Perjalanan Musik Dansa Tanah Air Dalam 10 Lagu

Barakatak (Sumber Foto: YES NO WAVE)
Barakatak (Sumber Foto: YES NO WAVE)

Pada pembukaan panel “Dua Dekade Future 10 Berdansa di Jakarta” di Archipelago Festival 2018, saya sempat memberikan gambaran bahwa budaya klub Indonesia, khususnya Jakarta, sudah muncul jauh sebelum DJ-DJ angkatan Anton, Naro, Romy hadir di kancah ini pada dekade 1990-an.

Klub Tanamur yang dibuka pada 1970 menjadi artefak tersendiri. Dalam wawancara dengan Merahputih.com, resident DJ Tanamur, DJ Vincent, mengenang bahwa semua orang bersuka ria menikmati musik disko di lantai dansa, apapun latar belakangnya. Persis seperti kisah-kisah legendaris The Paradise Garage dan The Warehouse di Amerika Serikat, budaya klub dapat menancapkan kuku di Ibukota Indonesia dan menawarkan suasana yang egaliter. Kejayaan Tanamur jadi titik awal bagi musik dansa scene di sini.

Namun, titik balik scene musik dansa lokal tiba pada pertengahan dekade 1990-an. Kepulangan dua sosok legendaris Romy Soekarno dan Anton Wirjono dari luar negeri saya anggap sebagai gerbang bagi eksistensi musik dansa “modern” di Tanah Air.

Romy memperkenalkan house music di B1 Jakarta sejak 1993 setelah ia pulang dari studinya di London. Klub tersebut digadang-gadang sebagai venue pertama yang memutar musik house di Indonesia. Bersama Remy Irwan dan Naro, Romy membangun 1945 Music Factory pada 1997, yang kemudian dikenal sebagai salah satu kolektif DJ pertama yang fokus pada musik dansa modern. Ia juga merasakan langsung hebohnya kultur rave di Inggris pada akhir 1980-an, kemudian membawa tradisi tersebut ke Tanah Air dengan membuat banyak outdoor rave sejak pertengahan 1990-an.

Sementara, Anton Wirjono membuka record store pertamanya pada tahun 1995 di Kemang, Jakarta, selepas kepulangannya dari San Fransisco. Di sana, ia melihat dan merasakan langsung kegilaan Bay Area rave scene, yang merupakan turunan dari rave scene di Inggris pada akhir tahun 1980-an.

Kurasi Anton untuk toko platnya mempengaruhi musikalitas banyak DJ dan pecinta musik dansa pada era itu. Namun, kala itu tak banyak klub yang mau menerima musik-musik yang dibawa Anton. Ia kemudian mendapat kesempatan menjadi music director di klub legendaris Parkit, mengadakan pesta dengan preferensi musik yang cukup obscure pada masanya. Parkit selalu dikenang sebagai fondasi utama scene musik dansa lokal yang mempengaruhi budaya klub, khususnya di Jakarta.

Anton dan Hogi, adiknya, kemudian membentuk Future 10, kolektif musik dansa yang masih sangat aktif hingga kini. Bagi saya, sejak awal kemunculannya hingga sekarang, kolektif tersebut masih menjadi figur yang paling relevan dalam kancah musik dansa Indonesia. Selain mengorganisir berbagai event seperti Back in the Days, Future Culture, dan masih banyak lagi, Future 10 juga memiliki kanal media bernama Echoes yang mengkurasi talenta musik elektronik lokal.

Kedua sosok tersebut membawa serta dua elemen penting untuk budaya klub langsung dari Mekahnya: semangat rave, serta house dan techno–dua genre musik autentik Amerika Serikat dan Eropa sebagai pengisi lantai dansa. Jika Romy memperkenalkan modern musik dansa kepada crowd yang lebih luas, Anton bertanggung jawab menggiring publik musik ke area yang lebih dalam dan rumit.

Menyebar Dari Lantai Dansa

Di luar klub, stasiun radio bertanggung jawab mempopulerkan musik dansa. Siaran DJ mix di akhir minggu selalu diputar pada malam hari, persis seperti budaya klub yang diasosiasikan mesti dimulai saat malam. Padahal, rave di AS atau Eropa sudah biasa dimulai sejak sore. Track-track populer seperti “Children” dari Robert Miles, “Magic Carpet Ride” dari Mighty Dub Katz, dan “The Night Train” karya Kadoc mendapat jatah putar yang tinggi.

