Onghokham: Rakyat dan Penguasa dalam Perubahan Zaman

ulasan buku ong hok ham madiun

“Saya menyukainya”, tulis Ong kepada Ben Anderson tidak lama setelah menyerahkan naskah disertasi berjudul The Residency of Madiun: Priyayi and Peasant in the Nineteenth Century (1975) kepada komite penguji di jurusan sejarah Universitas Yale pada Maret 1975.[1]

Disertasi itu pada akhirnya mengawali karier seorang sejarawan sekaligus intelektual publik terkemuka di Indonesia. Sayangnya, diperlukan waktu lebih dari dua dekade sebelum akhirnya ia terbit dalam bahasa Indonesia dengan judul Madiun dalam Kemelut Sejarah: Priyayi dan Petani di Keresidenan Madiun Abad XIX (2018). Andaikata terbit lebih awal—seperti disampaikan dengan tepat oleh Peter Carey—ada kemungkinan ia menjadi mahakarya penting yang bersanding dengan The Peasants’ Revolt of Banten in 1888 (1968) karya Sartono Kartodirdjo.

Buku ini memiliki lima bab dalam pembahasannya yang tersusun secara tematis. Bab pertama adalah pengantar umum yang menguraikan beragam unsur kehidupan masyarakat Jawa prakolonial, dilanjutkan dengan uraian tentang perkembangan keresidenan Madiun di bawah kolonialisme Belanda pada bab dua. Kedua bab ini menjadi latar bagi uraiannya dalam tiga bab selanjutnya terkait perubahan-perubahan sosial penting yang terjadi di bawah kolonialisme Jawa akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20 seperti perubahan sosial di perdesaan Jawa, perlawanan petani terhadap sistem kekuasaan yang menekan, dan transformasi para elite politik setempat di bawah kolonialisme Belanda. Pembahasannya yang tematis menyebabkan setiap bab seolah berdiri sendiri tanpa alur perkembangan dari bab ke bab yang menjadi ciri sebuah penulisan sejarah. Apabila Onghokham memiliki kesempatan memperbaiki disertasinya, kemungkinan membangun alur yang menghubungkan persoalan-persoalan yang terjadi di setiap bab adalah salah satu perhatian utama perbaikannya.

Ketiadaan alur ini menyebabkan fokus persoalan menjadi kabur. Onghokham lebih banyak menyuguhkan ide-ide menarik di dalam benaknya yang kemudian menjadi pembahasan penting dalam karya-karya selanjutnya yang terpisah. Salah satu yang terpenting adalah artikel panjangnya yang menjadi karya klasik terkait perubahan sosial penting di Jawa pada akhir abad ke-19 berjudul “The Inscrutable and the Paranoid: An Investigation into the Sources of the Brotodiningrat Affair[2].

Kisah Brotodiningrat menggambarkan secara rinci upaya sia-sia pemimpin tradisional Jawa—golongan priayi—untuk kembali menghidupkan kekuasaan tradisional mereka berhadapan dengan mesin birokrasi kolonial yang semakin canggih. Melalui artikel ini, Onghokham menyoroti gejala menarik tentang sosok bupati Jawa yang semakin merosot kekuasaan politiknya yang memberikan gambaran tentang transisi sosial dan politik kalangan elite priayi Jawa abad ke-19.

Meski gagasan-gagasan dalam buku ini seperti berserak-serak dan belum padu, tetapi kiranya dapat diringkas dua persoalan pokok yang menjadi semangat utama penulisannya. Pertama adalah tinjauannya terhadap hubungan negara dan petani abad ke-19 melalui serangkaian pemberontakan petani dan konsepsi perlambang Jayabaya yang menjadi ideologi populer perlawanan. Menurut Onghokham, ini mewakili kenyataan adanya ideologi anti-negara di kalangan petani yang berakar pada masalah pajak. Ia menolak pandangan bahwa sumber pemberontakan terletak pada ideologi mesianisme atau gagasan keagamaan yang berakar pada tradisi Hindu-Islam di Jawa, dan menekankan persoalan pajak tinggi yang menjadi tuntutan utama rezim kolonial sebagai landasan kemunculan gerakan petani.

Kedua, pemberontakan petani bukan sebuah gejala terpisah dengan struktur kekuasaan dan kebijakan negara terhadap petani. Masing-masing adalah faktor yang saling menentukan arah dan perkembangan keduanya. Pembahasan tentang tema ini muncul dalam bab tiga dan empat buku ini. Di dalam kehidupan masyarakat agraris Jawa akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, panggung utama pergerakan itu adalah desa. Desa dalam tinjauan ini menempati unsur penting yang membentuk dinamika sosial dan politik yang berpengaruh pada lapisan atas di kalangan elite maupun struktur kekuasaan modern yang diwakili kolonialisme Belanda, dan kemudian Republik Indonesia sebagai pewarisnya.

Landasan Intelektual Onghokham

Pertanyaannya kemudian adalah landasan intelektual apa yang menjadi sumber inspirasi Onghokham menyusun karyanya?

