Sastra Filipina: Para Nihilis, Tokoh Anarkis, dan Imajinasi Penulis

El Filibusterismo
Sumber: Wikipedia Commons

“Ya, nitrogliserin!” Simoun mengulangi perlahan, tersenyum dingin dan menatap botol kristal dengan mata bersinar. “Ini lebih dari nitrogliserin! Ini adalah air mata yang terendapkan, kebencian, ketidakadilan, dan berbagai pelanggaran yang selama ini dipendam. Ini adalah senjata pamungkas kaum yang lemah, kekuatan melawan kekuatan, kekerasan melawan kekerasan… Beberapa saat yang lalu aku masih ragu, tapi engkau datang dan meneguhkanku. Malam ini para tiran yang paling berbahaya itu akan meledak, dihancurkan, para tiran yang tidak bertanggung jawab, mereka yang bersembunyi di balik Tuhan dan Negara, dan semua pelanggaran mereka tetap tidak dihukum sebab tak ada yang bisa menuntut mereka! Malam ini Filipina akan mendengar ledakan yang akan mengubah monumen tak berbentuk yang korupsinya telah kupercepat itu menjadi puing-puing!”

El Filibusterismo (1891), Jose Rizal

Demikianlah cuplikan adegan dari novel kedua Jose Rizal yang berjudul El Filibusterismo, yang terbit kali pertama di Ghent pada 1891, dalam bahasa Spanyol. Sebagaimana kita tahu, usai kemerdekaan Filipina, Jose Rizal diangkat menjadi pahlawan bangsanya dan hari ia dieksekusi, 30 Desember 1896, diperingati tiap tahunnya sebagai “Hari Rizal.” Novel-novelnya menjadi bacaan wajib di sekolah (dari SD hingga universitas) dan namanya dikenang dalam berbagai rupa.

Sulit menerjemahkan judul El Filibusterimo ke dalam bahasa Indonesia. Di dalam bahasa Inggris, judul ini diterjemahkan sebagai “The Subversive” (Subversif) atau malah, dengan merujuk pada tafsir utama atas tema cerita sebagai “The reign of greed” (Tatanan keserakahan). Kata tersebut dalam bahasa Spanyol (Katalan) bisa berarti pengacau, orang yang masuk ke tempat yang bukan miliknya dengan cara menyamar, dan juga pemberontak atas tatanan sosial yang ada (dan juga mungkin, perompak laut). Persoalan pengertian judul ini penting untuk melihat kancah peran tokoh utama novel itu, Simoun.

Sebagaimana kita baca dari cuplikan di atas, Simoun akan meledakkan satu pesta pernikahan yang dihadiri oleh para pembesar negara dan tokoh gereja dalam masyarakat kolonial Filipina, dengan menggunakan nitrogliserin, suatu larutan kimia yang baru ditemukan pada pertengahan abad ke-19.

Ini tergolong inovasi baru dalam novel itu sendiri, dan sekaligus membuktikan Rizal sebagai pengarang yang mengikuti perkembangan iptek pada masanya. Simoun menganggap para pembesar negara dan tokoh gereja bertanggung jawab atas segala “kebencian, ketidakadilan, dan berbagai pelanggaran” yang selama ini diderita rakyat Filipina sehingga mereka layak dibunuh dengan cara diledakkan.

Menariknya, ide membunuh pejabat negara (atau tokoh gereja) sebagai simbol kekuasaan adalah ide yang tergolong mutakhir pada masa itu (akhir abad ke-19). Hal tersebut dicermati mendalam oleh Benedict Anderson di dalam buku Under Three Flags (telah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia: Di bawah Tiga Bendera). Di dalam bahasannya, Anderson menyarankan bahwa mungkin sekali tokoh Simoun adalah seorang “nihilis yang sinis” (the cynical nihilist), dan novel El Filibusterimo “berbau anarkisme” (anarchisant), sebagai buah karya Rizal yang diduga pernah mengenal satu-dua tokoh nihilis selama pengembaraannya di Eropa. Dari sini, ada kesan novel ini adalah novel anarkisme pertama di Asia Tenggara (dan bahkan juga, Asia!).

Tokoh Simoun sendiri sangat enigmatik. Di dalam novel, ia hadir dan masuk ke dalam tatanan elite masyarakat kolonial secara tiba-tiba, latar belakangnya tidak diketahui pasti. Baru di bagian akhir novel, setelah rencananya untuk meledakkan pesta tersebut gagal total, pembaca diberitahu siapa ia sebenarnya dan latar belakang mengapa ia punya dendam kesumat atas para pejabat negara dan tokoh gereja masyarakat kolonial jajahan Spanyol.

Menariknya, nama “Simoun” juga punya latar belakang tersendiri, sebagaimana dicermati oleh Caroline Hau (2018). Disebutkan bahwa nama tersebut berasal dari bahasa Perancis (yang dibaca: simūn) yang merujuk pada angin gurun kering nan terik yang kerap menyapu kawasan Timur Tengah. Angin simoun punya arti biblikal seperti halnya angin Timur yang dikirim Tuhan sebagai hukuman atas perbuatan manusia yang tidak berkenan. Angin ini juga kerap mengisi imajinasi para pelukis masa Romantik dalam menggambarkan suasana Timur Tengah, seperti halnya lukisan Le Simoun karya Eugène Fromentin. Juga, simoun punya arti politik sebagai angin yang membawa revolusi, menebar teror dan menjanjikan pembebasan. Jadi, penamaan tokoh di dalam novel ini, terutama nama “Simoun”, tidak sembarangan belaka melainkan punya arti simbolis yang dalam.

