Siasat Fleabag Menembus Dinding Keempat

Fleabag/Amazon Studios

“Let’s never ask anyone for anything. They don’t get it.”

Karakter utama kita dalam serial TV Fleabag (2016-2019) punya wewenang untuk memperkenalkan diri dan berkeluh kesah langsung ke penonton. Ia bisa menembus dinding keempat—tetapi ia bahkan tak pernah memperkenalkan namanya. Sebut saja ia Fleabag (Phoebe Waller-Bridge): si karakter utama yang memilih membuka cerita dengan mendeskripsikan pengalaman one night stand-nya sembari mengolok-olok perilaku partnernya saat itu.

Pria itu (Ben Aldrige) menatap intens Fleabag—seolah-olah ia baru saja menemukan tujuan hidupnya—dan Fleabag ikut-ikutan saja pura-pura menatapnya dengan pandangan penuh kasih. Perilaku canggung nan romantis itu kemudian buyar karena ternyata ketakjuban pria disebabkan oleh Fleabag yang mau saja melakukan seks anal dengan dirinya—membuat Fleabag bertanya-tanya apakah lubang pantatnya besar.

Alih-alih jadi sebuah pembuka yang menuntun kita mendapatkan gambaran dari hidup Fleabag, adegan di season pertama itu seperti dihadirkan untuk mengelabui penonton. Fleabag menggambarkan dirinya kepada kita sebagai pribadi yang begitu terobsesi dengan seks—dan untuk itu ia tak masalah jika sang pria punya keinginan aneh-aneh—dan seolah sampai situ saja kepribadiannya.

Di beberapa adegan selanjutnya, Fleabag malah sibuk berceloteh tentang kakaknya, Claire (Sian Clifford), kepada penonton. Fleabag mengkontraskan hidupnya yang seperti tak ada beban dengan Claire yang raut mukanya selalu tertekan. Ia yang kaya raya, punya karier yang mapan, dan bersuami justru terlihat dibebani lebih banyak masalah daripada Fleabag.

Meski begitu, bukan berarti Fleabag sedang tidak kenapa-kenapa. Ia punya pengalaman pahit yang lebih sering ia pilih untuk tak bicarakan dan berakhir dipendam. Ada sahabatnya, Boo (Jenny Rainsford), yang kematiannya terus membayang-bayangi Fleabag. Ada si Pendeta (Andrew Scott) yang membuat emosinya terobrak-abrik. Perasaan-perasaan itu ia simpan dalam-dalam di balik ekspresinya yang selalu cengengesan, kelakuan-kelakuan usilnya, komentar sinis atau sarkas yang ia bagikan hanya kepada penonton, dan obsesinya terhadap seks.

Itulah yang membikin serial TV ini seolah berhasil menyergap penonton ketika kita sedang lengah: kita tidak siap mengetahui persoalan dan perasaan intens yang lama-lama menyeruak keluar.

Siasat Mengelabui Penonton

Kita kesulitan untuk menganggap serius Fleabag karena suasana sebuah adegan di serial ini dapat berubah sangat cepat—dari muram, ke kikuk, ke nuansa seksual—hingga rasanya Fleabag seperti sengaja untuk mengalihkan perhatian kita dari masalahnya. Fleabag bisa menggedor rumah ayahnya pada pukul dua pagi untuk mengakui dirinya tidak baik-baik saja. Tapi, hanya dalam beberapa menit, emosi itu berubah drastis: Fleabag berlagak bahwa ia hanya sedang mabuk dan misinya berubah menjadi mengganggu ibu tirinya—si “cunt”, menurut Fleabag—yang saat itu sedang melukis.

Hal ini juga kembali terjadi di season kedua. Fleabag kembali merasa pedih kehilangan sahabatnya dan mencoba berdoa di gereja. Hanya dalam waktu beberapa detik, perhatian dirinya teralihkan oleh suara Jennifer Lopez menyanyikan Jenny from the Block yang sayup-sayup terdengar dari ruangan si Pendeta. Dari terkesima melihat si Pendeta yang memainkan musik keras-keras sembari sedikit mabuk, suasana kemudian berubah menjadi muram karena Fleabag dibuat menangis setelah diminta si Pendeta untuk melakukan pengakuan dosa. Setelah itu? Keduanya mencoba untuk berhubungan seks—namun digagalkan Tuhan.

Penonton tak diberikan waktu untuk memproses duka dan rasa sakit yang dialami Fleabag. Di satu sisi, ada keperluan untuk menuturkan cerita secara efektif—menabrakkan emosi yang kontras antar satu sama lain untuk memperlihatkan ironi dan kekacauan yang menjadi daya tarik Fleabag. Di sisi lain, Fleabag juga secara tepat guna memanfaatkan ini untuk memperlihatkan cara si karakter utama menghindari sesuatu: ia memang tak ingin meminta tolong dan memperlihatkan kerentanannya kepada penonton.

