Ajakan Genting bagi Scene Musik Lokal

Ilustrasi oleh Yulia Saraswati
Ilustrasi oleh Yulia Saraswati

Dua artikel yang saya tulis dalam beberapa bulan terakhir di Ruang (tentang perilaku amatir pengorganisir konser lokal & pengaruh menggurita sponsor rokok dalam scene–red) rupanya cukup dibicarakan oleh orang-orang dalam maupun luar industri musik independen, sekaligus memantik beberapa konflik. Memang penting untuk memberikan perhatian terhadap isu organizer dan booking agent yang sembrono, terlebih lagi peran rokok dalam scene musik dewasa ini. Namun, saya rasa ada yang kurang dari kedua naskah tersebut.

Isu yang paling melibatkan orang banyak di scene lokal adalah perihal hubungan kita sebagai pelaku industri musik independen dengan sponsor rokok. Ada dua respon yang paling umum saya terima setelah naskah tersebut dilansir. Antara “gue lega ada yang berani ngomong ini ke publik” atau “kalau begitu kita tarik saja sponsor non-rokok ke scene.”

Tanggapan-tanggapan tersebut tentu sangat saya hargai. Apalagi banyak tanggapan “lega” diungkapkan pada saya oleh orang-orang yang digaji oleh korporasi rokok. Jika orang-orang yang peduli dengan keberlangsungan scene meski digaji rokok saja sudah bilang begitu, artinya isu ini memang sudah sepenting itu. Namun, tanggapan yang justru menarik adalah panggilan untuk membuat scene menarik bagi sponsor non-rokok. Apakah benar ini solusi yang memungkinkan?

Ranah yang Ampas

Persoalannya, jika memang ini jalan yang paling ideal dan bisa dilakukan, kenapa saya tidak melihat ini sepanjang bergelut dalam industri musik independen? Ada alasan yang jelas kenapa kita tidak melihat korporasi selain rokok menjamur di ranah musik independen: kita tidak marketable.

Saya yakin materi musik yang diusung musisi arus pinggir lebih berani secara artistik ketimbang karya musisi yang mendapat brand deal dari merek-merek ternama. Saya yakin acara yang diusung oleh kolektif-kolektif akar rumput lebih tulus dan matang dibanding acara kampus atau pemain-pemain lain yang lebih fokus pada uang dan kehendak netizen untuk mendatangkan artis paling trendy dan viral. Yang menjadi pembeda di sini adalah band maha tenar dan acara bermodal tinggi itu, pada prinsipnya, bersifat komersial. Komersialisasi ini bisa dilatari oleh banyak hal. Kebutuhan untuk pengakuan dari publik, fakta bahwa karya mereka mungkin sudah stagnan bagi komunitas tertentu, dan terakhir, tentu karena ingin terkenal dan kaya.

Lantas, kita ini apa jika bukan komersil? Saya merujuk kembali pada pembaca Ruang yang rata-rata punya kolektif sendiri, atau punya band yang sedang mengumpulkan uang untuk rekaman. Terus terang, kita ini ampas. Ampas yang keras kepala untuk tidak mengubah aspek-aspek tertentu dalam pergerakan atau luaran artistik kita, penuh dengan circle jerk dan pergaulan yang tight knit.

Namun, jangan GR atau salah paham. “Ampas” yang saya maksud bukan berarti budaya tanding yang heroik, melainkan dalam artian yang sebenarnya. Selayaknya ampas, scene musik independen selalu padat dan di bawah tanpa diterima oleh banyak orang. Mereka ada di tiap daerah, dalam berbagai subgenre di tiap sudut kita mencari dan menikmati musik.

Jurang antara industri yang komersial dengan ampas ini pernah saya buktikan dengan pengalaman pribadi. Pada salah satu acara yang diusung Noisewhore tahun ini, sempat ada korporasi besar yang ingin mendukung dengan memberikan barang dan uang. Sebetulnya untuk skala korporasi tersebut, jumlah yang ditawarkan sangat kecil. Namun, saya kepalang kaget bahwa acara yang saya usung bisa ditengok korporasi sebesar itu yang notabene bukan dari industri rokok. Penasaran dan butuh uang (walau akhirnya saya tetap rugi), saya mengiyakan dukungan mereka.

