Ada Apa dengan Bandcamp?

Disunting oleh: Tomo Hartono

Sampul Artikel oleh: Aliyya Asra

Di hari Nyepi tahun 2022, saya terbangun pukul 9 pagi dengan kondisi yang buruk; kepala seperti berputar dan selalu haus. Maklum, ini merupakan hari ke-6 saya terjangkit Covid-19. Layaknya orang kebanyakan dengan adiksi informasi dan media, saya langsung membuka handphone. Pesan singkat yang pertama  saya baca membuat kepala ini rasanya berputar makin kencang: “Gi, Bandcamp dibeli Epic Games,” ujar teman saya sekaligus editor naskah ini. Pesan itu diikuti dengan tautan ke pengumuman oleh Bandcamp bahwa per hari ini, mereka resmi dibeli oleh Epic Games. 

Fortnite baru saja membeli jutaan musisi independen. 

Hampir orang yang saya kenal kaget dan geram akan keputusan ini. Musisi-musisi takut akan prospek Bandcamp di masa depan. Para pandit industri bercentang biru juga tidak ingin ketinggalan. Walau terkadang Twitter merupakan tempat yang dipenuhi dengan opini jelek, untuk pertama kalinya saya setuju dengan sentimen yang ditunjukan. 

Bandcamp baru saja diakusisi oleh Epic Games. Bandcamp merupakan platform jagoan musisi dengan memberikan rata-rata 82% hasil penjualan ke musisi pada setiap transaksi. Epic Games, di sisi lain, merupakan perusahaan gaming yang terkenal karena Fortnite dan Unreal Engine. Pertanyaan dan kekhawatiran perihal masa depan Bandcamp patut dilayangkan dengan pernikahan dua perusahaan ini. 

Musisi dan penggemar musik menyukai Bandcamp karena Bandcamp Daily (Program editorial mereka yang terkenal sering memberikan sorotan ke rilisan-rilisan terbaik dari berbagai genre). Selain itu, mereka juga mempunyai Bandcamp Friday (Program di mana Bandcamp meniadakan potongan platform dan memastikan tiap transaksi yang dilakukan hari itu 100% masuk ke kantong musisi). 

Walau Bandcamp belum bisa bisa menyaingi para raksasa Digital Streaming Platforms (DSP), mereka bisa menjadi lambang perlawanan. Coba lihat, berapa banyak musisi di sekitar kalian yang sering berujar, “Ribuan stream di platform kalian sama saja dengan satu pembelian di Bandcamp. Kami tidak butuh ribuan stream untuk menjadi makmur!” sambil tetap menaruh karya di semua streaming platform dan berharap masuk playlist Skena Gres. 

Seklise apapun kedengarannya, kita semua suka cerita perlawanan. Setiap Bandcamp Friday, saya ingat betul, linimasa Twitter riuh dengan rekomendasi rilisan yang layak dibeli dan mereka yang sibuk memamerkan belanjaan mereka. Bukan hanya sekadar pamer, tapi juga untuk mendorong orang lain agar ikutan belanja. Loyalitas penggemar musik dan musisinya terhadap Bandcamp sungguh sangat tinggi. Bandcamp dianggap memenuhi semua kriteria yang ada sebagai platform perlawanan. 

Sampai terbitlah berita bahwa Bandcamp diakusisi oleh Epic Games. Bandcamp yang tadinya merupakan perusahaan independen sekarang dimiliki oleh Epic Games. Perusahaan yang hari ini bernilai 29 Triliun AS per 2021 ini sahamnya dimiliki oleh satu individu dan satu entitas: Tim Sweeney dan Tencent Holdings. 

Sebagai konteks, Tim Sweeney adalah pendiri Epic Games. Beliau adalah seorang developer game yang mengembangkan Unreal Engine dan mendirikan Epic Games di tahun 1999. Tencent Holdings adalah perusahaan konglomerasi asal RRC yang berbasis di Shenzen. Portfolio Tencent meliputi berbagai industri, mulai dari media sosial hingga industri kesehatan. 

Jika kita telisik lebih lanjut, Tencent Holdings juga memiliki saham di beberapa entitas yang bikin geleng-geleng kepala. Beberapa di antaranya adalah kepemilikan saham sebesar 10% di Warner Music dan sebesar 58% di Tencent Music

Mau tahu punchline terbaiknya? Tencent Music memiliki kepemilikan sebesar 9.1% di Spotify. 

