Novel Populer Perancis: Beragam, Pikat Pembaca Lintas Negara

novel populer perancis

Di Perancis, berbagai jenis novel populer hidup subur sepanjang abad ke-19 dan ke-20. Bahkan hingga hari ini.

Pada pertengahan abad ke-19, muncul jenis “roman de gare” (novel stasiun kereta), suatu jenis novel populer yang umum dijual di stasiun kereta, seiring dengan meluasnya jalur kereta api ke seantero negeri pada masa itu. Sebagai moda transportasi publik, kereta api mendorong mobilitas orang sehingga mereka pun menjadi target utama pasar penjualan novel-novel populer.

Mohammad Hatta dalam perjalanan pertamanya ke Eropa pada 1921 mencatat kekagumannya akan kebiasaan utama orang Perancis membaca buku di setiap kesempatan, termasuk di dalam trem/kereta api. Memang sudah menjadi kebiasaan bagi orang Perancis (dan Eropa umumnya) untuk menghabiskan waktu selama perjalanan mereka, baik di kereta api ataupun pesawat, dengan membaca buku, termasuk novel-novel populer.

Roman picisan, yang tidak lagi dipandang sebelah mata

Ada anggapan novel populer semata-mata mengandalkan isi/tema cerita yang sensasional dan/atau alur cerita yang sederhana demi meningkatkan penjualan agar dapat menunjang kelangsungan penerbitan novel itu sendiri. Rumus atau formulanya umum diketahui mengandalkan tokoh utama yang ideal, tokoh sekunder/figuran yang “aneh” sehingga mudah diingat pembaca, dan ketebalan novel tidak lebih dari 250 halaman.

Di sisi lain, juga ada anggapan bahwa kritikus sastra tidak perlu membuang waktu menimbang novel jenis ini yang dirasa tidak mementingkan inovasi struktur ataupun keindahan prosa. Novel populer dinilai tidak atau kurang sastrawi, dan tidak mungkin masuk dalam kanon-sastra yang menjadi ukuran pentingnya sebuah karya untuk dibaca umum dan diajarkan di bangku sekolah.

Anggapan-anggapan itu masih kuat karena kebanyakan novel populer memang mengandalkan tema dan alur cerita sederhana.

Namun, beberapa novel populer masa kini telah membuktikan sebaliknya dan berhasil memenangkan penghargaan sastra, sehingga batas-batasnya menjadi kabur. Meski anggapan-anggapan itu belum sepenuhnya memudar, novel populer tidak lagi dipandang sebelah mata.

Bagaimana industri novel populer hadapi tantangan perubahan?

Ada kesan novel populer akan lekas punah menghadapi perubahan-perubahan cepat di awal abad ke-21 ini. Kemajuan teknologi transportasi sepanjang tiga dekade terakhir telah meringkas rentang waktu perjalanan kereta api. Kini, jarak terjauh di antara stasiun utama di Perancis dapat ditempuh kereta api dalam 3 jam, dan implikasinya orang tidak lagi menghabiskan waktu mereka di kereta api dengan membaca buku selayaknya generasi-generasi sebelumnya seperti yang dicatat Hatta.

Menyadari perubahan pasar baca, industri penerbitan melakukan strategi dengan menggenjot penjualan berbagai novel populer ini lebih gencar pada masa liburan musim panas—seiring semakin banyaknya orang yang mampu menikmati liburan musim panas berkat perkembangan ekonomi sejak akhir 1960-an.

Sejak itu pula, pasar dibentuk untuk menikmati novel populer sebagai bacaan hiburan di masa liburan musim panas mereka. Karena itu, penulis juga dituntut untuk menghasilkan karya dengan cepat untuk dipasarkan pada awal liburan musim panas sehingga publik dapat membeli dan membaca selesai buku yang dipasarkan tersebut selama masa liburan. Meski tahun ini ada kecemasan akibat pandemi Covid-19, novel-novel populer tetap terbit pada masa awal liburan musim panas.

