Mirat dari Sharjah

Sharjah International Book Fair

Kali pertama mendengar kata Sharjah, ia tak terletak di peta mana pun di kepala saya. Mesin peramban di halaman pertama menampilkan Sharjah sebagai ibukota kebudayaan: ia ingin mempertahankan ciri khas budaya yang dianggap adiluhung di Arab dan setia merawat ingat pada leluhur di balik tembok-tembok museum.

Baru kemudian saya tahu ia adalah kota terbesar ketiga di Uni Emirat Arab, ditetapkan oleh UNESCO sebagai ibukota kebudayaan Arab dan ibukota perbukuan pada 2019. Terkait yang terakhir, selama puluhan tahun, ia konsisten menyelenggarakan pameran buku yang kini menjadi terbesar ketiga di dunia: Sharjah International Book Fair (SIBF). Ke perhelatan itulah saya menuju.

“Tiap literasi adalah benih yang kelak menumbuhkan pengetahuan baru,” demikian Ahmed Al Ameri, kepala Sharjah Book Authority (SBA) menyambut para tamu pada pembukaan SIBF, 31 Oktober 2018.

Ungkapan ini menggemakan kembali yang diyakini oleh Syekh Sultan Al-Qasimi, penguasa Sharjah, pada tahun-tahun sebelumnya: kiranya hanya pengetahuan dan (semangat) pencerahan yang dapat digunakan dalam melawan horor ekstremisme.

Syekh Sultan Al-Qasimi beserta dewan emirat Sharjah berupaya mewujudkan cita itu dengan memulai kerja-kerja yang mengedepankan pemajuan seni dan pengetahuan sejak tahun 1979. “Kita harus berhenti membangun beton melulu dan mulai membangun pengetahuan dan kebudayaan,” dia bertekad.

Pada 1982, mereka mulai SIBF. Di tahun 2014, SBA dibentuk, dan sejak saat itu, dunia perbukuan termasuk gelaran SIBF sebagai puncaknya dikelola oleh SBA. Ini kali kedua Indonesia menjadi undangan SIBF. Saya mewakili Marjin Kiri dan beberapa penerbit lain beserta IKAPI dan Komite Buku Nasional menjadi delegasi dari Indonesia berkesempatan mengikuti Publisher Conference Professional Program di gedung Chamber of Commerce selama dua hari sebelum pameran buku dimulai.

Professional Program dan Hibah Penerjemahan: Upaya Merayakan Jembatan

Dalam program ini, kami mengikuti beberapa diskusi panel di pagi hari dan selepas siang bertukar tangkap pembelian hak terjemah dengan sekira 400 penerbit dari 77 negara. SIBF menyediakan total hibah penerjemahan hingga 300.000 dolar Amerika, dengan rincian yang cukup menerbitkan semangat: total 50.000 dolar untuk penerjemahan dari dan atau ke segala bahasa, dan 250.000 dolar Amerika untuk penerjemahan dari dan atau ke bahasa Arab. Masing-masing judul berhak atas maksimal 4.000 dolar Amerika untuk buku umum dan 1.500 dolar Amerika untuk buku anak.

Dokumentasi foto: Pradewi Tri Chatami

Proses pengajuan hibah dapat dimulai dari sebelum program dimulai dengan mendaftar melalui situs resmi SIBF. Di sana para pemohon memasukkan data buku, mengatur janji temu dengan penerbitan lain, dan dalam proses matchmaking, jika kedua belah pihak sudah setuju hendak bekerja sama, dapat meminta formulir aplikasi kepada panitia. Formulir aplikasi ini disimpan oleh panitia dan masing-masing pihak hingga saling mengikat kontrak. Kelak, pemohon diminta mengirim nukilan buku yang hendak diterjemahkan dalam bahasa Inggris atau Arab kepada panitia. Hibah ini akan diberikan bertahap dan penerbit harus taat pada tenggat yang dibuat oleh panitia: jika sampai tenggat penerjemahan tidak rampung, penerbit harus mengembalikan dana hibah yang diterima. Setelah pungkas, penerima hibah harus mencantumkan logo SIBF dan mengirim sepuluh eksemplar pada panitia.