Bisa dibilang, Tencent adalah salah satu penguasa hulu dan hilir industri musik. Siapapun musisinya–mulai dari yang pas-pasan seperti proyekan bedroom pop favoritmu hingga band-band besar seperti Fleetwood Mac–semua bergantung kepada Tencent. 

Sumber: Riset RUANG – Grafik oleh Aliyya Asra

Apakah ini sebuah pengkhianatan bagi musisi dan konsumen musik yang melek? Tentu tidak. Bandcamp dari awal merupakan bagian dari lanskap start-up di AS. Akusisi mereka bukanlah hal luar biasa, atau bahkan bisa dibilang, akusisi mereka merupakan sesuatu yang sudah direncanakan dari dulu. 

Bandcamp tidak pernah didirikan oleh musisi dan untuk musisi. Platform ini didirikan oleh mantan pendiri Oddpost, sebuah layanan webmail di tahun 2002 dan seorang programmer. Dari awal, Bandcamp merupakan bagian dari Silicon Valley. Yang tercatat mendanai Bandcamp yang sebelum akuisisi oleh Epic Games adalah True Ventures, sebuah perusahaan venture capital.

True Ventures memiliki ratusan investasi di berbagai industri, mulai dari hiburan hingga kesehatan. Bandcamp merupakan satu dari banyak perusahaan portofolio yang didanai True Ventures. Tidak ada jejak catatan publik yang mengatakan berapa dana yang dikucurkan oleh True Ventures, namun apa yang saya ketahui adalah True Ventures selalu mengincar paling tidak 25% kepemilikan dalam tiap investasinya. 

Di tahun 2010, ketika True Ventures menyuntikan dana ke Bandcamp, seharusnya kita sudah memprediksi bahwa hari seperti ini akan datang. Hari dimana Venture Capital seperti True Ventures akan keluar dari Bandcamp dan mengambil keuntungan dari perusahaan portofolionya, sama seperti perusahaan-perusahaan mereka sebelumnya, mulai dari MoviePass hingga Peloton

Apa yang harus kita ketahui adalah bagaimana para perusahaan venture capital ini bekerja. Mereka tentu tidak menyuntikan dana secara cuma-cuma. Saya berani bertaruh, para investor di True Ventures tidak peduli dengan kesejahteraan musisi ketika mereka mengucurkan dana ke Bandcamp. Apa yang ada di kepala mereka cuma dua hal: growth dan exit opportunities. 

Growth merujuk pada kemungkinan pertumbuhan dan peningkatan valuasi perusahaan portofolio dalam jangka panjang. Exit opportunities mengacu pada kemungkinan “keluar”. Urusan ini, hanya ada dua skenario: Menjual kepemilikan mereka ke entitas lain dengan harga saham yang jauh lebih tinggi dari investasi awal atau menjual kepemilikan mereka ke publik lewat bursa atau go public.

Bagi True Ventures yang berfokus pada perusahaan di tahap awal yang masih belia umurnya, skenario yang paling mungkin terjadi adalah menjual perusahaan portofolio mereka ke entitas lain. Ulang saja terus siklus ini beratus-ratus kali. Beginilah cara perusahaan venture capital bekerja.

Para perusahaan venture Capital ini dijalankan oleh bro-bro VC, yang menjamur di LinkedIn dan Twitter dengan tips-tips growth hack sambil terus membakar uang di perusahaan-perusahaan konyol yang akan bankrut dalam satu tahun ke depan. Bro-bro VC macam ini tentu akan gerah membaca artikel saya. Mereka jelas akan membela model pendanaan berbasis venture capital sebagai garda depan inovasi. 

“Tidak ada Facebook tanpa VC! Kami sedang mencari inovasi terbaik di sekitarmu! Perhatikan kami, para lulusan Ivy League, menjadi promotor karya anak bangsa dan menjadi staf khusus dalam 2-3 tahun ke depan!” ujar para VC-bro ini. 

Menurut Charley Ellis, model VC ini tidak lebih dari praktek Personalia atau Human Resources. Model VC yang hanya mementingkan growth dan exit opportunities membuat VC sebagai agen HR atau personalia, dan para perusahaan portfolio sebagai kandidat yang ingin masuk ke perusahaan. 

