Prometheus Pinball, Menghidupkan Ingatan Mesin yang Cacat

ulasan buku prometheus pinball afrizal malna

Pandemi kali ini barangkali membuat sebagian dari kita mencari tahu lebih banyak tentang pandemi di masa lalu. Mengais puing-puing ingatan, mencari apakah ada yang bisa kita pelajari untuk menghadapi kengerian ini. Kita temui angka-angka kematian, kronik penyebaran, dan catatan resmi tentangnya.

Lalu kita tersadar, terlalu banyak yang hilang, dilupakan, tak sempat direkam. Tak hanya perkara spesimen  virus, tapi juga kita kekurangan catatan tentang kehidupan sehari-hari publik selama pandemi kala itu. Saat terjadi wabah seratus tahun lalu, siapa yang peduli dengan kehidupan sehari-hari warga biasa desa-desa atau perkotaan di bumi Nusantara ini?

Berbeda jauh dari masa seabad lalu, teknologi saat ini jauh berkembang pesat. Hampir segala sesuatunya terekam, ingatan-ingatan personal warga selama mengadapi pandemi kini bertebaran secara digital, melimpah, disimpan dalam awan yang sama. Kita punya semacam gudang penyimpanan memori kolektif, yang tiap detik terus menumpuk, menyimpan potensi-potensi pembacaan yang mengandaikan kita dapat terbantu menghadapi masa sulit kelak.

Di ruang publik, ingatan personal tentang sulitnya diputus-kerja saat pandemi atau ingatan kolektif solidaritas warga dan tenaga-tenaga medis beradu dengan arsip-arsip tentang keteledoran pemerintah menangani pandemi, korupsi dana bantuan sosial, dan pengesahan serangkaian undang-undang yang siap membuat hidup kebanyakan orang makin suram.

Usaha menghidupkan pelbagai ingatan adalah agenda yang juga diusung Afrizal Malna dalam buku puisi terbarunya, Prometheus Pinball. Tema utamanya memang bukan soal pandemi. Ia mencoba merangkak ke masa lalu, mengais ingatan biografisnya tumbuh di Jakarta yang keras. Sebuah ruang yang gelap karena sebagian besar ingatannya hilang ditelan Jakarta.

Prometheus Pinball, Kredit foto: IG @reading_sideways_press

“Mungkin inilah DNA Jakarta untuk sesuatu yang tidak pernah menetap pada tempatnya. Kota pos-kolonial yang belum bisa menghapus watak melihat kekuasaan dan uang sebagai pencapaian dan keamanan. Kota yang dibangun dan dihancurkan kembali. Sebagian diri saya ikut hilang bersama peta kota yang terus berubah…” tulis Afrizal dalam pengantar Pinball.

Entri dalam buku puisi biografis—atau memakai istilah Afrizal: otopuisi—ini dikumpulkan sejak 2012. Dalam terbitan rumahlebah, ruang puisi #03/2012, dimuat 9 puisi dan satu esai panjangnya yang berjudul Kayu yang Terapung di atas Sungai (Sebuah Oto-Puisi). Dalam terbitan tersebut ada semacam bocoran agenda yang sedang Afrizal susun. “Puisi-puisi ini merupakan penggalan dari balada biografis yang sedang ditulis Afrizal Malna: Tepuk Tangan di Balik Layar.”

Judul tersebut hilang diganti Promotheus yang telanjang dan mesin Pinball. Bola dalam permainan mesin pinball jadi penggambaran bagaimana “ingatan indeksikal” Afrizal bekerja. Butuh satu momen untuk membangkitkan ingatannya yang berada dalam ruang gelap. Hal-hal seperti pertemuan dengan kawan lama atau “orang yang pernah jadi bagian penting dalam hidup saya” menjadi pemantik awal. Momen itu membuat bola ingatannya terlempar, menabrak titik tertentu di ruang memori lalu melemparkannya ke arah tak terduga, hingga muncul serangkaian indeks biografis dan indeks isu.

