Sutradara Perempuan Pertama Indonesia

Ratna Asmara (Sumber - Promotional picture for Kartinah, 1940)
Ratna Asmara (Sumber - Promotional picture for Kartinah, 1940)

Pada tahun-tahun awal kemerdekaan, besarnya antusiasme masyarakat terhadap pengalaman revolusi berdampak kepada sinema Indonesia. Semangat nasionalis terasa kental dalam banyak film bertema perjuangan Indonesia melawan kolonialisme Belanda. Seiring dengan itu, kebutuhan masyarakat akan film pun membesar (Sen, 2009:32).

Di tengah kondisi tersebut, Djamaluddin Malik, seorang pengusaha dan tokoh perfilman nasional, membangun perusahaan film, Perseroan Artis Indonesia (Persari), pada 1950. Menurut Tanete Pong Masak (2016:125), Persari didirikan dengan menggunakan pinjaman dari Bank Industri Negara (BIN) dan menjadi perusahaan film paling produktif pada masa itu. Persari didirikan Djamaluddin untuk memproduksi film hiburan yang bagus secara teknis dan bisa laku di pasaran (Biran, 2009:79).

Nama Persari sendiri sudah dicetuskan Djamaluddin Malik sejak masih di Solo, Jawa Tengah, pada 1947. Saat itu, Republik sedang mendapatkan ancaman Agresi Militer Belanda. Ibu kota pindah ke Yogyakarta pada awal 1946, karena Jakarta mendapat ancaman dan semakin genting. Awalnya, Djamaluddin tinggal di Yogyakarta, memimpin sandiwara Pantjawarna. Rombongan ini kerap menghibur para pejuang yang sedang bertempur melawan ancaman kedatangan kembali Belanda.

Di Jakarta, Persari berkantor di daerah Polonia, Jatinegara, dan sebelumnya sudah memiliki studio di Kebayoran. Media kemudian menyebut studio Persari sebagai Sariwood—mengadaptasi Hollywood (Aneka, 10 Januari 1951). Di atas tanah seluas 33.000 meter persegi di Polonia, Persari lantas membangun studio besar dan lengkap untuk kebutuhan shooting (Biran, 2009:78).

Kebanyakan artis dan sutradara Persari dari dunia tonil (teater). Mereka pernah aktif di rombongan Dardanella, Bolero, Warnasari, Tjahaja Timoer, dan Bintang Soerabaja. Persari menjaring aktor dan aktris jempolan, seperti Astaman, Raden Mochtar, Pandji Anom, Hamid Arief, dan Darussalam. Sutradara kawakan, macam Rempo Oerip dan Nawi Ismail pun bergabung bersama perusahaan film nasional itu (KH dan Pane, 2006: 78). 

Selain nama-nama tadi, ada seorang perempuan yang ditunjuk menjadi sutradara. Tak main-main, ia diberi beban untuk memimpin film produksi pertama Persari, Sedap Malam. Sutradara itu adalah Ratna Asmara, istri sutradara dan penulis Andjar Asmara. Ratna kemudian dikenang sebagai sutradara perempuan pertama Indonesia, setelah sukses menyutradarai film tadi.

Ratna Asmara dan Sedap Malam

Sedap Malam mengisahkan tentang dunia pelacuran. Film ini dimainkan oleh Pandji Anom, Raden Mochtar, Komalasari, dan Sukarsih. Kisahnya tentang seorang perempuan bernama Patmah, yang merasa dirinya sudah “rusak” karena dipaksa menjadi geisha oleh tentara pendudukan Jepang, kemudian menjadi wanita tuna susila, dan meninggal dunia karena penyakit kotor (Kristanto, 2007: 16).

Meski meraih sukses di pasaran, Sedap Malam ternyata mendapatkan kritik dari beberapa media. Menurut Aneka, isi film ini belum menjadi jaminan hasil yang bisa digolongkan dalam seni.

