Mas Gufi: “Kalau Sampai Berantem, Aku Berhasil”

Foto oleh Eandaru Kusumaatmadja
Foto oleh Eandaru Kusumaatmadja

Kalau kata notorious bisa digunakan untuk menggambarkan seseorang, barangkali Gufi-lah orangnya. Pria bernama asli Adi Adriandi ini adalah salah satu manajer band, pengorganisir konser, dan penggerak scene paling konsisten di Yogyakarta. Pada awal 2000an, ia turut mendirikan Kongsi Jahat Syndicate, kolektif dan pengorganisir konser yang sempat jadi salah satu penyelenggara konser independen paling dicari-cari di Yogyakarta. Sebagai manajer Frau, ia pun salah satu sosok penting di balik melejitnya solois tersebut.

Konser-konser yang ia adakan terkenal karena kualitas produksinya yang mumpuni, baik dari segi konsep, artistik, maupun tata suara. Pada 2016, ia mengadakan konser “Tentang Rasa” untuk Frau di Gedung Kesenian Jakarta (GKJ). Selagi Frau memainkan repertoarnya dengan tata suara yang rapi betul, parfum aneka aroma disemprotkan ke ruangan dan penonton disuguhkan minuman serta makanan ringan untuk menstimulasi semua indera. Ketika ia mengorganisir konser “Tanah + Air” dari Senyawa di GKJ lagi, ia menyesuaikan tata lampu dan visual dengan tema lagu Senyawa yang selama ini tidak banyak dipahami publik.

Gufi pun memiliki reputasi sebagai sosok yang tegas, garang, dan tanpa kompromi saat bekerja. Bahkan pernah ada teman yang berkelakar, “Kalau ada band indie mau konser ke Yogyakarta, mereka harus pergi ke Indra Menus atau ke Mas Gufi.”

Kami bertemu larut malam di rumahnya, lantas berdiskusi tentang konser yang ideal, nyaris ditusuk vendor, serta reputasinya yang mencekam.

****

Jadi, apa kabar Kongsi Jahat?

Sebenarnya Kongsi Jahat itu antara ada dan tiada. Kami sudah jarang bikin acara anak-anaknya sudah hidup di dua kaki yang berbeda. Identiknya jadi lebih ke personal, ke aku dan Ojie (Rahardianto, kakak Gufi sekaligus salah satu pendiri Kongsi Jahat–red). Kami gerak sendiri dan sudah jarang bikin acara yang atas nama Kongsi Jahat, mungkin terakhir tahun 2015. Sekarang aku jarang bikinin acara untuk orang lain karena standarku sudah naik dan itu harganya mahal. Kalau dulu kan yo wis, senang-senang saja, punk saja, tapi sekarang sudah harus move on. Bikin kesenangan baru, kami eksperimen dan bandnya juga. Aku sudah enggak mau bikin acara yang pokoknya jadi.

Kalau kamu mau berusaha bikin acara bareng aku, kamu harus siapkan energi yang sama dulu. Kalau energi antara aku dan bandnya enggak sama, maka enggak akan ketemu. Aku dan Menus (Indra Menus, pendiri YK Booking–red) tahu porsi kami masing-masing. Dia memilih bikin YK Booking untuk mengakomodir gigs yang memang tanpa sponsor dan tanpa imigrasi, sebenarnya ilegal secara birokrasi. Aku mau kembangin band yang mau bikin suatu pertunjukan yang keren, yang masih klik di pikiran orang.

Ketika orang pulang mereka enggak cuma mengingat bahwa yang nonton rame dan sing along. Tapi ada eksperimen lain yang bawa bekal untuk penonton. Kesannya memang sok, tapi kalau dijalankan ya biasa saja.

Bagaimana proses mas dalam menjalankan sebuah show?

