Diaspora Tionghoa di Asia Tenggara: Migrasi Loyalis Dinasti Ming Sejak 1644

Loyalis Dinasti Ming, Claudine Salmon

Gelombang arus migrasi lantaran huru hara politik senantiasa berlangsung secara dramatis. Kiprah dan pengaruh di ‘tanah air’ yang baru dari migran politik tersebut meninggalkan rangkaian jejak langkah yang masih bisa dijumpai, dirayakan serta diziarahi sekaligus.

Indonesia sebagai negara berpengaruh di kawasan Asia Tenggara menyimpan ironi tersendiri. Bangku sekolah tidak secara sistematis memperkenalkan perihal bahasa ataupun sejarah kebudayaan negeri-negeri tetangga sekawasan seperti Vietnam, Kamboja, Laos, dan Myanmar di Indocina maupun Filipina di wilayah Pasifik Barat. Materi sejarah terkait Asia Tenggara hanya menyinggung pengaruh Sriwijaya dan Majapahit pada masa klasik, sedangkan materi kontemporer hanya berkutat singkat di sekitar konflik-konflik politik pasca-Perang Dunia II hingga pembentukan ASEAN.

Buku Loyalis Dinasti Ming di Asia Tenggara karya Claudine Salmon menjadi mata air di tengah gersangnya bahasan sejarah yang mempertautkan negara-negara Asia Tenggara ini. Ia dengan tangkas mempertautkan masa lalu Indonesia dengan negeri-negeri lain di Asia Tenggara, Asia Timur, dan relasinya hingga Eropa Barat. Dalam bukunya, ia menuturkan perihal Dinasti Ming yang berkuasa selama 276 tahun, diakhiri tahtanya oleh Dinasti Qing pada 1644. Mereka yang tetap setia pada Dinasti Ming melarikan diri keluar dari Tiongkok daratan secara bergelombang, perlahan, dan menyebar ke sejumlah daerah termasuk Kepulauan Nusantara.

Claudine Salmon, sinolog senior asal Perancis, secara jeli mengkaji fenomena persebaran mereka di Asia Tenggara. Ia memulai penelusurannya dari studi migrasi loyalis Dinasti Ming ke Jepang ataupun ke Taiwan sejak awal masa Dinasti Qing.

Para pelarian Dinasti Ming (selanjutnya disebut sebagai Loyalis Ming) menempati pelabuhan-pelabuhan besar dan menggores prestasi dalam tata kehidupan sosial masing-masing, meliputi aspek perdagangan maritim internasional, urbanisasi, hingga politik kerajaan setempat.

Kendati telah jauh merantau ke tanah seberang, para loyalis Dinasti Ming tetap berorientasi pada dinasti yang sudah runtuh tersebut. Kesetiaan mereka tidak terbatas pada keinginan untuk membangkitkan kembali Dinasti Ming ataupun kehendak melawan Dinasti Qing. Kesetiaan pelarian Ming pada dinasti yang sudah runtuh itu berakar lebih kuat daripada sekadar niat “pembalasan”. Mereka melihat, Dinasti Qing yang menggantikan tahta Dinasti Ming merupakan wangsa baru non-Tiongkok yang asing lantaran mereka berasal dari Manchuria, timur laut Tiongkok.

Claudine Salmon meramu berbagai sumber sejarah untuk menghadirkan kisah para loyalis Dinasti Ming ini. Ia menelusuri catatan perjalanan, arsip perusahaan multinasional Eropa, sejarah keluarga berupa silsilah keturunan, inskripsi prasasti, ilustrasi lawas seperti lukisan hingga sketsa kuno, rumah abu, makam tua berikut epitaf nisan, dan peninggalan-peninggalan arkeologis yang direkonstruksi.

