Menggugat Seksisme di Scene Kami

Foto oleh Achmad Soni Adiffa
Foto oleh Achmad Soni Adiffa

Artikel ini pertama terbit pada 30 Januari 2019. Sebagian isi telah disesuaikan dengan peristiwa terkini.

Satu waktu, saya dan band hardcore punk saya tampil di sebuah acara yang digelar oleh kolektif kawan saya guna mendukung tur dua band mantap asal Jogjakarta. Kami diberitahu kalau sebuah media UKM dari Universitas di Tangerang akan mewawancarai beberapa band yang tampil hari itu, termasuk band kami. 

Ketika giliran kami tiba, wawancara dibuka dengan beberapa pertanyaan standar yang sebenarnya sudah ada jawabannya jika kalian tidak malas mengetik nama band kami di Google. Kami tanggapi dengan hangat karena mungkin mereka juga masih belajar. Lucunya, perasaan saya mulai tidak enak ketika pewawancara bilang kalau pertanyaan berikutnya ditujukan untuk saya seorang.

“Band kalian kan unik nih, ada perempuannya…” 

Unik, katanya. Mungkin saya terlihat seperti ondel-ondel yang sedang joget di dalam gedung kantor mewah kawasan SCBD ketika sedang bermain bass di atas panggung. Pertanyaan lainnya seputar perasaan saya sebagai satu-satunya perempuan di band, jarangnya perempuan yang tergabung dalam grup musik bergenre ‘keras’ sejak dulu (Sejak dulu? Lucunya saat itu gitaris saya sedang menggunakan kaos Germs, band punk asal LA yang terbentuk tahun 70an dan memiliki personel perempuan), dan pengalaman seksis yang pernah saya terima.

Satu hal yang lebih menggelitik dan ironis, pewawancara adalah seorang perempuan. Sepertinya mereka memang belum memiliki kesadaran dan wawasan akan hal tersebut makanya kami coba memberikan sedikit edukasi. Saya sempat menjawab “Enggak penting gendernya, musiknya aja yang didengar.” 

Bukan main kesalnya ketika saya membaca hasil wawancara tersebut. Banyak kutipan yang memang saya ucapkan, namun rasanya seperti ditulis begitu saja tanpa diserap dan dipahami. Saya sampai bingung, apakah yang saya bilang ke mereka kurang jelas perihal memisahkan gender dengan musik? Sudah bilang begitu saja, judul artikelnya masih menekankan “bassist perempuan.” Beberapa kali juga ditulis kalau saya mengalami perlakuan seksis tanpa menyadari kalau artikel itu sendiri, uhm, seksis. 

Dipikir-pikir, mau tidak mau sepertinya musisi perempuan harus terus-menerus speak out mengenai pengalaman dan perasaannya agar orang-orang bisa paham bahwa seksisme di industri musik itu nyata dan sering terjadi. Mungkin itu cara termudah untuk mengedukasi publik. Perilaku seksis mungkin bisa hilang kalau semua mewajarkan apa yang dianggap nggak biasa. Jika hal tersebut terjadi, ekosistem akan terasa sangat nyaman. Tapi kapan, ya?

Sebagai seorang musisi, saya mengakui bahwa skill saya jauh dari baik. Saya memang masih perlu banyak belajar. Namun, mengapa respon yang saya dapat dari publik lebih fokus pada penampilan fisik, seperti tidak pernah melihat perempuan yang bermain musik? Baik, terima kasih banyak. Namun, yang saya permasalahkan di sini adalah dalam konteks bermain musik, saya ingin berkembang. Pujian fisik tidak akan membuat saya handal bermain bass dalam sekejap. Walau positifnya, berbagai respon tidak penting membuat saya berlatih keras untuk membuktikan bahwa saya bukan hanya pajangan di band, bukan sekadar the girl in the band.