“Rangka tjerita baik, tapi tjara memberi bentuk kepada tjerita itu belum bisa memuaskan kita. Begitulah sampai istirahat film ini belumlah meninggalkan kesan apa-apa pada kita. Ini mungkin karena tjerita itu disadur dari tjerita jang lain maksudnja,” tulis wartawan Aneka, 20 Februari 1951.

Lebih lanjut, menurut Aneka, saat-saat yang ditujukan sebagai klimaks, misalnya ketika gadis anak tukang kopi (Komalasari) sebenarnya adalah anak Tamin (Pandji Anom) dan istrinya (Sukarsih) yang sudah dicerainya dan menjadi perempuan malam, kurang mengesankan.

Selain itu, Aneka menyoroti adegan yang terasa janggal di film ini. Patmah (Sukarsih), sebagai seorang perempuan yang menderita, dan akhirnya masuk ke dunia gelap bisnis esek-esek, tak tampak di film tersebut. Aneka menyebut, yang tampak hanya sisi “bahagia” dari seorang perempuan yang celaka: baju bagus, mobil bagus, dan sebagainya. Tanda ia seorang pelacur pun hanya digambarkan ketika ia meminta api kepada seorang laki-laki di tengah jalan dan ditangkap polisi.

Meski begitu, Aneka memberikan apresiasi tinggi untuk film ini. Media olahraga dan film ini menyebut, sebuah kemajuan di dalam dunia film Indonesia, karena Sedap Malam dipimpin (disutradarai) oleh seorang perempuan, yakni Ratna Asmara.

“Selaku permulaan hasil pekerdjaan Ratna Asmara ini adalah lebih dari lumajan, kalau tidak dikatakan melebihi hasil-hasil kebanjakan kolega-koleganja jang lelaki,” tulis Aneka, 20 Februari 1951.

Berawal dari Dardanella

Menilik perjalanan kariernya, Ratna sendiri bukan orang baru di dunia film. Kariernya dimulai pada 1941, saat bersama Astaman membintangi Kartinah, sebuah film arahan Andjar Asmara. Sebelumnya, Ratna dan suaminya ikut di dalam rombongan tonil Dardanella, sebuah perkumpulan tonil besar pada era kolonial.

Setelah menyutradarai Sedap Malam, Ratna membesut film Musim Bunga di Selabintana produksi Djakarta Film pada 1951. Suaminya, Andjar, bertindak sebagai penulis skenario.

Pada 1952, Ratna menjadi sutradara Dr. Samsi yang juga diproduksi Djakarta Film. Dr. Samsi bukan sebuah cerita baru bagi Ratna dan Andjar. Cerita ini diangkat dari naskah drama karangan Andjar, ketika mereka menjadi bagian Dardanella. Salah satu naskah andalan Dardanella ini kerap dimainkan, dan mengangkat dua nama pemain Dardanella sebelum perang: Dewi Dja dan Tan Tjeng Bok.

Dr. Samsi ditulis Andjar di Medan pada 1930. Menurut Andjar, cerita ini sudah dimainkan sebanyak 800 kali sejak lima tahun penulisannya (Asmara dalam Pertjatoeran Doenia dan Film, Agustus 1941).

Bukan hanya itu, sewaktu Dardanella melakukan pertunjukan antarbenua, keliling sejumlah negara, Dr. Samsi pernah dibuatkan film. Tepatnya di Kalkuta, India, sebuah perusahaan lokal, Radha Film, tertarik bekerja sama membuat film ini. Andjar kala itu didapuk menjadi sutradaranya. Namun, para pemainnya tak mendapatkan honor sepeser pun (KH, 1982: 146). Menurut sejumlah informasi, film ini gagal tayang.

Selain bertanggung jawab sebagai sutradara, Ratna pun menjadi pemeran utama dalam Dr. Samsi, yakni Sukaesih (yang dulu dimainkan Dewi Dja). Film ini pun melibatkan pemain kawakan, seperti Raden Ismail sebagai Leo dan Mhd. Said HJ sebagai Dr Samsi. Para pendatang baru, seperti Kamek, Djuwita, dan Kartini juga dilibatkan dalam film ini (Aneka, 1 September 1952).