Novel-novel Rizal bukan hanya punya arti penting dalam memahami arah gerak revolusi kemerdekaan Filipina, melainkan juga memahami dinamika kesastraan Filipina secara umumnya. Novel-novelnya menjadi cetak biru yang mengilhami generasi-generasi penulis selanjutnya, dan tokoh-tokohnya menjadi gambaran penokohan khas dalam sastra Filipina. Tak berlebihan bila dibilang bahwa tokoh Simoun menjadi tokoh pola-dasar (archetypal character) yang menjadi gambaran radikal di dalam sastra Filipina umumnya.

Kita bisa menelisik, misalnya, novel State of War karya Ninotchka Rosca (1988), yang dianggap sebagai salah satu novel penting yang menggambarkan masa kediktatoran Ferdinand Marcos (1965-1986). Salah satu tokoh utama, Anna Villaverde, perempuan muda yang menjalin kontak dengan kelompok radikal (dan menjadi bagian dari kelompok tersebut) yang berencana meledakkan satu pesta perayaan untuk membunuh “The Commander” (Sang Komandan), tokoh orang kuat yang menindas rakyat.

Ini menggambarkan betapa tema penguasa negara yang bobrok, rakus dan kejam telah (atau tetap) menjadi tema penting di dalam sastra Filipina sepanjang zaman, baik zaman penjajahan Spanyol, zaman diktator Marcos, hingga masa kini. Tema ini adalah cermin dari kenyataan ekonomi-politik-sosial yang tetap menghantui rakyat Filipina. Dan di dalam fiksi bertema demikian, tokoh anarkis hadir untuk menghancurkan (semua) tokoh yang melambangkan kekuasaan negara, guna menghentikan segala “kebencian, ketidakadilan, dan berbagai pelanggaran” yang selama ini diderita rakyat.

Gambaran kenyataan dunia yang bobrok akibat penguasa negara yang rakus dan kejam tentunya tidak hanya ada di dalam sastra Filipina saja. Argentina, negara yang mengalami krisis ekonomi berkepanjangan dan terakhir Mei 2020, juga memiliki tema serupa di dalam khazanah sastra mereka. Hal ini tercermin dari karya-karya yang dihasilkan Macedonio Fernández (1874-1952), Roberto Arlt (1900-1942), hingga Osvaldo Bayer (1927-2018). Termasuk juga, misalnya baru-baru ini, di dalam novel La noche de la Usina (Malam para pecundang heroik) karya Eduardo Sacheri (2016), yang kemudian diangkat ke layar lebar sebagai La odisea de los giles (Heroic Losers) dan memperoleh sambutan hangat dalam negeri. 

Apakah kenyataan ekonomi-politik-sosial negara yang bobrok dengan penguasa negara (dan pimpinan agama!) yang rakus dan kejam tidak pernah terjadi di tanah air kita? Sepanjang zaman penjajahan Belanda, tema utama yang diangkat para pengarang Balai Pustaka adalah anti-feodalisme dan kesenjangan modernitas. Sepanjang zaman kekuasaan Suharto, tema utama yang diangkat para pengarang kita adalah romantisme kisah remaja dan eksistensialisme individual.

Meski ada tokoh radikal, baik itu muncul sebagai petani yang dirampas tanahnya ataupun mahasiswa yang kritis, ia tidak pernah menyuarakan imajinasi nihilis dan melancarkan praktik anarkis guna menghancurkan persoalan ketimpangan dan ketidakadilan ekonomi-politik yang ada.

Serakus dan sekejam apa pun tokoh perlambang negara yang bobrok, ia tidak pernah dibayangkan akan mati terbunuh oleh tokoh pemberontak, seradikal apa pun tokoh-tokoh itu diciptakan. Misalnya, novel Buanglah Hajat pada Tempatnya karya Rio Johan (2020), sebagai penulis kita yang bermukim di Paris, kota Rizal mengenal anarkisme, hanya menawarkan kegenitan kosakata penulisnya alih-alih berani membayangkan terbunuhnya tokoh diktator dari semesta cerita pasca-apokaliptiknya.

Apakah para penulis kita tidak mengenal ide-ide nihilis dan anarkisme? Apakah mereka dengan sengaja menghindari penyelesaian cerita yang anarkis, sekalipun akan berakhir gagal total seperti dalam El Filibusterismo dan State of War? Jika ya, mengapa demikian adanya?

Kepustakaan

Anderson, Benedict. 2005. Under Three flags: Anarchism and the anti-colonial imagination. London: Verso.

Hau, Caroline. 2018. Interpreting Rizal. Quezon City: Ateneo de Manila University Press.

Teja Janabijana
Teja Janabijana, memiliki tiga ekor kucing, dan mengoleksi manga karya Hasegawa Machiko, dan shojo karya Yoshinaga Fumi, yang semuanya, sayangnya, masih sulit masuk ke Indonesia.