Menanam Gamang: Fiksi Ilmiah Pandemi Seratus Tahun dari Sekarang

ulasan buku menanam gamang

Ketika saya kecil, kata ‘gamang’ tak jarang hadir di telinga, ketika bepergian, para kerabat kerap menyebut istilah ‘gamang’. “Hati-hati, di jalan ada Gamang,” begitu kata mereka.

Masyarakat Bali, tempat saya tumbuh, mengenal Gamang sebagai mahluk gaib, ia yang tak bisa dilihat, tak bisa disentuh, tetapi kisah-kisah tentangnya hampir selalu membuntuti ke mana telinga bergerak dan akan menakutkan jika terus dibayangkan.

Hal yang sama terjadi ketika saya membayangkan teknologi di masa depan yang tak ubahnya bagaimana saya membayangkan diri hidup dan tinggal bertetangga dengan Gamang. Ia tak sepenuhnya tampak di depan mata tapi cerita-cerita tentangnya kerap mendorong diri saya pada rasa takut.

Maka demikianlah, bagi saya membaca Menanam Gamang, novela fiksi ilmiah terbaru karya Dhianita Kusuma Pertiwi, adalah membaca yang di antara; ketakjelasan diri, perilaku dan angan-angan perihal kini dan nanti.

Menanam Gamang bercerita perihal ambisi sekumpulan camgirl akan pengakuan di sebuah aplikasi bernama Girls on Cam (GoC). Berlatar di kota Ygeia, kota masa depan yang dihadapkan pada pandemi seratus tahun dari sekarang, para karakternya diantarkan pada memori akan pandemi lain yang juga menimpa kota itu pada masa-masa sebelumnya. Segala teknologi maha canggih menjadi pupuk yang menjadikan Menanam Gamang sebagai kesatuan yang tumbuh subur dan menarik perhatian kita untuk melihatnya.

Ingatan yang masih bisa saya pungut setelah membaca Menanam Gamang antara lain:

Dialektika Laman dan Para Perempuan di Dalamnya

Meminjam istilah Theresa M. Senft dalam penelitiannya Camgirls; Celebrity and Community in The Age of Social Networks, bahwa dunia yang dibangun oleh Dhianita adalah semacam apa yang disebutkan sebagai Web Dialectic atau selanjutnya saya terjemahkan sebagai Dialektika Laman.

Dialektika Laman dimulai ketika kita menampilkan gambar kita, gerak tubuh, dan kata-kata untuk dikonsumsi berbagai kalangan. Sebagai tanggapan atas dunia di sekitar mereka, masyarakat memproduksi foto dan cerita diri mereka yang berlawanan bahkan terkadang satir. Kita dihadapkan dengan sebuah pilihan: entah kita menanggapi itu atau tidak. Ketika kita melakukannya, status representasi diri kita berganti. Alih-alih mempertunjukkan diri sebagai objek pasif untuk dikonsumsi oleh orang lain, kita menuntut pengakuan sebagai subjek yang hidup dalam sebuah dunia.

Apa yang dilakukan tokoh Eva dalam Menanam Gamang adalah satu dari sekian subjek yang hidup dan menantang hidupnya dalam dunia dialektika laman tersebut.

Eva bertaruh dan berjuang sepanjang cerita untuk mengalahkan peringkat Seina yang bercokol di puncak Girls on Cam (GoC), aplikasi yang mempertontonkan tubuh perempuan. Apa yang dilakukan Eva dalam GoC adalah perjuangan serta cara-cara untuk menjadikan dirinya satu-satunya subjek yang paling layak untuk ditonton.

Alih-alih mengikuti permintaan penonton yang dalam hal ini Eva sebagai objek yang ditonton, ia berusaha untuk memperlihatkan apa yang memang ingin ia perlihatkan, yang secara bersamaan menjadikan dirinya sebagai subjek yang mengontrol si objek (penontonnya). Namun, hal ini tak terjadi dengan beberapa tokoh lainnya. Tak mudah memetakan dualitas subjek-objek perempuan dalam Menanam Gamang karena silang sengkarut posisinya; sesekali seorang perempuan tampak menjadi objek tontonan yang kokoh, tapi sesekali karakter lain menjadi subjek yang rapuh. Karakter lain digambarkan tampak tak linier dan dominan di dalam satu posisi tertentu.

Dalam Menanam Gamang, perihal posisi perempuan yang berjuang mendapatkan glot (semacam uang digital/kripto pada masa itu) sulit untuk dipetakan dalam moralitas yang berlaku hitam-putih. Para camgirls tidak serta-merta mau dan larut untuk dijadikan objek, tapi mereka juga bersikap melawan dengan menentukan sendiri apa yang hendak mereka tampikan.

