Kaki Kata: Dari Podium ke Meja Studi

ulasan buku kaki kata nirwan dewanto

Jika esai-esai Nirwan Dewanto dalam Kaki Kata disebut sebagai “sejenis spesies yang bergerak lentur” di antara ini dan itu, maka kelenturan geraknya itu dapat dikatakan terbentang “di antara fiksi dan nonfiksi”. Mengapa? Karena esai-esai itu, setidaknya, ditulis dengan membayangkan fiksionalitas tertentu.

Dalam bayangan fiksi

Bukan sekali dua Nirwan—selanjutnya kita sebut “aku-esais”—menghidupkan situasi imajiner untuk menemukan pembaca bagi pikiran-pikiran yang tengah dituliskannya. Esai-esai aku-esais tidak meninggalkan watak epistolarisnya sebagaimana surat yang ditujukan kepada pembacanya. Melalui “surat upaya”—begitulah Subagio Sastrowardoyo menamai esai—aku-esais berdialog dengan khalayak pembaca tertentu yang ia bayangkan. Ia menyapa subjek itu sebagai “Kau” dan “Anda”—setara dengan “Kawan” dan “Saudara” dalam esai-esai Asrul Sani.

Sesungguhnya, aku-esais tengah berdialog dengan “Kau” yang anonim, yang bisa tertuju, terutama, kepada sastrawan dan seniman (di) Indonesia.

Karena sifat khalayak pembacanya yang khas dan dekat bagi aku-esais, esai-esai itu berkutat dengan soal-soal yang sedikit banyak terkait khalayak pembaca yang ia maksudkan. Yakni, masalah-masalah yang muncul dalam khazanah sastra dan seni di Indonesia; masalah-masalah dalam tegangan antara yang ideal dan yang nyata. Misalnya, antara betapa cemerlangnya karya sastra di belahan dunia sana dan betapa semenjananya karya sastra di kampung halaman—setelah menyinggung satu-dua “merjan” cemerlang dalam khazanah sastra mutakhir.

Jika aku-esais berkonsentrasi pada tema yang asyik, semisal pembacaan jauh dan pembacaan dekat dalam sastra atau internasionalisme baru dalam seni rupa, ia akan bertindak sebagai juru penerang dan penelaah dan kita dibuat kagum oleh keluasan wawasannya, juga telaah komparatif di antara khazanah yang berbeda-beda itu. Namun, karena aku-esais menulis untuk khalayak pembaca termaksud tadi, yang masih dirundung banyak masalah, maka di akhir tulisannya tidak jarang ia menyelipkan satu-dua baris sindiran atau kritik.

Fiksionalitas itu juga bisa kita rasakan melalui cara aku-esais menempatkan dirinya dalam pusaran masalah. Posisi ini lebih dari sekadar sudut pandangnya yang cenderung didaktis-kritis. Situasi dramatis terbangun terutama ketika aku-esais menuturkan semacam autobiografi sastrawi (literary autobiography), kisah-kisah mengenai dirinya sendiri selaku sastrawan.

Semisal, kisah seorang bocah di ujung timur Jawa memasuki gelanggang sastra Indonesia, dan bagaimana ia yang kelak dewasa hijrah ke barat, ke jantung pertumbuhan sastra Indonesia, dan menempatkan dirinya dalam lingkaran kaum intelektual terpandang, yang tanpa kredo menjadi bukan lagi ahli waris, tetapi pelahap-pelancong budaya dunia, adalah sebuah drama juga.

Bahkan, judul Kaki Kata itu sendiri mengandung fiksionalitas. Frasa itu bukan hanya bisa diterjemahkan sebagai “suku kata”, tetapi darinya kita bisa juga membayangkan bagaimana sebuah kata memiliki kaki dan sayap, seperti seekor alap-alap. “Menulis esai,” kata aku-esais dalam prakata Kaki Kata, “adalah cara saya mendorong kata berkaki belajar dari kiprah kata bersayap.”