Misalnya, di konser “Tanah + Air”-nya Senyawa di Gedung Kesenian Jakarta, tempat itu enggak diapa-apain juga sudah artistik. Cuma bagaimana kita mainkan lighting, tata panggung, dan kombinasikan dengan musiknya supaya show management-nya oke. Aku sampai ngobrol dengan Senyawa, lagumu ada berapa? Aku minta songlist dia, minta dia cerita soal tema lagunya, habis itu dia latihan. Baru aku bisa gerak mikirkan artistiknya dan narasinya di panggung nanti seperti apa.

Lalu, aku ngobrol dengan orang lighting, bilang lampunya mau kayak wayang. Tim produksi latihan sesuai dengan set yang ada di GKJ, meski skalanya tidak 1 banding 1. Baru kemudian kolaborasi dengan floor area untuk di Jakarta nanti. Aku ajak Feri dari G Production untuk bantuin, mereka yang paham soal media dan jualan. Jadi, dari sisi komersial aku sudah enak karena aku cuma jualan konsep.

Aku memang lebih condong ke acara-acara spesial yang mungkin tidak akan dilakukan lagi. Contohnya, Sisir Tanah pas launching album WOH  kemarin. Coba kamu tanya, apakah dia bisa bikin lagi yang persis seperti itu dengan tata lampu dan sound seperti itu? Belum tentu bisa. Energinya mungkin berbeda. Buatku, energinya memang harus spesial. Kita sudah mengeluarkan uang dan energi yang besar, berarti harus total. Konser tunggal band kan terhitung jarang, yang banyak adalah diundang oleh brand untuk ikut konser.

Kalau begitu saja sih gampang, band tinggal minta disponsorin lalu disediakan semuanya. Tapi bagaimana caranya bikin sesuatu yang bisa dijual dan sponsornya bagus, tapi tidak mengganggu artistik di panggung?

Itu yang sulit, ya.

Sekarang tinggal gimana posisi tawarnya. Sejauh ini sedikit yang mengamini aku secara komersial. Mana ada brand yang mau dia enggak boleh masang logo gede-gede di panggung. Tapi justru ketika visi artistik itu mentok dengan kebutuhan komersil, aku bisa bantu mewujudkan. Ayo, kita kerja bareng. Tapi tetap mau dilakukan enggak?

Buatku ini kayak investasi. Kamu keluar duit seratus juta untuk bikin konser yang keren, setelah itu kamu nyayur (istilah khas Gufi, maksudnya meraup keuntungan–red). Contohnya, Stars & Rabbit, setelah aku bikinin konser di Societet Militair mereka langsung ambil keuntungan. Orang datang, lihat mereka bisa sebagus itu, energinya besar dan dikerjakan secara baik, ya sudah. Makanya konser “Tentang Rasa” Frau bisa diadakan tiga kali karena kami punya energi yang tinggi.

Dengan konsep yang sama, konser itu bisa diputar ke mana-mana asal ada ruangan indoor. Evolusinya kan bagaimana seterusnya konsep seperti itu bisa dilanjutkan terus.

Kita belum sampai ke level di mana konsep spesial itu bisa diulang berkali-kali?

Sebenarnya di sini pemasukan dari tiket sudah cukup untuk menutup biaya produksi, tapi untuk memodali bikin lagi agak susah. Kalaupun ada yang memodali, kita harus berkompromi dan itu kadang tidak sesuai dengan tujuan awal konsernya. Buatku enggak masalah, itu lebih ke pilihan. Menurutku orang bikin acara dengan brand itu pilihannya, kalau kamu enggak bisa ya jangan nyinyir. Kamu pengin, tapi enggak diajak.

Kamu enggak bisa dapat cuan dengan caramu di zaman kapitalis ini. Mau enggak mau kamu harus ikutin kapitalis. Kalau mau hidup di hutan ya enggak apa-apa, kamu komitmen di sana. Tapi jangan mengeluh kalau kamu enggak makan enak. Sebetulnya semuanya pilihan, cuma kadang pilihan digelapkan sama alasan ideologi.