Tabrakan Arsip

Metode yang ia pakai ialah menjadikan tahun kelahirannya, 1957, sebagai titik tolak. Kemudian ia menelusuri, mengumpulkan, dan mengintegrasikan arsip-arsip yang ia temui dalam garis waktu per sepuluh tahun, 1957-1997 ke dalam biografi. Integrasi yang bagi saya lebih mirip sebuah tabrakan.

Arsip-arsip ia ambil dari buku-buku tentang Jakarta, artikel-artikel di internet, dan peristiwa-peristiwa di situs Timelines of History. Tema arsip yang ia pilih secara garis besar paling tidak bisa dikategorikan ke dalam tiga hal. Pertama, catatan resmi tentang capaian-capaian sosial-ekonomi-politik di dunia dan Indonesia khususnya Jakarta. Kedua, arsip-arsip perlawanan di sekitaran catatan resmi capaian tadi. Terakhir, arsip tentang perkembangan dunia sastra dan kebudayaan.

Menghidupkan arsip dalam puisi memang bukan hal baru dalam perpuisian Indonesia. Apalagi dalam konteks Jakarta, Zeffry J. Alkatiri sudah menulis kumpulan puisi yang mengangumkan tentang Jakarta, Dari Batavia Sampai Jakarta 1616-1999: Peristiwa Sejarah dan Kebudayaan Betawi-Jakarta dalam Sajak. Buku itu menghidupkan kembali peristiwa sejarah lewat gubahan arsip atau ingatan personal Zeffry dan handai tolannya. Puisi gubahan arsip dan puisi ingatan personal kerap kali hadir terpisah dalam buku puisi tersebut. Sedangkan dalam Pinball, arsip-arsip tersebut saling bertabrakan dengan ingatan biografis Afrizal, saling berebut tempat dalam satu puisi, menciptakan satu kolase yang sama mengagumkannya. Pembeda yang lain ialah Afrizal melakukan eksplorasi dan manipulasi elemen-elemen grafis, persis seperti yang ia lakukan pada puisi-puisi dalam Berlin Proposal.

Sementara, tabrakan-tabrakan arsip dan manipulasi grafis sama sekali tidak terlihat dalam fragmen-fragmen di terbitan rumahlebah. Puisi-puisi dalam terbitan tersebut mengalami perubahan yang signifikan dalam Pinball. Dalam Pinball, puisi berjudul “Seorang Daging Mentah” berganti judul menjadi “ledakan yang tak terdengar”. Dalam Pinball, arsip-arsip masuk dan menata ulang fragmen-fragmen biografis. Mari bandingkan penggalan berikut:

Seorang Daging Mentah

Ia terbuat dari daging masih mentah dengan gatal-gatal yang membuatnya sibuk menggaruk. Dalam telapak tangannya ada bangkai tentang dirinya, yang dibunuh oleh pengertiannya tentang manusia yang pernah dikenalnya. Kini ia hanya tepuk tangan di balik pagar. Rumah yang nilai-nilainya dijaga oleh uang dan sejarah binatang di bawah meja makan. Kepercayaan kepada cinta dan kesunyian yang tak pernah bisa terisi dengan 1 truk pasir, besi beton dan semen.

ledakan yang tak terdengar

dia terbuat dari daging mentah dengan gatal-gatal yang membuatnya sibuk menggaruk. ada bangkai homo sapiens yang terasing dalam dagingnya. meninggalkan lubang selamanya, dan melahirkan minyak. apakah dia telah menyakiti udara? ibnu sutowo mulai mendirikan pertamina. perusahaan minyak dan gas bumi. menggetarkan jalan-jalan, laut, langit dan dollar.

