Sekilas Dari Ruang – Oktober 2020

Ilustrasi oleh Rahmad Sumantri

Pengantar Redaksi

Oktober adalah bulan yang identik dengan horor. Ada Halloween, Gerakan Satu Oktober atau GESTOK (Nama lain dari G30S/PKI, karena katanya sih gerakan tersebut terjadi dari tanggal 30 September malam sampai 1 Oktober dini hari), hari lahir Vladimir Putin, dan lain-lain. Saya selalu suka Oktober dan pernak pernik gelapnya. Namun, bagi saya Oktober tahun ini merupakan yang paling horor sepanjang masa karena setiap hari saya diselimuti ketidakpastian dan kegelisahan. Paling mantap, hari ulang tahun saya dihabiskan untuk tidur dan menangis sendirian (saya dipaksa Raka Ibrahim untuk bercerita soal hari kelahiran saya yang jatuh di bulan Oktober). Ah, memang pandemi bajingan. 

Hal baiknya, banyak musik keren yang rilis bulan lalu dan menemani hari-hari saya yang berantakan. Seperti yang sudah dilakukan sebelumnya, Yudhistira Agato dan Tomo Hartono akan membeberkan rilisan favoritnya setiap bulan. Kali ini, SEKILAS juga kedatangan bintang tamu yang akan merekomendasikan musik mantap versinya, Manan Rasudi. Sebelum kita lanjut, apa ada yang tahu persamaan dari Yudhis dan Manan?

Jangan lupa untuk berbagi rilisan terbaru kalian ke surel kami di halo.ruang@gmail.com atau langsung sapa Tomo dan Yudhis di akun media sosialnya.

***

Fuzzy, I

Wingbender (single)

Salah satu lagu dengan departemen komposisi yang paling menarik di daftar ini. Kali ini, Fuzzy, I memainkan racikan post-punk berbumbu jazz dengan topping keriuhan. Berbeda dengan EP sebelumnya yang fokus pada noise rock, grup asal Bandung ini nampaknya konsisten menawarkan kesegaran di tiap singlenya.

Tektokan departemen instrumen mereka berhasil mendarat dengan padu. Sayang sekali, vokal Egi terdengar agak tersengal dan canggung dalam mengisi beberapa bagian. Nampaknya, mereka perlu mencoba untuk eksplor vokal yang lebih variatif.

Fuzzy, I meramu banyak sekali bahan dan bumbu ke dalam lagu ini. Terlalu banyak, bahkan. Pertanyaannya: bagaimana mereka merajut semua eksperimentasi ini ke dalam sebuah album atau EP yang padu? Mari kita tunggu di rilisan berikutnya.

-Tomo Hartono

Sajama Cut

Godsigma (album)

Album ini begitu menonjok, bertebar hook, dan mengalir. Godsigma kembali menegaskan nama Marcel Thee sebagai salah satu penulis lagu dan lirik terbaik di liganya. Tiap lagu bisa berdiri sendiri sebagai single, tapi juga mendukung lagu-lagu lainnya dalam album ini. Berbeda dengan musiknya yang lugas dibandingkan album-album mereka sebelumnya, liriknya justru obskurantis dan jauh dari kata gamblang. Berdasarkan wawancaranya dengan Notes from Rookies, Marcel sih menyatakan kalau hal itu merupakan pilihan yang disengaja. Ketika semua orkes berlomba-lomba menulis lirik yang ribet dan bicara mewakili banyak orang, lewat album ini Sajama Cut membuktikan kalau kamu masih bisa membuat musik yang menarik dengan berbekal pengalaman hidupmu dan orang-orang di sekitarmu.

hara

Ati Bolong (single)

Debut dari Rara Sekar ini adalah interpretasi ulang atas tembang karya dalang wayang suket asal Tegal, Ki Slamet Gundono. hara memainkan musik pop dengan lapisan atmosfer pekat yang sendu. Siapa sangka seorang Rara Sekar akan memilih warna musik yang sedikit eksperimental buat debutnya sebagai solois? Lagu ini adalah sebuah kejutan yang menyenangkan buat kamu yang mulai jenuh dengan formula folk-akustik yang makin begitu-begitu saja.

