Kita Tidak Pernah Benar-Benar Menjadi Marxis

Friedrich Engels, Ultimus

Prawacana

Upaya penerbitan buku Friedrich Engels: Pemikiran dan Kritik (2020) yang disunting Dede Mulyanto bersama Fuad Abdulgani mengingatkan saya terhadap kutipan favorit saya dari Slavoj Žižek (2012), “Hari ini, kita harus berkata, ‘Di abad XXI, kita mungkin mencoba mengubah dunia terlalu cepat. Sekarang adalah waktunya untuk menafsirkannya kembali, untuk mulai berpikir.”

Kutipan tadi bisa dibilang adalah cara terbaik untuk membuat para Marxis gusar. Marx menulis dengan percaya diri dalam Tesis Tentang Feuerbach (1845) nomor sebelas: “Para filsuf hanya telah menafsir dunia dalam berbagai cara; persoalannya adalah mengubahnya.” Untunglah para pembaca Marx tidak menelan mentah-mentah anjuran itu dan terus berupaya menafsir ulang dunia, menuliskan serta menyebarluaskannya, dan saling berpolemik.

‘Marxisme’ (sebagai istilah catch-all generalisasi, yang di dalamnya termasuk langgam Engelsian) sebagai suatu upaya sosialisme untuk menjadi ‘ilmiah’, pertama-tama bisa bermakna hanya jika terus ditinjau dalam relasinya dengan dunia.

“Kata Pengantar” buku Friedrich Engels ini menunjukkan kekhawatiran senada. Bisa jadi, “kumpulan tulisan bunga rampai ini tak lebih dari semacam ‘klangenan’ belaka,” yaitu sebuah upaya ala kadarnya untuk “mengingat-ingat kembali seseorang atau peristiwa dari masa silam”, seperti yang dipaparkan dalam kata pengantar.

“Kata Pengantar” tadi secara malu-malu tidak menyatakan bahwa bunga rampai ini adalah upaya untuk menjadikan pemikiran Engels bermakna setelah haulnya yang ke-200, atau seakan menerima saja label ‘klangenan’ tadi.

Saya pribadi melihat kehadiran buku bunga rampai ini sebagai ajakan kepada pembaca untuk menginterpretasikan lebih lanjut pemikiran Friedrich Engels.

Apakah buku ini, dalam parafrase saya yang merujuk “Surat Kepercayaan Gelanggang” (1950), bukanlah upaya “melap-lap hasil pemikiran lama sampai berkilat dan dibanggakan, tetapi kami memikirkan suatu penghidupan teoretis baru yang sehat”?

Sosialisme ‘yang’ Ilmiah I: Aktualitas dan Relevansi

Menurut saya, hanya ada dua jenis kajian bertemakan ‘pemikiran’ yang bukan merupakan ‘klangenan’. Pertama, kajian tentang ‘pemikiran tertentu tentang sesuatu’, dan kedua, kajian yang menggunakan ‘pemikiran tertentu tentang sesuatu’ untuk menganalisis ‘sesuatu yang lain’.

Kemudian, apa yang dimaksud kebaruan (newness) dan yang-baru (the new) dalam kajian macam ini? Pada ragam yang pertama di atas, kita bisa meninjau/menguji ulang ketepatan suatu pemikiran yang ‘telah’ ada sebelumnya tentang sesuatu. Ini adalah kajian ‘aktualitas’. Lalu, pada ragam yang kedua, kita menguji kapasitas suatu pemikiran dengan mengaitkan sesuatu yang berada di luar bangun penjelasan sebelumnya. Kajian ini mengukur ‘relevansi’: bagaimana cara penjelasan terdahulu diuji ulang menggunakan variabel-variabel yang berbeda?

Mari kita coba cek satu per satu tulisan dalam bunga rampai ini dalam kategori yang saya buat tadi. Tulisan pertama dari Rio Apinino yang berjudul, “Jalan Engels: Perjalanan Hidup dan Pemikiran Seorang Komunis Parlente” merupakan biografi keilmuan Engels. Tulisan ini tidak berusaha menyatakan kebaruan apa-apa, karena menyampaikan ulang ‘apa adanya’.