(jenderal itu menolak keuangan pertamina diperiksa secara terbuka. salah satu bawahannya memiliki rkening pribadi 36.000.000 US$. pesta pernikahan termahal. istri cantik. kemewahan yang meninggalkan bara di ruang publik)

Kita bisa lihat bagaimana arsip-arsip tentang Pertamina sekonyong-konyong hadir menabrak ingatan masa kecil Afrizal. Dalam bait pertama “ledakan yang tak terdengar”,Afrizal juga menambahi elemen grafis yang menambah efek kejut dalam puisi tersebut. Serangkaian manipulasi struktur puisi yang dilakukannya meminjam prinsip praktik kolase dalam seni rupa. “Membiarkan pembaca bisa menerima atau tetap menolak ada hal-hal yang tidak bisa disatukan dan tetap dibiarkan sebagai sesuatu yang terpisah…”

Puisi ledakan yang tak terdengar. Kredit foto Efka Lesa

Aku yang dicoret itu mengingatkan saya pada proses menjadi aku-massa yang Afrizal jelaskan dalam epilog Kalung dari Teman. Bahwa saat ia memakai kalung, tidak hanya kalung yang melingkar di lehernya, tapi juga kebudayaan massa yang turut melingkar. Dari puisi di atas, tampak bahwa proses menjadi bagian dari massa itu tanpa disadari sudah terjadi sejak ia lahir lewat pemberian nama dan prosesi-prosesi yang menyertainya.

Puisi “ledakan yang tak terdengar” ada dalam bab pertama Pinball—57: dna waktu, di mana Afrizal banyak menggambarkan ekosistem seperti apa yang ada saat ia lahir. Jakarta sudah jadi besar jauh sebelum Afrizal lahir. Ibukota negara di mana segala ihwal mengenai eksploitasi alam dan manusia di pulau mana pun di negeri ini disusun dan disahkan.

Tentu Afrizal tak punya ingatan apa-apa tentang segala sesuatu sebelum ia lahir. Dengan menelusuri arsip-arsip, ia mencoba membayangkan memori kolektif apa yang kelak turut mempengaruhi tumbuh kembangnya.

Dalam puisi “meteran 2/3 jakarta” kita bisa lihat bahwa Jakarta 1957 tak begitu berbeda dengan saat ini perihal watak politiknya:

“saya menulisnya dari kenangan yang telah kehilangan termometer dan meterannya. kota yang menghabiskan 2/3 hutang negara. seluruh daerah menatapnya dengan mata hitam. hitam. desa-desa bangkrut. akulah bayi yang lahir sebagai mayat dalam novel mochtar lubis, jakarta dalam senja. 1957. kabinet yang goyah dalam jaringan korupsi, menjadi serangga buas dalam makna. seperti kafka dalam metamorfosis seorang pegawai asuransi…”

Afrizal lahir, lalu kenyataan yang kemudian harus ia hadapi ialah kampung-kampung di daerah Kramat Senen dengan kehidupan yang keras. Sejak kecil ia harus terbiasa dengan lingkungan yang keras terhadap anak-anak. Suara tangisan anak yang dihukum atau kekerasan suami terhadap istri di lingkungan sekitarnya kerap ia dengar. Lalu, perihal betapa perang antarkelompok atau antarkampung bisa saja pecah sewaktu-waktu. Lanskap bermain Afrizal kecil ialah gubuk-gubuk pemulung yang berjejer di pinggiran rel kereta. Afrizal besar dalam komunitas yang hanya boleh mengintip apa yang sedang terjadi di pusat kekuasaan Jakarta, jauh dari mimpi-mimpi metropolitan.

“orang-orang mendengarkan radio, mengintip seorang presiden sedang bercerita tentang garam yang rasanya asin, air laut yang dijemur dalam pidato-pidato politik. batu baterai harus diganti lagi. bawang merah menutup lemari makan. anak-anak mulai menyanyikan kelelawar hitam koes ploes sambil memukuli panci, penggorengan, ember kaleng, gitar dan harmonika. link: https://youtu.be/slxhbe33l8m. malam turun sangat rendah. 1cm di atas kecemasan.” (sebuah kampung di mana mana)

Jakarta yang baru tampak di mulut gang kata Afrizal, lewat lalu lalang oplet atau pedagang-pedagang, pada bab 1967, makin hilir mudik ke dalam kampungnya, membawa mimpi-mimpi sebuah tatanan kehidupan baru yang berdiri di atas tragedi. Ia kini punya presiden baru yang setiap hari membentuk jaringan-jaringan kekuasaan untuk mengubur trauma-trauma kolektif dengan semen dan aspal. “pada saat ayam berkokok, gunung itu meletus. dia heran, di dalam kawah bekas letusan gunung, dia melihat ratusan ribu mayat dengan luka tembak dan tikam.” (mooi indie).