-Tomo Hartono

Nothing

The Great Dismal (album)

Album kiwari dari grup shoegaze berat asal Amerika Serikat ini dijejali dengan lagu-lagu dengan tekstur dan timbre yang pekat dan mengawang. Nothing terdengar berusaha membuat album dengan lagu-lagu yang bisa dijadikan kanvas untuk beragam eksperimentasi efek gitar. Sayang, arah yang diambil tersebut membuat The Great Dismal terasa membosankan. Hampir semua lagu di album ini seakan dibuat dengan ketukan dan vokal nyeret yang sama.

-Tomo Hartono

Portrayal of Guilt

It’s Already Over / Masochistic Oath (maxi-single)

Kedua lagu ini merupakan kisi-kisi album kedua orkes post-hardcore asal Austin, Amerika Serikat yang rencananya akan tayang Januari tahun depan. Dua-duanya terdengar disonan, pekat, dinamis, dengan eksperimentasi suara yang lumayan berani. Portrayal of Guilt terdengar berusaha memampatkan banyak hal ke dalam kedua lagu ini, mulai dari gempuran sludge yang menggerung, blastbeat yang tajam nan padat, sampai dengan riff-riff black metal midtempo yang mengundang anggukan kepala. Rasanya, rilisan ini patut dijadikan referensi bagi siapapun yang mencoba mendobrak batas-batas musik abrasif.

-Tomo Hartono

Lansanese 

Total Anjink (album)

Lansanese adalah sebuah proyek kolaborasi unik musisi noise Yogyakarta dan Amerika Serikat. Tidak hanya berbagi imbang personil antar-ras serta materi yang direkam di dua negara berbeda, Lansanese juga menggunakan bahasa Indonesia dan Inggris sekaligus. Bagian paling seru dari album ini adalah mendengarkan vokalis Cordey Lopez bernyanyi bahasa Indonesia yang belepotan (tapi sepertinya disengaja) dengan intensitas punk rock. 

Menyentuh tema-tema yang lumayan tabu dan sensitif, Lansanese memilih menggunakan humor dan absurditas untuk menyampaikan pesan mereka. Kapan lagi kamu bisa mendengarkan musik noise rock primitif bising penuh feedback dengan lirik seperti “everyone in the polisi is gay / lagi orang ahli gigi dia gay / every tempat wisata pasti gay / semuanya bapak pecalang pasti gay”?

-Yudhistira Agato

Greybox 

Melografik (double-album)

Produser asal Jakarta/New York, Greybox, meramu hip-hop, jazz, trip-hop, neo-soul dan elektronika menjadi sebuah soundtrack yang pas buat rebahan sambil sedikit goyang-goyang kepala melalui album Melografik. Ketika suasana belum kondusif untuk ke party atau bar, album ini bisa sedikit meredakan lara apalagi ketika didengar mengenakan headphone di malam hari selepas kerja karena kualitas produksinya yang prima. Berisikan 20 track, mayoritas instrumental dan rata-rata memiliki panjang durasi sekitar tiga menit, Melografik di satu sisi memiliki kualitas yang sangat konsisten. Di sisi lain, beberapa track menjadi saling melebur dan sulit dibedakan. 

-Yudhistira Agato

Internet Death 

Name of The Law (single)

Internet Death adalah proyek Ardo Sitompul (dulu Reveur, band skramz Surabaya) dengan Finlay Anderson yang berbasis di Christchurch, Selandia Baru. Mendengarkan Internet Death terasa seperti mendengarkan vokalis band hardcore punk yang sedang marah-marah berlatar latar musik gabber dan techno di party rave underground 90an. Energetik dan penuh energi, lewat Name of The Law, Internet Death mendemonstrasikan bahwa kita tetap bisa joget kejang sambil mengutuk kebijakan hukum pemerintah yang gak pernah adil. 