Tulisan kedua berjudul “Pemikiran Ekologis Friedrich Engels: Tawaran menuju Ekologi Manusia Marxian” ditulis Fuad Abdulgani. Kajian ini berusaha menguji relevansi pemikiran Engels dalam kerangka ‘baru’ berupa ‘ekologi manusia’. Kemudian, Daniel Sihombing melalui “Engels dan Teologi Müntzer Ateisme Terselubung atau Transendensi Radikal?” berusaha untuk mengaktualisasi pemikiran Engels dengan membalikkan sama sekali pembacaan yang sudah ada tentang Engels: dari ateisme ke bentuk teologi yang radikal.

Tulisan keempat dari Dodi Faedlulloh dengan “Engels tentang Negara dan Birokrasi: Sebuah Ekstrapolasi” merupakan kajian aktualitas dengan membawa pemikiran Engels ke situasi tatanan pemerintahan kontemporer. Selanjutnya, tulisan Stanley Khu yang berjudul “Agama Damai dan Kekerasan Politik: Perspektif Engelsian atas Buddhisme Politik di Sri Lanka” berwatak kajian relevansi dengan usaha mengaitkan teori agama Engels dengan kerangka Buddhisme dan konflik politik.

Dalam tulisan berikutnya “Engels tentang Cinta, Perkawinan, dan Keluarga”, Syarif Maulana berusaha mengaktualisasikan gagasan Engels mengenai keluarga batih dalam situasi terkini. Kemudian ada tulisan Linda Sudiono dengan judul “Engels dan Asal-Usul Ketertindasan Perempuan: Kritik atas Teori Budaya Patriarki” yang mendialogkan relevansi teori budaya patriarki dengan pemikiran Engels.

Dua tulisan terakhir dalam bunga rampai ini, yaitu oleh Francesco Hugo dengan “Perang dan Pertempuran: Pemikiran Engels tentang Soal-soal Kemiliteran” dan Dede Mulyanto dengan “Empat Kelumit tentang Engels: Cerita tentang Kumis, Ibunda, Bahasa, dan Islam” lebih merupakan penyampaian ulang apa yang sudah ada dalam tulisan Engels sebelumnya.

Jadi, entah disengaja atau tidak, secara merata dari sembilan tulisan dalam bunga rampai ini, sepertiganya menggunakan pendekatan penulisan yang berbeda. Oleh karena itu, sebetulnya para penyunting tidak perlu terlalu khawatir dengan label ‘klangenan’, karena secara garis besar mereka sudah cukup menyampaikan ‘kebaruan’.

Namun, subjudul ‘kritik’ rupanya cukup mengecoh, karena toh bentuk yang disampaikan adalah ‘kritik dari’ (critique from) Engels, bukan ‘kritik atas’-nya (critique of). Pembaca melalui buku ini pol-polan mendapatkan—apa yang disebut dalam teori hermeneutika Paul Ricoeur (1981) sebagai—bentuk apropriasi/pendakuan pemikiran Engels oleh para penulis. Jika ingin lebih radikal, bisa ditafsirkan bahwa apa yang disampaikan oleh para penulis di sini sebetulnya bukanlah ‘pemikiran Engels’, tetapi sekadar ‘interpretasi si penulis’ tentang ‘pemikiran Engels’; mereka menggunakan Engels untuk menyampaikan argumennya sendiri.

Tidak ada yang salah dengan cara itu. Hanya saja, dengan cara penulisan yang seperti ini, rasanya masuk akal jika para penulis kemudian jadi tak berjarak dari (si)apa yang ditulisnya. Sangat jelas bahwa semua penulis konsisten menghayati tesis sosialisme ilmiah Engels bahwa setiap bentuk analisis dan perlawanan harus dilandasi melalui sesuatu yang materiel (hlm.: 7). Namun, kita bahkan bisa mencoba mempermasalahkan tesis ini jika memang ingin mencoba mengkritiknya dari dalam.