Di sini kita bisa melihatnya melalui bacaan Ong terhadap karya Barrington Moore berjudul Social Origins of Dictatorships and Democracy: Lord and Peasant in the making of the modern world (1966), dan Eric Wolf tentang Peasant Wars dalam sejarah dunia. Ong menjadikan gagasan Moore sebagai titik tolak analisis terhadap pengalaman kolonialisme Belanda di Jawa yang menyebabkan kemerosotan peran elite penguasa tradisional berhadapan dengan sistem birokrasi kolonial yang modern. Juga pemberontakan petani yang muncul akibat perubahan tata politik agraria kolonial yang semakin meningkatkan beban pajak (dalam bentuk kerja wajib di perkebunan) terhadap para petani penggarap dan pemilik tanah di wilayah pedesaan.

Sumber inspirasi penting lainnya adalah buku karya Paul Mus berjudul Vietnam: Sociologie d’une guerre (1952). [3] Ong sendiri merasakan bahwa ini adalah karya yang sulit, yang ditulis dengan gaya penulisan esai Perancis abad ke-17.

Dengan bantuan Benedict Anderson, ia dapat menarik garis besar pemikiran Paul Mus yang menegaskan bahwa desa adalah jantung negara-negara di Asia Timur (dibanding kota untuk pengalaman Eropa Barat) dan bersifat otonom. Ketika ia mulai kuliah di Universitas Yale, Ong berkesempatan mengikuti kuliah-kuliah Paul Mus yang tampaknya menjadi sumber inspirasi penyusunan disertasinya.

Latar intelektual ini menjadikan tema pembahasan Onghokham tentang politik agraria dan gejolak di perdesaan tampil dalam gambaran berbeda dibanding Sartono Kartodirdjo. Onghokham melihat desa dan petani bukan sebagai unit tersendiri, melainkan merupakan bagian penting yang mewarnai kehidupan politik lebih luas di dalam sistem kolonial dan pembentukan masyarakat Indonesia selanjutnya. Apabila Sartono membahas pemberontakan petani sebagai sekadar masalah petani di perdesaan, Onghokham menjadikan desa dan petani sebagai bagian tak terpisah dalam persoalan politik negara republik Indonesia merdeka, dan sekaligus karikatur dalam kekuasaan otoriter yang muncul setelahnya seperti diwakili dalam bentuk kekuasaan Orde Baru. Dalam kaitan ini, keunikan dan sumbangan penting Onghokham dalam historiografi Indonesia perlu digarisbawahi.

Suara Tersembunyi Masyarakat Indonesia

Meski berbagai gagasan tampil berserak-serak, buku ini menimbulkan rangsang menarik bagi pembacanya untuk memahami persoalan-persoalan yang bukan hanya terjadi di masa lampau, tetapi juga lekat dengan kehidupan sekarang. Kita bisa melihatnya dalam dua hal menarik yang terdapat di dalam buku ini.

Pertama adalah pembahasannya tentang praktik kekerasan dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Onghokham melihat bagaimana akar kekerasan dalam sejarah Indonesia modern sesungguhnya telah tertanam di dalam struktur lama praktik kekuasaan raja-raja prakolonial. “Jika rakyat memiliki pengharapan mesianistis akan seorang raja… (maka) kekuasaan dan cara memerintahnya pun akan bersifat apokaliptik, yang berarti ia akan menggunakan teror untuk menghancur-leburkan dan mempermalukan musuh atau penghalangnya,” tulisnya. Lebih lanjut ia menyatakan:

Kekerasan dalam masyarakat Jawa terlihat paling jelas dalam penghukuman mati lawan beserta seluruh keluarga dan pengikutnya. Prinsip Kawula-Gusti membuat mereka semua bertanggung jawab secara keseluruhan di mata hukum alih-alih bertanggung jawab secara pribadi. Hukuman mati bagi seorang pangeran atau bangsawan sering juga berarti hukuman mati bagi keluarganya, kerabatnya, pengikutnya, tanggungannya, dan siapa pun yang dianggap kawulanya atau siapa pun yang menganggap dia sebagai gusti. (13)

Penjelasan Onghokham tentang lanskap kekerasan dalam masyarakat tradisional Jawa dengan cepat dapat dilihat gaungnya dalam peristiwa politik besar di Indonesia pada 1965.

Ketika itu Sukarno tumbang dan Partai Komunis Indonesia (PKI) menjadi kambing hitam dalam pusaran pertarungan politik kekuasaan saat itu, disusul kemudian dengan pembantaian massal antikomunis yang terjadi di berbagai tempat di Indonesia.

