Nasib Pertunjukan Musik di Era Pandemi

Ilustrasi: Rahmad Sumantri
Ilustrasi: Rahmad Sumantri

Empat bulan setelah panggung-panggung Jakarta terpaksa senyap, para pengorganisir konser menghitung peruntungan mereka. Saya termasuk mujur–noisewhore, kolektif yang saya kelola, mengundang Homeshake tampil hanya sepekan sebelum kasus COVID-19 pertama diumumkan. Sementara, festival sekelas Head in the Clouds, Hammersonic, We the Fest, hingga konser tunggal dari artis macam Rex Orange County harus ditunda atau batal sama sekali.

Kondisi ini jelas bikin industri musik tersungkur. Konser merupakan aspek penting–bahkan boleh dibilang terpenting–dalam perputaran uang di industri musik lokal maupun mancanegara. Secara global, nilai industri pertunjukan langsung ditaksir senilai $26 miliar, dan sebanyak 77% pemasukan raksasa tersebut didapat dari penjualan tiket. Pandemi menghantam tak lama setelah kuartal pertama tahun 2020 usai. Bila berlanjut hingga akhir tahun, kerugian secara global diperkirakan mencapai $9 miliar.

Pola serupa terulang di Indonesia. Sebab pemasukan dari streaming amat minim dan hanya segelintir band mampu menggarap merchandise jadi sumber dana serius, hampir semua band bergantung pada pertunjukan musik untuk mengongkosi operasional band. 

Ambil contoh salah satu band (anonim, tentu saja) dengan popularitas lumayan yang berbasis di Jakarta. Selama lima bulan, mereka hanya meraup penghasilan Rp300 ribu dari royalti Spotify dan Rp380 ribu dari pembelian melalui Bandcamp. Sebagai pembanding, untuk setiap tawaran manggung mereka menerima bayaran setidaknya Rp9,5 juta, dengan keuntungan bersih sedikitnya Rp3 juta per panggung.

Tak hanya memangkas sumber pendapatan paling menjamin, pandemi juga mengguncang infrastruktur dalam industri musik yang sedari awal juga sudah ringkih. Pada bulan-bulan pertama lockdown diterapkan, tiap pelaku dalam industri musik mesti menghadapi kondisi tak pasti. Festival besar yang jadi sumber pemasukan gede-gedean terpaksa ditunda, padahal tak ada yang tahu kapan pandemi akan usai. Tak sedikit festival yang akhirnya dibatalkan sepenuhnya, dengan konsekuensi menggemparkan.

Juni 2020 lalu, festival Lollapalooza resmi dibatalkan. Keputusan ini berimbas panjang. Pemkot Chicago, kota di AS yang tadinya jadi tuan rumah festival tersebut, sempat bersikeras agar acara tersebut ditunda saja, tidak batal sepenuhnya. Kini, setelah resmi batal, Chicago berencana menuntut kerugian sebanyak $750,000 dari para pengorganisir Lollapalooza.

Semisal pengorganisir membatalkan acaranya, isu lain akan merebak: pengembalian uang konsumen. Dalam skala apapun, refund selalu berarti rugi. Belakangan, persoalan ini menimbulkan polemik besar di kalangan pengorganisir musik. Promotor kelas kakap Live Nation, misalnya, akhirnya memberi opsi pengembalian uang tiket setelah didesak habis-habisan oleh para konsumennya.

Tak hanya pengorganisir yang boncos. Agensi musik, yang merepresentasi musisi dan menghubungkan mereka dengan pengorganisir konser, juga mesti mengetatkan ikat pinggang. Salah satu agensi terbesar di dunia, Paradigm Agency, mem-PHK 200 pekerjanya setelah hanya seminggu pandemi. Batalnya tur dunia dan festival-festival skala besar membuat operasional bisnis mereka sulit dipertahankan.

Pertunjukan lokal juga harap-harap cemas hingga kini. Festival lokal seperti Synchronize Fest dan Sounds Project masih menjual tiket dan mempromosikan pertunjukannya, yang dijadwalkan terjadi pada Oktober dan November 2020 (Sounds Project diundur dari April 2020). Apakah mereka optimis, terpaksa, atau delusional? Entahlah.

Hantu itu Bernama Kerentanan

Jika makelar konser kelas dunia saja sempoyongan, apa kabar label mungil, booking agent yang bermain di ranah akar rumput, dan venue-venue skala menengah ke bawah? Setelah lima tahun menjadi promotor, baru kali ini saya menyadari betapa riskannya industri yang saya jalani. Sekaligus, betapa ringkihnya kancah yang menjadi arena main bagi promotor kecil bersifat independen hingga semi-independen.

