Kunto Aji: Menyulap Masalah Menjadi Mantra

Foto oleh Fachrio Alhadar
Foto oleh Fachrio Alhadar

Malam itu saya berkunjung ke sebuah pusat perbelanjaan di daerah Tangerang. Sebuah acara bersponsor rokok diselenggarakan di lahan kosongnya. Dengan konsep bus sebagai panggung, acara fokus pada musik “jazz”. Mungkin tidak sepenuhnya jazz, lebih ke jazz dengan elemen pop. Saya datang untuk menemui Kunto Aji. Panggung tersebut merupakan panggung ketiga sekaligus terakhirnya di hari itu. Hari yang panjang dan sepertinya melelahkan baginya.

Penampilannya malam itu tampak kurang maksimal. Mungkin karena acara tersebut adalah panggung kolaboratif antara dirinya, band pemenang dari acara jazz rokok, serta Pusakata (nama panggung dari Is ex-Payung Teduh). Meskipun begitu, Kunto tetap tampil penuh semangat dengan Telecaster warna telur asinnya. Entah mengapa, saya merasakan vibe positif ketika menonton penampilannya. Hal tersebut juga terasa ketika saya menemuinya langsung.

Sudah cukup larut, tapi Kunto menyambut saya dengan ramah. Ia sosok yang hangat. Ia sempat menawari saya beberapa biskuit yang ada di tenda backstage sekaligus nasi Padang, sembari bercanda karena ia sedang mengenakan sebuah kemeja kolaborasi antara sebuah brand lokal dengan rumah makan Padang. Kebetulan, rilisan terbarunya terdengar senikmat suapan pertama Nasi Padang dengan kombinasi tepat ketika perut sedang berisik minta diisi.

Dibandingkan dengan album debut Generation Y, Mantra Mantra merupakan rilisan yang begitu segar di ranah pop lokal. Pada album keduanya, Kunto Aji mencoba untuk bereksplorasi pada musiknya dibantu oleh empat produser yang juga memiliki referensi musikal yang berbeda-beda. Selain itu, dengar-dengar ia mengangkat topik mental health dalam penulisan liriknya.

Didorong rasa penasaran, saya berbincang dengan Kunto Aji mengenai proses penulisan lagu, topik albumnya, serta bagaimana sebuah frekuensi pseudosains mempengaruhi penulisan album Mantra Mantra. Dalam waktu yang cukup singkat, kami mengobrol diselingi oleh beberapa candaan off the record

Kunto Aji meninggalkan kesan yang menyenangkan bagi saya. Sebelum saya meninggalkan tenda backstage, ia memberikan saya bekal pisang segar. Menyesal saya tidak mengambil Astor yang ia cemil selama kami berbincang. 

****

Ada perubahan yang cukup signifikan dari album Generation Y ke Mantra Mantra dari segi produksi, komposisi suara, maupun musik. Selain itu, ada gap kurang lebih tiga tahun. Apa saja yang dilakukan selama tiga tahun tersebut?

Jadi, sebenarnya bukan bermaksud untuk berubah sih. Album kedua itu selalu ada jinx, ada jebakan bahwa musisi selalu ingin naik kelas. Ya kan? Setiap album pasti ingin naik kelas, tapi dari album pertama ke kedua paling bahaya ketika album pertamanya lumayan bisa diterima. Nah, jebakan naik kelas itu adalah ketika kita musisi itu berusaha membuat sesuatu yang lebih. Musiknya lebih ribet atau liriknya tiba-tiba menjadi sangat puitis. Saya sendiri tidak ingin terjebak di situ. 

Kita tidak harus selalu ke atas, kok. Tidak harus menjadi sesuatu yang lebih dari yang pernah kita bikin sebelumnya. Tapi sekadar membikin sesuatu yang jujur saja, sesuatu yang lain. Memang rasa ingin jadi lebih itu manusiawi dan akhirnya gue terdorong untuk melawan kecenderungan itu, sambil mencari apa yang lagi saya rasain sekarang, apa yang bisa saya tulis.

Sampai akhirnya tanpa terasa terjadi perubahan itu. Dan memang bukan pengin naik kelas, toh enggak harus ke atas. Bisa ke samping asal enggak mundur. Kebetulan saja saya orangnya gampang bosan, mau mempelajari sesuatu yang baru dan akhirnya keluar di sini. Memang lagi pengin nulis begini, dengan cara begini.

Album Generation Y terasa lebih pop dan lebih mudah diterima banyak orang. Apa ada rasa ketakutan terhadap eksplorasi yang ada?

Awalnya sih ada. Tapi bukan takut eksplorasinya tidak bisa diterima orang, lebih ke takut eksplorasinya enggak ada meaning-nya. Kalau mau eksplor lagu dan didengarkan lagi besoknya, bisa enggak kelar-kelar. “Wah, kayaknya bisa ditambahin ini,” dan itu baru di proses recording dan pemilihan instrumen, ya. Belum masuk ke mixing. Wah, begini saja deh, akhirnya mastering enggak pernah selesai.