Jadi, harusnya santai saja. Contohnya, Frau sejak 2011 enggak mau main di acara brand rokok. Alasannya sebenarnya sepele, dia cewek dan enggak merokok. Selain itu, image dan musiknya enggak sesuai dengan rokok. Sesimpel itu. Tapi yang berkembang kan Frau itu antirokok, ya sudah. Mau dibayar berapa pun dia enggak akan mau. Sebenarnya aku sebagai manajernya mau-mau saja, namanya juga cuan. Tapi sudah terpentok sama prinsip yang enggak bisa dilawan. Dalam konteks itu dia mengambil pilihan, tinggal bagaimana konsekuen saja.

Kalau kamu enggak mau main di acara rokok karena bayarannya kecil, berarti salah dari dealing­-nya. Semisal enggak cocok ya tolak, jangan diiyain tapi menggerutu. Kalau sudah bicara dengan brand, sudah bicara profesionalisme. Tapi kan orang enggak bisa sefrontal itu. Ngomongnya sama teman, akhirnya menjaga teman demi sebuah acara yang sifatnya profesional. Itu enggak bisa. Itu harus dilawan.

Kadang garis batas antara profesionalisme dan teman itu tipis?

Ada kejadian seperti ini. Frau konser di tahun 2013, pintu ditutup jam 19:45 dan sudah kuumumkan. Temanku datang jam 20:10, bawa teman orang Malang. Enggak boleh masuk dong? Dia ngomel di media sosial. Lah piye, yang salah siapa? Sudahlah, kamu kan kenal aku, ayo ketemuan. Dia balasnya jangan dibahas, nanti jadi bahan publik. Lho, kamu nge-tweet itu sudah jadi bahan publik. Ayo ketemu, kalau mau tiketnya kukembalikan, aku kembalikan. Kamu mau nonton di belakang FOH (front of house), ayo silakan.

Akhirnya ketemu, ampun-ampunan, dan sampai sekarang enggak mau urusan sama aku. Aku enggak masalah yang kayak begitu. Aku enggak punya teman karena memperjuangkan hal yang ternyata salah buatku. Aku kenal kamu, ada urusan, tapi kalau secara profesional enggak bisa urusan, ya sudah. Teman main, teman nge-band, dan teman kerjaku beda semua.

Saat diwawancarai Qubicle dulu, Mas sempat bilang kalau lagi mencari “Gufi-Gufi baru”, tapi sejauh ini “enggak ada yang kuat tak cangkemi (aku omelin).” Itu bagaimana maksudnya?

Aku kan terkenal keras, sampai pernah mau ditusuk pisau sama vendor. Posisinya aku benar secara profesional, tapi aku melawan aturan kota. Aku melawan kebiasaan buruk di tempat itu.

Jujur saja, sejauh ini fokusku bukan cuan. Serius. Jika secara produksi dan show pertunjukan itu berhasil, ya sudah. Terakhir anak-anak Grrrl Gang bilang mereka mau naik kelas, mau bikin konser tunggal yang proper. Aku bantu carikan vendor-nya, aku bantu bikinin acaranya. Seterusnya kami bahkan jadi sering ngobrol soal alat yang sebaiknya mereka pakai, soal sound yang mau mereka kejar, dan bagaimana mereka mengelola Grrrl Gang sebagai band. Urusan hak cipta mereka, gimana mereka dealing dengan brand. Akhirnya ada proses tukar pikiran itu.

Tapi untuk mencari calon Gufi baru…

Sebenarnya enggak susah. Yang susah itu melawan saya. Karena saya memang orangnya cangkeman, mulutnya ke mana-mana dan kadang bikin orang sakit hati. Kalau orang yang bekerja dengan saya baper, selesai. Kamu boleh tanya ke teman-teman saya, ketika acara selesai kita ketawa-tawa lagi. Tapi pas acara, tak pisuh-pisuhi! (aku sumpah serapahin–red). Pernah ada yang marah sama saya, kalau enggak salah pas Indonesian Netaudio Festival. “Kamu biasa saja dong, ini acara anak-anak, bukan acara EO.” Tapi ini acara, kan. Setelah acara ya baru kita ketawa-tawa bareng.

