Sekilas Dari Ruang – November 2020

Foto oleh Anida Bajumi

Pengantar Redaksi

Tahun 2020 tinggal hitungan jari. Terlalu banyak yang terjadi dan memaksamu untuk membiasakan diri dengan hal baru. Beruntung ada berbagai rilisan menarik yang mememberikan sedikit rasa manis di tahun absurd ini. Terlalu telat, sepertinya. Desember sudah mau selesai, namun artikel soal rilisan bulan November ini baru naik. Mungkin hikmah yang bisa dipetik dari keteledoran ini adalah untuk selalu bertanggungjawab dengan apa yang kalian mulai. Ah, sudahlah. Sebelum makin ngasal dengan berbagai alasan bodoh, saya mau kasih info kalau Tomo Hartono berhalangan hadir di SEKILAS bulan ini dan digantikan oleh Anida Bajumi. Selamat membaca.

Jesu

Terminus (Album)

Jesu adalah proyek musik Justin K Broadrick yang terdengar paling “cerah”. Setelah memberi kejutan sebuah EP yang bikin joget pada awal tahun, ia kembali lagi dengan Terminus, sebuah album yang konon terinspirasi dari penolakan, ketergantungan, nostalgia, dan kesepian yang luar biasa. Tentu saja, ia mampu menyajikan poin-poin tersebut dengan baik. 

Ketika pertama kali mendengar, saya merasa Jesu bermain aman dengan menggunakan formula yang sudah khas (alias gitar heavy yang dimainkan pada nada-nada yang bikin kalian bingung “ini tuh sedih apa seneng, sih?). Kali kedua mendengar, saya hancur lebur. Segala poin inspirasi yang ia sebut berhasil mengoyak-ngoyak telinga dan dada saya.

Saya pribadi nyangkut di “Terminus”, sebuah lagu dengan pola repetisi gelap dan melankolis yang mampu membawamu hanyut menatap dinding kamar sambil memikirkan segala hal bodoh yang sudah dilalui.  Namun, di sisi lain ada titik cerah yang diragukan kapan datangnya. Mungkin saya juga sedang sedih, makanya kena banget sama album ini. Tapi beneran bagus, kok.

-Anida Bajumi

Ausklang

Notion (EP)

Jika menghakimi band ini dari namanya, saya pikir mereka akan terdengar seperti grup-grup krautrock Jerman yang terbit pada tahun 70an. Setelah didengar… ya ada benarnya juga, sih. Ausklang memainkan lantunan post-punk dengan sedikit bumbu krautrock yang rasanya masih cocok jika diisi teriakan Damo Suzuki. Mendengarkan EP mereka juga mengingatkan saya pada grup-grup pentolan scene post-punk manis Rusia yang saya sendiri juga tidak bisa baca namanya.

Pada Notion, Ausklang menggabungkan petikan gitar canggung yang pelit nan sombong dengan bassline groovy tanpa terdengar saling asyik sendiri. Mereka malah menghasilkan satu formasi yang solid dan begitu menarik untuk disimak. 

-Anida Bajumi

Zip

Self Titled (EP)

Apa jadinya jika Januar Kristianto (Vague, Raincoat), Indra Chino (Final Attack), Aditya Indra Prasetya (Frack), Reegi Regani (Braveheart), dan Bagas Wisnu (TaRRkam, Flowrr Pit, dan ratusan band lainnya) bersatu dan membentuk sebuah band? 

Terjadilah Zip, sebuah supergroup dengan privilege yang luar biasa. Tunggu dulu, hak istimewa apa yang mereka miliki? Koneksi mereka yang luar biasa membuat EP ini sampai ke telinga Jonah Falco (drummer Fucked Up) bahkan penggiat lantai dansa yang sebenarnya mungkin tidak dengar musik hardcore

Lalu, apakah musiknya sepadan dengan hype yang terjadi? Dengan durasi yang begitu singkat, dua nomor pada EP ini menghantam tanpa basa-basi. Inspirasi dari berbagai band hardcore Amerika tahun 80an terdengar begitu kental, namun tidak terasa begitu-begitu saja. Materi lainnya menjadi hal yang saya tunggu ke depannya. Kurangnya hanya satu, mereka belum bisa dinikmati di ruang kecil penuh keringat sambil saling hantam.

-Anida Bajumi

Fyahman

Hussein Club (EP)

Menggunakan moniker Fyahman, Gembira Putra Agam alias Gembi, seorang DJ, produser dan mantan musisi eksperimental (pemenang ICEMA 2012) membawa kita masuk ke dunianya. “Hussein Club” adalah sebuah nomor elektronik minimalis penuh dentuman bass, bebunyian yang terdengar seperti lempengan besi yang sedang ditempa dan samples Saluang, sebuah instrumen musik tradisional dari Minangkabau, kampung halaman Gembi. Gelap, menghentak namun tetap groovy, track ini sepertinya akan jadi salah satu favorit saya tahun ini. 