Persoalan sejenis sudah pernah saya eksplorasi di tulisan saya yang lain, maka dari itu saya di sini akan menggunakan sudut pandang yang berbeda. Sebagai sesuatu yang ilmiah, langgam ‘sosialisme’ Engels (sebagaimana juga yang kemudian juga ditemui di Marx [hlm.: 6, 35, 59]) bergantung dengan pengujian sebagai metode. Oleh karena itu, dalam pembahasan buku ini, yang ilmiah dari ‘sosialisme ilmiah’ sebetulnya adalah proses menuju sosialisme itu sendiri dan bukan sosialismenya.

Engels dalam Sosialisme: Utopia dan Saintifik (1880) menjelaskan bahwa untuk menyelesaikan beragam kontradiksi antara kelas pekerja dan pemilik alat produksi, antara keteraturan pengaturan dalam pabrik dan anarki keseluruhan proses produksi, lalu juga antara pengembangan produksi dengan tenaga kerja, hanya bisa diselesaikan dengan revolusi.

Corak produksi dibebaskan dari watak akumulatif kapital, sehingga membebaskan manusia dari ikatan kerja yang menindas. Sosialisme utopia bagi Engels tidak bisa mengatasi kontradiksi-kontradiksi ini, karena tidak bisa menjelaskan kondisi menindas yang dialami kaum pekerja.

Masalahnya, urusan pengelolaan kehidupan sosial-politik-ekonomi adalah preferensi ideologis yang berlaku metahistoris atau melampaui sejarah dengan berposisi sebagai penuntun tetap. Artinya, sejak awal ia harus sudah ‘benar’ sebagai ide untuk kemudian bisa diperjuangkan secara konsisten. Oleh karena itu, sebab ia diyakini ‘benar’ adanya, maka ia baru kemudian diperjuangkan.

Saya lebih suka menyebut visi sosialisme ini sebagai bentuk subversif dari dialektika Hegelian yang menempatkan bukan negara sebagai akhir gerak sejarah manusia, tetapi kondisi ketiadaan negara itu sendiri (masyarakat komunistis).

Saat menempatkan sosialisme sebagai upaya yang melulu aktual (dibenarkan terus-menerus dari dalam), maka ia akan otomatis menuntut relevansi dari daya penjelasnya. Itulah mengapa, akan selalu ada upaya untuk membuatnya ‘relevan’, seperti dengan cara mengaitkan pemikiran Engels dengan ‘kerangka penjelas’ di luar dirinya. Sebut saja ‘ekologi manusia’, ‘Buddhisme politik’, dan ‘patriarki’.

Kesadaran atas keunggulan-kelemahan faktor ideologis dalam ‘sosialisme ilmiah’ inilah yang seharusnya bisa diturunkan lebih lanjut ke kajian-kajian lanjutan. Hal ini bisa dilakukan jika kita mengatasi oksimoron istilah ‘sosialisme ilmiah’ dengan memasukkan unsur saintifik lain ke dalam analisis kita: probabilitas dan prediksi.

Sosialisme ‘yang’ Ilmiah II: Probabilitas dan Prediksi

Bagaimana jika postulat ideologis sosialisme tadi kita tangguhkan? Hal utama yang bisa dipraktikkan dari metode ilmiah dialektika alam adalah menunda proses penarikan kesimpulan metasejarah yang idealistis dari realitas yang belum berwujud. Artinya, menempatkan sosialisme sebagai probabilitas.

Resolusi yang ditawarkan sosialisme, berupa penyelesaian berbagai kontradiksi yang disebutkan di atas, hanya berlaku eksklusif. Seperti yang juga sudah disampaikan di atas, kebutuhan sosialisme untuk bisa menjelaskan hal-hal di luar dirinya berarti bahwa ke depannya akan selalu ada kemungkinan keragaman sosialisme itu sendiri.