Cara Afrizal menuliskan tragedi tersebut memang samar tapi tetap punya daya subversif. Tidak perlu bejibun catatan kaki untuk menjelaskan indeks-indeks peristiwa yang ia rujuk. Dari puisi mooi indie itu tentu kita paham, ratusan ribu mayat itu mati bukan karena letusan gunung, karena gunung tak punya peluru untuk menembak atau pisau untuk menikam. Negara dan kriminal punya.

Apa yang dilakukan Afrizal tersebut seakan mengolok-ngolok gerakan puisi esai yang terkesan takut benar bila pembaca enggak bakal ngeh soal apa yang mereka tulis.

Arsip-arsip peristiwa orde baru makin deras masuk di bab-bab selanjutnya. Jakarta bersiap melaju makin kencang meninggalkan Afrizal. Rencana-rencana pembangunan telah disusun, rumah-rumah digusur, toko-toko digusur, termasuk toko milik pamannya. Resistensi massa terhadap pembangunan tersebut menghasilkan konflik-konflik. Saat remaja ia turut menyaksikan peristiwa Malari, mobil-mobil dibakar, pertokoan dijarah, penangkapan di mana-mana. Jakarta terus berubah jadi arena yang penuh kengerian dan omong kosong kekuasaan.

Perubahan itu begitu cepat terjadi. Urbanisasi di Jakarta makin kencang, memenuhi jalan-jalan menghasilkan banyak sampah dan polusi udara yang memenuhi langitnya. Jakarta di era Orde Baru terus-menerus menciptakan efek yang disebut “solastalgia” kepada penduduknya, sebuah neologisme yang dipopulerkan peneliti dan aktivis lingkungan Australia, Glenn Albrect. Yaitu semacam gangguan mental yang disebabkan perubahan iklim secara global dan pembangunan yang mengakibatkan berbagai degradasi lingkungan. Gangguan tersebut berupa diskoneksi emosi dan kultural individu maupun kolektif dengan tempat tinggalnya. Efek dari gangguan tersebut Afrizal gambarkan dengan sebuah mesin yang cacat.

“buruh-buruh datang dari berbagai kota, memasuki pabrik-pabrik dan rumah-rumah petak. tanah menjadi komoditi yang mengubah sejarah keluarga. kampung-kampung digusur. setiap pemilu datang, kota berubah menjadi demokrasi yang hiruk-pikuk dengan kepalsuan. partai-partai dibuat dari slogan, poster, spanduk, teriakan dan raungan sepeda motor. bendera-bendera jelek mengotori seluruh jalan kota. wajah mereka (yang sebagian) menyeramkan—berpidato tentang bangkai tikus. seluruh tombol kekuasaan berada di tangan presiden.” (gerombolan mesin cacat).

Tentu saat remaja, mesin cacat tersebut selalu punya wahana eskapisme. Selain pergaulan dengan teman-teman sekolah, kepada musik dan dunia kesenian ia serahkan masa mudanya. Jakarta yang ngeri itu sementara hilang dalam riff-riff gitar Led Zeppelin, lagu-lagu John Lennon, Ahmad Albar, Ucok Harahap, Rendra, puisi pamflet dan mbeling, pesta-pesta, atau dansa-dansa di lantai disko.

Dunia kesenian menjadi salah satu hal yang membuat Afrizal merasa terhubung dengan kotanya. Selepas SMA ia mulai rutin berkegiatan di Planet Senen, menjalin pertemanan dengan seniman-seniman teater dan seni rupa.

Pergaulan di dunia sastra baru ia alami setelah berteman dengan Oewiek Sanusi Emwe (OSE). Seperti yang Afrizal kisahkan di esai Otopuisi, rumahlebah, OSE sering mengajaknya ke acara diskusi sastra di Taman Ismail Marzuki. OSE pula yang memperkenalkannya dengan Boedi S. Otong, sutradara Teater Sae yang kemudian jadi sahabatnya.