Ketika ada yang jadinya marah, nyinyir soal aku, aku aminin. Enggak apa-apa, aku senang karena diperhatikan. Ada yang bilang acaraku jelek, ndeso, oke coba kamu bikin acara. Aku tunggu. Ketika aku megang jadi program director FKY (Festival Kesenian Yogyakarta) mulai 2014-2017, aku bertemu orang banyak yang kepentingannya banyak. Aku bikin tim yang baru dengan treatment yang berbeda juga. Panitia itu bisa belajar di sana selama satu bulan, dan lama kelamaan bisa.

Seterusnya mereka bikin sendiri dengan treatment dan caranya. Salah satunya yang sekarang ada di scene ya Akbar dari Terror Weekend dan Grrrl Gang. Dulu dia anggota FKY, jadi kru panggung. Dia sudah hafal kalau kumarah-marahin itu seperti apa. Memang teman-temannya sempat baper sama aku, tapi setelah itu yowes. Acara selesai. Duniawi kok, fana.

Bagaimana perlakuan Mas kalau ketemu orang yang sama sekali “hijau” dalam mengorganisir acara?

Kalau kamu ketemu aku dan kamu bilang kamu mau belajar, itu salah. Harusnya kamu datang dan bilang, “Mas, aku bikin kayak begini, apa kurang dan lebihnya?” Kamu enggak bisa belajar ke aku. Aku bukan guru. Aku bisanya jalan bareng saja. Ketika ada yang datang ke aku, harusnya dia sudah tahu pekerjaanku apa dan treatment-ku seperti apa. Kalau dia baper karena aku cangkeman, berarti dia enggak tahu aku sedalam itu. Ya sudah.

Misalnya, aku daftar ke band sebagai pemain bass, aku enggak mungkin tanya gimana cara nge-bass yang benar. Kalau begitu caranya, artinya aku enggak bawa bekal. Aku harusnya tanya kalau mau dapat sound kayak begini enaknya beli efek yang gimana? Kalau mau sound yang tebal harusnya pakai kabel apa? Diskusinya harus lebih jauh.

Kalau kamu masuk sebagai staff, ya sudah jadi robot saja dulu. Lakukan apa yang ada di SOP dan kalau sudah beres semua barulah eksplorasi. Kadang ada anak yang SOP saja belum beres tapi sudah mau macam-macam. Aku enggak bisa. Beresin dulu dasarnya, baru eksplor.

Aku masih penasaran dengan omongan mas di awal. Energi mas dan band tersebut harus sama dulu, baru mau mas bikinkan konsernya.

Kadang ada yang bilang, “Guf, aku punya uang sekian ratus juta, tolong bikinkan event yang keren.” Tapi ekspektasi dan realitanya pasti berbeda karena energinya belum sama. Kalau energinya sudah sama, mau duitnya habis dua milyar pun enggak masalah. Aku enggak bisa bikinin acara yang mendatangkan orang, aku bisanya bikin acara yang sesuai ekspektasi. Kalau kamu mau acara yang mendatangkan massa, harusnya kamu ke agensi. Tapi kalau kamu mau bikin sesuatu yang beda, ayo kita ngobrol.

Ketika band datang ke aku, berarti dia harusnya sudah tahu dia maunya apa. Dia sudah tahu acara yang kubikin biasanya seperti apa. Jadi, baik band maupun pengorganisir punya tugasnya masing-masing, tapi sama-sama jadi pengonsep. Setiap personel band pasti punya keinginan masing-masing dan tugasku adalah mensinkronkan keinginan mereka. Energinya terlihat ketika kami berdiskusi. Mereka sampai mau berantem sama aku enggak untuk mempertahankan substansi acaranya?

Kalau sampai berantem?

Berarti aku berhasil. (*)

Raka Ibrahim
Pernah melanglang buana di beberapa LSM sebelum mendirikan zine musik Disorder. Tulisannya tentang musik, budaya, politik, dan kesehatan masyarakat dapat ditemukan di Asumsi.co, Pindai, Indoprogress, dan Jakarta Beat. Ia juga pernah menulis buku fiksi.