Promotor seperti besokpesta (Surabaya) atau Pesona Experience (Jakarta) mungkin tak setenar Ismaya atau Live Nation, tetapi mereka punya peranan signifikan dalam industri musik lokal. Meski tiap acara mereka mungkin hanya menampung ratusan orang, konser skala menengah ke bawah menjadi ajang pembuktian untuk musisi-musisi muda yang berpotensi jadi masa depan scene musik lokal.

Band seperti .feast dan Panturas, yang kini merajai panggung-panggung besar, bermula dari ekosistem musik independen. Bahkan medio 2017-2018, kedua grup tersebut pernah turut serta dalam acara skala kecil yang digarap noisewhore. Tren datangnya band Youtubecore mendayu-dayu dengan dandanan Jaksel totok juga bermula di sirkuit independen, sebelum akhirnya dikooptasi oleh promotor dengan bekingan korporat. 

Bahkan bagi promotor gede sekalipun, acara-acara skala menengah ke bawah menjadi acuan penting untuk menakar tren apa yang akan merebak di masa depan. Lantas, bila mereka memegang peranan begitu vital, mengapa promotor dan acara-acara independen ini begitu rapuh? Karena daya tawarnya yang begitu rendah.

Festival dengan skala besar memiliki resiliensi lebih dalam menghadapi situasi gawat darurat. Ambil contoh dua festival dengan skala besar: Primavera dan Sounds Project. Keduanya memiliki rekam jejak baik, penonton yang banyak, dan relasi yang termasuk kuat dengan pemangku kepentingan seperti sponsor dan agensi musik.

Ketika Primavera 2020 batal diselenggarakan di Barcelona, Spanyol, sang promotor cepat-cepat mengumumkan Primavera 2021 dengan tawaran penampil terbaik sepanjang sejarah mereka. Mereka pun menawarkan dua pilihan pada penonton yang telah membeli tiket Primavera 2020: dapat uang kembali, atau gunakan tiket itu untuk mampir ke Primavera 2021.

Mereka berani mengambil pertaruhan itu karena mereka punya daya tawar yang sangat tinggi. Sponsor tentu percaya pada rekam jejak festival ini dalam mendatangkan penonton. Agensi musik juga butuh festival seperti Primavera untuk memastikan pemasukan mereka di jangka panjang sekaligus mempromosikan talent mereka. Terakhir, penonton punya kepercayaan pada Primavera sebagai festival yang punya reputasi kuat.

Hasilnya, Primavera berhasil mengakali kondisi. Sponsor tetap memberikan dana atau paling tidak menalangi kerugian, agensi tetap menjamin talent mereka hadir di Primavera 2021, dan sebagian penonton tidak mengembalikan uang mereka (bahkan menambah penjualan tiket) serta memilih mampir di perhelatan tahun depan.

Sekarang, mari kita lihat contoh festival lokal. Sounds Project diprakarsai oleh mahasiswa dari Universitas Gunadarma, Depok, Jawa Barat, namun perlahan berkembang menjadi entitas tersendiri. Harusnya, Sounds Project 2020 digelar pada bulan April dengan venue yang tak main-main: Taman Bende, Ancol.

Mereka tentu tak memiliki daya tawar setinggi Primavera, tetapi rekam jejak Sounds Project cukup baik. Festival mereka terbukti mampu mendatangkan ribuan penonton (gelaran tahun lalu di Kuningan City Hall tiketnya terjual habis), dan mereka disokong oleh salah satu merk rokok lokal. Sehingga, pendanaan mereka agak terjamin.

Kondisi ini membuat sponsor agak optimis untuk menyuntikkan dana meski festival terpaksa diundur ke bulan November. Meski sekali lagi, saya tidak tahu apakah jangka waktu ini optimis atau delusional, setidaknya mereka mampu mencapai kompromi dan menyelamatkan keadaan finansial mereka di jangka pendek.

Masalah di Akar Rumput

Promotor segmen independen memiliki daya tawar yang jauh lebih rendah. Kasus pertama adalah Pesona Experience, promotor yang berbasis di Jakarta. Setelah sukses mendatangkan Drab Majesty dari AS pada Februari 2020 lalu, mereka terpaksa membatalkan festival Juicy yang seharusnya diselenggarakan bersama Kolibri Rekords pada April lalu.

Pesona Experience agak beruntung: meski sudah sepakat dengan venue acara dan 22 band, mereka belum mengeluarkan uang selain untuk tiket pesawat salah satu band. Kerugian mereka bisa diminimalisir. Symmetry Entertainment, promotor asal Singapura, jauh lebih apes. 