Bukankah kita juga bisa membayangkan situasi fiksional dalam selarik judul buku aku-esais sebelumnya: Satu Setengah Mata-mata?

Pada akhirnya, semua ini adalah sebuah gaya menulis, yang hampir tidak dimiliki oleh penulis lain dalam khazanah esai berbahasa Indonesia masa kini. Tentu saja sebuah esai ditulis dengan cara menghidupkan sosok diri si pengarang—bukan alter-ego-nya sebagaimana dalam fiksi dan puisi—dan dari situ aku-esais menerakan sidik jarinya. Seperti dalam kutipan berikut ini:

Ada saatnya saya surut menjauh ke kamar studi saya, menggali ke bawah permukaan, menyinari residu yang tertimbun di sana: saya pun menemukan bahwa sebagian, sebagian kecil belaka, dari seribu fragmen dan remah  yang kembali bergejolak dalam sinaran saya itu bukanlah sekadar residu, namun sesuatu yang bicara kembali kepada saya, kepada imajinasi saya. Yang sebagian kecil ini meminta hak hidup: maka saya mengangkat mereka yang sedikit ini ke muka bumi, membubuhkan darah dan daging kepada mereka, menjadikan mereka bagian dari jejaring perhubungan saya dengan berbagai khazanah yang akan saya jangkau kembali. (xi)

Lebih dari itu, kata-kata aku-esais sangat terpilih—beberapa di antaranya ialah neologisme. Jika kita terus menyigi, di antara kata-kata itu ada pula unsur penggemparan dan hiperbola—tak kurang: litotes. Struktur kalimatnya kokoh—menyisakan sedikit saja ruang untuk penyunting menggunakan guntingnya. Banyak dari kalimat-kalimatnya itu adalah pernyataan yang berani-tajam (bold statement)—polemis, sejauh penulis lain berani dan ma(mp)u menanggapinya. Paragraf-paragrafnya bukan hanya mengalir, tetapi jalin-menjalin, saling mengunci satu sama lain.

Tiga setengah golongan

Jika gaya penulisan mengikat dan memadukan esai-esai dalam Kaki Kata, maka asal-usul menceraikan mereka. Sebagaimana disuratkan dalam bagian “Catatan” esai-esai dalam Kaki Kata dihimpun dari sejumlah forum yang berbeda-beda: ceramah, kuliah perdana, diskusi, pengantar kuratorial, pengantar jurnal, pengantar terjemahan, esai lepas. Namun, keberserakan itu dapat dihimpunkan lagi, setidaknya, ke dalam tiga setengah golongan: “pamflet”—sebutan yang saya ambil-alih begitu saja dari penulisnya, “seni bandingan”, “setengah-kritik sastra”. Sedikit “autobiografi sastrawi”.

Pada esai-esai yang semula disampaikan untuk ceramah, kuliah perdana atau keynote speech sebuah simposium, watak pamflet masih sangat terasa. Pada esai-esai jenis ini kita mendapatkan semacam provokasi atau uar-uaran aku-esais akan masalah yang tengah menjadi fokus perhatiannya. Esai-esai jenis ini dipenuhi dengan pernyataan-pernyataan yang berani-tajam, tetapi kurang masuk kepada perincian. Tengoklah bagaimana aku-esais menggarap “Geologi”, “Geografi”, “Negara”, dan “Nasionalisme”.

Di sini aku-esais mengambil posisi di ketinggian tertentu dan dari situ ia menyapukan pandangannya kepada keseluruhan lanskap di sekitarnya, seraya menyusun simpulan-simpulan yang mendukung amatannya itu. Esai-esai jenis ini juga memperlihatkan kecenderungan umum gaya aku-esais, baik dalam menulis maupun berbicara. Ia tampil sebagai sosok kaum intelektual dengan pengetahuan yang luas dan dengan modal keluasan wawasan itu kemudian ia membagi-bagikannya kepada khalayak pembaca yang selalu bisa dipastikan posisinya.