Salah satu syarat utama permohonan hibah adalah para pemohon harus hadir pada Professional Program secara penuh. Panitia menyiapkan buklet berisi jadwal kegiatan disertai daftar penerbit yang diundang. Untuk pelaksanaan janji temu dan matchmaking, mereka menyiapkan meja bagi para undangan untuk melaksanakan janji temu di lantai dua gedung Chamber of Commerce. Marjin Kiri mendapat meja nomor 327.

Ini pengalaman pertama saya dalam jual-beli hak terjemahan dan saya mengikutinya dengan antusias dan cemas. Antusias bertemu penerbit-penerbit lain dari berbagai negara, belajar hal baru, mengenalkan karya dari Indonesia yang kami anggap layak dibaca lintas-bahasa dan budaya. Cemas karena saya belum membuat janji temu dengan siapa pun sebelum berangkat. Saya hanya mengantongi beberapa nama kolega dan menemui mereka di sela janji temu mereka dengan yang lain.

Di antara semua penerbit yang saya temui, barangkali yang paling menarik justru ketika penerbit Insight Publica, dari Kerala, menghampiri meja saya. Mereka mengenalkan diri sebagai penerbit yang merilis buku dalam bahasa Malayalam, bahasa yang banyak digunakan di Kerala, dan Kerala, ucap mereka setengah pamer, adalah kantong komunis di India. Jadilah kami berbincang mengenai bagaimana nasib menjadi komunis di negara masing-masing.

Baik India maupun Indonesia menghadapi pemerintahan yang bergerak semakin ke kanan, dan itu adalah kabar suram bagi kami. Tentu, Indonesia lebih sial: sejarah komunis selama puluhan tahun terakhir adalah sejarah genosida dan penyangkalan atasnya. Kami kemudian bercakap bisnis dan bisa saya pastikan hak terjemah ke dalam bahasa Malayalam untuk buku mana pun belum dimiliki siapa pun.

Selain dengan Insight Publica, saya juga bertemu dengan Hernan Lopez dari Ediciones Godot (Argentina), dan Mohammed Baaly dari Sefsafa Publishing (Mesir). Dari katalog yang saya bawa, lima judul buku menarik minat mereka.

Secara keseluruhan, para penerbit dan agensi dari Indonesia berhasil menjual 67 judul buku dan yang diminati mencapai 390 judul ke 22 negara. Mizan menjadi satu-satunya penerima hibah penerjemahan dari Indonesia di antara 45 penerbit lainnya, daftar ini boleh jadi akan berkembang karena pengajuan hibah paling lambat tiga bulan setelah Professional Program berlangsung.

Dari Panel ke Panel: Mengintip Dunia Aksara di Arab

Sebelum memasuki sesi bisnis matchmaking, kami mengikuti beberapa diskusi panel. Diskusi Panel hari pertama dibuka dengan perbincangan mengenai tren dan tantangan di skena penerbitan Arab yang dimoderatori oleh Michel Moushabeck (Interlink Publishing). Khalid Sluman Al Nassiri mengerjakan proyek penerjemahan Mediterania di Italia berbagi pengalamannya dalam silang saling terjemah antara literatur Arab dan Italia. Dalam setahun ia berhasil menerbitkan karya terjemahan 120 judul, lebih banyak dibanding hasil kerja pemerintahan Italia. Kini, ia bekerja sama dengan pemerintah kota Milan untuk meneruskan proyek terjemahan karya terpilih dari Italia dan Arab.

Dokumentasi foto: Pradewi Tri Chatami

Ahmad Saied (Al Rabie Publishing) dulu bekerja sebagai penyunting, lalu merasa penerbitan hanya mengejar untung: tidak memikirkan pembaca, tidak memiliki agenda kebudayaan yang jelas apalagi keinginan mengubah keadaan. Dari kekecewaannya, dia putuskan untuk mendirikan penerbitan sendiri. Ia berpendapat bahwa karya baik tidak sampai pada pembaca bukan karena karya baik itu tidak ada, tapi karena kalah dalam distribusi melawan karya buruk. Dia mengeluhkan sedikitnya literary agent: hanya sepuluh, hitungnya, sementara penutur bahasa Arab mencapai 300 juta.

Moushabeck sempat mengungkapkan keheranannya terhadap sebagian karya populer Arab yang dia dapatkan selama mengelola penerbitannya di Amerika. “Aku pernah mendapat kiriman karya buruk minta ampun yang sepertinya luput disunting karena bahkan secara linguistik saja sudah berantakan,” lebih jauh, dia sempat menuduh, apakah penyuntingan hanya berhenti di tahap pemeriksa aksara saja, agar penerbitan bisa memproduksi banyak buku dan memperoleh sebanyak mungkin laba.