-Yudhistira Agato

Adrianne Lenker 

Songs (album)

Songs adalah sebuah album yang hangat dan intim. Mudah membayangkan bahwa album ini direkam di bawah tangga kayu di dekat loteng kabin tua yang kosong di tengah hutan.  Suara desis dari reverb ruangan ditangkap mikrofon dan dibiarkan begitu saja. Vokal rapuh Adrianne yang syahdu hanya ditemani petikan gitar kopong, suara rintik hujan dan kicauan burung. 

Dibanding proyeknya bersama Big Thief yang lebih ramai dan penuh, proyek solo Adrianne Lenker secara kontras terasa simpel dan sangat personal. Songs terdengar seperti curhatan seorang teman yang patah hatinya beberapa saat lalu namun baru sekarang bisa mulai menceritakan kisahnya. 

-Yudhistira Agato

Emma Ruth Rundle & Thou

May Our Chambers Be Full (album)

Di atas kertas, kolaborasi singer/songwriter Emma Ruth Rundle dengan unit sludge metal Thou masuk ke kategori “Gokil, pasti edan nih”. Vokal Emma yang mengawang namun gelap disandingkan dengan doom metal berat Thou terdengar seperti perkawinan yang alami. Namun sayang di mayoritas durasi May Our Chambers Be Full, potensi Emma maupun Thou justru tidak keluar secara maksimal karena keduanya harus berkompromi satu sama lain. Serba nanggung. Banyak juga momen membosankan yang membuat album ini terdengar lebih lama dari durasinya yang cuman 36 menit. 

Untungnya, nomor pembuka “Killing Floor” menyelamatkan kolaborasi ini. Track ini mengingatkan kita akan era-era keemasan post-metal yang atmosferik namun dengan vokal yang jauh lebih menarik. Cocok buat yang suka Alcest atau Elizabeth Colour Wheel.  Kalau satu album kualitasnya setara dengan track yang baru saja dibahas, May Our Chambers Be Full mungkin sudah jadi salah satu kandidat album terbaik 2020. 

-Yudhistira Agato

Hellripper

The Affair of The Poisons (LP)

Reaksi saya abis ngekhatamin album baru Hellripper, one-man blackened speed metal band asal Aberdeen, Skotlandia:

Gatel pengen ngerekomendasiin albumnya ke metalhead lain (X)

Gatel pengen ngerekomendasiin albumnya ke semua buruh startup Indonesia ()

Jujur sih, nggak ada hubungannya, bray. Tapi, The Affair of The Poisons tuh album yang tanpa sengaja mengamalkan 3 prinsip yang notabene dikultuskan di lingkungan startup—dengan paripurna:

Agile: namanya juga band solo, James McBain—pemilik moniker Hellripper—ngelakuin nyaris semuanya sendirian. Bantuan dari musisi lain presentasinya minim kayak jumlah perusahaan rintisan yang beneran tumbuh jadi besar. Udah gitu, Mas Mcbain ini berhasil nyentang semua KPI (Key Performance Indicator) band blackened speed metal yang baik dan benar: Gebuk drum lurus lagi ngebut, bikin Riff-riff  rapat, laknat, dan cepat, solo-solo jahanam kayak yang dibikin ama gitaris Iron Maiden abis nyikat speed, sampai nyanyi kayak orang kerasukan. Sudah tentu semua ini dilakukan sebagai bukti kecintaanya pada speed metal yang arkaik. 

Alhasil, kalau ada CEO startup yang kebetulan doyan metal dan kecantol album ini, kayaknya nggak mustahil kalau dia sembunyi-sembunyi berdoa “Ya Tuhan, boleh nggak ampunanmu dituker sama 100 pekerja macam si McBain ini. Boleh ya, please?” 

Mindful: Bukan karena Mas McBain males bikin lagu, tapi dia tahu hidup cuma segitunya dan belakangan habis dimakan ribuan meeting di Zoom. Makanya, dia bikin durasi album barunya hanya 30 menit tapi isinya nendang semua. Ini bisa jadi cara Mas McBain ngomong “Bray, rehat 30 menit deh. Dengerin album gue. Abis itu, ya silakan ngeruk duit. Habisin benefit kantor dan (tentu saja) menuhin KPI lagi”.

