Merebut Masa Depan Industri Musik Kita

Illustrasi oleh Rahmad Sumantri

Sudah hampir setahun kita kehilangan pertunjukan musik langsung. Artinya, sudah hampir setahun pula industri musik Indonesia kehilangan pemasukan utamanya. Beruntung, siasat baru terus lahir. Kita mungkin tak bisa hadir secara langsung di venue terdekat, tapi kita bisa hadir secara daring dalam konser-konser virtual.

Konser daring seperti I Don’t Give a Fest, Rock in Celebes, dan We The Fest membuktikan bahwa musik terus menemukan jalan untuk tiba ke mata dan telinga penikmatnya. Medium baru ini pun menantang musisi dan penyelenggara untuk bereksperimen dari segi presentasi visual guna menutupi absennya atmosfer riuh pertunjukan langsung. Perhelatan serupa dengan konsep berbeda, seperti Plainsong Live Sessions dan DAIJOBU Club, juga bermunculan.

Hanya saja, tak semua orang dapat mengadakan pertunjukan daring. Dari segi biaya produksi, pertunjukan daring juga mensyaratkan ongkos-ongkos tambahan yang lebih ruwet dari gig bersama teman-teman di studio. Mulai dari ongkos editing video rekaman, penyewaan studio, hingga biaya streaming jika menggunakan streaming platform berbayar. Kita bahkan belum berbicara tentang koneksi internet penyelenggara yang harus ngebut tanpa cela sepanjang jalannya acara.

Akibat kebutuhan biaya dan persyaratan teknis berlebih ini, pelaku industri musik semakin bergantung pada pihak eksternal, dalam hal ini sponsor. Ketergantungan baru ini pun mengubah cara sponsor mendukung dan mengiklankan diri di industri musik.

Dari sudut pandang mereka, pertunjukan daring adalah kabar gembira. Ketimbang memodali gigs secara sporadis di berbagai daerah seperti yang dilakukan sponsor  sebelum pandemi, sekarang sponsor bisa menyokong satu acara aktivasi besar yang dapat diakses semua orang dalam waktu yang sama, terlepas mereka tinggal di mana, asalkan mereka punya ponsel, komputer, dan koneksi internet. Laporan pasca campaign mereka pasti lebih indah ketika dipresentasikan ke bos-bos perusahaan terkait. 

Setelah angin-anginan di beberapa bulan pertama pandemi, jelang akhir tahun konser virtual semakin menarik perhatian pemodal besar. Acara daring terbesar di akhir 2020, I Don’t Give a Fest (IDGAF), bahkan menggandeng platform besar seperti USS Feed, IDN Times, Majelis Lucu Indonesia, dan Samara Live. Kasus serupa juga dialami This Is My Wave, yang diselenggarakan oleh Super Music, serta Flavs festival yang didukung oleh Sound Stream milik Sampoerna.

Kesamaan mereka: sama-sama menikmati gelontoran dana tak sedikit dari sponsor rokok dan/atau streaming platform, dan sama-sama mengundang band papan atas seperti Efek Rumah Kaca, Isyana Sarasvati, .feast, The Panturas, dan Tuan Tigabelas.

Di atas kertas, situasi ini tampak ideal. Sponsor mendapat kanal aktivasi baru yang lebih efektif mencapai audiens luas, musisi tetap bisa manggung, dan konser dengan konsep segar bermunculan secara rutin. Namun, kenyataannya tak seindah di permukaan. Dalam jangka panjang, ketergantungan ekstra pada sponsor akan memperparah masalah klasik yang sudah dihadapi industri musik lokal, sekaligus menambah persoalan baru.

Dalam skenario kiamat ini, yang paling boncos, tentu saja, adalah para musisi.

Skenario Terburuk Pasca Pandemi

Posisi tawar musisi tak pernah seburuk sekarang. Kehilangan pemasukan utamanya dan pusing mengais uang receh dari streaming, mau tidak mau musisi rela menerima potongan harga besar-besaran untuk tampil di acara virtual. Musisi-musisi tier atas mendapat upah yang lebih kecil dibanding pra-pandemi dan musisi-musisi di bawahnya hampir tidak mendapatkan apapun. Sebuah skenario ideal untuk para sponsor dan korporasi yang ingin beriklan hari ini.

Persebaran kekayaan juga semakin tak merata. Musisi dengan pengikut terbanyak di media sosial, angka stream tinggi, dan fans bejibun yang dipupuk sejak sebelum pandemi lebih mudah mengakses acara-acara aktivasi sponsor. Sementara musisi muda, pendatang baru, dan pemain dari arus pinggir terpaksa gigit jari atau putar otak untuk menyampaikan karyanya ke publik.