Perusahaan venture capital terbaik bukanlah perusahaan yang terbaik dalam menemukan inovasi terbaru atau produk yang berorientasi konsumen seperti Bandcamp. Perusahaan venture capital terbaik adalah yang paling bisa melihat kemungkinan akuisisi selanjutnya atau kemungkinan ditawarkan ke pursa publik bagi perusahaan portofolionya. 

Sama seperti praktek HR atau personalia, inovasi tidak diberikan penghargaan, yang diberikan penghargaan adalah siapa yang paling menguntungkan bagi perusahaan. 

Tidak ada ruang bagi sebuah produk untuk eksis saja. Semua harus berkembang, atau menurut bahasa mereka, berpotensi akan hyper-growth. Tidak ada ruang untuk membeli produk. Hari ini merupakan hari ekonomi akses. Kepemilikan bukan menjadi prioritas dab cenderung tersentralisasi. Semua harus serba cepat. Tidak ada ruang untuk melihat dampak politik, lingkungan, ataupun ekonomi dari produk-produk di bawah naungan venture capital. Valuasi di atas segalanya. 

Kembali ke Bandcamp. Sebagai produk, Bandcamp memang medioker. Aplikasinya jarang di-update (Bandingkan dengan update aplikasi ecommerce seperti Tokopedia atau Shopee yang setiap tanggal cantik, misal 3.3, pasti ada update). Penawaran produknya pun itu-itu saja. Dalam dunia bro-bro VC, Bandcamp sudah mentok. Tidak ada peluang hyper-growth di Bandcamp. 

Perkembangan Bandcamp tidak akan menarik di mata bro-bro VC. Bandcamp Friday dan Bandcamp Daily merupakan program berbasis komunitas, tidak bisa dijelaskan dengan model ekonomi di Excel. Kedua program ini mengutamakan tindakan riil dan organik untuk ekosistem yang lebih adil bagi musisi.

Sejak kapan riset pemasaran tertarik dengan ekonomi alternatif yang lebih adil?

Lalu, apa selanjutnya untuk Bandcamp? 

Menurut surat yang ditulis oleh Ethan Diamond, CEO and Co-Founder Bandcamp, setelah akuisis Epic Games akan membantu Bandcamp dalam ekspansi produknya. Beberapa di antaranya adalah rencana Bandcamp untuk memiliki jasa pembuatan piringan hitam dan platform streaming mereka sendiri. 

Terlepas dari prospek yang cukup positif dari surat tersebut, saya sendiri pesimis. Di industri gaming, akuisisi seperti ini merupakan makanan sehari-hari. Setiap bulan, ada saja studio game yang diakuisisi, mulai dari studio independen hingga raksasa. Melihat balik ke belakang, akuisisi-akuisisi seperti ini sering berakhir dengan buruk. Contoh paling terkenal adalah kisah Activision Blizzard. Awalnya, Blizzard merupakan studio independen yang terkenal dengan World of Warcraft. Di tahun 1994, mereka dibeli oleh Davidson & Associates, dan oleh Vivendi Games pada ada 1997. Di tahun 2007, Vivendi Games melakukan merger dengan Activision dan melahirkan Activision Blizzard. 

Selama Activision Blizzard berdiri, penggemar banyak mengeluhkan penurunan kualitas game. Di tahun 2021, terungkap bahwa Activision Blizzard memiliki kultur bekerja yang buruk, seksis, dan toksik. Puncaknya adalah demonstrasi oleh para pekerja Activision Blizzard di akhir 2021. 

Menurut kapitalisme, perusahaan seperti Activision Blizzard yang bertumbuh dengan sangat pesat harusnya juga ikut membuat para pekerjanya menjadi makmur. Nyatanya, hyper-growth yang mereka alami tidak sebanding lurus dengan kebahagiaan pekerjanya.

Di bulan Januari 2022, Activision Blizzard dibeli oleh Microsoft dengan harga 68.7 milyar dollar AS. 

Ekonomi VC tidak mempromosikan inovasi atau melek akan isu sosial, ekonomi VC hanya berkiblat pada profit dan valuasi saja. Tidak lebih tidak kurang. 

Jika ini adalah contoh dari perjalanan yang akan ditempuh Bandcamp di hari-hari setelah akuisisi pertama mereka, maka sebaiknya kita dan para pekerjanya harus bersiap akan kemungkinan terburuk.

Lalu, apa yang harus kita lakukan?

