QWERTY dan Produksi Kemalasan

Banyak di antara kita yang mungkin masih ingat dengan popularitas ponsel Blackberry pada akhir dekade 2000-an. Dilengkapi dengan keyboard fisik ber-layout QWERTY, Blackberry dalam berbagai seri begitu laris di pasaran hingga muncul berbagai tiruan ponsel yang dikeluarkan oleh produsen-produsen berbeda. Tulisan ini diawali dengan rasa tergelitik penulis saat melihat sebuah spanduk toko ponsel di pinggir jalan hampir sepuluh tahun yang lalu. Spanduk tersebut bertuliskan “JUAL HP QWERTY” tanpa ada keterangan lain di bawahnya. Ingatan tentang spanduk ini lalu memunculkan pertanyaan tentang apa yang sebenarnya menjadi pertimbangan kita dalam menggunakan ponsel. Pada saat itu, terutama, apa yang membuat QWERTY sangat laris, bahkan dianggap sebagai keunggulan dari sebuah ponsel?

Pertanyaan tersebut membawa penulis pada penelusuran tentang awal mula layout QWERTY. Mungkin tak banyak yang bertanya-tanya mengapa layout QWERTY demikian adanya dan bukan dirancang dalam susunan lain seperti A-B-C-D-E, misalnya, yang seharusnya jauh lebih mudah untuk digunakan. Layout QWERTY pertama kali dipatenkan oleh Cristopher Latham Sholes, seorang penulis dan juru ketik di Milwaukee, Amerika Serikat, pada tahun 1868. Susunan ini dirancang untuk memudahkan operator telegraf saat menyalin kode Morse dengan menggunakan mesin ketik. Ada sumber lain yang menerangkan bahwa susunan QWERTY sengaja dibuat untuk memperlambat kecepatan mengetik dengan cara mengacak susunan huruf alfabet agar stik dari tiap huruf di mesin ketik tidak macet karena tempo pengetikan yang terlalu cepat. Pada masa itu, meski QWERTY bukan satu-satunya layout papan ketik yang ada, QWERTY adalah layout papan ketik produksi massal pertama yang sukses secara komersil dan secara cepat mencapai popularitas hingga menjadi layout yang digunakan secara universal.

Layout ini terus bertahan dari masa ke masa, bahkan hingga saat ini ketika telegram tidak lagi jamak digunakan dan kita tidak lagi bermasalah dengan stik huruf yang macet di mesin ketik. Seiring terinternalisasinya penggunaan komputer dalam kehidupan kita sehari-hari, hampir semua urusan yang menyangkut komputerisasi mengharuskan kita untuk terbiasa menggunakan layout QWERTY—mencatat, mengerjakan tugas, mengelola data, hingga chatting dan berinteraksi di media sosial. Apapun prosesor, sistem operasi, dan merek komputer yang kita gunakan, papan ketik kita selalu memiliki layout QWERTY. Perlu diingat bahwa pada akhir dekade 2000-an, Blackberry–meski bukan perusahaan ponsel pertama yang mengeluarkan ponsel dengan papan ketik QWERTY, juga berhasil mendekatkan QWERTY pada kelompok-kelompok masyarakat yang lebih luas. Layout QWERTY tidak lagi secara eksklusif ada di komputer, yang hanya lazim digunakan oleh mereka yang bekerja kantoran, atau di ponsel canggih yang hanya mampu dibeli oleh segelintir orang. QWERTY bisa hadir di tangan siapa saja, baik lewat Blackberry atau lewat ponsel-ponsel QWERTY mirip Blackberry lainnya. Hingga saat ini, ketika ponsel dengan papan ketik fisik tak lagi populer, QWERTY tetap menjadi layout standar untuk papan ketik touchscreen di beragam merek ponsel.

Upaya penelusuran yang lebih mendalam terhadap fenomena popularitas (superioritas?) QWERTY ini membawa penulis kepada dua ‘kata’ kunci yang dimasukkan ke dalam mesin pencari: QWERTY dan phenomenon. Namun, alih-alih menemukan argumen yang menjelaskan bahwa QWERTY bertahan begitu lama karena berbagai keunggulan, misalnya dari segi efisiensi, penulis menemukan argumen yang sangat bertolak belakang. Rupanya, QWERTY phenomenon adalah frasa padanan dari kata inertia—kelembaman, atau kecenderungan untuk terus mempertahankan keadaan tanpa menghiraukan perubahan di sekitarnya. Dengan kata lain, fenomena QWERTY adalah kecenderungan untuk terus menggunakan sistem atau produk yang tersedia dari awal meskipun terdapat gagasan atau teknologi baru yang menjadi alternatif yang lebih baik.