Simpul-simpul pergaulan di dunia sastra mulai terjalin, hingga terbit kumpulan puisi pertamanya, Abad yang Berlari. Dalam esai Otopuisi Afrizal, ia salah menulis tahun terbitnya buku tersebut, ia menulisnya 1987, padahal buku tersebut terbit pada 1984 dan mendapat penghargaan Hadiah Buku Sastra DKJ. Salah tulis itu jadi sangat klop dengan pernyataan Afrizal yang berkali-kali mengatakan Abad yang Berlari bukanlah kumpulan puisi saya, melainkan puisi Sastra Indonesia. Ia begitu ingin menjauhkan diri dari estetika yang termuat dalam buku tersebut. Bagi Afrizal, buku tersebut hanya familiarisasi terhadap puitika Indonesia, terutama lewat Chairil Anwar, Sapardi Djoko Darmono, dan Sutardji Calzoum Bachri. Estetika tersebut tidak bisa mewakili kehidupan sekitar yang Afrizal alami saat itu.

Afrizal, OSE dan Boedi merasa mereka adalah generasi yang hilang dan melahirkan estetika yang mereka sebut “estetika darurat yang hidup dalam mobil ambulan”. Estetika yatim piatu yang tak bisa lagi menerima kepemimpinan literer generasi sebelumnya.

“Estetika darurat dalam mobil ambulan ini seperti ingin menyampaikan rasa sakit. Memperlihatkan kekerasan nonpersonal yang menyakiti kita. Rasa asing bukan akibat dari proses eksistensialitas yang dijalani orang per orang, melainkan sebagai bagaimana proses-proses pembangunan mengatasi kemanusiaan kita sendiri kemudian menjadi akar dari tumbuhnya budaya korupsi,” tulis Afrizal dalam Otopuisi.

Demokrasi yang Lain

Saya tidak pernah mengalami Orde Baru secara langsung. Saya lahir pada 1995 di Majalengka. Namun, saya rasa rezim ini punya pengaruh terhadap masa kecil saya, terutama krisis ekonomi yang ia tinggalkan. Di awal tahun 2000, untuk bertahan menghadapi kehidupan pascakrisis ekonomi, bapak saya harus merantau ke Jakarta dan ibu saya jadi TKW di Arab Saudi. Saya tak sendirian, banyak teman-teman saya yang juga harus ditinggal ibunya menjadi TKW di Malaysia atau Arab Saudi.

Perjumpaan pertama saya dengan kata Orde Baru ialah di bangku sekolah lewat mata pelajaran Kewarganegaraan atau Sejarah. Dari situ rezim ini masuk ke kepala saya lewat serangkaian entri dalam indeks: Soeharto, demokrasi pancasila, swasembada, korupsi, kolusi, nepotisme, dwifungsi ABRI, militer, pemerintahan otoriter, keluarga cendana, dinasti politik, petrus, dan krisis moneter. Indeks-indeks kegemilangan ekonomi pembangunanisme ini seingat saya sering muncul di mata pelajaran sekolah. Kegemilangan yang kelak hanya menyisakan borok karena dibangun atas malpraktik politik pemerintahnya.

Saat membaca Pinball, tabrakan-tabrakan arsip dan ingatan Afrizal terlempar menabrak kehidupan demokrasi hari ini yang sedang saya alami. Ada ironi-ironi yang muncul. Misalnya saat Afrizal menyitir arsip tentang satu partai yang lekat dengan gerakan prodemokrasi dan kantornya pernah diserang. Lalu saya benturkan dengan keadaan saat ini, justru saat banyak kadernya berkuasa malah melakukan praktik-praktik yang tak jauh beda dengan pemerintah yang dulu mereka kutuk. Indeks-indeks Orde Baru yang saya sebut itu hari ini rupanya hanya berganti nama.

Saya tidak bisa merasakan bagaimana persisnya situasi mencekam dan kengerian di rezim Orde Baru. Tapi hari-hari ini, berita-berita terus membawa kengerian yang diciptakan pemerintah dan aparatnya. Bukan hanya perkara pandemi, ada juga soal pelanggaran HAM yang terus terjadi di Papua, penembakan 6 warga sipil di Jakarta oleh aparat, brutalitas aparat dalam menghadapi aksi demonstrasi. Saya kira daftarnya akan sangat panjang jika saya menuliskan semua di sini.