Semakin hari, komentar-komentar tersebut semakin menyebalkan. Sulit memang menghilangkan stigma publik, apalagi ketika berada dalam suatu scene yang didominasi oleh laki-laki. Satu suara tidak pernah cukup. Tidak jarang perempuan dianggap sebagai gimmick, objek, atau hanya pemanis dalam band.

Upaya Dianggap Serius

Tentunya kejengkelan ini tidak saya rasakan sendiri. Angeeta Sentana dari Grrrl Gang merasakan hal yang serupa. “Umpan balik yang sebenernya aku butuhkan itu soal gimana aku nulis lagu, bisa berupa pujian atau kritik yang konstruktif,” ujarnya.

Angee tidak menyalahkan orang-orang yang terus memuji penampilan fisiknya karena separuh hidupnya ia pakai untuk berjuang melawan kepercayaan dirinya yang rendah. Namun, baginya lebih baik jika orang-orang memberi tahu kalau ia sudah menulis lagu yang layak. Toh,  separuh waktunya ia tumpahkan untuk menulis lagu dan terus ia kembangkan. Yang menyedihkan, ia sampai sempat berpikir apakah orang-orang masih akan mendengarkan lagu-lagunya jika ia tidak cantik.

Di Samarinda, grup noise Sarana terus berjuang di ranah yang didominasi laki-laki dalam jumlah besar. Sabrina Eka Felisiana dan Annisa Maharani sering mendapatkan omongan negatif. “Kita dibilang kalau cuma dikenal karena cewek, padahal mainnya biasa aja,” kata Sabrina, “erus kalau main di acara-acara selalunya dikira hasil ‘nyepik’ salah satu orang dari acara itu. Padahal pengennya cuma diapresiasi karena karya kita, bukan karena kita cewek.”

Menurut Sabrina, respon publik seharusnya biasa saja. “Enggak usah mandang negatif ataupun merespon berlebihan karena kita perempuan, bukan karena apa yang kita hasilkan.” Tidak hanya respon dari orang-orang sekitar, terkadang media juga membesar-besarkan gender dibanding karya yang mereka buat. “Gender dan wilayah (yang selalu dibahas). Jarang banget yang bahas soal musik.” Ujar Annisa. “Harusnya normal aja. Ngeliat Sarana itu dari karyanya, bukan dari siapa yang ada di dalamnya.”

Mirisnya, hal seperti ini tidak hanya dirasakan oleh perempuan di scene musik lokal. Tahun lalu, Dean Guitars, sebuah brand gitar, dikritik usai menggunakan model pakaian dalam untuk mempromosikan gitarnya di NAMM 2019 (sebuah bazaar jual-beli alat musik di Amerika Serikat). Keputusan Dean Guitars sempat ditanggapi dengan keras oleh Serena Cherry, gitaris dan vokalis band metal Inggris Svalbard.

“Sadarkah kalian susahnya menjadi gitaris perempuan untuk dianggap serius di industri ini?” Tulis Serena. “Sadarkah kalian ketika kami naik ke atas panggung, kami harus bekerja 30 kali lebih keras untuk membuktikan diri kami karena adanya persepsi abadi yang tidak berdasar bahwa kami tidak bisa bermain dengan baik? Sadarkah kalian ketika kami bermain gitar dengan baik, kebanyakan orang akan lebih mengomentari penampilan kami dibandingkan kemampuan kami? Sebagai musisi, kami selalu diragukan dan dianggap kurang.”

Menurut Serena, ketika Dean Guitars merekrut model pakaian dalam untuk mempromosikan alatnya, mereka berkontribusi besar pada masalah yang selama ini dirasakan perempuan. Mereka menciptakan kesan bahwa seorang musisi perempuan hanya bisa dilihat dari sex appeal-nya, bukan dari bakat bermusiknya. Kultur inilah yang dihadapi banyak musisi perempuan, termasuk Serena. Sepanjang kariernya, ia kerap menerima komentar bahwa ia tidak mungkin bisa bermain gitar karena perempuan tidak bisa bermain alat musik.