Ternyata telah sejak lama layout QWERTY mengundang banyak perdebatan karena dianggap rumit, menyusahkan, dan tidak efektif untuk mengetik cepat. Kalau memang saat ini kita tidak lagi bermasalah dengan pita mesin ketik, maka akan jauh lebih mudah untuk mengubah layout papan ketik di seluruh dunia dalam urutan abjad Latin yang lazim, seperti a-b-c-d-e, atau menggunakan inovasi-inovasi layout lainnya yang lebih efektif. Ada berbagai layout papan ketik yang pernah mencoba menyaingi superioritas QWERTY, seperti Dvorak, Colemak, AZERTY, Maltron, dan QWERTZ, namun sampai sekarang desain-desain tersebut hanya menjadi alternatif dan QWERTY tetap superior meski dengan menggunakan Dvorak seseorang bisa mengetik 150 hingga 200 kali lebih cepat.

QWERTY yang terus bertahan meski papan mengecil.

Jika menciptakan layout papan ketik baru adalah suatu hal yang cukup sulit untuk dilakukan, maka mengubah kebiasaan masyarakat di hampir seluruh dunia untuk beralih dari QWERTY ke Dvorak, misalnya, menjadi suatu hal yang jauh lebih sulit. Gagalnya Dvorak dan kawan-kawan sudah cukup untuk membuktikannya. Jauh lebih mudah untuk tetap bertahan dengan layout QWERTY meski terkadang jari kelingking kita jadi terasa pegal sekali setelah mengetik lama dan kita tidak sadar dalam jangka waktu yang panjang kita bisa menderita sindrom Carpal Tunnel. Tapi, adakah yang peduli? Mengubah QWERTY adalah suatu upaya yang sangat mahal. Begitu banyak waktu, usaha, dan uang yang harus dikeluarkan untuk membuat dan mempopulerkan layout baru untuk menggantikan layout QWERTY yang diproduksi secara massal setiap harinya di seluruh dunia. Tidak hanya pabrik komputer, laptop, dan ponsel saja yang akan repot untuk mengubah desain dan mesin, bayangkan juga berapa banyak sekolah yang harus mengubah metode belajar komputer, berapa banyak bank dan kantor yang harus mengubah sistem pendokumentasian, dan sejumlah dampak lainnya. Kita terlalu malas untuk beranjak dari sistem QWERTY dengan berbagai alasan. Dalam esei pendek yang menarik berjudul “A QWERTY World”, Brittany Pladek menuliskan bahwa ‘pelestarian’ QWERTY adalah produk dari kemalasan manusia, sekaligus cerminan dari kemalasan lainnya untuk mengubah ‘kelembaman’ berbagai sistem sosial-budaya yang ada di sekitar kita.

Ada ironi saat menyadari bahwa layout QWERTY yang dianggap modern ternyata adalah produk yang kuno. Ponsel yang ada di tangan kita, teman kita, bahkan mungkin sejumlah besar orang di seluruh dunia yang menggunakan layout QWERTY ternyata merupakan “penjajahan” dari suatu sistem yang tidak efisien. QWERTY dianggap lumrah, tidak dipertanyakan, bertahan lebih dari satu setengah abad, dan kita belum penah benar-benar tergerak untuk beranjak menuju teknologi yang lebih menguntungkan. Meskipun kini sejumlah aplikasi di ponsel menawarkan berbagai pilihan layout di luar model QWERTY, namun mengubah kebiasaan dan cara pandang atas QWERTY tak semudah mengunduh dan meng-install aplikasi. Kita sesungguhnya tengah mengkonsumsi salah satu teknologi paling usang yang pernah bertahan dalam sejarah peradaban umat manusia. Tulisan ini pun mencoba memaparkan ironi di balik QWERTY, tapi memangnya tulisan ini diketik dengan apa lagi kalau bukan dengan papan ketik ber-layout QWERTY?