Hal ini mungkin tidak jadi masalah besar jika segmen lain yang lebih niche masih bisa mendapatkan uang di tempat lain. Sebelum pandemi, jejaring konser bawah tanah masih bisa jadi kawah candradimuka untuk band-band baru, bahkan sponsor rokok hadir di festival besar maupun gigs kecil. Namun kini, saat konser dan tur tak memungkinkan, membiayai festival virtual raksasa dengan penampil segelintir band besar yang pasti menarik massa lebih masuk akal ketimbang mengambil resiko menyelipkan band-band kecil.

Bahkan sejak sebelum pandemi sekalipun, wajar bila sponsor memprioritaskan band-band terbesar. Namun, sepanjang pandemi, kondisi ini semakin mengakar. Uang, dan akses terhadap uang, semakin terpusat di pemain yang itu-itu saja. “Yang dapat bagian cuma band-band nama besar dari lingkar yang mudah ditebak,” ucap Indra Menus, musisi asal Yogyakarta yang juga mengelola kolektif YK Booking. “Pelaku kecil kudu berjuang sendiri, terutama mengandalkan pekerjaan sehari-hari.”

Sepinya panggung juga memberi dampak lebih terhadap ekosistem konser musik. “Gigs gratisan sekalipun bisa membantu ekosistem di sekitarnya,” tutur Menus. “Mulai dari venue, persewaan alat, tukang parkir warga di sekitar lokasi konser, bahkan penjaja makanan dan minuman di sekitar.” Pertunjukan musik langsung, entah pop atau bawah tanah, tidak hanya menghidupi pelaku industri musik, namun juga orang-orang di sekitarnya.

Penjualan merch juga tidak sustainable bagi musisi dalam jangka panjang. Setiap band memiliki ceiling jumlah pembeli. Tak semua musisi bisa mengeluarkan kaos dan dijamin ludes setiap bulannya. Rutin menjual bahan sandang di tengah pandemi di mana aktivitas di luar rumah dibatasi tentu menjadi tantangan tersendiri. Tak heran bila industri fesyen perlahan terpuruk di tengah pandemi. Menurut laporan terkini, industri fesyen Indonesia hanya tumbuh 29% sepanjang tahun 2021, merosot jauh dari 53,9% sepanjang 2020.

Imbasnya, jika pandemi berakhir, kolektif dan band kecil yang hari ini pincang belum tentu punya kemampuan untuk bangkit kembali. Maka siapa yang memiliki sumber daya dan kapital untuk menggagas segala acara, membiayai seluruh scene, dan melakukan aktivasi besar-besaran? Tentu saja dua pemain yang sedang mendominasi: perusahaan rokok dan platform video streaming.

Salah satu dari mereka, para platform video streaming, sebenarnya belum berhasil menancapkan kuku ke industri musik. Perusahaan seperti Pitch Play dan Showbeast menghabiskan pandemi untuk memamerkan minimnya pemahaman mereka terhadap topologi industri musik lokal. Pitchplay, misalnya, mengundang Burgerkill, HMGNC, The S.I.G.I.T, dan Jeruji di acara daringnya. Nama-nama papan atas, tapi dengan segmentasi yang awur-awuran. 

Bandingkan strategi asal comot mereka dengan kiat tepat sasaran perusahaan rokok dalam menargetkan segmentasi dan scene tertentu. Sampoerna, misalnya, identik dengan musik indie, sementara Marlboro lekat dengan musik lantai dansa. Pasca pandemi, perusahaan rokok seperti mereka berada di posisi paling pas untuk mencaplok industri musik lebih jauh.

Dalam skenario terburuk, perusahaan rokok akan kembali memakan kolektif-kolektif yang masih mampu berdiri karena mereka tahu betul kolektif-kolektif ini butuh modal untuk hidup kembali. Perusahaan rokok juga akan semakin lancar membuat kolektif abal-abalan untuk memperlancar keperluan branding mereka. Lalu kita kembali ke situasi awal di mana industri ini bergantung pada perusahaan rokok, malah dalam level yang lebih tinggi dan sentralisasi yang juga lebih tinggi.

Mengetahui ini semua sekarang, apa yang bisa kita lakukan untuk mengantisipasi skenario terburuk yang baru saja saya jelaskan?

Bernegosiasi atau Melawan?

Kabar gembiranya, skenario terburuk tak mesti terjadi. Negosiasi antara pelaku industri musik dengan perusahaan yang hendak beriklan tetap dapat dilakukan, dan kiat alternatif dari pelaku independen juga terus bermunculan.