Jika sebagai suatu kemungkinan sosialisme mengatasi masalah berbagai kontradiksi tadi, bagaimana jika ia ditempatkan untuk mengatasi ‘persoalan’ lainnya? Misalnya, menerapkan sosialisme tidak otomatis mengatasi seksisme, begitu pula ia tidak dengan sendirinya menghentikan pemanasan global. Sosialisme ilmiah memang bisa menjelaskan secara historis-material kemunculan kedua problem tersebut, tetapi ia tidak kemudian menawarkan solusi ‘pasti’ terhadapnya.

Saat Linda Sudiono mengatakan bahwa “menganalisis akar penindasan perempuan adalah menempatkannya dalam konteks hubungan sosial terhadap corak produksi yang ada melalui investigasi proses sejarah yang melahirkan corak produksi tersebut” (hlm.: 153), dia tidak mengindikasikan bahwa adanya perubahan corak produksi ke bentuk, dalam kasus ini, sosialisme di ‘masa depan’ akan berdampak pada hilangnya penindasan perempuan.

Apakah kesetaraan gender dicapai dengan cara menyamaratakan peran laki-laki dan perempuan melalui penghapusan sama sekali apa yang disebut ‘gender’? Atau, apakah kesetaraan dijalankan dengan memberikan kebebasan mutlak terhadap ekspresi gender masing-masing orang?

Saat Fuad Abdulgani membahas masuknya kita ke masa Antroposen yang meruntuhkan dualisme Cartesian-Kantian, karena tidak ada lagi pemisahan antara manusia dan alam, bahwa eksploitasi atas lingkungan akan berdampak langsung terhadap kondisi manusia (hlm. 36–37), dia tidak mengindikasikan bahwa, sekali lagi, perubahan corak produksi ke sosialisme akan mengubah cara kita menyikapi masa Antroposen ini.

Apakah dengan masuknya kita ke masa Antroposen berarti harus menghentikan industrialisasi? Atau, malah apakah mengakselerasi teknologi ke arah yang lebih ramah lingkungan walaupun mengorbankan dimensi ekonomi yang berarti pemerataan kesejahteraan dikesampingkan?

Penolakan atas klaim sapu jagat ini tak berarti saya menolak keseluruhan sosialisme. Saya hanya berbagi sentimen dengan Terry Eagleton yang menulis dalam bukunya Mengapa Marx Benar (2019: 80),

“Komunisme mungkin melihat adanya akhir dari kerja keras, tetapi sukar untuk meyakini bahwa Marx membayangkan satu tatanan sosial tanpa kecelakaan, cedera, dan penyakit, seperti halnya dia mengharapkan satu tatanan sosial tanpa kematian.”

Sampai di sini, harus dipahami bahwa kategori ‘kelas’ hanyalah salah satu unit analisis yang bisa dimobilisasi oleh peneliti untuk menjelaskan realitas. Penggunaannya semata-mata untuk mengurai realitas ‘tertentu’ dan sekaligus memberi resolusi ‘tertentu’ terhadapnya. Hal ini sayangnya tidak akan berlaku simetris terhadap masalah lain yang mungkin bahkan masih berkorelasi dengan ‘kelas’ itu sendiri.

Mengandaikan kesejajaran dari keduanya tak lebih dari omong kosong idealisme yang sudah lama kita tinggalkan. Artinya, kembali ke persoalan yang saya kemukakan sebelumnya, sains harus dibedakan dengan ideologi; teori (idealisme) harus dikembalikan ke dunia (materiel).

Oleh karena itu, sosialisme saintifik harus masuk ke ranah spekulasi. Keunggulan sains ada pada kapasitasnya membuat spekulasi yang terukur berupa ‘prediksi’, yang dalam pengembangannya kini harus menghindari peniscayaan berlebihan dalam rupa ideologis yang kontraproduktif karena dogmatis.

Prediksi membantu kita untuk mengantisipasi dan melakukan pencegahan. Prediksi ini baru bisa kita lakukan jika ada upaya ‘pengelolaan pengetahuan’ tentang the known dan the unknown, atau yang-diketahui dan yang-tak diketahui. Slavoj Žižek dalam bukunya In Defense of Lost Causes (2009 hlm.: 456–457) mengutip momen filosofis ‘Rumsfeldian’ untuk menjelaskannya.