Setelah noisewhore mendatangkan Homeshake pada akhir Februari lalu, harusnya grup tersebut lanjut tur ke Singapura untuk acara yang diselenggarakan Symmetry. Namun akibat lockdown, Homeshake terpaksa batal konser. Sudah nombok akibat Homeshake batal hadir, mereka semakin merugi setelah harus membatalkan konser dari Bruno Major dan Omar Apollo yang sudah dijadwalkan sejak jauh-jauh hari.

Beda dengan festival besar, promotor independen tak memiliki daya tawar tinggi dan beroperasi dengan risiko inheren lebih. Sponsor tak akan sabar menunggu atau rela menggelontorkan dana lanjutan untuk suatu acara yang, kalau pun jadi, hanya mendatangkan 500-1000 penonton. Agensi juga tidak akan menahan talent-nya atau repot-repot menjadwalkan ulang konser di negara tier ketiga macam Singapura. Mereka akan memprioritaskan penjadwalan ulang tur di pasar kelas premium seperti Eropa dan AS.

Promotor independen juga menghadapi resiko inheren lebih sebab keberadaan mereka saling terkait. Acara yang diadakan promotor independen umumnya merupakan bagian dari rangkaian besar tur yang diatur oleh agensi musisi tertentu. Misalnya, konser Homeshake di Jakarta dan Singapura sama-sama bagian dari tur Asia yang diorganisir oleh agensi Alchemist Asia. noisewhore dan Symmetry menjadi rekanan mereka di akar rumput.

Ketika salah satu promotor mengajukan pembatalan, imbasnya dirasakan oleh promotor-promotor lain dalam ekosistem tersebut. Ketika Symmetry membatalkan konser Homeshake di Singapura, ia harus menanggung penginapan tambahan untuk Homeshake di Jakarta dan menerima sebagian uangnya hangus. noisewhore selaku promotor di Jakarta pun harus “menemani” mereka satu hari lagi.

Bahkan dalam situasi normal, jika seorang musisi belum mengumumkan tanggal tur lalu salah satu lokasi tur mengajukan pembatalan, bisa saja seluruh tur dibatalkan oleh agensi musisi tersebut. Mau tidak mau, promotor independen saling bergantung dengan satu sama lain. Jika satu promotor di rangkaian tur tersebut blunder, efek dominonya bisa fatal.

Mencari Alternatif

Sebenarnya, suatu acara bisa saja diasuransikan. Hal ini lumrah terjadi di level promotor papan atas, tetapi belum lazim di kalangan promotor, pemilik venue, dan pegiat kancah musik independen. Karena tentu saja asuransi memerlukan dana, dan jika untuk operasional saja sudah jungkir balik, bagaimana mungkin ada dana yang tersisa untuk proteksi diri?

Walhasil, promotor independen lokal tak banyak bermanuver sepanjang pandemi. Tak sedikit yang memilih mati suri atau melakukan pergeseran konten seperti mengadakan siniar atau konser daring. Aktivasi semacam itu sejujurnya tidak dilakukan untuk bertahan secara finansial. Melainkan untuk tetap menjaga hubungan dengan audiens yang telah dimiliki masing-masing promotor.

Namun, kondisi ini tak dapat bertahan lama. Di AS, misalnya, diperkirakan bahwa 90% venue independen, promotor, dan booking agent terancam gulung tikar akibat pandemi. Menulis untuk NPR, Anastasia Tsicloucas memprediksi skenario yang bikin saya bergidik: setelah pandemi reda dan konser kembali diadakan, ekosistem musik independen hilang. 

Yang tersisa hanyalah promotor besar atau sponsor korporat, sebab hanya mereka lah yang punya modal cukup untuk menombok kerugian selama pandemi. Bukan tak mungkin, mereka mengambil alih ruang yang tadinya dimiliki komunitas independen. Bagaimana jadinya jika setelah pandemi ini reda, Rossi Musik dilego ke Sampoerna?

Mari kita cegah skenario mengerikan tersebut. Salah satu siasat yang belakangan populer adalah konser digital. Hindia berhasil memasarkan rekaman penampilannya dari bulan Mei hingga Juni melalui live streaming. Studiorama, Zodiac, dan SFTC baru bekerjasama mengadakan festival Neverwhere dengan lima kolektif musik dansa selama sepuluh jam melalui live streaming juga.

Namun, apakah siasat ini memungkinkan direplikasi oleh pelaku industri lainnya? Neverwhere mendapatkan sponsor korporat Red Bull, sementara Hindia dan Suneater meraup hasil dari pengelolaan penggemar yang militan. Apakah mungkin promotor atau artis lain yang tidak berada di posisi se-”nyaman” Hindia dan Neverwhere melakukan inisiatif serupa?