Komedian Hannah Gadsby pernah berargumen bahwa komedi berfungsi sebagai “relief” atas rasa tegang yang telah sengaja dibangun di awal. Dalam stand-up comedy-nya Nanette (2018), ketegangan itu ia sengaja tidak lepas karena menurutnya tak semua tragedi dapat berakhir ditertawakan. Dalam Fleabag, fungsinya berbeda lagi: komedi tidak senantiasa membuat lega dan menuntaskan masalah, tetapi justru jadi alat bagi Fleabag untuk menekan dan mengubur masalahnya.

Dalam Fleabag, tragedi tidak berakhir dengan komedi, tetapi komedi jadi pertanda adanya tragedi. Fleabag dikelilingi oleh karakter-karakter yang punya kepribadian ajaib: dari si pria anal yang juga terobsesi oleh tampangnya sendiri, ibu tirinya (Olivia Colman) yang mengadakan pameran bertajuk “sexhibition” yang memamerkan bentuk-bentuk penis pasangannya terdahulu, hingga ayahnya (Bill Patterson) yang selalu terbata-bata dan tak pernah bisa menyelesaikan kata-katanya.

Perilaku-perilaku komikal ini ada bukan hanya sebagai bahan tertawaan—tetapi juga berimplikasi pada masalah yang menghinggapi Fleabag. Ayahnya, misalnya, tetap tidak bisa mengungkapkan isi hati ke anak-anaknya di malam ia dan pasangannya mengumumkan akan menikah. Ia menyebut acara makan bersama itu sebagai “gang bang”—dan pidatonya berakhir sampai di situ.

Serial ini kemudian memperlihatkan bahwa ketidakmampuan si ayah untuk berkomunikasi itu menurun ke Fleabag. Ketika si Pendeta hadir di hidup Fleabag dengan tidak menuntut macam-macam dan secara tulus ingin tahu lebih banyak tentang dirinya, Fleabag malah kelabakan dan giliran menjadi pihak yang tak bisa melanjutkan kalimatnya.

Alih-alih menjadi sebuah support system, orang-orang terdekat Fleabag juga justru punya andil dalam memperkeruh suasana. Fleabag selalu dianggap problematik oleh mereka, dan ia yang disasar untuk berbenah diri. Claire berharap Fleabag bisa berhenti mengumbar lelucon dan mulai menganggap serius hidupnya; pacar terdahulunya, Harry (Hugh Skinner) ingin Fleabag berhenti masturbasi dan memusatkan seluruh perhatiannya kepada dirinya; ibu tirinya selalu berkomentar pasif agresif ke Fleabag dan menganggapnya gemar bertingkah.

Apa yang dialami Fleabag bukan cuma khalayannya. Serial ini meyakinkan penonton dengan menyorot secara lebih luas bagaimana perempuan secara umum dipandang di masyarakat: patriarki dianggap dapat diselesaikan lewat forum-forum so-called feminis yang justru berorientasi pada menata perempuan. Forum Women Speak yang dihadiri oleh Fleabag dan Claire punya fokus untuk “membuka mulut perempuan”—alih-alih menyorot akar persoalan patriarki. Begitu pula retret yang—ironinya bernama “Women Don’t Speak”—bertujuan agar perempuan “mendapatkan ketenangan batin” dengan membuat mereka melakukan pekerjaan-pekerjaan domestik tanpa dibayar.

Lantas, tak ada unsur komedi yang terbuang sia-sia. Meski Fleabag sering mengelak dari pertanyaan-pertanyaan semacam “are you okay?” dengan jawaban sekadarnya—atau bahkan memukul Claire ketika dirinya berusaha memeluk Fleabag, kita bisa melihat secara perlahan raut muka Fleabag yang lama-lama terlihat sedih, hingga flashback ke masa lalu ketika Fleabag dan sahabatnya bernyanyi “we’re so happy” di tengah malam di kafe berdua saja.

Jika menonton Fleabag membuat kita bertanya-tanya apakah serial ini utamanya adalah sebuah komedi atau tragedi, mungkin jawabannya adalah: bukankah dua-duanya tak terpisahkan?

Apa Arti Kita Bagi Fleabag?

Menembus dinding keempat bukanlah sebuah metode baru, dan penggunaannya telah banyak digunakan di berbagai film maupun serial TV. Dari Annie Hall (1977) hingga serial TV macam House of Cards (2013-2018), ada upaya untuk berkomunikasi ke penonton, untuk melemparkan inside jokes atau untuk menunjukkan bahwa si karakter tersebut memegang kuasa atas bergulirnya cerita.

Pada Fleabag, intensi itu sekilas serupa, tapi tak sama. Fleabag butuh penonton sebagai pihak yang menemaninya, berada di sisinya, dan menertawakan lelucon-leluconnya. Ia butuh pengganti Boo, sahabatnya yang meninggal dunia akibat kecelakaan yang ia sebabkan sendiri, dan kitalah yang akhirnya ia pilih.