Jika kita melompat, pergi meninggalkan Kota Ygeia, dan berpijak pada dunia kita hari ini, kita bisa melihat bagaimana pandangan-pandangan Girl Power perempuan “baru” seperti Madonna, Lady Gaga, Beyonce, dan Nicki Minaj. Mereka tampil telanjang, menampilkannya dalam koleksi foto seksual dan musik video. Dengan “mengobjekkan” diri, mereka merasa menjadi subjek-subjek yang menguasai orang lain tanpa perlu memperlihatkan dominasinya secara blak-blakan. Dominasi yang ditawarkan pun tidak kaku, tetapi menjelma dengan cair.  Silang sengkarut inilah yang membuat para perempuan yang dihadirkan Dhianita tampak tak hitam-putih.

Buruh Afektif dalam Kolase Pandemi

Sepanjang cerita, Menanam Gamang dihiasi perjuangan camgirls mengumpulkan uang dan mencari pengakuan dalam dunia daring yang telah dibangun. Tak ada hal lain yang diperjualbelikan selain tubuh mereka dan tubuh bagi mereka tak ubahnya dimaknai sebagai sebuah ‘merek’. Meminjam istilah sosiolog Arlie Hochschild, para camgirls ini sama halnya dengan apa yang disebutkan sebagai ‘emotional labors’ atau yang saya terjemahkan sebagai ‘buruh perasaan’.

‘Buruh perasaan’ dalam novel ini memiliki fungsi kerja seperti lakon dalam drama. Pekerja menjadikan diri mereka sebagai aktor, konsumennya adalah penonton, sedangkan lingkungan kerjanya adalah panggung. Untuk mengatur tingkat perasaan, para camgirls menggolongkan dua perannya. Peran permukaan sepadan dengan senyum palsu, tatapan mata yang menantang serta hal-hal permukaan lainnya. Sedangkan dalam ‘peran dalam’, pekerja berusaha untuk mengidentifikasi perasaan yang mereka perlukan untuk merancang agar konsumen atau dalam hal ini penonton/pengunjung GoC tetap terpuaskan dengan hal-hal yang ditampilkan di depan kamera.

Dalam Menanam Gamang, karakter Eva, Mia, dan Seina adalah para buruh perasaan itu. Di satu sisi mereka sangat berhati-hati dalam menjaga pelanggan mereka, mereka terus mencoba untuk mempertahankan posisi dalam strata GoC dan di sisi yang lain mereka mengelus dada, paha, dan lain sebagainya hanya untuk menjaga perasaan dan penasaran penonton agar tetap menonton siaran mereka dan sekali dua kali melemparkan glot sebagai hadiah. Tak pelak jika karakter-karakter novela Dhianita adalah kumpulan para buruh perasaan yang menghuni semesta GoC. Perasaan yang diasumsikan sebagai ciptaan Buruh Perasaan itu adalah komoditas. Para buruh perasaan itu memancing rasa penasaran dan antusiasme sebagai barang dagangan untuk mendapat glot dan posisi paling tinggi dalam aplikasi daring tersebut.

Dalam Menanam Gamang, fungsi kerja buruh perasaan ini dimanfaatkan dan dijalankan dengan baik oleh Mia kepada Barnabas. Sebagai jenis manusia miskin, bucin, dan tak jarang tampil sange, Barnabas tampak begitu mudah untuk dimanfaatkan perasaannya, disetir keinginannya hingga menurut hanya karena iming-iming belahan dada.

Karena kecintaan dan perasaannya yang begitu bertubi dan menghasrati sosok Mia, ia rela untuk menuruti apa pun yang diminta meski kesialan tak pernah surut datang dalam hidupnya.  

Tak hanya menghadirkan kecanggihan teknologi, dunia yang dibangun Dhianita juga menghadirkan kolase pandemi. Dia tak hanya memotong tempel kejadian yang kita alami selama pandemi ini, tapi juga menggabungkannya dengan hal-hal lain sehingga membentuk satu kesatuan cerita yang baru baik dari penamaan maupun ulak alik bagaimana pandemi itu datang dan hadir. Hal-hal yang kita alami; pemotongan gaji, arahan untuk tetap tinggal di rumah, mencuci tangan, membersihkan ruangan dan lain sebagainya juga hadir dalam dunia yang ia bangun. Ia memolesnya dengan memberikan nama lain dengan penanganan tes juga yang dirombak olehnya sehingga kita hidup di persimpangan; antara hal-hal yang aktual saat ini maupun hal-hal yang mungkin akan terjadi nanti.

Tak Ada Teknologi yang Tak Ngadat – Sesuatu yang Luput dari Kecanggihan

Betapa pun canggihnya teknologi, selalu ada yang tercecer di belakangnya. Dalam Menanam Gamang, teknologi selalu berkelindan dengan sesuatu yang negatif. Karakternya tampak digambarkan terganggu dengan kehadirannya; berniat untuk melepaskan apa yang melekat di tubuhnya, ingin mengubah bagaimana teknologi itu bekerja dan hal-hal lainnya.

Ketika menonton, membaca, mendengar sesuatu yang fiksi ilmiah, hal pertama yang terlintas bagi saya adalah bagaimana teknologi atau hal-hal yang tampak begitu canggih dan bahkan yang tak pernah kita bayangkan berkelindan di dalamnya.