Sebagai pembaca saya teringat pengalaman membaca karya Indonesia yang barangkali mutu penyuntingannya sama buruknya dengan keluhan Moushabeck. Sebagai penyunting, terbit juga was-was apakah mutu penyuntingan saya juga tidak kalah jeleknya, dengan konsekuensi karya tidak raib dirampas salah arah terjemah, tapi belum apa-apa sudah menimbulkan anti-minat bagi pembaca.

Bagi Baker Ramadan, pendudukan Israel adalah tantangan terbesar dunia penerbitan Palestina. Penerbitannya baru didirikan pada 2015 di Nablus, salah satunya didorong oleh langkanya karya baik dari mereka yang mukim maupun diaspora beredar di Palestina. “Ghassan Kanafani adalah salah satu intelektual terpenting di Arab sebelum dia dibunuh oleh Israel, tapi karyanya sulit ditemukan di Palestina. Dan ketika ada yang bilang mereka penerbit dari Palestina, kutantang kalian, berapa banyak dari mereka yang benar-benar menerbitkan dari daerah di Palestina?”

Dia menekankan arti penting pameran buku dan acara-acara perbukuan internasional sebagai pintu yang memungkinkan dirinya mengenalkan karya-karya dari Palestina kepada khalayak lebih luas. “Pergerakan kami sebagai manusia terbatas, kami harus melalui checkpoint yang dibangun Israel, dan itu kemudian menyulitkan buku-buku kami beredar.”

Dari sempitnya ruang gerak dalam kepungan checkpoint dia juga tak berdaya menghadapi pembajakan, bahkan kontrol hak terjemah dari buku-bukunya.  Dia kemudian menyampaikan terima kasih kepada otoritas Yordania yang menyokong aktivitas literasinya.

Di sesi berikutnya, Ahmed Saadawi menyampaikan pidato sebagai salah satu penulis Arab yang mendapat perhatian internasional karena novelnya, Frankenstein in Baghdad memenangkan International Prize for Arabic Fiction 2014 dan diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa. Masyarakat internasional, katanya, memiliki stereotip tertentu pada suatu kawasan, yang kemudian dilekatkan pada penulis dari kawasan tersebut. Sebagian pembacanya, simpul Saadawi, kerap lebih tertarik pada muatan politik dalam novelnya, atau sejauh mana novelnya merepresentasikan latar Irak kiwari. Mereka juga penasaran akan ke mana arah ideologinya berhembus. Berulang kali harus dia nyatakan dia menolak tunduk pada ideologi dan politisi meskipun ia tak menampik muatan sosio-kultural dalam novelnya. Bagaimanapun, sebuah karya adalah anak zaman dan ruang, tetapi posisi ideal literasi tetaplah sebagai pengabdi ke(manusia)an.

Beberapa sesi panel lain masih membahas dunia perbukuan di Arab, misalnya bagaimana berbisnis dengan penerbit dari Arab, yang meskipun temanya menarik, sayang sekali kurang dibahas mendalam. Mereka hanya mengulas sedikit tentang pentingnya desain dalam menerbitkan sebuah buku, tingginya permintaan untuk buku anak dan mulai tumbuhnya buku digital.

Sesi ini menghadirkan Simon de Jocas (Presiden Les 400 Coups), Imad AlAkhal (Ibiidi), Nasser Assi (Maleem for Printing), Al Hareth Mahmoud (Dar Al Fan for Design), Khaled Al Bilbeisi (Dar Al Manhal for Publisher), dan Pierre Astier (Aschier-Pecher Literary and Film Agency).

Tingginya permintaan untuk buku anak menjadi diskusi menarik di sesi panel mengenai buku anak dan dewasa muda yang beredar—dan ingin diedarkan—di Arab. Sempat ada perdebatan mengenai buku anak semacam apa yang cocok diterjemahkan untuk anak-anak Arab. Fadwa Elboustany (Boustany’s Publishing House) dari Mesir mencari buku dengan tema-tema toleransi dan ingin buku anak yang diterjemahkan mencerminkan kondisi sosio-kultural anak tersebut sehingga anak-anak dapat mengenal dunia lain. Dia berkisah bagaimana literatur anak dari berbagai latar bangsa yang kelak akan memudahkan anak-anak menerima perbedaan.

