Koleksi Langka Filipiniana

Ambeth Ocampo dan Bukunya
https://mb.com.ph/2020/09/17/prof-ambeth-ocampo-on-rizal-and-fake-news/

Dimuat pertama kali dalam Inquirer, 16 September 2020

Bak ilalang, buku berkembang biak di ruang sempit tempat penulis dan sejarawan tinggal dan bekerja. Rak-rak butuh dipangkas dengan kejam untuk menampung para pendatang baru, dan tiap kalinya mesti diatur tanpa henti agar buku-buku mudah ditemukan saat dibutuhkan. Karena terbatasnya rak buku yang ada, aku menggandakan kapasitasnya dengan mengisi tiap tingkat rak dengan dua baris buku. Di masa mendatang, aku akan mengikuti saran Rayvi Sunico untuk memiliki rak yang dirancang khusus cukup dalam untuk menampung dua baris buku, tetapi dibuat berjenjang lebih tinggi di bagian belakangnya agar buku-buku yang terletak di baris belakang dapat langsung terlihat dari depan.

Koleksi buku kususun berdasarkan subjek: kamus, bibliografi, dan buku referensi, yang dapat langsung kujangkau dari meja kerja dan dapat langsung kuraih tanpa menggunakan tangga.

Begitu pula dengan koleksi buku tentang José Rizal (koleksi Rizaliana) yang sering kupergunakan. Buku-buku tentang Para Seniman Nasional ada di satu bagian, buku-buku tentang seni di tempat lain, dan buku-buku tentang sejarah Filipina disusun berdasarkan masanya: Prasejarah, masa penjajahan Spanyol, masa Gerakan Propaganda, masa Revolusi Filipina, masa Perang Filipina Amerika, masa penjajahan Amerika, dan masa penjajahan Jepang. Buku-buku tentang masa Persemakmuran dan Pascaperang dibagi lagi berdasarkan Presiden kita saat itu: Manuel Quezon, Sergio Osmeña, Manuel Roxas, Elpidio Quirino, Ramon Magsaysay, Carlos Garcia, Diosdado Macapagal, Ferdinand Marcos, Corazon Aquino, Fidel Ramos, Joseph Estrada, Gloria Macapagal-Arroyo, Benigno Aquino Jr, dan Rodrigo Duterte. Tentu ada juga Emilio Aguinaldo dan Jose Laurel, meski letak mereka terjepit sesuai urutan masanya.

Ibuku ternyata tidak menaruh perhatian pada susunan rumit semacam itu. Suatu ketika, saat aku sedang berada di luar negeri, ia mengira ia telah menolongku lantaran mengatur-ulang semua bukuku dengan rapi berdasarkan ukuran dan warnanya.

Buku-buku yang tidak dapat ditampung setelah pemangkasan terakhir itu kutumpuk, lantas telah menggunung sehingga perlu kupilih satu per satu untuk menentukan apakah buku itu masih “memicu kegembiraan” seperti yang dianjurkan Marie Kondo. Beberapa buku kusumbangkan, lainnya kutukar, sisanya akan kuobral dalam situs internet.

“Koleksi langka Filipiniana,” yakni buku-buku karya orang Filipina atau tentang Filipina yang terbit pra-1945, akan kujual sebagai satu koleksi khusus. Kebanyakan buku-buku ini dianggap “langka” karena tidak lagi dicetak-ulang dan dicetak terbatas. Seperti binatang piaraan eksotis, buku-buku ini butuh perawatan khusus.

Mereka kusimpan di ruangan gelap, di balik rak-rak berlapis kaca, terletak jauh dari semprotan air pemadam kebakaran yang menempel pada langit-langit rumah dan kuharap ia tak akan pernah menyembur, begitu pula suhu dan kelembaban ruangan  kupantau setiap hari. Koleksi langka Filipiniana itu menempati sepertiga ruangan rahasia ini, di samping itu ada juga koleksi buku-buku bertanda tangan penulisnya dan buku-buku pemberian khusus, yang dalam surat wasiatku kelak belum jelas akan jatuh ke tangan siapa.

Aku sudah jenuh menyimpan koleksi langka Filipiniana, terutama karena kini aku telah memiliki salinan digital dari hampir semua judul langka tersebut di dalam cakram keras yang bisa kukantongi dengan mudah. Seorang teman pencinta buku bertanya: “Mengapa menjual koleksi langka Filipiniana tersebut? Jika koleksi tersebut meninggalkan negara kita ini, bukankah itu tidak patriotik? Apa yang akan engkau lakukan dengan uang dari hasil penjualannya itu?”

Untuk memastikan aku tidak membeli lebih banyak buku dan mengisi rak-rak yang kosong, aku berencana menjual setengah ruangan buku-buku yang ada dengan imbalan segelintir buku Filipiniana yang sangat langka.

Alih-alih menyimpan koleksi langka Filipiniana, aku hendak membatasinya dengan tiga judul, tidak lebih dari lima. Apa saja? Buku-buku karya José Rizal: “Noli me tangere” (Berlin, 1887), “Sucesos de las islas Filipinas” (Paris, 1890), dan “El Filibusterismo” (Ghent, 1891).

Bukan hanya edisi pertama, aku ingin memiliki salah satu atau semua dari ketiga judul tersebut yang dibubuhi tanda tangan penulisnya. Buku lainnya yang kuminati adalah “Doctrina Cristiana en lengua española y tagala” (Manila, 1593), karena setahuku hanya ada satu di alam semesta ini, yakni di Perpustakaan Kongres di Washington D.C., Amerika Serikat.

Satu buku lainnya yang ingin kumiliki akan dilelang pada akhir pekan ini di Leon Gallery: “Historia de la Provincia de Philipinas” karya Pedro Murillo Velarde (Manila, 1749), yang hanya bisa dianggap langka dan layak dimiliki jika dilengkapi dengan bagian sampul depan yang diukir oleh Lorenzo Atlas yang menggambarkan Yang Mulia Perawan Antipolo dan De la Rosa (di Makati), dan peta Filipina tahun 1744 oleh Nicolas de la Cruz Bagay. Pada lelang tahun lalu, dengan harga patokan awal 100 ribu peso Filipina (sekitar 31 juta rupiah), buku itu tidak laku sama sekali karena tanpa peta dan bagian depan. Pada lelang 2015, buku lengkap juga tidak laku karena gambar dalamnya diwarnai dengan buruk, sehingga nilainya turun yang diperkirakan antara 2,8 juta peso Filipina hingga 3,5 juta peso Filipina (sekitar 860 juta hingga 1 milyar rupiah). Saat buku yang sama kembali dilelang pada 2017, dengan harga perkiraan lebih rendah antara 1,4 juta peso Filipina hingga 1,6 juta peso Filipina, ternyata laku terjual 2.569.600 peso Filipina (sekitar 787 juta rupiah).

Sayangnya, yang akan dilelang akhir pekan ini mungkin hanya petanya saja, sebab harga yang ditetapkan untuk peta terpisah tersebut pada 2017 adalah 3,2 juta peso Filipina (sekitar 40 ribu euro pada 2009; sekitar 970 juta rupiah). Jika aku punya uang, akan kubeli buku Murillo tersebut tanpa pikir panjang lagi. Tapi, sayangnya, aku hanyalah seorang dosen yang dikutuk karena punya kepekaan yang tajam akan sejarah dan selera teramat mahal.

Diterjemahkan oleh Jafar Suryomenggolo. Penerjemah telah meminta izin pemuatan naskah terjemahan kepada penulis. Hak atas naskah terjemahan ada pada penerjemah.