Seminggu sebelum hari H, mereka membatalkan kerja sama tersebut. Alasannya penonton yang telah membeli tiket dan skala acaranya dianggap terlalu kecil bila dibandingkan dengan komitmen yang disepakati di awal. Acara tersebut pun dianggap tak sesuai dengan key performance indicator mereka menyangkut eksposur media sosial yang ditawarkan–walaupun sejak awal saya telah menegaskan bahwa saya tidak ingin poster acara cemong dengan logo sponsor, dan eksposur baru saya beratkan di hari H acara.

Kita tidak perlu menghujat korporasi “serakah” semacam ini. Anekdot ini saya kisahkan karena saya ingin menunjukkan gejala umum entitas do it yourself (DIY) yang membuat kita tak bisa berharap banyak dari korporasi, apapun bidangnya. Secara prinsip, saya yakin penggiat DIY atau paling tidak entitas yang concern dengan kehadiran industri rokok akan bergidik jika mengetahui standar asli exposure dan target asli korporasi dalam suatu event atau dalam memasarkan suatu produk via ambassador dan endorsement. Belum lagi urusan legal dan paper work beserta dengan pola kerja yang kaku, antitesis dari pola kerja DIY yang luwes dan terdesentralisasi.

Lantas, mengapa rokok terus bermain di scene musik? Sederhananya, mereka sedang memberikan uang gratis. Secara legal, perusahaan rokok menghadapi beban yang beratnya bukan main, yakni PP No. 109 tahun 2012. Dari aturan ini, kita bisa melihat sebobrok apa industri rokok kita. Menurut Pasal 36 dalam PP tersebut, kegiatan yang disponsori rokok pada hakikatnya tidak boleh menggunakan merek dagang dan logo produk tembakau, termasuk brand image produk tersebut. Kegiatan tersebut juga tidak boleh bertujuan mempromosikan produk tembakau. Ayat kedua pasal ini menjadi poin paling bombastis: kegiatan yang disponsori produk tembakau tersebut tidak boleh diliput oleh media.

Memangnya, komunitas atau pasar mana yang paling mudah dipenetrasi tanpa bantuan media resmi dan arus utama? Di komunitas mana kah sebuah korporasi bisa membuat “media” gadungan dengan mudah yang membawa embel-embel kolektif? Wajar saja kita melihat kemunculan media tiba-tiba besar yang diam-diam dimiliki oleh industri rokok. Kita bisa menoleh ke arah Frekuensi Antara, Siasat Partikelir, DCDC, dan segudang media lain yang mungkin belum dirilis ke publik, tapi akan tiba-tiba trendy dalam beberapa bulan saja. Kita juga melihat kolektif gadungan hasil proyek brand ambassador rokok yang tahu-tahu gede, acara bersponsor rokok yang membanting harga tiket, atau malah gratis sama sekali.

Kita tidak bisa mengharapkan perlakuan semacam itu dari industri selain rokok. Industri lain tidak perlu dan tidak punya insentif untuk melakukan penetrasi sampai ke ranah komunitas. Kelindan antara rokok dan scene yang terjadi sekarang adalah kondisi spesifik industri tembakau kita. Sederhananya, rokok melakukan semua ini karena mereka tidak punya pilihan lain. Demografi yang paling seksi dan paling menerima mereka adalah kita, para anak muda kreatif penggiat musik.

Saya harap, sejauh ini saya telah menggarisbawahi poin bahwa scene musik independen tidak marketable bagi korporasi selain rokok. Kalaupun kita menginisiasi kerja sama dengan mereka, hasilnya tetap tak akan sustainable di jangka panjang. Setelah menggagalkan asumsi ini, pertanyaan selanjutnya adalah: lantas mau bagaimana? Model bisnis seperti apa yang harus kita tekuni secara kolektif?

Mengapa Berserikat?

