Teater Ambivalensi di atas Panggung Obskuritas

Martin Suryajaya, 3T

Kritik terhadap praktik kanonisasi karya dan penulis semakin sering muncul di kalangan akademis maupun pelaku dunia sastra Indonesia, berangkat dari kesadaran akan kerja politik dalam kategorisasi atau penentuan label “karya sastra”–“bukan karya sastra” atau “sastrawan”–“penulis namun bukan sastrawan”. Kritik tersebut biasanya disampaikan melalui tulisan-tulisan non-fiksi dalam bentuk artikel atau karya ilmiah.

Mengapa saya perlu menekankan medium ‘tulisan non-fiksi’?

Ini lantaran, baru beberapa hari keluar dari dapur penerbitan, Terdepan, Terluar, Tertinggal: Antologi Puisi Obskur Indonesia 1945–2045 dinilai oleh sejumlah pembaca sebagai penyampaian kritik atas kanonisasi sastra Indonesia yang disajikan dalam bentuk yang unik, yakni kumpulan puisi. Tidak hanya bentuk karyanya, tapi juga puisi-puisi yang tertera dalam antologi tersebut dianggap melawan arus utama kanonisasi sastra yang selama ini berputar-putar di kalangan penulis di wilayah perkotaan dengan nama tenar atau produktivitas tinggi.

Terdepan, Terluar, Tertinggal menggunakan strategi tekstual yang serupa dengan karya Martin Suryajaya sebelumnya, Kiat Sukses Hancur Lebur (2016), yakni penciptaan tokoh fiksi dengan teknik heteronim. Terbaca upaya untuk membentuk semesta yang serupa dengan karya novel tersebut, yakni masa depan dengan pembayangan tentang sastra Indonesia yang digambarkan secara satir.

Dalam Kiat Sukses Hancur Lebur, kita dikenalkan pada Andi Lukito, editor dari manuskrip novel Kiat Sukses Hancur Lebur menurut Anto Labil, S. Fil yang berperan menghantarkan naskah tersebut kepada para pembaca. Dalam debut fiksi Martin itu, terdapat dua karakter heteronim yang berinteraksi–Andi Lukito sebagai heteronim “master” atas Anto Labil.

Sementara itu, saya mendapati interaksi yang lebih riuh antara tokoh-tokoh heteronim dan tokoh bukan heteronim dalam Terdepan, Terluar, Tertinggal; semuanya bermain di atas panggung obskuritas.

Diri-diri Obskur

Dalam Terdepan, Terluar, Tertinggal terdapat dua tokoh heteronim, yakni seorang arsiparis dan penyunting bernama Sulaiman H., dan pengkaji karya antologi bernama Laura Putri Lasmi. Sementara 18 penyair “kurang beruntung dalam sejarah perpuisian di tanah air” yang karyanya terdapat dalam buku tersebut lebih terbaca sebagai tokoh fiksi bukan heteronim. Tokoh heteronim dan tokoh bukan heteronim dalam buku tersebut dibedakan melalui fokalisasinya di dalam teks. Sulaiman H. dan Laura Putri Lasmi diciptakan sebagai dua tokoh dengan identitas latar belakang pendidikan, pola pikir, dan gaya penulisan berbeda yang membagikan pendapat dan pandangannya dalam buku tersebut, sementara 18 penyair yang karyanya dikumpulkan dalam bunga rampai tidak diberi kapasitas bersuara yang sama.

Sulaiman H. menuliskan catatannya di bagian awal buku sebagai pembuka sebelum masuk ke kumpulan puisi yang telah diarsipkan dan dikurasi olehnya. Pada bagian Dari Dapur Penyunting, Sulaiman H. menyampaikan unek-uneknya tentang tradisi penyusunan bunga rampai sastra Indonesia selama ini dan niatnya untuk menawarkan sesuatu yang baru. Sulaiman H., seorang sejarawan dan redaktur situs sejarah, memiliki kuasa dan memainkan peran lebih besar jika dibandingkan dengan Andi Lukito. Dalam penyusunan bunga rampai tersebut, ia melakukan kurasi atas puisi-puisi yang ditemukan dan diarsipkannya dengan penilaian ketat, yakni seleranya sendiri. Sulaiman H. juga berperan sebagai narator dan fokalisator untuk deskripsi singkat para penyair yang meliputi latar belakang kehidupan pribadi dan karier, alasan penyair tersebut dan karyanya masuk dalam kategori obskur, dan beberapa informasi lain yang porsinya tidak sebanding untuk masing-masing dari mereka.