Pada 1953, bersama wartawan dan pengarang Mochtar Lubis dan Wildan Djafar, Ratna mendirikan perusahaan film sendiri, Ratna Film. Produksi pertamanya adalah film Nelajan (1953) yang diadaptasi dari karya Mochtar Lubis, dengan penulis skenario Ratna dan Djafar. Film itu mulai mengambil gambar pada Juli 1953, 60 persen diambil di daerah Labuan, Banten, dan Pulau Sahut (T. Hill, 2011: 99).

Terakhir, dalam kariernya sebagai sutradara, Ratna memimpin pembuatan film Dewi dan Pemilihan Umum (1954). Film yang dibintangi Titien Sumarni dan Raden Ismail ini mengisahkan drama menjelang Pemilu pertama 1955.

Sutradara Perempuan Selanjutnya

Jalan yang sudah dirintis Ratna Asmara kemudian dilewati oleh Roostijati, yang menggarap film Genangan Air Mata (1955), dan Sofia WD yang menyutradarai film Badai Selatan (1960). Sofia WD sendiri mulanya bernama Sofia Waldy. Namun, setelah menikah dengan aktor WD Mochtar, ia berganti nama jadi Sofia WD. 

Seperti Ratna, Roostijati dan Sofia juga lebih dulu malang-melintang di dunia perfilman tanah air sebagai aktris. Roostijati melakukan debut aktingnya dalam Kenangan Masa (1951), sementara Sofia dalam Air Mata Mengalir di Tjitaroem (1948). Dari segi produktivitas, Roostijati hanya membuat satu film, sedangkan Ratna bikin lima film dan Sofia menghasilkan tujuh film dalam sepanjang kariernya.

Pada 1961, Sofia menjadi tandem Raden Arieffin untuk menyutradarai film Panas Dingin produksi Tjendrawasih Film. Sebelum tayang resmi, Tjendrawasih Film mengalami kerugian sekitar Rp200 juta, karena rol film ini dipotong produsernya. Produsernya berkilah, pemotongan tadi tak memengaruhi isi cerita film. Tak ada alasan resmi yang mendasari pemotongan rol film tersebut. Yang pasti, film ini menghabiskan dana sebesar Rp15 juta (Varia, 27 September 1961).

Selain sibuk menjadi aktris dan sutradara, Sofia pun memiliki rombongan pertunjukan bernama Libra Musical Show. Perkumpulan ini kerap mengadakan pertunjukan ke daerah-daerah di Indonesia. Sofia pun menyiapkan kostum-kostumnya secara mandiri (Varia, 28 Agustus 1963). 

Libra Musical Show ini kemudian menjelma menjadi Libra Film, sebuah perusahaan film miliknya sendiri, pada 1970. Produksi pertamanya Si Bego Menumpas Kutjing Hitam. Di film ini, Sofia bertindak sebagai penulis skenario, sedangkan sutradara dipegang Lilik Sudjio dan Fritz G Schadt (Kristanto, 2007: 78).

Selama menjadi sutradara, Sofia pernah menangani film Singa Betina dari Marunda (1971), Tanah Harapan (1976), Jangan Menangis Mama (1977), dan Halimun (1982).

Becermin pada Ratna Asmara

Kemunculan Ratna Asmara—dan juga Roostijati serta Sofia WD—sebagai para sutradara perempuan di masa-masa awal kemerdekaan tersebut, menurut Sen (2009:88), terkait erat dengan peran laki-laki yang jumlahnya lebih dominan dalam perfilman Indonesia. Terlepas dari itu, kiprah dua sutradara perempuan Indonesia ini bisa memperlihatkan bagaimana perempuan tak kalah dengan sosok laki-laki dalam membuat sebuah film. 

Film Sedap Malam pun dianggap sebagai film pertama Indonesia yang mengangkat masalah pelacuran. Boleh jadi di sinilah letak keunggulan Ratna Asmara karena mengolah sebuah isu sosial yang sebelumnya tak pernah disentuh sineas laki-laki. 

