Sepuluh Album Terbaik 2020

Ilustrasi oleh Anida Bajumi
Ilustrasi oleh Anida Bajumi karena dia lupa ngabarin Ape.

Tahun ini berantakan. Kami tahu. Rumah kartu yang rapuh itu akhirnya porak poranda. Panggungan, yang jadi sandaran musisi-musisi setelah pemasukan streaming dan penjualan album habis digarong rentenir industri, mati selama hampir setahun. Venue yang menjanjikan tutup prematur, promotor skala besar maupun kecil tiarap, band kawakan kesulitan memberi makan krunya dan band baru sulit menancapkan kuku di scene.

Kami tahu, 2020 adalah tahun yang bikin semua orang terpuruk. Jadi, kami mau menawarkan sentimen lain.

Kami ingin berterima kasih pada setiap kawan di scene musik yang tetap berkarya dengan caranya masing-masing. Nova Ruth & Filastine yang akhirnya memboyong proyek multinasional Arka Kinari ke Indonesia. Mamang Kesbor yang merangkum setiap zeitgeist budaya anak muda dalam albumnya sebelum dunia mesti berhenti. Rollfast yang menyajikan pengalaman audiovisual memukau serta mengobrak-abrik cetakan dari album pertamanya. Hingga Dead Records yang memutuskan untuk merger dengan Pepaya Records akhir tahun ini. Terima kasih.

Terima kasih untuk setiap orang yang melampaui peranannya sebagai musisi di tahun penuh marabahaya ini. Kawan-kawan scene Yogyakarta yang urunan untuk memberi makan kru panggung serta seniman yang keuangannya seret melalui inisiatif Sama2Makan. Kawan-kawan scene Palembang dan Bandung yang mengorganisir bantuan untuk warga yang kesulitan melalui bagi-bagi sembako, distribusi obat, hingga pembukaan dapur umum. Hingga geng Efek Rumah Kaca dan Kios Ojo Keos yang sempat rutin menjadi tuan rumah diskusi tentang penanganan pandemi dan kesehatan masyarakat. Terima kasih.

Terima kasih untuk pelaku industri yang terus berinovasi dan menemukan cara-cara cemerlang untuk memastikan telinga kita tidak pekak mendengar bunyi yang itu-itu saja. Plainsong Live yang sempat-sempatnya menyajikan tampilan live dengan latar menarik dari musisi-musisi yang punya bobot artistik mumpuni. Daijobu yang mengadakan salah satu pesta jejepangan virtual paling riuh tahun ini. Serta siapa saja yang mengadakan konser virtual serta sesi-sesi mungil dari kamar tidur masing-masing. Terima kasih.

Di luar segala bencana dan kekecewaan yang terjadi di tahun ini, sisakan waktu untuk merayakan keuletan serta keberanian mereka. Dan keberanian kamu juga.

Ada sepuluh album dan EP yang membuat kami terpukau tahun ini. Tidak perlu ada urutan, tidak ada pemenang dan pecundang. Di tahun yang luar biasa ini, mengurut-urutkan karya sebuah musisi jadi ranking empat atau sembilan di klasemen arbitrer terasa seperti kegiatan yang tak masuk akal. Kalian sudah bikin karya di tahun yang sulit sekali, dan itu adalah kemenangan tersendiri. Penting amat jadi nomor sebelas atau tiga puluh tujuh.

That being said, beberapa album dan EP memang tidak masuk sepuluh besar kami. Tentu saja, mereka semua tetap layak kamu dengarkan.

Tabik dan sun jauh untuk para juara harapan: V/A – “Super Sub”; Sajama Cut – “Godsigma”; Galaxies – “The Machine Dancers” EP; Goodnight Electric – “Misteria”; The Wellington – “Playmaker”; Gardika Gigih – “Nostalghia”; Asylum Uniform – “S/T”; Exhumation – “Eleventh Formulae”; VT-00 – “Ultra Kolosal Remixes”; Dongker – “Menghibur Domba di Atas Puing” EP; Escape Pod Situation – “S/T”; Rand Slam – “9051”; dan Fantastic June – “Dancing With The Flowers”.

