Sekilas dari Ruang – September 2020

Sekilas dari Ruang
Foto oleh Yudhistira Agato

Pengantar Redaksi

Ada terlalu banyak musik bagus yang bertebaran saban bulan. Berhubung kapasitas telinga (dan mental) kami terbatas, tentu mustahil membedah semuanya demi kemaslahatan nusa, bangsa, dan skena. 

Namun, seperti kata peribahasa: ringan sama dijinjing, berat kasih orang lain saja. Di sinilah Tomo Hartono dan Yudhistira Agato turun gunung. Selain sama-sama musisi terpandang yang berkilauan di mata dunia, mereka juga gemar memantau karya-karya musik terkini yang dijamin bakal bikin telinga menggelinjang. Menurut hemat kami, duet maut ini layak diberikan rubrik tersendiri di Jurnal Ruang terkasih.

Perkenalkan, rubrik SEKILAS. Setiap bulan, Tomo dan Yudhis akan merekomendasikan rilisan musik anyar dari seluruh penjuru dunia yang menurut mereka layak dirayakan lebih riuh. 

Bila kamu punya rilisan baru yang pilih tanding, kirimkan langsung ke surel kami di halo.ruang@gmail.com, atau colek Tomo dan Yudhis di media sosial mereka masing-masing. Oh ya, kami akan tiga puluh kali lipat lebih gembira bila dihubungi oleh musisi dari luar Jawa, atau musisi mancanegara dari Asia Tenggara.

Selamat menikmati!

****

Rollfast

GaratubaLink

Terlalu banyak yang terjadi dalam album kedua dari grup rock nyebrang asal Denpasar ini. Mulai dari gamelan, tangga nada yang bisa membuat etnomusikolog bule berdecak-decak kagum, sompralan yang dirapal seperti mantra, sampai dengan pemakaian Google Speech dalam komposisi yang sukses membuat saya geleng-geleng kepala. 

Sebagian dari kalian mungkin berpikir saya hanya berusaha menyusun kata-kata acak layaknya para jurnalis gonzo sok iye itu tapi tidak, semua yang saya tulis bisa kalian temukan sendiri dalam “Garatuba”. Dengar saja langsung kalau tidak percaya. Mungkin, sudah saatnya kita bikin petisi agar Raka Ibrahim berhenti ngetwit dan mulai mengulas album ternekat tahun ini.

—Tomo Hartono

Indigo Moiré

Footjam WhipLink

Dari sekian banyak grup emo/pop-punk modern yang bermunculan di seantero Indonesia, grup asal Bekasi ini merupakan salah satu yang cukup matang, baik secara produksi, penulisan lagu, maupun eksplorasi suara. Di lagu ini, mereka kembali menunjukkan kepiawaian mereka dalam menulis chorus besar yang penuh hook dan harapan. Saya merekomendasikan lagu ini buat mereka yang merasa pandemi tak berkesudahan ini mulai menggerogoti kewarasannya.

—Tomo Hartono

Sade Susanto

Don’t Control MeLink

Entah sudah berapa kali saya mengulang lagu ini sejak pertama dirilis 11 September lalu. Walau ditulis sebagai lagu R&B yang nge-pop dan bertebaran hook di sana-sini, tak dapat dipungkiri bahwa lagu ini dibumbui banyak elemen dan pendekatan produksi yang menyenangkan. Pun dengan liriknya yang penuh dengan keberdayaan. Lupakan demonstrasi di Senayan, putar lagu ini kencang-kencang di depan rumah para elit oligarki dan berjogetlah dengan jorok.

—Tomo Hartono

Vt-00

Ultra KolosalLink

Maxi-single dari unit EBM/industrial baru asal Ciputat. Walau belum banyak merilis materi, tapi kedua lagu yang dicantumkan dalam Ultra Kolosal terdengar sangat menjanjikan. Cocok didengarkan sembari mengutuk kemacetan dan deru mesin kota. Kabarnya, mereka akan merilis materi baru dekat-dekat ini lewat label Future EXP. Silakan dipantau.

—Tomo Hartono

Svalbard

When I Die, Will It Get Better?Link

Ada masa di mana grup-grup hardcore punk yang melodik dan sendu bermunculan bak rimpang di sela-sela beton. Tak banyak yang bertahan. Sebagian besar lenyap dilahap kebosanan pasar. Tak heran, kebanyakan hanya bermain dengan formula yang itu-itu saja. Pun dengan Svalbard. Kala mendengar mereka pertama kali dulu sekitar tahun 2018, lagu-lagu mereka hanya singgah sepintas lalu di playlist saya. 

Tetapi tidak dengan album ini. Kali ini, grup asal Bristol, UK ini melangkah lebih jauh dalam segi komposisi. Bagian yang bertabur pengaruh dream pop dibasuh oleh gerungan blastbeats dan riff-riff yang pekat akan pengaruh Isis. Serena Cherry sebagai vokalis juga menunjukkan jangkauan suara yang mencengangkan: mulai dari vokal mengawang a la Mazzy Star sampai dengan pekikan dan jeritan ia sikat semua. Bagaimana dengan liriknya? Misogini dan seksisme dalam skena. Sempurna. Putar kencang-kencang tiap kali kalian muak dengan patriarki.