Lain dengan Fadwa, Alyazia Khalifa (AlFulk Translation and Publishing) dari UEA berpendapat karya yang hendak diterjemahkan sebaiknya disesuaikan dengan latar di Arab agar dapat mendidik anak bahwa mereka adalah bagian dari kebudayaan yang luhur dan memiliki ciri khas tersendiri. Perdebatan ini niscaya akan menjadi diskusi yang panjang sekiranya waktu diskusi lebih dari 60 menit. Di akhir diskusi, para pembicara hanya bisa tetap sepakat bahwa literatur anak penting karena asupan kata dan kisah akan menguatkan anak tersebut, dan masa depan literasi bergantung pada kesehatan khazanah bacaan mereka.

Dokumentasi foto: Pradewi Tri Chatami

Di luar diskusi yang membincang kekhasan perbukuan di Arab, ada dua sesi dengan tema lebih umum: kompetisi dalam penerbitan buku pendidikan dan kemerdekaan dalam menerbitkan. Sesi pertama hanya mengulang-ulang pentingnya penerbitan buku pendidikan sampai saya tertidur. Tidak ada pembahasan mengenai penerbitan karya ilmiah dari jenjang sekolah hingga kuliah, hingga mubazir rasanya sekretaris jenderal International Publisher Association (IPA) yang duduk berembuk dengan kementerian pendidikan dan Emirates Publisher Association (EPA).

Sesi kemerdekaan menerbitkan dipandu Bodour Al Qasimi, putri Sultan yang barangkali menjadi orang paling penting dalam perbukuan Emirat: dia terpilih sebagai wakil presiden IPA setelah menjadi pendiri sekaligus presiden EPA. Dia juga memimpin Kalimat Group, salah satu penerbitan terbesar di Emirat, dan mengetuai komite persiapan Sharjah sebagai ibu kota perbukuan dunia tahun depan.

Sesi ini menggarisbawahi kemerdekaan dalam penerbitan dengan mengambil teladan dari dua pembicara: Razia Rahman Jolly dari Bangladesh dan Azadeh Parsapour dari Iran. Razia merupakan janda dari mendiang Faisal Arefin Dipan, peraih Special Award IPA. Suaminya dibunuh kaum ekstremis karena dianggap menerbitkan buku liberal. Razia, seorang dokter yang tadinya tidak tahu-menahu mengenai penerbitan, memutuskan untuk meneruskan penerbitan suaminya, Jagriti Publishing. Kematian suaminya adalah tragedi, tapi dia merasa perlu meneruskan perjuangan suaminya karena percaya bahwa perubahan hanya niscaya jika dikerjakan.

Azadeh Parsapour masuk ke dalam daftar pendek Prix Voltaire pada 2017 dan 2018. Mukim di London, dia mendirikan Nogaam Publishing: sebuah penerbitan digital yang menggunakan sistem crowdfunding untuk menerbitkan karya berbahasa Persia yang tidak lolos sensor di Iran, untuk kemudian dapat diakses gratis di dunia maya.

Ketatnya sensor di Iran sampai pada tahap hegemonik dan membuat sebagian penulis bahkan menyensor dirinya sendiri sebelum mempertimbangkan penerbitan karya.

Kondisi ini diperburuk dengan sanksi ekonomi yang dijatuhkan terhadap Iran sehingga penulis di Iran kesulitan mengedarkan karya ke dunia luar sekaligus mengakses buku dari luar. Maka, Azadeh menggelar Tehran Book Fair, Uncensored: sebuah helaran tahunan yang bertempat di luar Iran untuk merayakan buku-buku Persia dari penerbit independen yang mengelak dari sensor pemerintah.

Meskipun di Indonesia tidak ada penerbit yang dibunuh dan sensor pemerintah tidak ketat, tapi kondisi perbukuan kita tidak baik-baik saja. Kerapnya pembatalan dan penggerebekan diskusi buku oleh ormas disokong oleh aparat menjadi masalah tersendiri. Sebuah penerbit besar bahkan sampai menarik kembali buku yang mereka terbitkan untuk kemudian mereka bakar di depan umum adalah bentuk kekalahan yang sulit saya lupakan.