Gambaran global dan zeitgeist musik populer hari ini memang tidak terlalu baik. Banyak media dan label yang gulung tikar atau diambil alih korporasi. Namun, jika kita melihat lebih dalam, banyak titik cerah yang bisa kita imitasi dan tekuni. Saya ingin menyorot geliat pelaku di Britania Raya, termasuk publikasi yang saya kagumi: Gold Flake Paint. Blog asal Skotlandia tersebut telah eksis cukup lama dan mendapat apresiasi tinggi dari publik. Tahun ini mereka berhasil meluncurkan A Music Journal, publikasi fisik independen dengan metode pre-order untuk menyokong percetakan yang mereka lakukan di isu perdana. Hasilnya? Terjual habis. Kopi dari publikasi ini dijual mulai dari Bandcamp hingga Rough Trade.

Perlu diakui bahwa Skotlandia lebih dekat dengan zeitgeist musik independen global dibanding Indonesia, dan materi publikasinya pun tidak main-main. Mitski didapuk menjadi artis di sampul, dan edisi perdana Gold Flake Paint berisi wawancara mendalam dengan musisi mentereng lainnya. Namun, ini konsisten dengan apa yang sudah dilakukan Gold Flake Point sejak awal berdiri. Siapa yang menghalangi kita untuk membuat materi publikasi yang setara? Atau album yang tidak kalah bagus dibanding apa yang diliput oleh Gold Flake Paint?

Memang butuh strategi marketing yang rinci, tapi bukan sekadar untuk meningkatkan viralitas dan engagement Instagram atau, lebih buruknya lagi, menurunkan substansi supaya tunduk pada pasar. Strategi marketing yang dijalankan bisa tetap memegang teguh prinsip yang ada dan menjadi appeal utama dari publikasi ini. Tentu ini hanya contoh yang sifatnya novelty. Namun dalam konteks lokal, kita sudah melihat geliat publikasi fisik di sini.

Geliat yang nyata ada pada anak-anak ahensi trendy yang sejak tahun lalu rajin memproduksi zine, seperti Binatang Press dan Kamboja Press. Poin saya di sini adalah, walaupun spesifik pada publikasi, geliatnya sudah terlihat akan tetapi mereka kadang tidak relatable untuk sebagian orang atau jauh dari pusat perhatian masyarakat.

Namun, itu hanya contoh kasus di ranah media dan publikasi. Akar masalah baru bisa diselesaikan dengan berserikat dan menggalakkan koperasi. Di Indonesia, pekerja kreatif sudah diwadahi dalam serikat Sindikasi yang cukup konsisten dan terus berusaha mengedukasi pekerja kreatif. Namun, sejauh ini saya belum melihat upaya yang cukup dari Sindikasi untuk merangkul pelaku industri musik. Fokus Sindikasi nampaknya ada pada para pekerja ahensi–keputusan yang wajar karena nasib mereka sejujurnya jauh lebih naas.

Haruskah kita bergabung dan turut menggerakkan serikat yang sudah ada seperti Sindikasi atau membuat serikat yang sama sekali baru? Kedua jalur tersebut memiliki kekurangan dan kelebihannya masing-masing. Apapun wadahnya, pelaku musik independen harus memiliki ruang untuk berkomunikasi secara rutin dan bebas dari konflik antarband atau kolektif yang menahun, atau hutang piutang yang menjadi pemecah pertemanan.

Di Britania Raya sana, theMU alias The Music Union menjadi wadah yang mumpuni bagi para musisi. Mereka tak sekadar menaungi musisi dan meminta jatah pajak atau biaya publikasi musik seperti instansi yang sudah ada di sini. theMU juga memberikan edukasi yang dibutuhkan musisi di Britania Raya–mulai dari pembahasan isu Brexit hingga Article 13. Isu politik tersebut dibahas guna menghindari miskonsepsi, serta memberi konteks dampaknya bagi musisi. Bahkan, biaya untuk sesi di stasiun televisi ITV saja diumumkan secara terbuka pada situs theMU.

Dengan membagikan informasi tersebut, theMU menciptakan jejaring yang memastikan tak ada musisi muda atau baru yang ditipu oleh industri. Tiap musisi menjadi sadar akan hak-haknya dan mampu bergerak sebagai satu kesatuan.