Memang musisi harus tahu kapan kita merasa cukup. Kapan kita merasa “sudah, jangan diobrak-abrik, sudah hidup nih karyanya”. Dan ini akan selalu terjadi seumur hidup ketika kita berkarya. Justru ketakutannya adalah gue eksplor tapi akhirnya meaning lagunya sendiri jadi enggak jelas. Harusnya lagunya meaning-nya begini, tapi musiknya terlalu susah dan ribet jadi hilang lagunya mau ngomongin apa.

Tapi terkadang sebagai musisi walaupun sudah membuat sebuah karya pada akhirnya mungkin ada perasaan enggak pernah puas.

Iya, iya. Dan itu saya pelihara. Itu saya pelihara karena menurut saya itu penting, karena itu yang akan menjadi bahan bakar kita untuk pengin bikin karya lagi. Ketika kita sudah bikin karya yang memuaskan, “Wah ini seratus persen nih, ini gue banget.” Untuk berikutnya pasti akan dibandingkan, pasti akan merasa “gue enggak bisa bikin kayak kemarin.” Pasti akan seperti itu. Menurut saya sih kegelisahan itu, keinginan untuk bisa lebih lagi, justru harus dipelihara.

Di Mantra Mantra terdapat 9 lagu yang memiliki vibe berbeda-beda. Apakah hal tersebut terjadi karena influences yang beragam atau peran serta dari Petra Sihombing, Ankadiov Subran, Anugrah Swastadi, dan Bam Mastro sebagai produser?

Peran produser jelas mempengaruhi warna. Tapi sebelum saya bertemu dengan mereka kan sudah ngobrol, kita juga udah bertukar referensi musik. Cuma kami enggak terpaku bahwa referensi yang kami pakai pasti itu. Memang ada elemen-elemen yang kami ambil, “Wah, enak nih kalau pakai vocoder”, tapi elemen itu sudah biasa dipakai di luar negeri. Intinya, elemen ini menguatkan musiknya atau enggak? Kalau orang yang dengerin musik banget pasti kerasa. Ini nuansanya kayak lagu ini, misalnya, dia bisa bermain dengan referensi yang dia dengar. Walaupun mungkin bukan itu yang gue dengar, tapi pasti ada tuh irisan-irisannya. Cuma yang akhirnya diprioritaskan adalah bagaimana referensi ini menghidupkan lagunya.

Jadi, kami pun enggak memikirkan akhirnya. Begitu sudah jadi lagunya, aransemennya, baru kami dengerin lagi. “Eh, kayak ini ya sound-nya”. Kami lebih ke ngulik sound, cari sound, cari yang masuk.

Bagaimana proses penulisan lagu pada album Mantra Mantra? Baik komposisi lagu maupun penulisan lirik, apakah dilakukan secara bersamaan? 

Ada tiga metode sih sebenernya. Ada yang liriknya dulu, ada yang melodinya dulu, ada yang dua-duanya dan saya pakai tiga-tiganya. Tiap lagu itu seketemunya saja. Ketika saya bikin album itu, pasti turunannya dari tema besar dulu. Tema besarnya apa, kita tulis, terus kita breakdown jadi subtema. Ketika jadi subtema, nanti subtema-subtema ini adalah jangkarnya tiap lagu. Jadi, ketika “Oke, ini mau ngomongin hedonisme nih”, itu subtema yang mau diangkat, misalnya. Lalu kita breakdown tuh, perspektifnya dari mana, segala macam. Jadi, memang pada akhirnya ketemu mana duluan ya tergantung lagunya. Mana duluan yang mau datang ke kepala saya.

Tema besar pada album Mantra Mantra adalah mental health. Anda sempat berkunjung ke beberapa psikolog untuk melakukan riset penulisan lirik. Sebenarnya apa saja yang diperbincangkan dan didapat dari pertemuan tersebut? 

Sebenarnya ke psikolog itu karena memang ada masalah, bukan untuk bikin lagu. Jadi, memang ada masalah lah, masalah keluarga dan lain-lain. Dan kebetulan lagi nulis album. Untuk album ini, gue ingin menggali ke dalam. Maunya lebih personal, lebih pribadi, akhirnya yang keluar begini. “Gue nulis saja deh tentang mental health issues gitu.” Psikolog saya juga enggak tau. Maksudnya pas saya nulis album ini dia juga enggak tahu. Dia tahu setelah albumnya selesai, saya perdengarkan ke dia gitu, “Bu, saya berhasil nulis ini.” 

Tapi beberapa ilmu saya pakai. Misalnya tentang afirmasi positif, terus ada solfeggio frequencies (frekuensi bunyi yang dianggap dapat menyembuhkan tubuh–red), itu juga saya masukin di situ. Memang masih pseudosains sih, tapi enggak ada salahnya kan saya pakai di situ? Jadi, pada akhirnya berjalan beriringan bersama hidup, pas lagi ketemu, pas lagi ada masalah, terus akhirnya yang keluar adalah tema albumnya.