Great artists steal: Kata siapa startup kudu dibangun pake ide yang baru? Ini miskonsepsi yang dipelihara aja sih. Sebenarnya, ide-ide pendirian startup sudah berkeliaran dan cuma dirapihin aja. Kasusnya sama kayak The Affair of The Poisons. Speed metal itu barang lawas yang formulanya udah tried and tested. James McBain “sekadar” nyolong formula ini lalu mengaplikasinnya sambil dikit-dikit melakukan refinement. Dan, itu yang bikin jiwa metal saya (dan keping-keping sisa semangat anak startup) menggelegak!

Halah, lo ngarang kan?  Bisa jadi. Tapi, biar tahu saya ngarang atau nggak, dengerin dulu albumnya sampe abis. Sebab, saya yakin—meski baru asumsi—Tuhan udah ngaplingin satu sisi neraka buat siapa pun—khususon anak startup—yang main bantah tanpa data!

-Manan Rasudi

Satu Per Empat

Pasca Falasi (LP)

Guitar rock pasca Morfem dengan tendensi penulisan lirik yang Ade Paloh-esque adalah kemungkinan yang bakal kamu temuin ini pas nyetel Pasca Falasi. Di kuping saya, Satu Per Empat sukses menghidupkan kembali kenangan indah akan riff-riff asik dari Foo Fighters era awal, Netral era Miten sampai band-band guitar rock revival yang nongol 2-3 tahun ke belakang di Inggris sana. Sekadar saran: jangan sekali-kali menyetel lagu “Ephemeral” karena peluang track itu jadi lagu guitar rock terbaik tahun ini dan kemungkinan kamu kecanduan ngegeber lagu ini sama-sama tinggi.

Kalau dugaan saya, belakangan di sebagian kancah musik Indie ada kompetisi bikin lirik puitis yang sukur-sukur kedengaran woke meski ongkosnya besar: melupakan kelugasan bercerita. Nah, kalau hipotesa serampangan ini benar, sudah hampir pasti Satu Per Empat adalah undisputed champion-nya. Pasca Falasi kaya frasa yang bikin kita ngebet memidanakan guru-guru bahasa Indonesia kita. Pasalnya, mereka dulu gagal ngajarin kita bikin untaian kata nonpredikatif adiluhung macam ini: jejak renik abrasi peradaban atau alur igau tuju kenang. Dua contoh barusan ini masih sample doang, loh. Baru hidangan pembuka, belum main course-nya. Klaim juara Satu Per Empat atas lomba puitis-puitisan antar band indie ada di reff lagu “Circadia”. “Oh quo vadis? Circadia / Mungkinkah kita menjaga.

Gokil! Abis denger lirik ini, langsung deh terbit berahi buat bikin petisi online. Isinya: desakan biar Satu Per Empat masuk MURI sebagai satu-satunya band yang memasukkan frasa arkaik “quo vadis” dalam liriknya!

Adit Bujbunen Al Buse

Senja Indah di Future Tanah Abang: MrBrekksutabtkia (Single)

MrBrekksutabtkia adalah episode baru serial synthwave sendu Senja Indah di Future Tanah Abang yang masih digarap oleh Adit Bujbunen Al Buse—(nyaris satu-satunya) juru kampanye synthwave di kancah musik lokal. Segala konsep yang beliau buat masih terasa kitschy dan padat dengan selera humor absurd khas Adit seorang. Bedanya, kali ini Adit merapal sebuah puisi absurd di title track album pendek ini. Pokoknya, kalau bener-bener didengerin, rapalan Adit sebelas duabelas dengan puisi-puisi garapan penyair pecel lele, Beni Satryo. Saya jadi curiga, jangan-jangan Adit Bujbunen adalah Bensat yang meninggalkan Iwan Fals lantas mengimani Vangelis.

-Manan Rasudi

Kamu senang sama ulasan ngehek ala Manan? Jangan lupa gabung ke newsletter beliau melalui link ini!

***