Namun, penonton tidak serta merta diberitahukan segalanya. Fleabag masih juga berjarak pada penontonnya. Ketika rasa sedih atau sakit itu menyergap dirinya, Fleabag tak pernah langsung menatap ke layar atau meminta pertolongan kepada kita. Ia memilih melakukan hal lain: berjalan kaki sembari mabuk di tengah kota, memecahkan gelas di tengah keramaian, atau bahkan mencoba menyembunyikannya saja dan mencari hal lain untuk dibahas.

Pada akhirnya, kita tak bisa menggantikan sahabatnya yang meninggal dunia atau siapapun itu yang sedang dirinya butuhkan. Bagi Fleabag, fungsi kita mungkin tak ubahnya seperti partner-partner fling-nya—ia membutuhkan mereka untuk memuaskan hasrat seksualnya; ia membutuhkan kita sekadar karena ia tak tahan sendirian.

Fleabag, sebagaimana ia pernah mengatakan ke sahabatnya dahulu, butuh lebih dari itu: seseorang untuk ia cintai. Dulu, rasa cinta itu diluapkan ke ibunya. Setelah sang ibu meninggal, ada sahabatnya yang bersedia untuk menerimanya. Setelah sahabatnya juga pergi, ia mesti menopang emosi yang intens itu sendirian. Ketika Fleabag tetap menengok ke layar dan menyapa penonton di season kedua, kita jadi tahu bahwa ini bukanlah sekadar reuni. Ada persoalan yang belum tuntas yang membuat Fleabag masih tak bisa kita tinggalkan.

Di season kedua ini pula, ruang privat yang tadinya hanya milik kita dan Fleabag diterobos oleh si Pendeta, membuat kita dan Fleabag terperangah dan terasa seperti ditelanjangi. Terlepas dari ketertarikan besar Fleabag kepada si Pendeta, momen ini juga menunjukkan bahwa si pendeta bisa menembus batas keintiman yang telah ditetapkan oleh Fleabag sendiri—yang tak bisa ditembus oleh orang lain.

Ada teori yang mengatakan bahwa kedekatan si pendeta dengan Tuhan, makhluk maha besar yang juga tak kasat mata, membuatnya bisa dengan mudah menembus Fleabag. Tapi, penonton bukan Tuhan—paling tidak dalam narasi Fleabag. Fleabag-lah yang punya kuasa di ceritanya. Artinya, Fleabag yang membuka dirinya terlebih dahulu.

Betul saja, ia yang tak percaya Tuhan mau saja diajak membaca alkitab, mengobrol santai di dalam gereja ataupun di teras rumahnya, bahkan kerap kali begitu menikmati waktunya dengan si Pendeta hingga kita, penonton, tak lagi diliriknya. Interaksi-interaksi ini bisa jadi terlihat biasa saja, tetapi juga adalah bentuk interaksi yang tak pernah ia dapatkan bersama orang lain di sepanjang season pertama ataupun kedua—entah itu dengan kakaknya, anggota keluarganya yang lain, ataupun mantan-mantan pacarnya.

Bersama si Pendeta, Fleabag telah membiarkan dirinya “tertangkap basah” sejak pertemuan mereka pertama kali di episode satu: ketika tidak ada satupun anggota keluarga yang menanyakan tentang dirinya, si pendeta jadi yang pertama bertanya, “what do you do?” Ketertarikan Fleabag kepada si pendeta lantas secara keliru ia anggap sebagai nafsu seks belaka (dan semua orang bisa mengerti mengapa). Barulah di akhir-akhir season ia menyadari bahwa ia menginginkan si pendeta untuk alasan yang lebih dari itu—yang ia tunjukkan dengan tidak membiarkan kita menonton adegan seksnya untuk pertama kalinya hingga pengakuannya bahwa ia mencintai si Pendeta.

Menembus dinding keempat dalam serial ini bukan cuma soal berkomunikasi kepada penonton: Fleabag membutuhkannya untuk bertahan hidup—lebih pula dari upaya untuk mengumbar lelucon dan sarkasme. Maka, ketika kekosongan dalam dirinya itu telah terisi, ia bisa memilih untuk meninggalkan kita. Ketika Fleabag tidak lagi membiarkan kamera mengikutinya, momen ini jadi pertanda bahwa Fleabag sudah kembali punya kendali atas hidupnya.

Lebih dari itu, momen mengagetkan ini juga bikin sadar bahwa rasa berat ditinggalkan oleh sebuah karakter fiksi ternyata tak begitu berbeda dengan rasa sakit ditinggalkan orang di dunia nyata. Maka, ketika sang Pendeta menjawab, “It’ll pass,” saat Fleabag mengucapkan “I love you,” sepertinya pernyataan ini juga dialamatkan kepada kita—bahwa Fleabag tidak akan kembali (sehingga season selanjutnya tidak dibutuhkan lagi) dan kita akan baik-baik saja pada waktunya.

Permata Adinda
Pernah jadi partisipan workshop kelas kritik Festival Film Dokumenter dan Yamaga International Film Festival. Tulisan-tulisannya juga dapat ditemukan di Asumsi.co, Cinema Poetica, dan Magdalene.co.