Faktor lain tentu saja adalah peranan media.  Pada artikel Noisey yang ditulis oleh Lauren O’Neill dengan judul “’Women In Rock’ Is Dead; Long Live Women In Rock”, ia mengkritik kecenderungan media yang terus-terusan meletakkan musisi perempuan dalam satu kotak yang sama. 

O’Neill mempersoalkan kecenderungan media musik menggadang-gadang band seperti Snail Mail dan Soccer Mom sebagai “satu angkatan baru” musisi indie rock perempuan. Padahal jelas-jelas tiap band (yang kebetulan punya personel perempuan) tersebut memainkan musik yang jauh berbeda. “Saya perempuan dan gay, tapi keduanya tidak menjadi alasan mengapa saya mulai bermusik. Saya hanya melihat diri saya sebagai penulis dan musisi,” jelas Lindsey Jordan dari Snail Mail dalam artikel tersebut. Benar, terlahir perempuan tidak pernah menjadi alasan mengapa saya ingin terjun ke dunia musik.

Bisa dibilang, media adalah wadah yang paling mudah diakses khalayak untuk mendapatkan edukasi mengenai kesetaraan yang seharusnya didapatkan perempuan di scene musik. Namun, kerap kali media lokal maupun internasional terlalu fokus pada embel-embel musisi perempuan dan secara tidak langsung meneruskan mindset bodoh tersebut.

Bukan kejutan bahwa mindset tersebut dilahirkan, dirawat, dan disajikan oleh gatekeeper di scene yang mayoritas lelaki. Cinta Marezi, bassist dari band Peonies, sempat menuliskan keluh kesahnya menjadi musisi perempuan di scene musik Jakarta. Menurutnya, seringkali muncul pemikiran bahwa personel perempuan dalam suatu band sedang “dijual” untuk popularitas. Lucunya, pernyataan tersebut diakui oleh teman sebandnya, Jodi. Menurutnya, personel perempuan akan memberikan daya tarik lebih bagi suatu band.

Pada artikel tersebut, dijelaskan bahwa walaupun ia menyetujui pernyataan tadi, Jodi tidak semata-mata melihat perempuan sebagai aspek utama, tapi juga melihat dari segi kualitas dan selera pribadinya. Kemudian Cinta menambahkan, “Hal ini menjadi sebuah kritik besar dari para feminis Marxis-Sosialis yang menganggap perempuan adalah komoditi dari sebuah kapital. Artinya, perempuan hanyalah korban untuk dijual dari para pemilik label yang dikuasai  laki-laki untuk menciptakan keuntungan sebesar-besarnya.”

Menjadi One of the Boys

Saya pernah mengalami peristiwa serupa, hanya saja tidak se-”beradab” interaksi Cinta dengan rekan seband-nya. Suatu ketika, saya baru saja selesai tampil di suatu gig. Kontan, MC pada acara tersebut berkata “Wah, mantep nih bassistnya sensual banget gayanya!” Halo, saya baru selesai manggung, kenapa tidak mengomentari musiknya saja? Lebih menyedihkan lagi, kalimat tersebut keluar dari mulut seseorang yang bisa dibilang adalah tokoh yang cukup terpandang di scene musik independen nasional.

Ketika seseorang dengan power di scene mewajarkan gagasan bahwa perempuan cuma jadi objek di atas panggung, apakah sekumpulan orang yang mengidolai beliau juga akan berperilaku serupa?  Jika pelaku-pelaku kancah didominasi oleh laki-laki dan mereka terus-terusan berpikir seperti ini, sampai kapan perempuan terus merasa tertekan karena harus membuktikan bahwa dirinya mampu berkali-kali lebih keras? Atau memang sampai kapanpun, perempuan dalam musik akan selalu menjadi hal yang dianggap luar biasa dan jadi daya tarik tersendiri?

Menanggapi kemungkinan ini, musisi Danilla Riyadi memilih untuk tak mengambil pusing. Ia sudah sering mendapat komentar miring tentang fisiknya oleh publik. Obrolan mengenai musiknya tenggelam oleh komentar macam “gendut” atau “cantik banget ya Allah”.