Kesemuanya dihadirkan dalam sorotan tiga bab. Pertama, perihal deskripsi, pola persebaran, dan beberapa gelombang loyalis dinasti Ming. Kedua, persebaran loyalis Dinasti Ming di Indocina dan dunia Melayu yang meliputi Hội An, Pho Hien, dan Hà Tiên (Vietnam), Delta Mekong (Kamboja), Melaka (Malaysia dan Semenanjung Singapura), dan Aceh, Banten, dan Batavia (Indonesia). Regional Asia Tenggara sendiri bagi loyalis Dinasti Ming disebut Lautan Selatan, mengikuti orientasi Tiongkok daratan sebagai pusat geografis mereka.

Sementara, bagian pamungkas buku ini menyajikan warisan loyalis Dinasti Ming yang masih dirayakan, dihormati, dan menjadi bahan kreasi seni pertunjukan maupun kesusastraan yang legendaris. Salmon menjelaskan betapa tradisi penghormatan bagi figur-figur penting loyalis Dinasti Ming masih tetap dilestarikan oleh masyarakat setempat.

Pembaca dimanjakan dengan 28 gambar berisi fragmen lukisan, surat, sketsa, madah (syair kemuliaan), patung, bongpai makam sampai rumah abu. Lampiran ini dibarengi dengan 14 peta lokasi, jalur migrasi hingga persebaran loyalis Dinasti Ming. Kesemuanya menjadi medium yang mempertajam muatan narasi dengan imajinasi historis yang terbentuk sepanjang menikmati buku ini.

Diakui dalam Sejarah Nasional Vietnam

Vietnam merupakan satu-satunya negara di Asia Tenggara yang sejauh ini mengakui dan memasukkan peran loyalis Dinasti Ming dalam sejarah resmi nasionalnya. Para pengungsi politik tersebut bahkan mendirikan desa hunian Ming tersendiri. Klenteng di Tra Nhieu, Hội An yang berfondasi tahun 1650 menjadi saksi sekaligus peninggalan eksistensi mereka.

Zhu Shunshui merupakan figur awal loyalis Dinasti Ming yang tiba di sana pada 1646. Kehadirannya tepat saat Dinasti Kepangeranan Nguyen membutuhkan tenaga terampil untuk membangun Pelabuhan Hội An. Dinasti Nguyen secara terbuka menyerahkan urusan administrasi, perdagangan transnasional, dan diplomasi luar negerinya untuk diurus para loyalis Dinasti Ming yang datang seturut dengan kehadiran Zhu Shunshui. Mereka lantas mengisi kursi pejabat di berbagai sektor publik Dinasti Nguyen.

Salah seorang di antaranya yang mengisi posisi cukup penting ialah Kong Tianru, mantan pejabat biro perdagangan luar negeri (Tàu bo atau Tàu ty, kantor bea cukai dalam kondisi sekarang) yang makamnya berangka tahun 1695. Pangeran Nguyen bahkan mendirikan bangunan peringatan untuk mengenang dan memuliakannya.

Loyalis Dinasti Ming di Kepulauan Nusantara

Kesuksesan loyalis Dinasti Ming dalam Dinasti Kepangeranan Nguyen tidak serta-merta terulang di wilayah lain.

Keadaan berbeda di setiap ‘tanah air baru’ yang dihadapi para loyalis Dinasti Ming menuntut strategi adaptasi berlainan. Situasi rumit dihadapi loyalis Dinasti Ming di Kamboja akibat persaingan kerajaan tetangga seperti Siam dan Cochinchina.

Sementara loyalis Dinasti Ming di Kepulauan Nusantara harus beradaptasi dengan dua kekuatan sekaligus, yakni penguasa setempat dan VOC (Vereenigde Oost-Indische Compagnie, Perserikatan Perusahaan Dagang Belanda untuk Hindia Timur). Pola adaptasi mereka di wilayah yang masih berdaulat seperti Kesultanan Aceh dan Kesultanan Banten memperlihatkan kejutan-kejutan tersendiri.

Di Aceh, loyalis Dinasti Ming yang jumlahnya sedikit kurang mendapatkan kesempatan untuk menunjukkan kiprahnya akibat dominasi pengaruh pedagang dari Asia Barat. Hal yang mencengangkan ialah sultan dan sultanah Aceh dengan perbedaan sikap mereka perihal pemukim Tionghoa Ming.