Brand-brand ini punya dana tapi nggak punya jejaring, sedangkan pelaku musik independen nggak punya dana tapi punya jejaring.” Ucap Rian Pelor, pentolan Rimauman Music yang kerap bekerjasama dengan perusahaan rokok di kota asalnya, Palembang. “Ada hal mutualis yang sebenarnya bisa kita manfaatkan, dan bukan jadi relasi yang parasitik. Jangan datang dengan mentalitas pelayan yang meminta-minta dan tidak punya integritas kuat. Saat saya bekerjasama dengan perusahaan rokok, saya selalu tekankan bahwa mereka bekerja sesuai aturan kita.”

Bagi Pelor, pelaku komunitas harus paham bahwa mereka “akan bersalaman dengan entitas yang pragmatis.” Meski yang mendekati adalah teman-teman setongkrongan, anak-anak ahensi ingusan, atau “komunitas” yang disokong dana rokok, nama dan kepentingan yang berdiri di baliknya tetaplah konglomerat yang dingin. Jangan anggap kalian berurusan dengan Siasat Partikelir, Frekuensi Antara, atau DCDC. Anggap bahwa kalian sedang berhadap-hadapan dengan PT HM Sampoerna atau PT Djarum.

Konsekuensinya, pelaku komunitas harus punya pemahaman lebih menyeluruh tentang seluk beluk bisnis industri musik. “Kita tidak bisa naif,” kritik Pelor. “Kita tidak bisa bekerjasama dengan korporasi tanpa tahu cara kerja korporat. Kita perlu membangun komunikasi dengan kawan-kawan yang sudah bergelut di bidang itu, seperti EO atau promotor besar, supaya tahu posisi tawar kita apa dan apa yang dicari oleh para sponsor.”

Komunitas yang diajak kerjasama harus memposisikan diri sebagai mitra yang sejajar. Praktik buruk yang sudah jadi rahasia umum, seperti kontrak yang tak jelas perihal hak dan kewajiban, harus berhenti. Komunitas tak bisa dibebani target pemasaran sponsor, tapi rela telat dibayar sebulan dan nrimo bila ada potongan gaib tiba-tiba saat menerima dana.

Kuncinya, pelaku komunitas memiliki tanggung jawab untuk menawarkan program-program kerjasama yang tak hanya menguntungkan bagi sang sponsor, tapi juga memberi dampak jangka panjang bagi scene itu sendiri. “Kita harus berdialog bersama dan menganalisis kebutuhan dalam suatu kota yang mungkin bisa dibantu keterlibatan korporat,” ucap Pelor. 

“Contohnya, jika suatu scene butuh venue, kita bisa menawarkan program untuk kolaborasi funding venue. Ini semua dilakukan agar aktivasi nanti ada dampaknya, bukan sekadar program bakar duit yang tidak memiliki dampak ke komunitas.” Terlebih lagi, program yang hanya mengenyangkan perut sebagian orang dan memunculkan gatekeeper-gatekeeper baru.

Resikonya, bagi para perusahaan rokok, business is business. Pengetahuan soal teknik otot-ototan dengan sponsor tak tersebar dengan merata, dan para perusahaan rokok tentu tak ingin ilmu itu menular. Imbasnya, akan selalu ada komunitas kecil yang diperlakukan sebagai reklame dadakan dan dicampakkan bila ada kondisi lain yang lebih menguntungkan.

Solusi lain, yang lebih masuk akal bagi saya, adalah untuk mulai melepas ketergantungan industri musik ke perusahaan rokok. Jika sebelumnya tiap kolektif jalan sendiri-sendiri dengan dukungan korporat, sekarang waktu yang tepat untuk berjejaring dan menggunakan modal sosial yang kita miliki untuk membantu sesama pelaku industri.

Momentum ini bertepatan dengan tahun 2020 yang penuh rilisan independen bertaji. Musisi-musisi paling menarik hari ini, seperti Puff Punch, DOM65, Rollfast dan BAPAK., merilis karyanya secara mandiri atau bekerjasama dengan label independen. Hal ini membuktikan bahwa etos independen dalam industri musik, bahkan di tahun sesulit 2020, tetap ada dan berlipat ganda.

Bagaimana jika semangat ini kita bawa lebih jauh? Jika musisi-musisi mengeluhkan sulitnya promo di tengah pandemi dan minimnya ajakan panggung virtual, kenapa kita tidak kumpulkan sumber daya untuk melakukan promosi dengan cara sendiri? Usulan ini memang akan memakan modal pribadi di awal, tapi bukan tidak mungkin usaha ini jadi lebih menguntungkan di jangka panjang ketimbang kerja korporat. Sustainability menjadi kata kunci untuk upaya semacam ini.

Salah satu kolektif yang telah mendobrak terlebih dahulu adalah Klub Kidul, yang turut mencetuskan acara rave virtual pada November 2020 lalu. Apabila live taping di studio memakan banyak uang, Klub Kidul menggunakan VR Chat–sebuah game sosial yang memungkinkan penggunanya membuat avatar sendiri dan berinteraksi di ruang virtual. Oleh Klub Kidul, ruang tersebut dibuat menyerupai klub-klub rave yang biasa dikunjungi, lengkap dengan bar dan toiletnya.

