter utama yang mayoritas remaja. Penyebab dari hal ini adalah maraknya gaya narasi bercerita film-film horor Thailand dan Jepang yang sedang ramai diperbincangkan pada waktu yang sama (Saputra, 2016). Akar yang kedua, adalah pengangkatan cerita legenda urban yang tidak asing terdengar di telinga masyarakat. Hantu Jeruk Purut garapan Nayato Fio Nuala adalah penggagas konsep tersebut pada era Reformasi dengan 700 ribu penontonnya (Siahaan, 2007). Hingga kemudian muncul judul-judul seperti Mall Klender, Lawang Sewu, atau Terowongan Casablanca. Kedua akar ini seperti memiliki pesan yang sama, film horor Indonesia pada era Reformasi cenderung bersifat reaktif terhadap pasar.

Namun, bukan berarti film horor era Orde Baru memiliki sifat yang berlawanan. Film periode tersebut juga mempertimbangkan pasar, tapi dengan cara berbeda, yakni melalui pemilihan pemeran yang dinilai dapat menarik minat masyarakat untuk pergi menonton. Perlu dilihat bagaimana Suzanna terus menerus dipilih sebagai sosok sentral di layar film-film horor pada kala itu. Hal ini sungguh lazim, mengingat film horor yang ia mainkan selalu berada di tangga box office film Indonesia dalam raihan jumlah penonton (Ardan dalam Lutfi, 2013). Ia bahkan menjadi kultus yang sampai sekarang menjadi simbol horor negeri ini dan masih belum memiliki pengganti.

Terlepas dari variabel Suzanna yang menyebabkan horor di era Orde Baru juga bersifat reaktif, memang tidak bisa disangkal bahwa film-film yang ditampilkan di layar bioskop komersial kebanyakan merupakan sebuah komoditas. Namun, adanya pengaruh pemerintah pada konten film horor pada era Orde Baru sepertinya tidak bisa ditampik. Pesan-pesan pembangunan tampak berusaha diselipkan melalui simbol-simbol dalam bentuk hidup atau mati. Sebaliknya pada era Reformasi, hal itu tidak lagi menjadi kewajiban para pembuat film horor kita. Ada kebebasan dalam berkreasi meski masih ada fungsi filter yang dipegang oleh lembaga sensor. Namun, sepertinya itu bukan jadi alasan utama sebab masih kurangnya varian film horor di negeri ini.

Tulisan ini pertama kali diterbitkan pada Oktober 2016.


Daftar Referensi:

Jurnal

Lutfi, M. (2013). Perkembangan Film Horor Indonesia Tahun 1981-1991, AVATARA, e-Journal Pendidikan Sejarah, 7.

Prayogo, W. A. (2009). Kebijakan pemerintah Orde Baru terhadap perfilman Indonesia tahun 1966-1979. Universitas Indonesia.

Website

Paramita, V. (2016, May 13). Jejak Film Horor Nusantara.

Pasaribu, A. J. (2013, April 2). Risalah 2012: Menjaga Momentum Film Indonesia.

Lain-lain

Saputra, H. R. (2016, Maret 15). (G. Rexy, Interviewer)

Siahaan, D. (2007, February). Film Horor Sedang Naik Daun. Tabloid Reformata. Yayasan Pelayanan Media Antiokhia.