Jika ada hasrat mengejek diri sendiri di sini, itulah ketika dalam “Prakata” aku-esais juga mengatakan bahwa, “Menulis esai adalah cara saya untuk memahami kemiskinan saya yang berlarut-larut.”

Sejatinya, dalam posisi tersebut di atas  aku-esais telah bertindak sebagai semacam “juru peta”—atau “komandan tempur” sebagaimana dikerjakan Sutan Takdir Alisjahbana pada 1930-an. Tengoklah, bagaimana aku esais menggugah kesadaran para penyair nasional yang tertawan oleh budaya lisan dan membanggakan warisan primordial mereka: “Jika kau hendak membumikan puisi ke lingkungan pembaca, misalnya, sesungguhnya kau hanya bisa memperkarakannya ke lingkungan budaya tulisan, yaitu lingkungan yang cepat atau lambat akan ‘berkhianat’ kepada warisan primordialmu.” (14)

Atau, jika provokasi itu ditujukan kepada lembaga negara atau sang birokrat, begini jadinya: “Bila anda mau membantu kesenian dalam jangka panjang, anda tidak melulu perlu memberikan dana produksi kepada kaum seniman. Memelihara dan menegakkan museum arkeologi, museum etnografi, museum seni rupa modern, museum-museum yang lain, itu lebih penting, sebab inilah tugas pendidikan (dan) kebudayaan, yang akan melahirkan bakal-bakal seniman, ilmuwan dan cendekiawan cemerlang.” (68)

Jenis kedua adalah ketika aku-esais bertindak sebagai seorang komparatis seni. Ia bukan hanya melintasi sastra nasional dan sastra dunia, pusat dan pinggiran dan terra incognita, tetapi juga melintasi batas-batas antara sastra dan seni rupa, dan seni lainnya—dan yang tidak boleh dilupakan: ilmu. Ia mengerjakan telaah “seni bandingan” dengan memberi kita perspektif yang terluaskan, yang merongrong kita agar mencurigai dan memeriksa kembali khazanah sastra dan bacaan kita selama ini. Itulah cara si aku-esais dalam mengerjakan “Barbarisme”, “Kesetimbangan”, “Tradisi”, dan “Orientalisme”.

Laku perbandingan dalam esai ini selalu berangkat dari kemampuan menyangsikan diri sendiri dan selanjutnya menautkan diri dengan khazanah lain yang setimbang atau lebih kaya dan sebaliknya. Mengelap-ngelap tradisi bagi penulis nasional tidaklah sebanding dengan menghidupkan barbarisme bagi penulis di Amerika Latin. Begitu pula, sastra bukan melulu lahir dari karya-karya tulis yang indah (susastra), tetapi juga bisa muncul melalui tulisan bukan-sastra yang melahirkan sensibilitas yang khas sebagaimana pada tulisan Sanento Yuliman.

Dengan kerja perbandingan yang beragam-ragam ini, si aku-esais sebenarnya tengah menantang para pelaku kritik sastra yang sudah terlampau jauh tergelincir ke lubang kajian budaya untuk kembali kepada pembacaan dekat dan pembacaan jauh sekaligus. Di sisi lain ia melihat potensi sastra bandingan sebagai kritik sastra yang mampu meluaskan khazanah sastra yang selama ini sudah telanjur dianggap mapan, sempurna, universal, tetapi pada saat yang sama terbelakang.

Dengan membuka selubung kuasa-pengetahuan ini, sastra bandingan pun menghadirkan tenaga dari pelbagai khazanah lain, media lain, disiplin lain, kehidupan lain, tradisi lain. Yakni tenaga yang dapat mendorong penciptaan tahap berikutnya lagi dan lagi. (210)

Setengah-kritik sastra

Terakhir, jenis ketiga: “setengah-kritik sastra”. Pada bagian ini aku-esais telah turun dari podium dan bertekun di meja studi perbandingannya, menuju kerja penggalian teks sastra. Meskipun masih dibayang-bayangi oleh posisinya sebagai juru peta, pada bagian ini aku-esais bukan hanya menguliti teks-teks sastra, tetapi juga masuk, menggali dan menemukan perincian dan mengembalikannya kepada sidang pembaca sebagai sehimpunan temuan berharga. Itulah kemampuan yang menawan ketika ia menelaah fiksi-fiksi Umar Kayam dalam “Jawa”, novel-novel Albert Camus dalam “Pembunuhan”, atau tinjauan tentang cerpen-cerpen pilihan Kompas dalam “Koran”.