Deskripsi masing-masing penyair mengimplikasikan sejumlah permasalahan dalam dunia sastra Indonesia yang menyebabkan beberapa penulis tidak termasuk dalam kelompok kanon. Permasalahan yang dapat diidentifikasi melalui deskripsi atau profil penyair antara lain: (a) lemahnya sistem distribusi penerbit berskala kecil, (b) oposisi biner antara status nasional-lokal, (c) kegagalan terlibat dalam program diplomasi kebudayaan bergengsi, (d) produktivitas dan dedikasi di bidang kepenulisan, (e) buruknya pengarsipan, (f) pemilihan kanal publikasi selain penerbitan buku cetak, (g) genre puisi yang tidak populer, dan (h) kegagalan administrasi untuk instansi.

Penggunaan aspek-aspek di atas oleh Sulaiman H. sebagai identifikasi obskuritas merupakan poin kritik dari buku Terdepan, Terluar, Tertinggal atas praktik penyusunan antologi karya sastra Indonesia yang disampaikan dengan gaya bahasa satir. Gaya bahasa tersebut juga dimanfaatkan sebagai strategi tekstual untuk menampilkan beberapa sosok nyata di skema sastra Indonesia, seperti Yusrizal yang merujuk pada Afrizal Malna, Siti Kertapati yang merujuk pada S. Rukiah Kertapati, dan beberapa yang lain. Pada saat yang sama, nama Afrizal Malna tetap dipertahankan  dan digunakan dalam deskripsi dan karya Ambrosius Lamtoro–menghadirkannya sebagai penyair yang sukses menjadi tokoh kanon sastra Indonesia yang agaknya menginspirasi penulis obskur seperti Ambrol. Selain itu, dari kedelapan belas tokoh penyair tersebut, terjalin interaksi yang ditunjukkan melalui beberapa karya mereka, misalnya Rina Novita Herliany yang–menurut pembacaan Sulaiman H.–terpengaruh “gaya ungkap Yusrizal” yang enigmatik.

Sekilas, yang dilakukan Sulaiman H. terlihat sebagai suatu upaya untuk memutus “tradisi” penyusunan bunga rampai yang “lebih serupa tonggak-tonggak pencapaian terpandang dari perjalanan puisi di tanah air”. Menjadikan selera pribadinya sebagai standar kuratorial juga sekilas terbaca sebagai upaya untuk tidak lagi menjadikan bunga rampai yang disusunnya “seperti rupa tugu atau monumen”, layaknya yang telah dilakukan oleh para penyusun antologi lain. Namun interaksi yang terjalin antara Sulaiman H. dengan 18 penyair dalam antologi menyiratkan kuasa Sulaiman H. selaku sejarawan, arsiparis, kurator, dan penyusun bunga rampai. Ia yang menciptakan definisi obskur dan ia jugalah yang memilih penyair siapa saja yang termasuk dalam definisi tersebut berdasarkan klasifikasi di atas yang dibentuk berdasarkan seleranya sendiri yang didakunya ketat itu. Yang dilakukannya pun kemudian tidak berbeda dengan penyusun bunga rampai lain–mengulangi pengkotak-kotakan hanya dengan mengganti istilah “kanon” menjadi “obskur”.

Hanya saja kemudian keberadaan Laura Putri Lasmi di bagian paling belakang buku tersebut menawarkan bentuk interaksi antartokoh yang lebih berkembang dari Andi Lukito dengan Anto Labil, serta memberikan gambaran tentang kehidupan ekosistem sastra. Laura Putri Lasmi melakukan pembacaan atas antologi puisi obskur, menjadikan buku tersebut tidak hanya menyuarakan satu kepentingan, yakni kepentingan Sulaiman H. selaku penyunting dan penyusun bunga rampai. Tulisan Laura Putri Lasmi pun terkesan cukup terstruktur; ia membuat tiga poin kritik utama yang dijabarkan secara runut, yakni representasi penyair perempuan, representasi penulis luar Jawa, dan rasisme.

Ketiga isu yang diangkat oleh Laura Putri Lasmi sebenarnya telah menjadi perbincangan di dunia kebudayaan Indonesia sejak paling tidak 5–8 tahun terakhir, terutama di bidang manajemen sastra dan seni. Beberapa institusi yang bergerak di bidang manajemen sastra dan seni melalui pembuatan program yang ditujukan bagi penulis atau seniman memasukkan aspek gender dan daerah domisili–mungkin untuk beberapa kasus juga identitas suku, sebagai kriteria penilaian dalam proses seleksi peserta. Identitas gender “perempuan” dan asal “kawasan timur Indonesia” pada beberapa kesempatan menjadi satu kunci penyelamat yang membukakan pintu bagi mereka untuk merasakan kenikmatan menjadi peserta program-program pemberdayaan bergengsi seperti residensi atau bantuan dana penciptaan karya.