Memasuki pertengahan dekade 1990-an, playlist radio menjelang weekend sampai akhir minggu malam diisi dengan set-set impor yang penuh musik house, techno, dan trance. Di akhir 1990-an, musik jungle mendapat tempat di udara, sebelum kemudian beralih menjadi drum n bass (DnB) dan subgenrenya: liquid dan techstep. Prambors, Hard Rock, MTV Trax (sebelum menjadi Trax) sampai sekarang masih punya tradisi acara khusus musik dansa di tiap stasiunnya.

Dari radio, musik house dan techno yang diproduksi secara digital mendapat penggemar yang semakin luas. Bentuk musik dan distribusinya yang intens melalui klub dan radio kemudian memicu produser untuk membuat karyanya sendiri agar bisa masuk ke dalam arus musik dansa yang mendunia. Produser dari luar kalangan ravers/clubbers reguler ikut bereksperimen lewat software, MIDI controller, drum machine, synthesizer, dan sampler.

Linimasa untuk Musik Dansa Modern Lokal

Di buku Energy Flash (1998), Simon Reynolds secara jelas menyimpulkan linimasa musik dansa di Inggris. Mulai dari acid house/rave, hardcore/pre-jungle, jungle, DnB, UK garage, sampai dubstep dan grime. Setiap era mewakili transformasi genre dan scene-nya. Keseluruhan genre berdiri sendiri dan memiliki crowd yang solid, venue yang mewakili style masing-masing, serta distribusi lagu yang masif melalui stasiun radio ilegal.

Lalu, bagaimana dengan Indonesia? Rasanya terlalu terburu-buru untuk menetapkan linimasa musik dansa lokal. Alasannya, produser dan DJ lokal lebih banyak mengadaptasi langsung apa yang sedang terjadi di luar sana.

Sementara, dalam sebuah diskusi di forum musik dansa tertua Tanah Air, Ravelex, pertanyaan terkait genre musik dansa yang “asli” Indonesia pun mengundang banyak respons. Sebagian komentar menjawab bahwa funkot (Funky Kota) adalah genre lokal paling autentik. Jawaban-jawaban tersebut lantas mengundang pro dan kontra. Untuk ukuran sebuah scene yang “tua”, kancah musik dansa lokal masih terus bergulat dengan identitasnya.

Terlepas dari hal krusial di atas, Indonesia memiliki banyak track yang konsep serta kualitasnya terbilang maju dan unik dalam scene musik dansa. Karya-karya berikut ini semestinya bisa masuk ke radar para pemandu cakram esensial di luar sana.

****

Digital Music Crew – “DJ” (Oo Aa Ee Ooo!, Team Records, 1990)

Digital Music Crew adalah grup pop asal Bandung. Di album Oo Aa Ee Ooo!, mereka banyak bereksperimen dengan bebunyian serba elektronik ala produser-produser new wave. Track “DJ” ini dikemas seperti lagu-lagu pre-house yang lengkap dengan bassline, stabs, dan sample scratching. Tak lupa, beat four-on-the-floor yang jadi ciri khas house music. Istimewa, karena bisa dibilang ini merupakan lagu house pertama di Tanah Air. Hanya saja masih dibalut dengan estetika pop.

Barakatak – “Awas Exstacy” (House Music Vol. 2, Akurama House Music, 1996)

Di industri rekaman, Barakatak selalu disebut sebagai pelopor house music. Mereka jugalah yang menjadi pemantik musik funkot alias Funky Kota. Genre hasil mutasi breakbeats, trance, techno, dan house yang kemudian mapan di klub-klub area utara Jakarta. “Awas Exstacy” mengadaptasi irama “The Phunk Phenomenon”-nya Armand Van Helden yang pada zamannya sedang populer-populernya.

Barakatak menaikkan level beat tersebut dengan aksen bass pada kick dan mencoba relevan dengan mengangkat tema narkoba pada liriknya. Hampir di saat yang sama, tema serupa diangkat Guruh Soekarno Putra di album NTXTC.

Agus Sasongko – “Smile” (Myself, Independen, 1996)

Sebelum membentuk grup Future Sounds of Pejaten–yang akhirnya berganti nama menjadi Media Distorsi–Agus merekam karya-karyanya di Australia. Dirilis pertama kali pada tahun 1996, Myself merupakan dokumentasi eksperimen musik elektronik yang lengkap. Sebelum “Smile” dimulai, Anda bakal mendengarkan doa ta’awuz (doa perlindungan kepada Tuhan dalam tradisi Islam) dibacakan, kemudian diikuti dengan eksperimentasi techno yang mentah diiringi suara acid dari TB-303.