Digelitik rasa penasaran, saya mencoba menghitung ongkos yang dibutuhkan untuk mengadakan acara digital seperti Hindia dan Neverwhere. Asumsi saya, para musisi direkam di suatu studio selama 8 jam dan menghadirkan 3 penampil. Ongkos ini nantinya ditambah biaya platform seperti Kiostix atau Loket.com yang akan memfasilitasi live streaming. Ongkos berikut belum termasuk komisi bagi platform, yang berkisar antara 8-10% per tiket yang terjual:

Ongkos acara digital per Juni 2020 (Sumber: Riset Internal)

Sekarang, mari hitung penghasilannya. Semisal tiap tiket dihargai Rp50 ribu dan ongkos komisi platform dikenakan 10% atau Rp5 ribu per tiket, maka harus setidaknya 356 tiket yang terjual agar acara tersebut tidak merugi. Angka yang sangat tinggi bagi metode acara yang belum terlalu teruji dalam konteks pasar Indonesia.

Alternatif lainnya adalah keberadaan dana darurat. Banyak entitas di luar negeri mulai mengeksplorasi opsi ini–misalnya Jazz Foundation yang memprakarsai COVID-19 Musician Emergency Fund, serta bantuan serupa yang disediakan serikat musisi theMU.

Dalam konteks lokal, inisiatif yang agak mirip dengan ini mungkin hanya Sama2Makan, yang diprakarsai musisi scene Yogyakarta seperti Rully Shabara dan Leilani Hermiasih. Namun, inisiatif tersebut lebih fokus memberi bantuan bagi individu pelaku industri musik, bukan menopang industri musik secara keseluruhan. 

Selebihnya, masing-masing pelaku dan entitas diharuskan bertahan dengan caranya masing-masing, baik dari segi audience engagement maupun finansial. Ketika para pelaku dan entitas ini tidak memiliki kapital yang cukup atau malah merugi dengan membuat aktivasi alternatif seperti konser digital, apa yang terjadi? Aktivasi alternatif ini pun belum tentu dapat membantu tiap pelaku dalam ekosistem konser musik. Vendor penyedia sound system Bayusvara, misalnya, sampai terpaksa beralihfungsi menjadi kurir sayur selama pandemi.

Jika kita terus membiarkan tiap individu bertahan dengan caranya masing-masing, kita akan kehilangan salah satu segmen terpenting dalam industri ini: musik independen. Yang tersisa nantinya hanya entitas atau musisi yang disokong oleh brand atau yang kebetulan sudah punya ribuan penggemar militan. Kita bisa mengucapkan selamat tinggal kepada regenerasi di industri musik, yang sebenarnya sudah berantakan sejak sebelum pandemi.

Bila memang tak ada inisiatif resmi dari pemerintah yang akan menolong pelaku industri, sudah saatnya inisiatif dijalankan dari akar rumput. Ajakan saya tempo hari untuk menggagas serikat pekerja musik masih berlaku, dan malah bertambah relevan. Dalam kondisi serba susah, justru ini saatnya para entitas dan pelaku industri saling membantu dan mendukung.

Memang utopis, mengingat gogon dan drama internal sudah jadi makanan sehari-hari dalam scene manapun. Namun, ketika eksistensi suatu segmen dalam industri terancam, apakah permasalahan itu tak bisa dikesampingkan sejenak? Mungkin kita belum mampu membuat serikat pekerja musik yang secanggih dan seresmi theMU, tetapi inisiatif yang terorganisir bukan sekadar mimpi di siang bolong.

Semisal sebagian entitas terbukti mampu mengadakan acara digital dengan sukses dan meraup untung karena punya fans militan atau relasi dengan korporat, kenapa tidak pelaku-pelaku ini menggandeng entitas atau pelaku lain dalam aktivasinya? Sistem arisan juga bisa digunakan dalam kasus ini. Secara internal, entitas atau pelaku industri dikumpulkan dan sistem arisan dijalankan. Tiap bulan, satu entitas yang paling membutuhkan bisa mendapat dana untuk bertahan.

Tentu, solusi-solusi tersebut masih karangan saya sendiri. Perlu banyak kepala agar bisa bermuara pada solusi yang paling tepat. Harapan saya, diskusi itu akan segera terjadi dan kita semua dapat bertahan.

Argia Adhidhanendra
Individu dibalik kolektif noisewhore yang lebih dikenal sebagai promotor band bule level menengah. Sering menulis atau mengeluh tentang industri musik di kehidupan sehari-harinya. Dapat ditemui menulis atau ngomel di kanal-kanalnya sendiri, seperti Jurnal Ruang atau noisewhore. Senin sampai Jumat biasanya fokus menjadi pegawai swasta yang baik.