Laura Putri Lasmi agaknya berpihak pada pendapat yang sedang berkembang tersebut. Ia mengkritik jumlah penulis perempuan dalam bunga rampai tersebut yang lebih sedikit daripada jumlah penyair laki-laki, menganggap Sulaiman H. tidak melakukan tugasnya sebagai arsiparis dengan lebih mendalam dan tidak mengikuti perkembangan gerakan feminisme di Indonesia dua dekade dari sekarang–yang ditandai dengan video interaktif yang mampu meledakkan penis penontonnya jika ditemukan menunjukkan respons yang condong ke patriarki. Begitu pun dengan isu lokal-nasional yang menurutnya masih tidak mampu dikritisi oleh Sulaiman H. melalui bunga rampai yang disusunnya, karena kebanyakan penulis berdomisili di Jakarta. Pencantuman satu orang penyair dari Papua  menurut Laura Putri Lasmi juga cenderung menunjukkan sikap rasis Sulaiman H. dalam penyusunan bunga rampai tersebut, dilihatnya sebagai “totemisasi”.

Selain itu, dalam tulisannya Laura Putri Lasmi juga mengkritik kerja Sulaiman H. sebagai penyusun bunga rampai puisi Indonesia. Ia menganggap Sulaiman H. kurang memiliki kemampuan dalam menilai kualitas karya sastrawi dan cenderung bersifat mesianik karena menganggap pekerjaannya mampu mengangkat para penulis yang kurang mendapatkan tempat di dunia sastra Indonesia melalui karyanya tersebut. Metode pengarsipan Sulaiman H. dengan memanfaatkan kanal-kanal internet sebagai sumber bahan juga menurut Laura Putri Lasmi merupakan sebuah kesia-siaan, yang diperparah dengan kurangnya kemampuan Sulaiman untuk memanfaatkan teknologi-teknologi yang telah berkembang.

 Jalinan interaksi antara Sulaiman H. dengan 18 penyair dan Laura Putri Lasmi menjadikan Terdepan, Terluar, Tertinggal terbaca seperti sebuah miniatur panggung sastra; ada penulis, pengarsip, dan pengkaji. Penciptaan dua tokoh heteronim dalam buku ini, dengan perannya masing-masing, merupakan strategi tekstual yang dipilih penulis untuk menyampaikan pesannya melalui komunikasi tidak langsung (indirect communication), yang dalam praktiknya oleh Kierkegaard diwujudkan melalui pembuatan nama samaran, dan Fernando Pessoa melalui penciptaan karakter-karakter heteronim yang saling berinteraksi dalam “teater diri” (theater of being). Interaksi teater diri dalam Terdepan, Terluar, Tertinggal rupanya hanya terbatas antara Sulaiman H. dan Laura Putri Lasmi yang ditunjukkan melalui tulisan kritik sebagai epilog.

Sementara itu, 18 penyair yang tergabung dalam bunga rampai tidak terlalu menunjukkan suaranya masing-masing. Terlepas dari upaya editor dari buku ini untuk menghadirkan suara para penyair dengan menguatkan kekhasan tekstual dari masing-masing dari mereka, peran Sulaiman H. terlalu mendominasi. Puisi-puisi yang dicantumkan dalam bunga rampai dipilih oleh Sulaiman H. dengan standar kuratorialnya sendiri, dan deskripsi tentang penulis pun bukan lain merupakan suara Sulaiman H. Beberapa penyair disebutkan sendiri oleh Sulaiman H. telah menerbitkan buku kumpulan puisi, tetapi hanya tiga di antaranya yang dimasukkan dalam bunga rampai tanpa alasan spesifik. Hal tersebut memunculkan asumsi bahwasanya bisa saja Sulaiman H. sengaja memilih tiga karya dengan kualitas buruk dari seorang penyair dengan tujuan memenuhi definisi obskur yang dibuatnya. Delapan belas penyair itu pun agaknya hanya dipamerkan di atas panggung obskuritas sebagai arsip-arsip mati yang digagahi oleh sang arsiparis, dan belum menjadi “diri”–hal yang mungkin juga terjadi dalam penyusunan antologi karya kanon.