Bagi Danilla, hal tersebut adalah bonus. “Mau di mana dan sebagai apapun kita, pasti akan ada orang-orang yang mengomentari fisik kita (baik ataupun buruk), dan itu sudah terjadi sejak dulu,” tuturnya. Danilla juga memilih bersikap diplomatis: hanya mendengar komentar yang dia mau saja. 

Dia bakal terus berkarya sebanyak-banyaknya tanpa memedulikan komentar orang lain. ““Kalau sebagian dari mereka tidak habis-habis jejelin aku sama komen-komennya, maka aku juga enggak akan habis-habis jejelin karya aku sama mereka.” Respon Danilla simpel: balas pakai karya. Fakta bahwa Danilla tidak merasa tertekan memang luar biasa. Namun, apakah sikap seperti ini benar-benar menyelesaikan masalah? 

Musisi perempuan bisa saja mencoba membalas dengan karya. Namun, jika gender dan penampilan fisik terus dijadikan sorotan oleh media, dijadikan bahan lelucon oleh dedengkot scene, dan jadi gimmick di mata warga,  musisi perempuan akan terus berusaha ekstra keras untuk mendapat apresiasi dan kritik yang sewajarnya. Musisi yang sudah sebesar dan sematang Danilla dari segi kekaryaan saja masih menghadapi persoalan seperti ini. Apa kabar musisi-musisi muda yang baru mulai berkarir?

Danilla bukan satu-satunya musisi perempuan yang merasa bahwa seksisme dalam scene tak usah dikonfrontir secara terang-terangan. Pada tahun 2014, Mariel Loveland dari band Best Ex (sebelumnya Candy Hearts) menulis artikel berjudul “How to Survive Being the Only Girl in a Band.” Sekilas artikel tersebut terlihat menarik dan menjanjikan. 

Ia membuka tulisan dengan bilang: “I will preface this article by saying that I am a feminist.” Hmm, baik? Semakin dibaca, tulisan tersebut semakin problematis. Maksud Mariel baik: ia berusaha untuk mengisahkan pengalamannya sebagai perempuan satu-satunya dalam band. Akan tetapi, ia terkesan menurunkan kepentingan pribadinya sebagai seorang perempuan agar tetap terlihat menjadi ‘the cool girl’ atau ‘one of the boys’. 

Sederhananya, ia mewajarkan banyak persoalan yang memang bermasalah. Dalam salah satu bagian paling gahar, ia bilang karena personel laki-laki “bisa kencing di botol Gatorade” saat dalam perjalanan, personel perempuan pun harus belajar kencing di tempat umum dan dalam posisi tak aman supaya tidak merepotkan satu band.

Allison Crutchfield (Swearin’, P.S. Eliot) menulis kritik atas artikel tersebut dan meminta pendapat dari musisi lainnya seperti Meredith Graves (Perfect Pussy), Sadie Dupuis (Speedy Ortiz), dan Rachel Browne (Field Mice). Menurut Meredith, artikel tersebut bermasalah karena diterbitkan atas nama feminis dan komunitas, namun ditulis seperti daftar cara untuk menghindari hal-hal yang tidak nyaman ketika dikelilingi lelaki cis. 

Padahal, seharusnya setiap personel band saling menghargai kepentingan dan kebutuhan masing-masing. Mariel seharusnya bisa menyuarakan haknya untuk berhenti di toilet umum dibanding buang air di balik tempat sampah ketika sedang tur.

Sebagai perempuan, lebih tepat jika Mariel mengajari satu sama lain untuk terus explore dan mengembangkan kekuatan dibanding sekadar menerima kelemahan masing-masing. Salah satu poin yang Mariel tulis adalah ‘Stop giving a fuck’. Menurut Mariel, sebaiknya kalian berhenti untuk peduli apa kata orang lain, serupa dengan apa yang Danilla lakukan. 