Menanam Gamang sebagai sebuah fiksi ilmiah mempertemukan kita sesekali dengan yang mungkin kita sebut tercecer atau bahkan luput dari kecanggihan teknologi tersebut. Novela ini sudah memperkenalkan kecanggihan teknologi bahkan sedari awal.

Benda-benda yang dimasukkan dalam glosarium buku pun adalah wujud kecanggihan teknologi; WiseWrist, WiseWatch, WiseWish, WiseWalk, WiseWaste, dan WiseWorkout. Sesuatu yang canggih yang bahkan ketika serampangan pun kita maknai adalah bagaimana manusia mengoperasikan teknologi dengan bijaksana. Tapi, adakah yang luput dari sederet kecanggihan teknologi yang dihadirkan di kota Ygeia dalam Menanam Gamang?

Tak ada teknologi yang tak ngadat. Mungkin akan saya sebut saja seperti itu. Dalam dunia yang begitu canggih yang dibangun oleh Dhianita pun rupanya masih ada hal-hal yang luput.

Yang pertama, kunci kamar. Dalam dunia yang canggih dengan alat monitor pusat produksi Badan Kesehatan yang ditanam di pergelangan, lensa kontak, mesin 3D, mesin pengolah sampah dan mesin penggabungan alat olahraga, kota Ygeia masih menggunakan kunci di beberapa sudut tergelap kotanya. Alih-alih menggunakan kartu tempel menyeluruh, sidik jari, dan hal-hal lain yang mungkin terlampau canggih kita pikirkan saat ini—Dhianita memilih kunci. Kuncinya pun tidak satu, Barnabas R. memiliki kunci yang jika dibawa saat berjalan, berbunyi nyaring. Sesuatu yang menjadi sangat menarik untuk dicermati di kala seseorang dikelilingi oleh kecanggihan teknologi seratus tahun dari sekarang.

Yang kedua, suara pintu yang teramat lawas hingga memecah lamunan. Bayangkan anda sedang melamun dan lupa menutup pintu, alih-alih pintu bak mobil mewah yang nyaris tanpa suara jika tertutup, dunia canggih yang dibangun Dhianita luput menghadirkan pintu canggih. Meski ada teknologi bingkai pintu atau yang disebut sebagai WiseWalk oleh Dhianita, sebagai sebuah alat yang memadukan teknologi sensor pemindaian benda-benda berbahaya dan kondisi kesehatan yang bisa dicek dalam hitungan detik, kecanggihan itu melupakan bagaimana suara pintu ketika ditutup. Jika ada bingkai pintu canggih tapi suaranya memecah lamunan, tentu itu juga akan menarik perhatian dalam dunia yang dikelilingi oleh kecanggihan teknologi. Yang ketiga, suara berderit kursi ketika ditarik. Di saat teknologi canggih, bisa-bisanya manusia di Ygeia menggunakan kursi murah yang makin merusak perasaan karakter ketika ia masuk ke kamarnya.

Mungkin Dhianita sengaja menghadirkan hal-hal di atas, mungkin juga dia luput. Tapi, bisa saya simpulkan kecanggihan dunia yang dibangun oleh Dhianita masih meninggalkan hal-hal yang juga tak kalah penting dalam membangun dunianya. Kunci besi atau bentuk kunci konvensional, suara pintu yang memecah lamunan, kursi yang berderit ketika ditarik adalah hal-hal yang luput dan tidak terlalu diperhatikan dalam Menanam Gamang.

Kalaupun secara sengaja ia menghadirkan hal-hal tersebut untuk menunjukkan ketimpangan kelas yang terjadi di kota Ygeia, hal tersebut tidak begitu berpengaruh atau serta merta mengubah, membentuk, ataupun memberi sumbangsih dalam cerita yang dibangunnya hingga akhir.

Hingga akhir pembacaan atas novela ini, saya memaknai Menanam Gamang sebagai beta tester, potongan kecil, uji coba tingkat dua bagaimana manusia di masa depan akan terlibat dengan teknologi canggih. Apa yang telah ditanam Dhianita dalam Menanam Gamang bukan tidak mungkin akan tumbuh di masa depan dan dalam arti tertentu juga telah tumbuh di masa kini.

Referensi

Senft, T.M. (2008). Camgirls: celebrity & community in the age of social networks. New York: Peter Lang.

Hendri Yulius (2019). C*bul perbincangan serius tentang seksualitas kontemporer. Tangerang Selatan: Marjin Kiri.


Judul buku: Menanam Gamang

Penulis: Dhianita Kusuma Pertiwi

Penerbit: Pelangi Sastra (Malang), Oktober 2020

Tebal: 130 halaman

Juli Sastrawan
Juli Sastrawan, penulis dan penerjemah asal Bali. Selain menulis hal-hal yang berhubungan dengan buku dan sastra, ia juga membuat zine. Buku terbarunya Kulit Kera Piduka (2020).