Kemajuan teknologi media yang memaksa perubahan dunia penerbitan juga mendorong adaptasi strategis novel jenis ini. Alur cerita dibuat lebih tajam dan unsur “misteri” dikedepankan agar langsung memancing pembaca. Juga, penjualan tidak hanya bergantung pada media cetak (berbentuk buku), malah penjualan daring lewat media tablet/sabak semakin meningkat. Alih-alih punah, adaptasi-adaptasi ini justru berhasil membangkitkan novel populer.  

Ramaikan konstelasi buku Perancis, tawarkan keberagaman

Tulisan ini memperkenalkan enam penulis novel populer di Perancis: mereka terdiri atas empat orang Perancis, seorang Maroko, dan seorang Swiss. Menjadi penulis novel populer terbilang tidak mudah. Selain menghadapi banyak pesaing, mereka tentu mesti membuktikan karya mereka akan laku di pasar.

Untuk pasar dalam negeri Perancis saja, target penjualan minimal sebanyak 1.500 eksemplar. Penerbit tidak ragu karya-karya mereka laris di pasar. Karya mereka juga dapat dengan mudah ditemukan dan dibeli di stasiun kereta (terutama saat musim panas) dan dijual dengan harga yang relatif murah dalam bentuk buku saku.

Larisnya pasar Perancis juga memancing penerbit asing untuk meraup keuntungan serupa dengan menerjemahkan beberapa karya mereka. Rumus-rumus umum novel populer Perancis ini ternyata berhasil juga memikat pembaca asing lintas bahasa. Sayangnya, memang belum ada satu pun karya para penulis ini yang tersedia dalam bahasa Indonesia. Kiranya ini juga membuka pintu terjemahan dan mendorong minat pembaca kita lebih jauh untuk mengenal karya-karya mereka.  

Sebagaimana akan kita lihat, lima penulis berusia 40-an (kelahiran tahun 1970-an), yang merupakan usia produktif sebagai penulis, dan karier mereka sebagai penulis novel populer pun bisa dikatakan telah mantap. Lewat tangan mereka, pasar novel populer di Perancis tetap bergairah, mampu menjaring pembaca lebih luas, dan mungkin juga menentukan adaptasi lebih lanjut novel populer sepanjang abad ini.

Franck Thilliez (kelahiran 1973) menulis novel-novel thriller (ataupun fiksi kriminal/cerita detektif).

Karya pertamanya, Train d’enfer pour Ange rouge (Kereta Neraka bagi Malaikat Merah) terbit pada 2004. Setahun kemudian, terbit novel keduanya, La chambre des morts (Kamar kematian) yang berhasil memenangkan dua penghargaan, yakni penghargaan novel fiksi-kejahatan Quais du polar pada 2006 dan penghargaan novel dari perusahaan kereta api (Prix SCNF du polar) pada 2007.

Laris terjual lebih dari 250 ribu eksemplar di pasar Perancis, novel ini telah diterjemahkan ke dalam 15 bahasa, dan kemudian diangkat ke layar lebar dengan judul sama pada 2007. Sayangnya, film ini kurang begitu sukses di pasar.

Karya terbarunya, Il était deux fois (Dua kali) setebal 500 halaman yang terbit pada Juni 2020, masuk dalam urutan sepuluh novel populer terlaris versi majalah mingguan L’Express edisi musim panas.

Abdellah Taïa (kelahiran 1973) lahir di Maroko, belajar sastra Perancis di Rabat, dan pada 1999 (26 tahun) pindah ke Paris untuk menempuh pendidikan doktoral.

Usai lulus, ia menetap di Paris hingga sekarang. Novel-novelnya banyak mengambil tema otobiografi, terutama latar belakang budaya Maroko masa ia tumbuh pada 1980-1990-an.

Karena itu pula, karya-karyanya juga dikenal luas di Maroko. Salah satu novelnya, Le jour de roi (Hari Sang Raja) terbit 2010, memperoleh penghargaan sastra bagi penulis muda (Prix de Flore) pada tahun yang sama, dan telah diterjemahkan ke dalam 10 bahasa. Menyusul novel-novelnya yang lain, Un pays pour mourir (Sebuah negara untuk mati) (2015) dan La vie lente (Hidup lambat) (2019) juga mendapat perhatian yang luas dan telah diterjemahkan ke dalam banyak bahasa.