Sultan Iskandar Thani melarang kehadiran penghuni Tionghoa pada 1638 lantaran mereka memelihara babi. Pemandangan berbeda terjadi hanya dalam tempo empat tahun kemudian saat Sultanah Safiatuddin Tajul’ Alam (bertahta 1641-1675) memperbolehkan kaum Tionghoa bermukim kembali di kota pada 1642.

Sultanah Safiatuddin merupakan Sultanah Aceh pertama dari total empat sultanah dalam historiografi Aceh sepanjang periode 1641-1699, seperti yang ditunjukkan oleh Sher Banu A.L. Khan (2017) dalam studinya, Sovereign Women in a Muslim Kingdoms, The Sultanahs of Aceh, 1641-1699.

Di wilayah yang sepenuhnya dikuasai VOC seperti Melaka dan Batavia, loyalis Dinasti Ming didayagunakan di sektor perniagaan maritim sampai urbanisasi. Mereka tidak diperkenankan berkiprah dalam bidang politik, sebagaimana di kerajaan berdaulat seperti Banten. Di Melaka, keturunan loyalis Dinasti Ming tetap memegang jabatan syahbandar hingga abad ke-19.

Syahbandar Tionghoa Muslim di Sekitar Perebutan Tahta

Di Kesultanan Banten, dua sosok menonjol yang aktif mengatur penempatan pelarian Dinasti Ming ialah syahbandar Tionghoa muslim Kaytsu dan Kiyai Ngabéhi Cakradana yang bernama asli Tantseko. Mereka menjadi penasihat pribadi Sultan Ageng Tirtayasa sekaligus kepala masyarakat Tionghoa. Kaytsu mendapatkan kemuliaan dimakamkan di areal Mesjid Agung oleh Sultan Ageng Tirtayasa pada 1674.

Kapal Jung Tiongkok yang jamak dipakai dalam perniagaan maritim internasional abad ke-17 (Koleksi Pribadi F. Morel-Fatio, sumber repro: Leonard Blussé dan Nie Dening (Eds.). 2018. The Chinese Annals of Batavia, the Kai Ba Lidai Shiji and Other Stories, 1610-1795. Leiden dan Boston: Brill, hlm. 9).

Kedua syahbandar itu menjalankan bisnis internasionalnya dengan kapal-kapal jung yang mereka punya. Kaytsu menjalin hubungan dengan Zheng Chenggong (1624-1662, kemudian harum dikenal sebagai pendiri Taiwan) yang melawan Dinasti Qing sekaligus rival dagang VOC, menyelenggarakan diplomasi dengan Dinasti Qing, berdagang hingga ke Jepang, dan menjadi aktor kunci perjanjian damai antara VOC dengan Banten pada 1659.

Seperti Kaytsu yang merupakan pendahulunya, Kiyai Ngabéhi Cakradana memiliki relasi perdagangan transnasional dengan Kerajaan Denmark. Sosok Kiyai Ngabéhi Cakradana menyita perhatian dikarenakan nasibnya yang tidak terduga sesudah konflik Sultan Ageng Tirtayasa melawan anaknya sendiri Sultan Haji yang berkolaborasi dengan VOC.

Sultan Haji memecat Kiyai Ngabéhi Cakradana lantaran identitasnya sebagai orang terdekat Sultan Ageng Tirtayasa. Di luar dugaan, VOC selaku sekutu Sultan Haji justru mengangkat Kiyai Ngabéhi Cakradana sebagai syahbandar baru di Cirebon.

Bagaimanapun, Kiyai Ngabéhi Cakradana berhasil melampaui konflik yang sarat syak wasangka politik identitas. Sebagai Tionghoa muslim yang terhubung dengan loyalis Dinasti Ming, ia diakui kiprahnya oleh VOC selaku sekutu musuh. Pergantian kekuasaan di Kesultanan Banten tidak signifikan mengubah hidupnya sebagai syahbandar, hingga ia lantas dipindah ke Cirebon.