Aku-esais menemukan dalam fiksi-fiksi Umar Kayam suara lain dari kebanyakan pandangan tentang karya Umar Kayam selama ini. Artinya, ia “mengajak kita memperkarakan aneka pandangan sastra dan seni yang sudah mapan berlaku, seraya membawa kita menempuh kenikmatan berbahasa.” Jika sejumlah telaah selama ini menabalkan cerpen dan novel Umar Kayam berwatak politis dan sosiologis karena mengkritik Orde Baru, atau meneguhkan watak esensialisme Jawa, aku-esais menghindari tipologi-klise itu. Baginya, suara tokoh-tokoh fiksi Umar Kayam menjadi autentik justru ketika mereka melawan semua tipologi dan “menyangkal model yang disediakan sang kelompok, keluarga besar, atau masyarakat”. Yakni, tokoh-tokoh yang “gagal”, atau hidup dari momen-momen kecil yang mengesankan, yang iseng dan berdusta.

Atau, jika ia membicarakan cerpen-cerpen realis yang terutama terbit di harian Kompas, pada mulanya ia masih berdiri sebagai sang juru peta, selanjutnya masuk ke dalam jeroan cerpen koran yang menjadi tanggung jawabnya selaku juri. Hampir selalu konsisten, aku-esais memberi nilai rendah kepada realisme bertendens dan eksperimentalisme yang mentah. Sebaliknya, dalam kasus cerpen “Ripin” karya Ugoran Prasad yang meraih penghargaan terbaik, ia menaruh harapan kepada cerita yang piawai dalam kependekannya, menjadi dunia yang mandiri, cara berkisah yang wajar, yang melukiskan serba-sedikit tetapi juga mengatakan segala-galanya. (99-100)

Namun, semua itu hanyalah “girang hati sejenak”, sebab jika dibandingkan dengan khazanah karya susastra cemerlang di dunia sana, “sungguh kita belum layak berbahagia”.

Dengan kata lain, ia selalu merindukan para pengarang Indonesia mencapai kecemerlangan melalui semacam “geologi kekaryaan”, bukan melulu bertahan dan membangga-bangakan bentang geografi “yang telanjur dilukis oleh para pendahulu kita”. (16)

Perhatian seperti ini terbilang konsisten pada aku-esais. Dengan begitu, sebenarnya, pada esai-esai seperti ini, ketabahannya sebagai penggali telah terlukai terus-menerus oleh masalah yang masih mengganggu. Setengah-kritik sastra tidak akan pernah menjadi kritik sastra beneran, hanya bisa jadi bahan paparan dalam sidang penilaian dan bengkel penulisan. Begitulah, setiap kali dalam kekhusyukan penggalian, ia akan keluar dari lubangnya dan kembali berdiri di podium. Ia akan membentangkan lagi khazanah bandingan yang lebih cemerlang, yang darinya semestinya, para sastrawan belajar dan mempercakapkan kemampuan mereka.

Namun, jika kita—saya, terutama—berharap pada ketekunan telaah yang konsisten sepanjang jalan, maka kita mesti keluar dari esai-esai dalam Kaki Kata, untuk menjangkau apa-apa yang belum dihimpunkan. Terutama: “Gerimis Logam, Mayat Oleander”, telaah panjang tentang kompleks perpuisian Goenawan Mohamad, dan “Titik Tengah”, sebuah penyigian berharga akan puisi-puisi Sapardi Djoko Damono. Pada dua tulisan inilah aku-esais bekerja secara tekun menggali dan memberi perincian pada khazanah puisi Indonesia modern—dalam kasus ini adalah puisi Goenawan Mohamad dan Sapardi Djoko Damono—yang tumbuh cemerlang tetapi juga menjadi bagian dari modernisme sastra dari bentang dunia ini.