Saya banyak menghabiskan waktu memikirkan ini. Usai sudah hari-hari di mana saya bisa membanggakan bahwa saya membeli musik via Bandcamp, walau saya masih mengakses musik via layanan seperti Spotify. Keduanya sekarang dimiliki oleh entitas yang sama. 

Mudah untuk kehilangan harapan dengan keadaan ini, baik sebagai musisi dan pendengar. Bagaimana tidak? Musisi terus dieksploitasi, dan sekarang mereka mungkin kehilangan satu-satunya platform yang dianggap berada di sisi mereka. 

Akhirnya, saya sampai ke dua jawaban: Jangka pendek dan jangka panjang. 

Jawaban saya untuk jangka pendek adalah hal yang sederhana dan mungkin konyol: Eksploitasi balik. Jika tidak ada lubang yang suci bagi musisi, tidak ada lubang yang berpihak ke musisi, maka musisi sebaiknya buang tinja di setiap lubang. Artinya, tidak ada lagi Bandcamp Exclusive. Berikan eksklusifitas hanya untuk penawar tertinggi. Semua harus dipikirkan dengan penghasilan musisi sebagai prioritas utama. Lakukan semuanya dengan sikap ala Frank Ocean ketika beliau berhasil “menipu” Def Jam dan Apple Music sebesar 20 juta dollar AS. Buatlah konten buat provider telepon dengan usaha serendah-rendahnya. Ambil endorsement dari siapapun selama tidak merugikan orang lain. Inilah satu-satunya cara untuk bertahan hari ini. 

Saya sadar betul bahwa ini bukan solusi yang dapat dipertahankan dalam jangka panjang. Maka, saya menawarkan opsi kedua: Kita harus mulai meninggalkan ekonomi berbasis venture capital dan mulai menggerakkan komunitas. Kita tidak akan pernah bisa membangun platform yang berfokus pada komunitas kalau terus bergantung pada dana venture capital

Salah satu contoh platform berbasis komunitas adalah Resonate yang berbentuk koperasi dan terus berkembang dari tahun 2018. Satu-satunya kelemahan dari entitas seperti Resonate adalah belum mampunya mereka untuk memberikan perpustakaan konten yang luas seperti Spotify. Jika kita ingin suatu platform yang menyediakan semuanya dalam waktu sesingkat-singkatnya, seperti Spotify, maka kita akan tertarik kembali ke ekonomi buatan venture capital

Pergerakan ekonomi komunitas pasti lambat dibandingkan dengan ekonomi buatan venture capital karena ekonomi komunitas mengutamakan supporting system yang kokoh terlebih dahulu. Obsesi para bro-bro VC dengan growth ini juga sudah banyak disanggah. 

Degrowth economy bisa menjadi opsi jangka panjang yang menarik untuk industri musisi. Walau terlihat utopis, dengan meninggalkan stigma bahwa perkembangan ekonomi merupakan prioritas utama, kita bisa kembali menilai musik sebagai karya alih-alih sekadar konten buat dijual. Tidak ada obsesi untuk menjadi bintang pop karena dengan menjadi musisi eksperimental, kamu pun bisa hidup sejahtera jika kita mengambil prinsip degrowth economy

Prinsip ini di industri musik bisa dimulai dari desentralisasi usaha dan pengecilan skala operasi ekonomi. 

Jika kamu gerah dengan kondisi dalam komunitasmu, maka gerakkan roda ekonomi komunitas di sekitarmu. Buatlah marketplace musikmu sendiri, studiomu sendiri, labelmu sendiri. Saya paham betul bahwa ada masalah sumber daya di sini, terutama bagi pelaku-pelaku industri yang berasal dari luar pulau Jawa, maka kita, secara kolektif harus mulai melihat model-model alternatif seperti crowdfunding, inisiatif open source, dan mutual aid. 

Selama kita masih bergantung terhadap perusahaan asuhan venture capital seperti Bandcamp, Warner Music, atau Spotify, maka kita tidak akan bisa terlepas sebagai korban eksploitasi sampai kapanpun. 

Argia Adhidhanendra
Individu dibalik kolektif noisewhore yang lebih dikenal sebagai promotor band bule level menengah. Sering menulis atau mengeluh tentang industri musik di kehidupan sehari-harinya. Dapat ditemui menulis atau ngomel di kanal-kanalnya sendiri, seperti Jurnal Ruang atau noisewhore. Senin sampai Jumat biasanya fokus menjadi pegawai swasta yang baik.