Bahkan, film perdana garapan Sofia, Badai Selatan, mencetak sejarah pada 1962, karena berhasil menjadi film Indonesia pertama yang masuk seksi kompetisi Festival Film Internasional Berlin atau Berlinale (salah satu festival film tertua dan terbesar di dunia). Setengah abad kemudian, langkah menawan Badai Selatan itu baru berhasil diulangi Kebun Binatang (Postcards from the Zoo) karya Edwin yang juga masuk seksi kompetisi Berlinale 2012.

Dengan menilik kiprah Ratna Asmara dan Sofia WD tersebut, para sutradara perempuan Indonesia sekarang sesungguhnya dapat becermin. Seperti yang diamati Anchalee Chaiworaporn (dalam Sasono, 2007:55), pendidikan tinggi dan posisi kelas sosial—yang umumnya dari kalangan menengah atas—merupakan faktor penentu terhadap karier sutradara perempuan Indonesia pasca 1998. 

Sedangkan Ratna dan Sofia mampu menjadi sebagai sutradara film di masa lalu lantaran lebih dulu terjun dalam seni peran. Itu pun di tengah dominannya peranan dan jumlah laki-laki sebagai sineas maupun aktor, serta, mengutip Sen (2009:88), stigma sosial tentang dunia perfilman dan pekerjaan perempuan. (*)

Tentang Penulis

Fandy Hutari adalah seorang penulis, periset, dan pengarsip sejarah. Berminat pada kajian sejarah film dan sandiwara Indonesia. Bukunya yang sudah terbit antara lain Sandiwara dan Perang: Propaganda di Panggung Sandiwara Modern Zaman Jepang (2009); Hiburan Masa Lalu dan Tradisi Lokal: Kumpulan Esai Seni (2011), Budaya, dan Sejarah Indonesia; dan Manusia dalam Gelas Plastik: Kumpulan Cerita Pendek (2012).

Daftar Referensi:

Buku

Biran, Misbach Yusa. 2009. Peran Pemuda dalam Kebangkitan Film Indonesia. Jakarta: Kementerian Negara Pemuda dan Olahraga.
Herlina, Dyna S dan Kamila Andini (ed). 2016. Laut Becermin (The Mirror Never Lies): Sebuah Catatan & Tafsir Film. Yogyakarta: Treewater Productions dan Rumah Sinema.
Hill, David. T. 2011. Jurnalisme dan Politik di Indonesia; Biografi Kritis Mochtar Lubis (1922-2004) sebagai Pemimpin Redaksi dan Pengarang. Jakarta: Buku Obor.
Hutari, Fandy. 2017. Para Penghibur; Riwayat 17 Artis Masa Hindia Belanda. Yogyakarta: BasaBasi.
KH, Ramadhan. 1982. Gelombang Hidupku; Dewi Dja dari Dardanella. Jakarta: Penerbit Sinar Harapan.
KH, Ramadhan dan Nina Pane.2006. Pengusaha, Politikus, dan Pelopor Industri Film; Djamaludin Malik Melekat di Hati Banyak Orang. Jakarta: Kata Hasta Pustaka.
Kristanto, JB. 2007. Katalog Film Indonesia 1926-2007. Jakarta: FFTV IKJ dan Penerbit Nalar.
Masak, Tanete Pong. 2016. Sinema pada Masa Soekarno. Jakarta: FFTV Institut Kesenian Jakarta.
Sasono, Eric (ed). 2007. Kandang dan Gelanggang: Sinema Asia Tenggara Kontemporer. Jakarta: Yayasan Kalam
Sen, Krishna. 2009. Kuasa dalam Sinema: Negara, Masyarakat dan Sinema Orde Baru. Yogyakarta: Penerbit Ombak.

Majalah

Pertjatoeran Doenia dan Film, Agustus 1941.
Aneka, 10 Januari 1951.
Aneka, 10 Februari 1951.
Aneka, 1 September 1952.
Varia, 27 September 1961.
Varia, 28 Agustus 1963.