Menjelang autobiografi sastrawi

Meskipun “Anarkisme” dijajarkan bersama esai-esai berwatak pamflet, ia sebenarnya telah keluar dari tiga kategori besar tadi. Esai ini setidaknya menyaran kepada autobiografi sastrawi ]aku-esais. Meskipun pada bagian ini ia berbicara tentang kompleks kekaryaan Putu Wijaya, sebenarnya, ia tengah berbicara tentang dirinya sendiri. Ia menjadikan Putu Wijaya sebagai pintu masuk kepada gelanggang sastra Indonesia, dan itu sebuah “kecelakaan”. Inilah esai yang paling banyak menunjukkan sisi dramatisnya.

Mungkin jenis esai ini berpotensi dikembangkan menjadi semacam “esai autobiografis” yang lebih menyeluruh. Sebuah penulisan kembali proses kreatif seorang pengarang yang tidak sepenuhnya berpusat kepada si pengarang—simak pula sesuatu yang berbeda pada apa yang dikerjakan Goenawan Mohamad dan Budi Darma melalui jenis tulisan ini—tetapi kepada laku perbandingan dengan pengarang lain, dengan khazanah sastra yang lain lagi, dengan bidang seni lain dan ilmu.

Pengarang bukan hanya menukar sudut pandangnya dari orang pertama menjadi orang ketiga, tetapi juga dengan semangat meledek diri sendiri, menghancurkan kebulatan dirinya dan menemukan serpihan-serpihannya pada sosok dan karya orang lain.

Bagi saya, kadar keesaian Kaki Kata lebih bisa ditemukan pada gaya penulisanya, ketimbang pada bentuk dan cakupan perhatiannya. Tulisan-tulisan dalam buku ini telah berkembang sedemikian rupa. Katakanlah mereka telah memperluas diri dengan aneka bentuk naratif yang cocok, bukan hanya karena dicangkokkan, tetapi juga dileburkan ke dalam diri mereka. Di dalamnya kemudian kita menemukan kajian seni bandingan, setengah-kritik sastra, autobiografi sastrawi, timbangan buku, provokasi, pemetaan, dan seterusnya. Sejauh mereka bisa berkembang, selalu berada di antara fiksi dan nonfiksi.

Buku ini mungkin tidak setabah dan sepadu Satu Setengah Mata-mata, tetapi ia bisa menjadi semacam jembatan bagi pembaca (baik yang selalu disapa maupun tidak sama sekali oleh aku-esais) untuk memasuki tulisan-tulisannya yang lebih khusyuk sebagai kritik sastra. Atau, yang bagi saya menjanjikan: autobiografi sastrawi.

Namun, yang terakhir mesti diberi catatan tambahan: jika si penulis tertarik mengerjakannya.   

Judul buku    : Kaki Kata

Penulis         : Nirwan Dewanto

Penerbit        : Teroka Press (Padang & Jakarta), Juli 2020

Tebal            : xiv + 254 halaman

Zen Hae
Zen Hae, menulis cerpen, puisi, esai dan kritik sastra. Menerbitkan buku kumpulan cerpen Rumah Kawin (2004) dan buku puisi Paus Merah Jambu (2007). Yang terakhir beroleh penghargaan Karya Sastra Terbaik 2007 dari majalah Tempo. Buku terbarunya adalah kumpulan cerpen dalam tiga bahasa (Indonesia, Jerman, Inggris) The Red Bowl and Other Stories (2015). Ia ko-editor untuk dua jilid The Lontar Anthology of Indonesian Short Stories dan Antologi Cerpen Indonesia (keduanya diterbitkan Yayasan Lontar, 2017). Ia juga ko-editor untuk penerbitan BTW Book seri kedua yang diterbitkan oleh Yayasan Lontar menjelang London Book Fair 2019.