Di track kedua, Turismo Avenue meremix “Hussein Club” menjadi sebuah anthem bernuansa drum & bass yang lebih ramah kelab malam dan bisa bikin bergoyang tanpa menghilangkan esensi lagunya. 

-Yudhistira Agato


V/A

Dasawarsa Kebisingan (Compilation)
Di era digital ini, mengetahui bahwa masih ada label musik yang beroperasi secara regional adalah sesuatu yang menyenangkan. Di kompilasi Dasawarsa Kebisingan, Grimloc Records merayakan 10 tahun kiprah mereka merilis artis-artis sidestream dari Bandung. Tidak hanya lintas genre (hip-hop, hardcore punk, metal, post-rock), tapi kompilasi ini juga sedikit mewakili beberapa generasi pelaku yang aktif di skena musik kota kembang. 

Beberapa veteran yang telah bermusik selama lebih dari dua dekade seperti Eyefeelsix, Forgotten, dan Jeruji bisa ditemukan di sini. Namun yang lebih menarik adalah mendengarkan penawaran dari generasi muda kota kembang yang terpengaruh sound-sound sesuai masa mereka, seperti Ametis dengan math-corenya, Wreck yang memainkan post-hardcore klasik, atau nomor sinematis nan epik “Genjer-Genjer” berdurasi hampir 15 menit yang dibawakan Flukeminimix live di Spasial bareng pianis dan komposer Gardika Gigih. 

Herry “Ucok” Sutresna selaku pemilik label juga merilis lagu dari proyek terbarunya, Birds Of The Coming Storm. Lewat sound neo-crust ala His Hero Is Gone dan Tragedy, di “Ikarus Ibnu Firnas”, mereka mempertanyakan nilai-nilai idealis seseorang yang kerap hilang, dibuang dan akhirnya menjadi lawan “Yang mana ajal / Yang mana awal rencana / Yang mana teman / Yang mana teman lencana.” 

-Yudhistira Agato

Horse Planet Police Department

Enter Music (Album)

Di Enter Music, HPPD meleburkan elemen elektronika ke dalam format band dan menghasilkan hibrida musik rock alternatif dan dance yang easy-listening dan kaya secara sonik. Secara garis besar, ada dua jenis tembang dalam album ini: nomor-nomor beat-based yang cocok diputar di kelab atau acara-acara rave, dan yang masih sedikit lebih berbau rock dengan elemen psikedelik. Track pembuka “Enter Music” buat saya menunjukkan talenta besar kuartet asal Bogor ini: bass yang groovy, synth dan vokal mengawang, dengan solo gitar fuzz yang membius. 

-Yudhistira Agato

Dongker

Menghibur Domba Di Atas Puing (EP)

Di rilisan ini, band asal Bandung, Dongker menunjukkan potensinya untuk meramu sound punk rock klasik tanpa terjebak sekedar menjadi band revival. EP ini dibangun di atas tone gitar garage rock yang cenderung bersih, melodik dan riff-riff menyenangkan yang membuatmu ingin segera mengambil gitar dan ikut bermain. 

Vokal band ini yang lantang dan lugas—kadang mengingatkan saya akan Jimi Multhazam—memaksa kita mendengarkan liriknya yang personal, namun dibalut absurdnya kehidupan dan humor, “Selalu beri janji untuk hal yang tak pasti / Kau hanya terilhami musik indie dan Jason Ranti / Pergi ke ujung negeri kau akan temukan rindu / Tempatkan setiap orang sebagai manusia.”

-Yudhistira Agato

Soul Glo

Songs To Yeet At The Sun (EP)

Soul Glo adalah salah satu band paling menarik saat ini. Memasukkan elemen hip-hop dan rap yang menekankan groove ke dalam racikan hardcore punk 90’an era Ebullition Records yang cepat dan politis, Soul Glo dengan lantang menceritakan pengalaman mereka sebagai band berkulit hitam dalam skena musik arus samping barat yang mayoritas didominasi warga kulit putih, dan dalam konteks yang lebih luas, sebagai kaum minoritas di Amerika Serikat.

Dalam EP ini, frontman Pierce Jordan berteriak dengan intensitas dan sass, melontarkan kemuakannya akan praktik diskriminatif berbasis ras dalam skena (“(Quietly) Do The Right Thing”) yang menimpa mereka, dan jahatnya budaya industri farmasi di negara paman sam (“29”). Songs to Yeet At The Sun dirilis oleh Secret Voice Records, label milik vokalis Touche Amore, Jeremy Bolm. 

-Yudhistira Agato

***