Yang Dipamerkan di SIBF 2018

Sementara di Sharjah, buku terus dirayakan. Pembukaan SIBF melampaui ekspektasi saya. Sambil santap sarapan, dua ribu tamu undangan disambut oleh menteri kebudayaan dan Syekh Sultan Al-Qasimi yang terus menekankan pentingnya literasi dan berharganya pengetahuan. Usai sambutan, sinar laser warna-warni menyala dari penjuru ruang, dan seorang penampil naik panggung. Di belakangnya, layar menampilkan video teaser untuk World Capital Book tahun depan.

Masih dengan cahaya dan gempita panggung, panitia mengenalkan Azzedine Mihoubi, menteri kebudayaan Aljazair sebagai Personality of the Year, lalu mengumumkan para pemenang SIBF Award. Hadiah rata-rata berkisar antara seratus ribu dirham untuk ilustrator buku hingga rata-rata tiga ratus ribu dirham untuk buku-buku Emirat, entah itu puisi, fiksi, dan nonfiksi.

Hadiah paling bergengsi adalah Turjuman Award, penghargaan untuk terjemahan terbaik dengan jumlah hadiah sebesar 1.300.000 dirham. Penerbit Actes Sud dari Perancis memenangkan penghargaan ini setelah menerjemahkan buku The Nature of Despotism karya penulis Suriah, Abdul Rahman Al Kawakibi, ke dalam bahasa Perancis.

Adapun pameran SIBF kali ini menyuguhkan lebih dari satu setengah juta judul buku yang dipamerkan, dan setidaknya delapan puluh ribu di antaranya merupakan buku baru. Terdapat 1.874 penerbit berpartisipasi dalam pameran, ratusan penulis berbagi pengalaman dan mengadakan penandatanganan buku. Selain dunia perbukuan, pameran juga akan diwarnai dengan pertunjukan kesenian dan kuliner. Jepang sebagai tamu kehormatan mendapat booth yang cukup luas dan slot pertunjukan yang cukup beragam. Sayangnya, saat saya mengunjungi booth tersebut, tidak banyak koleksi buku yang dipamerkan. Pihak Jepang yang bercakap sebentar dengan saya mengutarakan semua materi pameran disiapkan pihak kedutaan, bukan asosiasi penerbitan.

Sharjah Publishing City, Mungkinkah Kita Menirunya?

Perayaan lain atas buku diwujudkan dalam Sharjah Publishing City yang menawarkan satu kawasan terpadu bagi mereka yang terlibat dalam dunia perbukuan. Di ujung hari pertama Professional Program, para tamu undangan diajak untuk berkeliling di SPC sambil menikmati makan malam.

Dengan luas nyaris satu hektar, di sana terdapat kantor, kafe, fasilitas pendukung penerbitan seperti percetakan dan gudang, juga toko buku dan infrastruktur distribusi ke penjuru dunia. SPC berambisi menjadi publishing hub yang menawarkan layanan bebas pajak baik bagi perorangan maupun perusahaan, sekaligus izin ganda: mereka yang diberi izin beroperasi di SPC otomatis memiliki izin di seluruh kawasan UEA.

Upaya ini disokong oleh ekpektasi pendapatan dari sektor penerbitan: otoritas Sharjah menargetkan pendapatan hingga 650 juta dolar Amerika pada 2030, dan estimasi total satu milyar dolar Amerika buku yang diimpor di seluruh kawasan Arab.

Sambil menikmati makan malam, saya teringat kembali pidato sambutan Syekh Sultan Al-Qasimi: semua pencapaian ini dimulai sejak 40 tahun lalu, dan dia takdapat mendaku paling berjasa, karena visinya tidak akan berjalan jika sistemnya tidak dibangun, jika prioritas perbukuan hanya mandek di laba. Di Indonesia, inisiatif-inisiatif dalam perbukuan dijalankan oleh komunitas-komunitas kecil, tersebar di mana-mana. Upaya pemerintah mendekati cukup pun jauh sekali. Tidak pernah ada satu visi yang kemudian merangkum gerakan-gerakan di lapangan, apalagi mewujudkannya menjadi sistem yang terpadu. Tiba-tiba, keik cokelat di mulut saya rasanya pahit dan sulit saya telan.

Pradewi Tri Chatami
Pradewi Tri Chatami, sarjana lulusan Antropologi Universitas Padjajaran. Bekerja sebagai penerjemah lepas sejak 2010, juga peneliti lepas sejak 2014. Bergabung dengan Marjin Kiri sebagai staf redaksi sejak 2018.