Kalau boleh dilabeli, mungkin “Smile” adalah track acid techno pertama di Indonesia. Agus kini pensiun dari musik sejak memutuskan hijrah dan fokus beragama. Namun, sampai kapanpun saya akan mengenangnya sebagai produser elektronik terpenting sejak dekade 1990-an.

Wondergel – “I Miss You” (Electrofux Remix) (Wondergel, M Music Production, 1997)

Iman alias Electrofux tak pernah merilis apapun sepanjang kariernya, tapi scene rave lokal mengenalnya sebagai produser dan remixer yang rajin. Gubahan “I Miss You” dari grup indie pop asal Jakarta, Wondergel, menjadi bukti bahwa kultur remix bawah tanah punya kualitas top notch sejak saat budaya musik dansa lokal masih sangat muda. “I Miss You” di tangan Iman menjadi lagu yang kaya dengan keindahan trip hop melodius, diiringi sampel Amen break yang ditempatkan pada saat yang tepat.

Rock N Roll Mafia – “Batu Karas” (Rock N Roll Mafia, 2002)

Sejak awal kemunculannya, grup asal Bandung ini selalu menyajikan konsep musik elektronik yang ramah publik klub dan indie kids pada saat bersamaan. “Batu Karas” menawarkan estetika big beat yang populer pada pertengahan sampai akhir 1990-an di Inggris. Dilengkapi dengan sample suara burung yang kerap digunakan pada track-track bergaya Balearic, “Batu Karas” seakan memberikan pengalaman chill di pantai area Pangandaran sekaligus adrenalin surfing culture.

Agrikulture – “Underground Trash” (Jakarta Movement ’05, Aksara Records, 2005)

Track ini ada di sela-sela kompilasi Jakarta Movement ’05, arsip talenta event musik dance terpenting di ibu kota, Jakarta Movement. Saya pernah menyebut lagu ini sebagai lagu yang paling mewakili zamannya. Seperti judulnya, “Underground Trash” menggambarkan musik electro di titik paling kotor dan raw serta minimalis. Gaya ini muncul pada tiap rilisan nu-rave, di pertengahan dekade 2000-an: LCD Soundsystem, CSS, Peaches, hingga Lo-fi FNK.

Terbujurkaku – “Bang Toyib” (Megamix Album: Koplo Goes to Breakcore, self-released, 2010)

Selain Barakatak, Terbujurkaku merupakan produser yang tak lepas dari khazanah musik Nusantara pada karya-karyanya. Phleg, sosok di balik Terbujurkaku, mendalami musik koplo dan dangdut dengan begitu serius. Ia membawa aura ghetto dan hedonisme ala Pantura ke dalam irama breakcore dan jungle yang kencang. Di dekade 2000-an, ia jadi pelopor bagi produksi-produksi berwarna lokal sebelum adanya Barokka, Gabber Modus Operandi, dan Prontaxan.

Space System – “Sorrow Show” (Sorrow Show, Optimo Music, 2010)

Saya selalu memasukkan nama Ojon dan Aryo (Space System) sebagai duo produser dengan level produksi yang advanced. Melalui “Sorrow Show”, mereka membangun musik elektronik dengan detail dan eklektik. Track ini padat aura psych lewat irama funk dan electro yang kental eksperimentasi. Jack Haighton dari Resident Advisor mengibaratkan lagu ini sebagai “bagian dari opera ala-ala Tommy untuk generasi luar angkasa.”

REI – “Evening Mood (Dub)” (Dentum Dansa Bawah Tanah, Pepaya Records, 2016)

Dari lini deep house, “Evening Mood (Dub)” tampil dengan desain sound yang indah; mengadaptasi gaya sampling hip hop dalam irama deep house yang lembap, berdentum melalui low pass filter yang diulang-ulang. Track ini ada dalam kompilasi Dentum Dansa Bawah Tanah yang menurut saya sangat merepresentasikan scene musik dansa lokal terbaik dalam satu dekade terakhir.

Uwalmassa – “Untitled 06” (Animisme, Disk, 2018)

“Untitled 06” mengeksplorasi kekayaan musik dan instrumen Tanah Air dengan perkusi sebagai fokusnya. Tak banyak layer, dibiarkan minimalis, tetapi penuh di telinga. Jika bass music lahir di sini, Uwalmassa adalah perwakilannya yang paling tepat.

Gembira Putra Agam
Seorang musisi, DJ, dan penulis yang berbasis di Jakarta. Pemenang ICEMA 2012 bersama grup free-jazz legendaris Sungsang Lebam Telak.