Kemudian fokusnya jadi overthinking?

Iya, karena overthinking adalah salah satu sumber masalahnya dan termasuk masalah utama yang saya punya. Jadi, akhirnya saya embrace saja, karena itu bisa jadi kekurangan dan kelebihan juga.

Beberapa media mengangkat album Mantra Mantra sebagai sebuah album mengenai mental health. Bagaimana mempertanggungjawabkan embel-embel tersebut? 

Sebenarnya gini, mental health itu kan isu album secara keseluruhan dan besar, jadi memang lagu-lagu di album itu sendiri tidak membicarakan tentang masalah klinis gitu. Lagu yang istilahnya solfeggio frequency itu kan tujuannya memang ada yang menguras emosi, ada yang repair DNA, ada yang untuk memperbaiki hubungan spiritual, dan sebenarnya itu kan pseudosains. Cuma ya saya coba, ternyata memang itu biasa dipakai di ESQ juga. 

Ternyata memang pas dengerin, ada yang nangis juga. Makanya saya merasa berhasil. Berarti riset saya berhasil. Awalnya sih sebenarnya saya enggak mau ngomongin masalah mental health karena kesannya berat banget. Tapi akhirnya ketika saya sadar ini bisa membantu orang, ya enggak apa-apa. Sekalian isinya tentang mental health, karena pada akhirnya lagu-lagu di album ini banyak membantu orang. Saya pengin ketika tema tentang ini diangkat, banyak orang yang punya masalah, pengin mendengarkan album ini. Karena Mantra Mantra sendiri kan maksudnya adalah self-mantra, apa yang biasa saya katakan ke diri saya sendiri ketika sedang ada masalah, sedang punya pikiran yang kusut.

Jadi, sebenarnya Mantra Mantra itu lebih seperti kisah kehidupan sehari-hari?

Iya. Akhirnya ketika menjadi lagu tuh saya membahas permukaannya. Enggak yang seberat itu. Karena pengennya bisa dicerna dulu, karena kalau terlalu berat enggak bisa dicerna. “Oh ngomongin tentang ini, oh kena.” Itu yang paling penting kalau menurut saya sih, kekuatan musik bisa segitunya. Bisa memperbaiki hubungan orang, bisa memperbaiki emosi orang, sekuat itu.

Apa Anda sendiri merasakan hal tersebut ketika mendengarkan sesuatu? 

Pernah sih. Karena pas waktu riset juga saya dengerin solfeggio frequency dan saya merasa ada sesuatu di situ. Makanya akhirnya saya pakai di album ini karena tubuh kita delapan puluh persen terdiri dari air dan air itu terpengaruh oleh gelombang. Musik itu kan frekuensi gelombang. Saya percaya, ini ada sesuatu nih. Bisa nih dipakai, sampai akhirnya saya masukkin di album.

Sekarang ini bahasan mengenai mental health sedang cukup naik dan orang-orang mulai terbuka untuk membicarakannya.

Sebenarnya salah satu visi misinya album ini adalah untuk menggalang awareness tentang isu mental health, biar orang-orang enggak takut ke psikolog karena takut dibilang gila, atau takut ke psikolog karena takut harganya mahal. Karena pemerintah sebenarnya sempat bikin hotline untuk sekadar telepon ngobrol. Tapi akhirnya tutup gara-gara enggak ada yang pakai, akhirnya enggak bisa ditelepon. Berarti awareness-nya kurang kan karena orang sini menganggap isu mental health bisa disembuhkan dengan kata-kata positif. Maksudnya, memang dengan teman ngobrol bisa sih, tapi yang parah juga butuh tenaga profesional.

Saat isu mental health sedang cukup marak dibahas. Bagaimana menanggapi anggapan bahwa Mantra Mantra ditulis karena isu mental health sedang naik?

Enggak apa-apa sih. Kalau anggapan kayak gitu sih enggak masalah buat saya. Karena ini memang ditulis berdasarkan pengalaman saya pada saat ini. Dan ditulisnya juga bukan tentang isu yang lain seperti kasus bunuh diri, karena saya juga enggak sampai ke sana. Lebih ke tentang depresi, dan lain-lain; sebelum bunuh diri terjadi. Keinginan bunuh diri sudah jelas butuh bantuan. Tapi, orang belum aware soal depresi. Kayak “Halah, paling begini saja.” Digampangin. (*)

Anida Bajumi
Anida Bajumi berusaha membuat dirinya sibuk dengan label rekaman independennya, Ordo Nocturno, sambil menyalurkan emosi bersama Dental Surf Combat dan Amerta. Sejak kecil ia dikelilingi oleh kematian yang membuat dirinya mengulik budaya setelah kehidupan. Jika bosan, ia terpaksa menulis. Bisa ditemui di kedai ayam goreng atau kuburan terdekat.