Mengabadi via Doa dan Sastra

Beberapa figur terkemuka loyalis Dinasti Ming di Asia Tenggara masih dikenang dalam memori kolektif masyarakat, historiografi, dan bahkan ‘sejarah liar’ (yeshi). Kenangan atas mereka tetap dihidupi dalam tradisi spiritual hingga kesusastraan.

Di Vietnam, negara yang mengakui eksistensi mereka dalam sejarah resmi nasional, kita dapat menemukan lima rumah suci yang dipersembahkan kepada Cheng Shangchuan atau Tran Thuong Xuyen dengan berbagai gelarnya, termasuk dipuja sebagai dewa utama. Di dalam rumah suci bagi Komandan Mo Jiu dan anaknya, Mo Tianci sebagai pahlawan di Hà Tiên, terdapat sinci atau papan arwah (paiwei) yang mencatat silsilah keturunannya berikut puji-pujian.

Kisah kedua Komandan Mo tersebut di Ponthiamas menginspirasi Pierre Poivre (1719-1786), filsuf dan pengelana Perancis, untuk menulis Voyage d’un philosophe (Kisah Pengembaraan Seorang Filsuf). Ponthiamas dianggap ideal sebagai masyarakat tanpa raja dan tanpa hamba. Hal ini dipakai sebagai kritik terhadap Kerajaan Perancis yang sedang menuju Revolusi Perancis. Segera saja filsuf-filsuf lain memasukkan Ponthiamas sebagai diskursus politik.

Di Melaka, sebuah lukisan kuno Kapitan Li Weijing atau Li Kap dihormati di Klenteng Qingyun-ting. Sosok ini menjadi tokoh sentral Qingyun-chuanqi (Kisah Awan Biru), fiksi sejarah bersambung yang terkenal karya Tay Lian Soo, sinolog di Universitas Malaya, di koran Nanyang Siang Pau (Kuala Lumpur) dan Lianhe zaobao (Singapura).

Pengakuan atas keberadaan diaspora loyalis Dinasti Ming mulai mendapatkan banjir perhatian secara nasional di Tiongkok daratan sejak dekade 1980-an. Beragam buku tentang Komandan Mo Jiu dan Chen Shangchuan terbit, bahkan resonansi penerbitan serupa merambah Hong Kong.

Rumah abu leluhur Mo Jiu di Donglin Cun, Semenanjung Leizhou dijadikan pusaka budaya tingkat provinsi. Sebuah patung Chen Shangchuan didirikan pada Desember 2012 di pelataran rumah abu cabang marga Chen di Zhangjiang. Dengan berbagai peninggalan ini, loyalis Dinasti Ming kini menjadi aset diplomasi kebudayaan Tiongkok di Asia Tenggara dan sebaliknya.

Mustahil bagi Indonesia untuk berperan optimal dalam kancah regional tanpa mengetahui kedudukannya dalam sejarah multiregional sekaligus menjadikannya sebagai aset diplomasi kebudayaan. Pada tataran tersebut, buku Claudine Salmon ini penting dikoleksi lantaran telah berjasa membuka peluang bagi Indonesia dan warganya menjadi pihak yang pro aktif dalam inisiatif sejarah kolektif lintas negara.

Judul buku: Loyalis Dinasti Ming di Asia Tenggara, Menurut Berbagai Sumber Asia dan Eropa

Penulis: Claudine Salmon

Penerjemah: Jafar Suryomenggolo

Penerbit: Ecole française d’Extrême-Orient (EFEO) dan Kepustakaan Populer Gramedia (Jakarta), Agustus 2020

Tebal: xi + 158 halaman

FX Domini BB Hera
FX Domini BB Hera, beberapa kali nodong sejarawan dan preservator film masuk sekolah sebagai pengajar tamu di depan siswa/i. Pada 2019 menjadi editor (tukang edit dan tukang teror bagi 24 kontributor) buku “URIP IKU URUB, Untaian Persembahan 70 Tahun Profesor Peter Carey” (Penerbit Buku Kompas).