Guillaume Musso (kelahiran 1974) menulis novel pertamanya, Skidamarink, sebuah kisah thriller yang terbit pada 2001.

Karya keduanya, Et après… (Dan kemudian…) terbit 2004, telah diterjemahkan ke dalam 20 bahasa, dan kemudian diangkat ke layar lebar dengan judul sama pada 2008. Film ini lumayan sukses di pasar Perancis dan Kanada.

Setebal 500 halaman lebih, novelnya La jeune fille et la nuit (Seorang anak perempuan dan malam) terbit 2018 menjadi novel terlaris di Perancis pada musim panas tahun itu setelah mencatat penjualan total sebanyak 555 ribu eksemplar. Novel ini telah diterjemahkan ke dalam 25 bahasa.

Sejak 2004 hingga sekarang, ia secara teratur menerbitkan satu buah novel setiap tahunnya. Karya terbarunya, La vie est un roman (Hidup adalah sebuah novel) terbit Mei 2020, memperoleh ulasan yang baik dari koran Le Parisien dan majalah Cosmopolitan, dan masuk dalam urutan sepuluh novel populer terlaris di banyak daftar.

Virginie Grimaldi (kelahiran 1977) menulis novel pertamanya, Le premier jour du reste de ma vie (Hari pertama dari sisa hidupku) terbit 2015.

Novel ini laris di pasar (penjualan perdana lebih dari 35 ribu eksemplar) dan langsung melejitkan namanya. Sejak itu pula hingga sekarang, ia secara teratur menerbitkan satu novel setiap tahunnya.

Novel terbarunya, Et que ne durent que les moments doux (Dan hanya kenangan manis yang tertinggal) terbit Juni 2020, memperoleh ulasan yang baik dari koran Le Parisien, dan masuk dalam urutan sepuluh novel populer terlaris versi majalah mingguan L’Express edisi musim panas.

Agnès Martin-Lugand (1979) menulis novel pertamanya, Les gens heureux lisent et boivent du café (Mereka yang bahagia membaca dan minum kopi) terbit 2013, dan telah diterjemahkan ke dalam 24 bahasa.

Sejak 2013 hingga sekarang ia secara teratur menerbitkan satu novel setiap tahunnya, dengan tema cerita yang berbeda-beda. Tokoh utama dari novel-novelnya selalu perempuan.

Novel terbarunya, Nos Résiliences (Ketahanan kami) terbit Mei 2020, dan memperoleh ulasan yang baik dari koran Le Parisien. Novel ini berkisah tentang Ava, yang mengikuti jejak kakek dan ayahnya sebagai pedagang barang seni.

Lahir dan besar di Swiss, Joël Dicker (kelahiran 1985) menulis dalam bahasa Perancis. Karya pertamanya, sebuah cerpen Le Tigre (Harimau) terbit 2005.

Tujuh tahun kemudian, terbit novelnya setebal 800 halaman, La vérité sur l’affaire Harry Quebert (Kebenaran tentang kasus Harry Quebert) yang langsung laris di pasar, menerima sejumlah penghargaan sastra, dan melejitkan namanya. Novel ini telah diterjemahkan ke dalam 32 bahasa, dan diangkat menjadi drama miniseri dengan judul sama pada 2018.

Novel terbarunya setebal lebih dari 500 halaman, L’enigme de la chambre 622 (Keanehan kamar 622) terbit Mei 2020, memperoleh ulasan yang baik dari koran Le Figaro, dan masuk dalam urutan sepuluh novel populer terlaris versi majalah mingguan L’Express edisi musim panas.

Jafar Suryomenggolo
Bermukim di Paris, menerima LITRI Translation Grant 2018 untuk terjemahan sejumlah cerpen karya buruh migran dalam kumcer At A Moment’s Notice (NIAS Press, 2019).