Edisi pertama Klub Kidul berjalan sukses. Puluhan peserta masuk dalam ruang game dan lebih dari 600 pengguna menonton stream langsung di Twitch. Penampilnya pun beragam dan mayoritas musisi serta DJ pendatang baru–misalnya Jaqués (Dissa Kamajaya), Random Brothers, Barbara Pleaser, dan ECYCE.

Bagi Ibo, salah satu pencetus Klub Kidul, acara ini bisa menjadi “ruang aman” dan alternatif yang lebih ekonomis bagi musisi independen. “Kami (para penyelenggara – red) sudah masing-masing punya komputer, virtual reality headset, dan koneksi internet yang memadai untuk gaming dan melakukan 3D World Building.” Ucap Ibo. “Jadi biaya yang keluar tidak terlalu banyak. Paling hanya biaya internet dan listrik, yang itu pun sudah masuk ke tagihan sehari-hari.”

Klub Kidul pun menggandeng rekanan makanan dan minuman layaknya acara panggung langsung menggandeng sponsor kecil. Restoran dan penjaja makanan skala UKM macam Lazy Susan, Bif Rais, Belly Bandit Burger, Mooja Care, dan Puro Kuala Lumpur terlibat dalam Klub Kidul dan mewakili tiga daerah berbeda: Jakarta, Bandung, dan Kuala Lumpur.

Hasilnya memuaskan. Rekanan yang terlibat dalam Klub Kidul mendapat cipratan promo di VR Chat yang unik karena produk mereka di-render secara digital dan menjadi gimmick tersendiri. Para rekanan F&B yang terlibat pun melaporkan peningkatan pesanan di kehidupan nyata yang cukup baik.

“Menurut kami, konser seperti ini mungkin banget direplikasi,” ucap Ibo. “Dari sisi teknis pun sebenarnya ini bukan sesuatu yang susah dilakukan. Asalkan sudah pernah mengalami langsung dan punya konsep yang kuat, gue jamin semuanya bisa membuat acara virtual.”

Klub Kidul merepresentasikan segmen independen yang terus hidup dengan keterbatasan sumberdaya di tengah pandemi dan gempuran acara-acara virtual yang didukung oleh korporasi besar. Jika Sampoerna bermain dengan live taping yang memakan budget puluhan juta rupiah, maka kawan-kawan di segmen independen bermain dengan budget ratusan ribu rupiah namun bisa menyajikan eksplorasi dan eksperimen yang sepuluh kali lebih menarik dari aktivasi perusahaan rokok.

Hari ini, relasi bisnis ala perusahaan tidak bisa menjadi satu-satunya dasar kita untuk bertahan di industri musik. Jejaring yang dibangun dengan asas saling bantu ala tongkrongan akan menjadi penyelamat industri ini dari skenario terburuk pasca pandemi. Kolaborasi antar entitas independen menjadi jalan termudah dan tercepat untuk tetap bertahan dan eksis di industri ini. Bukan dengan PT besar, anak perusahaannya, atau agensinya yang hanya mementingkan Key Performance Indicator mereka. 

Semanis apapun kata-kata perusahaan rokok untuk membuai kolektif atau gerakan independen, kita semua tahu bahwa ada bottom line yang mereka agungkan, ada metrics seperti jumlah eyeball, jumlah email yang didapat dari suatu aktivasi dan profil demografi yang cocok untuk iklan rokok. Secerdas apapun kita bersiasat, hubungan kita dengan mereka akan selalu bersifat eksploitatif sebab relasi kuasanya sudah timpang sejak awal.

Industri musik, terutama para pelaku independen, perlu mencari solusi pendanaan yang lebih sustainable. Hal ini sekaligus akan meningkatkan daya tawar entitas independen, Sehingga nantinya, jika ada aktivasi rokok mengetuk pintu pasca pandemi, segmen independen bisa mengambil keuntungan semaksimal mungkin dan tidak dieksploitasi seenaknya oleh agensi, anak perusahaan, atau siapapun yang merepresentasikan kepentingan sebuah korporasi. 

Sudah bukan masanya kita menjadi papan reklame murahan.

***

Argia Adhidhanendra
Individu dibalik kolektif noisewhore yang lebih dikenal sebagai promotor band bule level menengah. Sering menulis atau mengeluh tentang industri musik di kehidupan sehari-harinya. Dapat ditemui menulis atau ngomel di kanal-kanalnya sendiri, seperti Jurnal Ruang atau noisewhore. Senin sampai Jumat biasanya fokus menjadi pegawai swasta yang baik.