Para pengamat luar dan orang-orang yang melihat gejolak politik itu dalam lensa hukum modern dibuat heran dengan peristiwa yang terjadi. Mengapa bukan para pemimpin yang terlibat langsung dalam peristiwa itu yang terkena imbasnya? Mengapa harus ratusan ribu orang dan jutaan lainnya menjadi korban? Apa yang terjadi dengan “jiwa politik” Indonesia saat itu? Upaya Sudisman dalam pidato pembelaannya yang mencoba mengambil alih tanggung jawab politik atas kesalahan pimpinan PKI pun tampaknya sia-sia. Penjelasan Onghokham soal ini dapat menjadi tawaran menarik dalam memahami praktik-praktik kekerasan yang mengabaikan hukum dan kebiasaan masyarakat beradab di dalam kehidupan Indonesia modern. Sebuah celah hitam dalam struktur lama budaya kekerasan itu ternyata memiliki landasan cukup rasional dalam sejarah yang panjang. Ada kemungkinan ketika menulis bagian ini Onghokham sendiri sepertinya merasakan langsung pengalaman buruk peristiwa itu ketika ia menjadi tahanan di penjara Orde Baru saat rezim itu baru muncul.

Kedua adalah lontaran pertanyaan di bagian akhir buku ini terkait struktur masyarakat Indonesia. Di sini Ong mempersoalkan bagaimana kajian-kajian sejarah terdahulu dari para ahli Belanda dan kemudian para Indonesianis yang terpukau pada pendekatan budaya menjadi bermasalah dengan melupakan satu aspek penting dalam melihat gambaran masyarakat Jawa secara keseluruhan. “Benarkah bahwa masyarakat Jawa pada abad ke-20 nantinya menjadi massa petani yang tidak terdiferensiasi, yang hanya terbagi secara vertikal secara agama dan politik?” (317), tanya Ong membahas persoalan ini. Lebih lanjut, ia menyatakan:

Pandangan tentang masyarakat yang tidak terdiferensiasi terlalu sering menuju pada usaha menciptakan despotisme… Pandangan ini menggoda para pembuat kebijakan untuk membentuk masyarakat sesuai dengan kepentingan mereka sendiri atau orang lain. Kita tidak boleh melupakan harga yang harus dibayar umat manusia dalam kondisi ini; penindasan kepentingan kelompok dan kelas di dalam masyarakat, dan terhambatnya kemajuan manusia dan masyarakat di masa depan. (318)

Uraian ini sesungguhnya masih relevan dengan kehidupan di Indonesia sekarang ini. Pertengkaran politik antara pihak berkuasa dan oposisi di Indonesia sekarang sepertinya mengulang keprihatinan Ong terhadap sejarah lama masyarakat Jawa. Pembahasan tentang dan bagaimana politik bekerja terlalu sering disederhanakan dalam pola vertikal antara elite dan massa, pemimpin dan pengikut, seperti yang menjadi hiruk-pikuk perdebatan dan pertengkaran dalam politik Indonesia masa kini yang berpeluang melahirkan despotisme baru. Para elite dengan semaunya membuat agenda politik yang menurut mereka baik untuk perkembangan masyarakat Indonesia, tapi mengabaikan persoalan-persoalan dasar yang terjadi di dalam masyarakat itu sendiri. Rakyat hanyalah satu gumpalan besar yang dianggap dapat dibentuk semaunya. Onghokham melalui karya ini seperti melontarkan seruan untuk memperhatikan suara tersembunyi masyarakat Indonesia yang terbenam dalam praktik politik elektoral.

Judul buku: Madiun dalam Kemelut Sejarah: Priayi dan Petani di Keresidenan Madiun Abad XIX

Penulis: Onghokham

Penerjemah: Oni Suryaman

Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia (Jakarta), November 2018

Tebal: l + 374 halaman


[1] Surat kepada Benedict Anderson, 24 Maret 1975.

[2] Pertama kali terbit dalam Ruth McVey, Adrienne Suddard dan Harry J. Benda. Southeast Asian Transitions: Approaches through Social History. Yale University Press, New Haven, 1978. Kemudian diterbitkan ulang dalam Onghokham. The Thugs, The Curtain Thief, and the Sugar Lord, hlm. 3-74. 

[3] Paul Mus (1902 – 1969) adalah sarjana Perancis yang memiliki minat studi terhadap Vietnam dan kebudayaan Asia Tenggara.  Tulisan Mus yang dimaksud Ong sebelumnya adalah tulisan berseri yang terbit di Bulletin de l’Ecole Française d’Extreme Orient (BEFEO) nomor 32 dan 34 (1932–1934). Tulisan itu kemudian diterbitkan menjadi buku dengan judul Barabudur dengan kata pengantar dari ilmuwan Perancis yang menekuni sejarah Nusantara, G. Coedes, pada 1935. Lihat David Chandler. “Paul Mus (1902-1969): A Biographical Sketch” dalam Journal of Vietnamese Studies, Vol. 4, No. 1 (Winter 2009), hlm. 149-191. ff. 19 & 20. & Onghokham, 2002. Op.cit. hlm. xxii-xxiii.

Andi Achdian
Doktor bidang sejarah dan editor pelaksana Jurnal Sejarah yang diterbitkan oleh Masyarakat Sejarawan Indonesia. Kini, Andi Achdian adalah pengajar di prodi Sosiologi Universitas Nasional, Jakarta.