Pernyataan tersebut ditanggapi oleh Shannon Le Corre (The Two Funerals, Gertrude Atherton) melalui artikel Alison. ‘Hal yang saya pelajari setelah bertahun-tahun tergabung dalam band dan menjalani tur adalah, sudah seharusnya kalian terus peduli.” Toh tidak semua orang punya tongkrongan yang bisa jadi bekingnya selagi mereka sibuk berusaha “membalas dengan karya.”

Pada artikel, Mariel juga menulis soal bagaimana semua perempuan ada dalam satu tim dan seharusnya kita santai saja. Mana bisa santai, bos! Menurut Alanna Mcardle, menyuruh perempuan di dunia musik untuk santai dan enggak menganggap masalah ini serius justru malah bertolak belakang dengan pengalaman yang terjadi sebenarnya. Belum lagi, perjuangan yang dialami perempuan di musik berbeda-beda.

Pada akhirnya, menunjukkan kepedulian dan kesadaran menjadi tanggung jawab perempuan untuk mendukung dan memberdayakan satu sama lain untuk melawan ekosistem yang busuk. Tentu saja, cara termudahnya adalah dengan saling membantu dan bersuara. Jika terus tak acuh, akan semakin sulit bagi perempuan untuk mendapatkan posisi yang setara. Perempuan yang berkarya akan terus dianggap remeh dan tidak serius.

Seharusnya scene musik lokal menjadi ruang nyaman yang mendukung dan mengapresiasi siapapun yang terjun di dalamnya tanpa ada pembagian jenis kelamin. Menurut Angeeta Sentana, misalnya, musik seharusnya menjadi worldwide thing, siapapun bisa bermain dan mengekspresikan dirinya.

Pada Mei 2017, segerombolan perempuan, queer, trans, dan non-binary yang menggemari heavy metal berkumpul dan membentuk suatu komunitas lintas negara bernama Sycamore. Selain karena terikat dengan musik kesukaan masing-masing, mereka pun bersatu karena memiiki pengalaman yang sama: Mereka berkumpul karena rasa terikatnya dengan musik kesukaan masing-masing. Di saat yang bersamaan juga karena pengalaman yang sama; tidak dianggap serius dan diremehkan. 

Mereka bersatu dan terus mengembangkan komunitasnya agar pencinta metal yang terpinggirkan bisa terlihat dan dianggap. Mereka merilis zine yang isinya berisi pengalaman atau berbagi tips bermusik. Linnea Olsson dari The Oath dan Grave Pleasure pun turut berkontribusibagi pengalamannya. Zine tersebut benar-benar bercerita mengenai sulitnya menjadi perempuan di scene musik. Kesimpulan mereka bikin saya topang dagu: jika kami enggak dihargai di satu scene, jangan-jangan sudah waktunya kami bikin scene sendiri.

Saya rasa sudah waktunya pemikiran yang merendahkan perempuan diubah. Cara menghargai musisi perempuan bukan dengan menganggap kami hebat karena kami perempuan, tapi memperlakukan kami setara sebagai musisi. Pujian kalian terhadap label perempuan dan fisik tidak akan membuat skill dan karya kami berkembang.

Musisi perempuan idolamu yang bermain dengan kacau tidak akan membaik jika yang kalian komentari hanya wajah cantiknya. Terima saja kalau kami bisa melakukan apa saja. Jangan kaget melihat musisi perempuan, itu sudah basi. Sudah banyak sejak bertahun-tahun yang lalu. Sudah bukan masanya untuk perempuan harus diam di rumah, kami bebas berekspresi.

Anida Bajumi
Anida Bajumi berusaha membuat dirinya sibuk dengan label rekaman independennya, Ordo Nocturno, sambil menyalurkan emosi bersama Dental Surf Combat dan Amerta. Sejak kecil ia dikelilingi oleh kematian yang membuat dirinya mengulik budaya setelah kehidupan. Jika bosan, ia terpaksa menulis. Bisa ditemui di kedai ayam goreng atau kuburan terdekat.