Narasi demokrasi oleh pemerintah dan kroni-kroninya ini justru terdengar sangat aneh, timpang dan ambigu. Di titik ini saya merasa negara sedang menyusun “fiksi sejarah” yang Afrizal tulis dalam puisi “rancangan mesin fiksi” berikut ini:

“saya generasi yang terbentuk dalam sebuah orde politik dengan rancangan total:

“fiksi sejarah”

dia menggunakan tanganmu untuk membunuh dirimu sendiri. dia menggunakan mulutmu untuk mengkriminalkan dirimu sendiri. bagaimanakah kamu bisa menghapus pisau dari kata pisau dalam agenda politik. tertanam dalam spiker publik. dia telah meringkus makna dan menyeretnya sebagai seragam militer, menggunakan aku-masaa sebagai pemegang mikrofon penuh darah.”

Saya mendapatkan buku Pinball ini setelah mengikuti acara Peluncuran Buku Bibliografi Beranotasi Seni Rupa Kontemporer yang diadakan Indonesian Visual Art Archive (IVAA) pada 30 November 2020. Moderator acara tersebut bercerita bahwa salah satu visi lahirnya IVAA ialah menciptakan ruang demokrasi yang lain. Praktik-praktik pengarsipan dan alih media arsip yang mereka lakukan bertujuan untuk memberi narasi tandingan wacana yang diproduksi otoritas negara. Mereka mengumpulkan, menelusuri dan melakukan pembacaan ulang, arsip-arsip yang kerap diabaikan oleh otoritas, seperti salah satunya ingatan-ingatan personal.

Agenda Afrizal dalam Pinball menurut saya selaras dengan apa yang dilakukan IVAA tersebut. Afrizal menawarkan alternatif dalam menghidupkan arsip.

Meski sarat dengan peristiwa sejarah atau isu-isu tragedi, bukan berarti aura puisi-puisi dalam Pinball ini melulu muram atau penuh dengan slogan-slogan. Interupsi arsip perkembangan dunia pop atau permainan grafis yang ia lakukan justru kerap memunculkan humor. Foto-foto yang ia pilih kerap membuat saya terbahak, meski kemudian juga terlintas satu kengerian.

Ada sensasi yang menyenangkan setiap membaca puisi-puisinya. Kadang nyaris seperti ulir berita di media sosial. Di urutan paling atas mungkin kita membaca ulasan serius tentang suatu peristiwa, lalu menyembul komentar sembarang dari kerabat. Scroll, ada curhatan kenalan yang sudah lama tidak kita jumpai. Scroll lagi, ada kabar tentang band yang merilis album baru. Lalu, kita tiba-tiba diajak tertawa persis saat melihat postingan akun meme.

Puisi atas nama listrik & 2×24 jam. Kredit foto Efka Lesa

Dalam buku kumpulan esai terbarunya Kandang Ayam, Afrizal bercerita bahwa proses pembuatan Pinball ini cukup menguras energinya. Ia bahkan berujar bisa jadi ini buku terakhirnya. Ia merasa mulai menua dan kerap merasa tidak nyaman, Dalam diskusi Pinball yang diadakan RSP x Substore 10A pada 29 Desember 2020, ia bercerita belum menerima eksemplar Pinball. Afrizal takut agenda yang ia lakukan gagal. Saya tidak tahu pembacaan seperti apa yang ia harapkan, tapi bagi saya buku ini punya momentum yang pas untuk terbit pada saat pandemi. Persis karena praktik mengingat dan mengolah ingatan sebagaimana yang dilakukan Afrizal dalam buku kumpulan puisi ini penting untuk kita terapkan demi bertahan di masa yang sulit ini.

Efka Lesa
Efka Lesa, lahir di Majalengka. Pernah belajar membaca & menulis di BPPM Balairung UGM. Tulisannya yang lain bisa dibaca di: b-lovedpoetaster.tumblr.com . Bisa disapa atau diajakin kerja lewat IG @efkalesa.