Donald Henry Rumsfeld adalah Menteri Pertahanan Amerika Serikat dari 2001 hingga 2006 yang saat itu secara tidak langsung menjelaskan tentang konsep epistemologi tiga relasi antara yang-diketahui dan yang-tak diketahui: ‘known knowns’ perihal yang kita ketahui bahwa kita tahu, ‘known unknowns’ perihal yang kita ketahui bahwa kita tidak tahu, dan ‘unknown unknowns’ perihal yang kita tidak ketahui bahwa kita tidak tahu.

Konteksnya saat itu Rumsfeld berusaha menjustifikasi penyerangan Irak dengan dugaan (alias semata-mata spekulasi kosong) bahwa Sadam Husein memiliki hal berbahaya yang belum diketahui. Namun, bagi Žižek ada kategori keempat yang terlupakan: ‘unknown knowns’ perihal yang kita tidak ketahui bahwa kita tahu. Dalam kategori Freudian hal ini masuk ke ranah ketaksadaran (unconscious). Hal yang ditolak untuk diketahui oleh Rumsfeld adalah dampak penyengsaraan masyarakat Irak yang berusaha ‘diselamatkan’ olehnya.

Sebab masuk ke ranah ketaksadaran, berarti ‘pengetahuan’ ini direpresi subjek. Contoh lain dari ‘unknown knowns’ yang bisa saya sebutkan: bahwa akumulasi kapital berjalan lebih baik dengan pemerintahan terpusat “sosialis” ala Tiongkok, dan bahwa pengendalian pandemi yang dilakukan oleh “negara sosialis” seperti Vietnam dan Kuba lebih efektif daripada negara lain. Pengetahuan mengenai dua hal ini ditekan, seolah-olah ditolak untuk diakui.

Tepat pada eksplorasi mengenai relasi antara yang-diketahui dan yang-tak diketahui inilah laku prediksi bisa dilakukan. Apa yang sudah dan belum kita ketahui dari persoalan sosialisme? Apa saja yang bukan-sosialisme, sebagai titik-titik buta darinya, yang belum kita ketahui? Apa saja klaim sosialisme ilmiah yang selama ini diam-diam kita tinggalkan padahal penting digunakan sebagai rujukan?

Ranah ideologis bahwa ‘solusi suatu permasalahan adalah sosialisme’ seharusnya bukan dijadikan garis akhir, melainkan garis mula dari analisis. Persis karena Marxisme adalah sosialisme ‘yang’ ilmiah, kita tidak boleh berhenti pada ranah ideologisnya.

Pascawacana

Buku Friedrich Engels: Pemikiran dan Kritik (2020) buat saya memberikan momen refleksi yang penting terkait landasan pemikiran Marxisme. Saya ingin memplesetkan judul buku Bruno Latour (1991) untuk menyimpulkan tulisan ini: kita tidak pernah benar-benar menjadi Marxis.

Artinya, ketat pada metode ilmiah yang menjadi inti Marxisme tidak hanya berlaku kritis pada ‘apa yang dilawan’, tetapi juga terhadap ‘apa yang diperjuangkan’. Sikap ilmiah dalam sosialisme bisa dimaknai sebagai penempatannya sebagai probabilitas yang akan memberikannya keleluasaan untuk menciptakan prediksi. Kekurangan inheren pada aktualitas dan relevansi sosialisme sebagai sebuah resolusi seharusnya mendorong lebih banyak kajian prediktif yang berisi tawaran program tindak lanjut pascasosialisme.


Judul Buku: Friedrich Engels – Pemikiran dan Kritik

Penulis: Dede Mulyanto & Fuad Abdulgani (ed.)

Penerbit: Penerbit Ultimus (November 2020)

Tebal: xii + 204 halaman

Info pembelian: Penerbit Ultimus

Devananta Rafiq
Devananta Rafiq, seorang peminat filsafat. Bekerja penuh sebagai penyunting di INSISTPress. Beberapa tulisannya bisa dibaca di blog pribadi https://devananta-rafiq.medium.com/.