Semoga berkenan dan sampai jumpa tahun depan,

Raka & Anida


BAPAK. – Miasma Tahun Asu 

“Miasma Tahun Asu” merangkum perasaan satu generasi. Kareem, Alfath, Kevin dan Bagas bisa membungkus pilu yang mereka rasakan dengan sangat elok, tanpa mesti terlihat menjual kesedihan. Lirik-lirik depresif ditemani dengan instrumentasi yang bisa mengagetkan pendengar dari menit ke menit. 

Album ini juga berhasil menghadirkan suatu narasi yang kohesif. Dari lagu pertama hingga lagu terakhir, pendengar bisa melihat benang merah tentang keresahan yang kadang disampaikan dengan bisikan atau teriakan Kareem, kadang juga disampaikan dengan suara instrumen yang terdengar ngaco bagi para purists (seperti Argia) tapi rasanya tidak salah tempat jika kita melihat narasi keseluruhan album ini.

Melihat album ini sebagai progresi Kareem juga menarik. Ia dikenal sebagai rapper dengan moniker BAP. dan juga produser dengan moniker Yosugi. Musik rock eksperimental yang dihadirkan BAPAK. merupakan perubahan yang tidak disangka penggemarnya. Namun, pesan dan narasi yang disampaikan Kareem berhasil “memaksa” pendengarnya untuk mengabaikan sekat genre dan mendengarkan dengan apa adanya.

Dead Pepaya (V/A) – Moda Ekuator 

Setiap empat atau lima tahun sekali, akan ada kompilasi penting yang datang ke kuping pendengar musik lokal. Beberapa tahun lalu kita disajikan Dentum Dansa Bawah Tanah yang merepresentasikan perkembangan musik elektronik hingga tahun 2016. Di tahun 2020, salah satu inisiator kompilasi yang saya sebutkan tadi, Pepaya Records bekerjasama dengan Dead Records untuk merilis kompilasi elektronik yang lebih signifikan lagi.

Dideskripsikan sebagai “post-club music”, kompilasi ini menentang konvensi musik elektronik yang biasa didengar di sirkuit lokal. Dead Pepaya juga mengajak nama yang cukup beragam, mulai dari kawakan seperti Random Brothers dan ASAM hingga pendatang baru seperti Hxxmo dan Fraktal. Waktu rilis yang bertepatan dengan lockdown juga memberikan nuance tambahan bagi Moda Ekuator, sebab kita memang benar-benar hidup di dunia post-club. 

Rollfast – Garatuba

Rollfast fokus pada akar dan menyadari apa yang mereka miliki. Konteks yang dibahas di sini bukan soal skill, instrumen musik, koneksi, atau apalah. Mereka sadar akan kekayaan budaya di pulau Dewata dan berhasil memanfaatkannya sebaik mungkin. Dengan berani, mereka mengaduk rock psikedelik bersamaan dengan unsur seni tradisional Bali seperti gamelan. Hasilnya pun anyar tanpa terasa memaksakan. 

Melalui liriknya, Rollfast bercerita soal pulau Bali, dari kritik sampai fiksi. Kunciannya ada pada single “Garatuba”, ketika vokal saling bertumpuk seperti kecak dengan lirik “Lagi dan lagi / (lagilagilagilagila) / Lah… gila!” Memang sudah gila. Selain itu, kurasi tracklist juga memberikan alur yang akan membawamu hanyut dalam dongengnya.

Garatuba sangat cocok didengar ketika sedang berada di dalam mobil Pajero menuju sebuah beach club sambil mengirim santet ke orang yang bikin kamu jengkel. Sebuah berlian di tahun 2020. 

Lansanese – Total Anjink

Nama adalah doa. Terbukti dari album Total Anjink milik Lansanese yang benar-benar total banget anjingnya. Lansanese memainkan musik noise rock nyeni a la Les Rallizes Dénudés dan This Heat dengan kebisingan puting beliung yang rasanya sangat pas dengan lirik-liriknya yang juga luar biasa acakadut. Jeniusnya, kekacauan tersebut disengaja supaya semakin akurat untuk menggambarkan segala isu bobrok berantakan yang terjadi di Indonesia. 