Merujuk pada theMU, serikat semestinya tidak sekadar jadi grup WhatsApp tempat mengirimkan poster acara masing-masing. Namun menjadi sebuah wadah yang sadar terhadap lanskap politik yang lebih luas, dan mampu mengambil posisi yang tegas bagi industri musik independen. Wadah semacam ini akan sangat berguna untuk keberlangsungan musisi-musisi di Indonesia. Implementasinya tak hanya ideal, tapi wajib.

Tak usah sejauh membahas Article 13 atau rumitnya publikasi musik. Banyak band lokal, apalagi di kota-kota kecil, yang masih gagap dalam membiayai sesi rekaman. Banyak kolektif yang masih ragu mengadakan hajatan karena tidak memiliki dana untuk menyewa alat. Koperasi ini akan memberikan kemudahan bagi pelaku-pelaku industri untuk melakukan hal-hal tersebut. Industri musik independen memang sudah lekat jejaringnya sejak awal, tapi dengan adanya serikat, jejaring tersebut akan bertambah luas dan independen.

Tentu perlu ada fungsi finansial juga. Jika koperasi yang diterapkan adalah model koperasi simpan pinjam, maka fungsi ini akan berguna terutama untuk pelaku yang saat ini sedang mengumpulkan dana rekaman. Pendekatan yang dianut juga bisa disesuaikan dengan model simpan pinjam. Banyak koperasi saat ini mengharapkan bunga. Bagi koperasi fiktif ini, kita bisa berasumsi bahwa pengembalian modal bisa dilakukan sebagian bersamaan dengan persenan hasil penjualan rilisan. Ide ini tentu perlu diuji dulu, tapi model-model serupa telah diterapkan oleh komunitas di berbagai daerah Indonesia. Meski dalam skala yang lebih kecil.

Perspektif dan Metode yang Spesifik

Saya harus angkat topi bagi YK Booking dari scene Yogyakarta yang bisa self-sustain dengan memiliki alat sendiri dan berhasil menerapkan batas bawah untuk harga tiket di acara musik Yogyakarta. Batas bawah tersebut berfungsi untuk tidak merugikan organizer maupun band yang tampil. Setelah berbincang dengan Indra Menus, sosok sentral di balik geliat YK Booking dan Rela Mati Records, saya tersadar bahwa langkahnya tak mudah. Mereka butuh sepuluh tahun untuk mencapai yang ada hari ini.

Menus menerangkan bahwa ini semua dimulai dari Kongsi Jahat Syndicate yang memetakan masalah-masalah yang ada di scene Yogyakarta. Bersama Ojie dan Adi “Gufi” Adriandi, mereka memetakan isu yang ada dan karakteristik band serta penikmat musik di Yogyakarta. “Akhirnya, kami mengerucut pada masalah venue, ketersediaan alat, dan gimana kami mengubah kebiasaan gigs independen yang dianggap harus gratis,” tutur Menus. “Kami pelan-pelan mengubah mindset anak-anak Yogyakarta. Gigs itu juga butuh dana buat diputar demi keberlangsungan hidupnya. Kami juga kasih pengertian ke band bahwa kami baru bisa segini, nanti akan menuju ke sana.”

Tentu, yang dimaksud dari “ke sana” adalah organizer dan band dibayar dengan rate yang memadai. Selanjutnya, mereka mencari pelaku industri yang memiliki masalah sama, baru melakukan penyuluhan isu dan mengajak mereka mengatasi masalah tersebut bersama-sama. Pada intinya, trio asal Yogyakarta itu menyadari bahwa mereka perlu mencari karakteristik dan sumber masalah yang bisa dijadikan isu bersama.