—Tomo Hartono

Osees

Protean Threat – Link

Prinsip bermusik Osees nggak beda jauh dengan cara mereka memilih nama band. Doyan gonta-ganti nama tanpa mengubah esensinya (sebelumnya Oh Sees, Thee Oh Sees, dst), Osees selalu menggunakan garage rock dan psikedelik sebagai kanvas tapi dengan coretan-coretan dan warna yang berbeda di setiap album. 

Diskografi band asal California ini gede banget (rilis album hampir tiap tahun semenjak 2006), tapi bangsatnya Protean Threat masih bisa mengejutkan saya. “Dreary Nonsense” menyalurkan roh art-punk ala Wire dan Devo, “Said The Shovel” meminjam elemen disko dan tembang instrumental “Wing Run” menerapkan beat konstan krautrock yang bikin kepala bergoyang. Eksplorasi yang luas, quirkiness dan seksi rhythm yang groovy membuat album ini sangat seru untuk didengarkan, biarpun di 3-4 track terakhir, mereka mulai agak malas dan bersandar nyaman di sound psychedelic rock.

—Yudhistira Agato

hauste

Patterns – Link 

Minus beberapa pengecualian, mendengarkan album penuh math rock itu seperti minum bir: enak di awal tapi cepet bikin bosan. Tapi di album terbarunya, trio asal Singapura ini berhasil bikin saya betah sampai track terakhir. Alih-alih disuguhi struktur lagu yang kelewat njlimet dan masturbasi scale gitar, hauste menaruh fokus besar di melodi dan hooks (dan rata-rata durasi lagunya hanya 3 menitan. Fiuh.) Variasi-variasi yang ditawarkan seperti harmonisasi keyboard dengan gitar di “nara”, falsetto vokalis tamu Eugene Soh di nomor “I can’t draw circles” dan nuansa R&B kuat di “Corduroy” yang juga diramaikan rapper Bobbi Brown semakin membuat album ini enak didengarkan sambil lembur kerja. 

Patterns dirilis label Jepang, Friend of Mine Records yang juga menjadi rumah dari Covet dan Murphy Radio (Samarinda). 

—Yudhistira Agato

Sivia

Love SpellsLink

Single dari Sivia ini adalah jenis lagu pop yang bikin nagih. Nggak hanya catchy dan rapi produksinya, tapi aransemennya juga seru. Dibumbui elemen gospel dan funk, liukan vokal Sivia yang soulful, dan vokal latar paduan suara yang megah, “Love Spells” cocok dibawakan sebagai penutup set di festival musik besar karena dijamin semua akan nyanyi bareng. Tapi mengingat masih lama kayaknya sebelum vaksin COVID-19 ditemukan, sementara saya akan puas-puasin nyanyi di kamar. 

—Yudhistira Agato

Bottlesmoker

Tortuga – Link

Jujur saja, “Tortuga” adalah lagu Bottlesmoker favorit saya sejauh ini. Selain lebih dinamis dan punya daya gegas dari materi-materi sebelumnya, “Tortuga” juga menandai pertama kalinya duo elektronika asal Bandung ini menampilkan vokal di karyanya. Vokal dari Esya Swasti Sukmatia yang bersahut-sahutan di bagian hook membuat lagu ini sangat cepat menempel di telinga, biarpun saya nggak ngerti satu pun kata yang dinyanyikan karena liriknya menggunakan bahasa Zufrasi dan ditulis oleh Rully Shabara (Zoo, Senyawa). Tapi makna “Tortuga” jelas tertulis di caption video musiknya kok: “As we destroy nature, we destroy ourselves.” 

—Yudhistira Agato

Much

Skin By Skin – Link

Agak klise menyebut sebuah band bertambah dewasa, tapi single baru Much memang terasa lebih matang secara eksekusi dan produksi. Mengingatkan saya akan nomor ballad dari Jimmy Eat World, “Skin By Skin” mengalir dari awal sampai akhir dengan sangat ringan dan empuk. Layer tipis vokal Dandy dan Aulia di bagian reff membuat lagu ini terdengar semakin sayu. Lagu yang cocok buat masuk playlist road trip di sore hari atau soundtrack film coming-of-age

—Yudhistira Agato

Dead End

Self Titled Link

Scene punk/hardcore Tangerang sedang seru-serunya akhir-akhir ini. Biarpun kecil dan orangnya itu-itu saja, tapi mereka produktif dan konsisten menjaga kualitas. Proyek solo Gerry L Fauzi (Hong!, Dirty Ass) dengan moniker Dead End memainkan bebunyian synth-punk/new wave 70-an akhir/80-an awal Amerika ala Devo atau The Units lengkap dengan produksi yang raw

Formulanya sederhana namun efektif: power chords, synthesizer, dan attitude. Di luar musiknya yang menyenangkan dan catchy, lirik Gerry yang getir mewakili perasaan kita semua di tengah kegilaan yang sedang terjadi, “Menghias lampu angkasa / hanya gelap yang aku rasa / Akhir kata semua fana / dan semua akan mati.

—Yudhistira Agato