Contohnya celotehan di nomor “Sahur” yang berbunyi “Di rumah anjing makan ayam dari piring / nggak bisa tidur, lapar, mau bunuh diri”. Kemudian, satu-satunya lagu pelan bernuansa melankolis bertajuk “Mencari Bapak Warung Obat Pria” yang bercerita soal … yah sesuai judulnya, lah.

Fakta menarik: Terdapat kata ”anjing” (atau “dog”) pada 5 dari 9 lagu di album Total Anjink. Konsistensi.

Greybox – Melografik

Cemerlang adalah kata yang tepat untuk menggambarkan Greybox. Dengan mengambil inspirasi dari spektrum musik yang begitu luas, ia melahirkan double album Melografik. Pengerjaan album ia kerjakan secara mandiri dari mulai dari penulisan lagu, produksi, mixing, sampai mastering

Melalui album ini, sang produser berani bereksperimen dengan menggabungkan berbagai pengaruh seperti hip-hop, eksperimental, trip-hop dan elektronika yang dikemas dengan baik tanpa menyingkirkan formula jazz dan soul andalannya, menjadikan album ini satu unit yang begitu solid. 

Saya yakin, Greybox adalah salah satu alasan kuat J Dilla dan Nujabes tersenyum di alam baka.

Senyawa / Stephen O’Malley – Bima Sakti

Seperti galaksi Bima Sakti yang sangat luas, produktivitas dan perkembangan duo avant-garde Senyawa seperti tidak ada batasnya. Setelah merilis Sujud—salah satu album eksperimental terbaik dalam beberapa tahun terakhir—mereka kembali dengan Bima Sakti, sebuah album kolaborasi live dengan Stephen O’Malley, produser dan gitaris dari band metal eksperimental Sunn O))). 

Di album ini, dengungan gitar listrik berfrekuensi rendah O’Malley berkelindan dengan bebunyian instrumen senar Wukir yang nyaring serta geraman vokal Rully Shabara, menghasilkan musik drone yang heavy dan spiritual tanpa pernah harus benar-benar meledak. Nomor seperti “Bintang Gemintang” terdengar mencekam dan mengerikan, dan cocok dijadikan scoring untuk sebuah karya film thriller atau horor. Sementara penutup “Dewi Hera Part II” menyajikan solo suling bambu sebagai centerpiece-nya sebelum dibalut bunyi gitar berat dan tangisan vokal Rully. 

Identitas sound Senyawa yang kuat dan khas selalu terpancar dalam setiap karya mereka, bahkan ketika mereka harus bersandingan dengan musisi mapan lainnya. Senyawa sudah mengaburkan sekat-sekat pelabelan “barat” dan “timur” atau “kontemporer” dan “tradisional” dalam ranah musik eksperimental, dan Bima Sakti adalah buktinya. 

Raja Kirik – Rampokan

Semua yang disentuh Yennu Ariendra menjadi emas. Mulai dari Melancholic Bitch yang berstatus cult, band pop-elektro Belkastrelka yang seru, hingga proyek solo beliau Y-DRA yang berfokus ke music dance elektronik lokal. Menggunakan moniker Raja Kirik, Yennu bersama J Mo’ong Santoso Pribadi merilis Rampokan, sebuah album post-industrial berdurasi lebih dari sejam yang tanpa segan-segan terus menghajar kuping. 

Meleburkan elemen techno, gabber, ambient, dangdut koplo dan banyak tradisi nusantara lainnya, Rampokan adalah sebuah album yang keras. Keras secara volume, intensitas, penyajian dan pesan. Narasi dan latar belakang kultural yang luar biasa mendalam dari album ini bisa kalian baca di sini.

Mendengarkan album ini terasa lebih mirip seperti pengalaman menonton teater, lengkap dengan babak-babaknya. Tanpa visual sekalipun, narasi perlawanan budaya tersampaikan lewat tubrukan kasar berbagai elemen yang disajikan. Mendekonstruksi musik elektronik lokal, Raja Kirik memaksa para pendengarnya untuk menaruh perhatian terhadap cerita di balik detail-detail musik mereka.