Saya dengan sungkan bertanya apakah yang dilakukan beliau bisa dilakukan di daerah lain, dan beliau menjawab bahwa tiap kota memiliki ciri khas dan masalahnya sendiri. “Kalau kita bisa tahu inti masalahnya dan ketemu orang-orang yang punya masalah sama dan mau berkolaborasi, masalah itu bakal teratasi,” ucap Menus. “Aku enggak yakin cara yang diterapkan di Yogyakarta bisa diterapkan seratus persen di kota-kota lain. Karakteristik masing-masing kota berbeda-beda, perlu riset yang lama dan trial and error.”

Tentu saja kota-kota lain tidak bisa menerapkan metode yang sama persis dengan Yogyakarta. YK Booking dan kawan-kawan mengidentifikasi bahwa akses kepada alat dan budaya “gigs harus gratis” adalah persoalan utama di kotanya, sehingga gerakan mereka fokus ke sana. Namun, cara mereka mengumpulkan orang yang sepemikiran dan duduk bareng, lantas bersepakat untuk bergerak bersama patut dicontoh oleh kota-kota lain. Jika kita bisa bergerak di daerah masing-masing tapi terhubung dalam sebuah serikat, maka scene musik independen kita secara kolektif akan perlahan menjadi jauh lebih baik.

Ambil contoh dua isu utama Yogyakarta, yakni alat dan tiket. Koperasi yang berjalan dengan baik bisa memodali pembelian alat yang dipergunakan secara bersama, atau menghimpun individu lintas elemen untuk menentukan harga minimal tiket gigs agar kegiatan DIY bisa dijalankan dalam koridor ekonomi yang masuk akal. Paling tidak, kita tidak perlu bersaing secara langsung dengan acara rokok yang gratis (selepas artikel saya tentang rokok, salah satu artis yang rajin bermain di acara rokok mengungkapkan pada saya bahwa penonton di acara-acara rokok banyak yang bayaran).

Apakah akan tetap ada acara rokok gratisan dengan penampil tenar seperti Danilla atau .Feast? Tentu saja iya. Tanpa industri rokok pun, aktivasi yang melibatkan musisi mahatenar akan terus ada. Tempo hari saya menemukan Isyana Sarasvati di suatu pusat perbelanjaan dalam aktivasi layanan pesan singkat LINE. Koperasi ini tidak diciptakan untuk “membunuh” konser bersponsor–toh, bukan itu intinya. Poin utamanya adalah memastikan bahwa ada jejaring yang mampu menjadi tempat aman bagi sesama pelaku industri skala kecil.

Jika ada koperasi yang berjalan dengan baik, band serta pelaku industri skala kecil lainnya mungkin tidak wajib mengikuti segudang acara aktivasi rokok atau mengikuti kontes musik rokok, karena sudah ada platform dan jejaring alternatif yang jelas untuk acara. Kalaupun motivasinya finansial, ada koperasi yang memberikan dukungan finansial yang jelas. Sehingga tidak ada lagi musisi seperti Logic Lost (teman saya sendiri) yang harus ikut kontes dan acara rokok dengan bayaran miring demi bertahan hidup.

Jika kita sebagai satu kesatuan telah menyediakan platform yang memadai bagi musisi, industri rokok tidak dapat “melahirkan” band in-house lainnya. Kita tidak bisa menjegal .Feast main di Soundsations karena memang sudah kodratnya, dan bayaran mereka pun sudah terhitung layak. Namun, kita bisa mencegah band-band lain dibayar murah di Soundsations karena tidak ada platform lain yang bisa menampung mereka.Tentu, artikel ini tidak akan menjadi solusi otomatis bagi masalah yang kita hadapi. Namun, percakapan ini harus mulai kita perhatikan dengan serius. Berserikat dan berkoperasi adalah solusi yang feasible bagi scene musik independen, dan dapat memperbaiki isu yang menjamur hari ini secara jangka panjang. (*)

Argia Adhidanendra
Dikenal sebagai individu dibalik kolektif noisewhore yang lebih dikenal sebagai promotor band bule level menengah. Sering menulis atau mengeluh tentang industri musik di kehidupan sehari-harinya. Dapat ditemui menulis atau ngomel di kanal-kanalnya sendiri, seperti Jurnal Ruang atau noisewhore. Senin sampai Jumat biasanya fokus menjadi pegawai swasta yang baik.