Mamang Kesbor – Album Terbaik di Tata Surya

Fakta bahwa Album Terbaik di Tata Surya dirils via Pornhub dan menjadi gimmick yang efektif dan enggak backfired bikin kami menaruh hormat untuk Mamang Kesbor alias Mardial. 2020 sepertinya memang menjadi tahunnya beliau. Tidak hanya memproduseri allbum Vandal milik rapper Joe Million, tapi Mardial juga menelorkan sebuah album trap yang menyenangkan dan penuh dengan beat-beat asik yang cocok dibawakan di party, lengkap dengan efek vokal autotune yang menjadi ciri khas genre ini. 

Tapi bagian terbaik dari album ini adalah liriknya yang menggelitik, relatable dan penuh self-awareness. Misalnya saja baris “dibantu rimakata dot com kubuat ini lirik / dibantu mama ku bisa kubuat bayar listrik.” Atau keseluruhan nomor Sebat Dulu yang secara sempurna menggambarkan fenomena nasional ini dalam waktu kurang dari 4 menit. 

Mardial juga tidak segan-segan menyelepet tren-tren kultural yang sedang ramai di kalangan anak-anak muda di kota besar. “Ku suka minum amer / terus dipamer-pamer / biar terlihat edgy / di mata society,” nyanyinya di nomor “Amer”. Tapi favorit kami tentu saja “Emo Night” yang menampilkan baris “efek metalzone udah dijual / gitar epiphone udah ditinggal / ku ingin bisa teriak skrrt skrrt / agar supaya tak jadi introvert.Bangsat.  

Lirik yang sangat relevan, dipadukan dengan beat yang catchy dan produksi yang matang membuat sulit bagi kami untuk tidak memutar ulang Album Terbaik di Tata Surya.

Joe Million – Vandal

Joe Million ini macam Marcus Rashford. Rasanya dia sudah bertahun-tahun menyandang gelar “rapper paling menjanjikan” di Indonesia, padahal umur karirnya tidak pendek-pendek amat. Barangkali itulah konsekuensi jangka perhatian singkat pecinta musik lokal, atau cerminan dari ketatnya persaingan di sirkuit hip hop nusantara, tetapi Joe lagi-lagi harus menyiarkan keberadaannya kepada dunia. Pada Vandal, ia sukses bukan main.

Reuni dengan produser dan kolaborator rutin Mardial, rima tajam mengirisnya dipadu-padankan dengan beat yang kental aroma trap dan R&B kekinian–nyaris seperti Mardial ingin Joe bersaing dengan rapper-rapper Jaksel dan dijadikan subyek reaction video 21savage. Penyelamatnya adalah persona yang dipilih Joe. Lupakan menjadi politis atau bijak, Joe paling cemerlang ketika ia menjadi sosok begundal yang senang sumpah serapah, nakal, bengal, dan tak tahu diuntung. Apa kalian lupa bahwa Joe adalah sarjana cum laude IET, alias Ilmu Eminem Terapan?

Bars of Death – Morbid Funk

Suatu hari nanti, kita akan membicarakan Bandung Sound sebagaimana kita membicarakan East Coast Sound, Dirty South, atau G-Funk. Bila momen itu tiba, barangkali Morbid Funk bakal digadang-gadang sebagai tonggak penting. Sampling liar yang banyak mencomot lagu funk, jazz, dan soul, bunyi boom bap yang menggelegar, hingga omelan Sarkasz dan Morgue Vanguard yang lebih mirip senapan mesin ketimbang MC.

Tukang ojek di perempatan Antapani pun tahu Sarkasz dan Morgue Vanguard akan selalu punya lirik politis paling tajam di luar tongkrongan Public Enemy. Tetapi sisakan aplaus untuk level sarkasme, humor, dan cak-cakan di album ini. Mulai dari sample ejekan Snoop Dogg terhadap rapper kekinian hingga skit Morgue Vanguard berperan sebagai aparat yang menangkap pentolan anarko-sindikalis, album ini melampaui kritik terang-terangan dan sedikit lagi terpeleset ke ranah parodi.

Tentu saja, karena ini tahun penuh malapetaka, setelah bikin album debut sebagus ini, Bars of Death langsung memutuskan bubar.

***