Kekosongan peran juga dapat ditemukan dalam buku Terdepan, Terluar, Tertinggal berkaitan dengan pembentukan sosok para penyair. Sama sekali tidak ada penjelasan atau sekedar penyebutan siapa yang menggambar ilustrasi wajah para penyair. Hal tersebut menjadi satu kekurangan dalam upaya penulis untuk menciptakan dan menghadirkan tokoh-tokoh yang terkesan benar-benar hidup, dan mungkin menjadikan juru gambar dari wajah para penyair tersebut sebagai sosok yang paling obskur di antara 18 penyair yang dikonstruksikan seperti penulis obskur.

Ambivalensi dan Simplifikasi Semesta Masa Depan

Terdepan, Terluar, Tertinggal agaknya juga dapat dibaca sebagai pembayangan akan sastra Indonesia, terutama perpuisian, di bidang penulisan, pengarsipan, dan kritik, dua puluh tahun dari sekarang–meskipun tidak dapat juga dimaknai sebagai representasi utuh. Pembacaan tersebut didasarkan pada pemilihan latar waktu pengumpulan karya sehingga menjadi sebuah bunga rampai, yakni 1945–2045. Menurut Sulaiman H., tahun 2045 dengan momentum 100 tahun kemerdekaan Indonesia menjadi waktu yang penting untuk membuat antologi puisi para penulis tanah air.

Pada halaman sebelum tulisan Sulaiman H., penulis mencantumkan arti kata “obskur” dengan format penulisan layaknya entri kamus, yang sebenarnya untuk saat ini memang merupakan sebuah entri fiksi, karena kata tersebut belum ada di KBBI edisi kelima terbitan 2016 untuk versi cetak dan juga entri terbaru untuk versi daring (yang sebenarnya diperbarui setiap 6 bulan sekali).

Sayangnya, imajinasi Martin mengenai sambutan terkait entri kamus tersebut tidak diikuti dengan pendekatan futuristik yang lebih menggugah: misalnya, akan seperti apa panggung sastra Indonesia dua dekade dari sekarang? Kekurangan tersebut mungkin saja dapat dibaca sebagai pesan ironi yang ingin disampaikan melalui teknik indirect communication, tetapi pada saat yang sama juga mengimplikasikan kecenderungan simplifikasi oleh penulis.

Dalam hal pengarsipan di ranah kebudayaan, saat ini kita telah cukup familiar dengan upaya pengolahan arsip fisik menjadi arsip digital untuk dijadikan repositori daring yang dapat diakses publik secara gratis. Sementara itu, penjabaran Sulaiman H. tentang pekerjaannya sebagai arsiparis di tahun 2040-an pada bagian pembuka tidak menunjukkan upaya untuk mengembangkan metode pengarsipannya. Tidak ada pembaruan dalam kerja pencarian bahan serta pengelolaan dan penyajian arsip menjadi informasi.

Penggambaran tersebut bisa dibaca sebagai pembayangan penulis tentang kerja pengarsipan di ranah sastra Indonesia yang akan terus ketinggalan di tengah perkembangan teknologi. Namun, ada kesan lain yang muncul, yakni bahwa memang Martin tidak menawarkan suatu imajinasi yang lebih radikal terkait kerja pengarsipan karya sastra di masa depan.

Stagnasi di dunia sastra Indonesia tergambar dalam Terdepan, Terluar, Tertinggal  juga terjadi di ranah pengkaryaan. Hal tersebut ditunjukkan dari karya-karya yang dilibatkan dalam bunga rampai tersebut. Bentuk dari puisi-puisi yang ditulis atau diterbitkan pada 2030–2040-an memiliki bentuk tidak jauh berbeda dari karya-karya yang ditulis pada periode tahun-tahun sebelumnya. Begitu pun dengan isi substansi dari karya yang tidak menunjukkan lompatan atau perkembangan wacana, misalnya Bambang Lokajaya dengan karya-karya paling baru yang masih mempertahankan bentuk lama dan isu spiritualitas manusia.

Jika hal ini dipertentangkan dengan tawaran entri kata “obskur” dalam KBBI edisi XIII yang dicantumkan di bagian pembuka buku ini, puisi-puisi yang terkumpul dalam bunga rampai terkesan tidak mengikuti perkembangan bahasa yang tengah berlangsung. Anggaplah memang hal tersebut sengaja dibentuk oleh penulis untuk menguatkan obskuritas para penyair itu, tetapi masih ada sejumlah pilihan strategi teks yang dapat dilakukan oleh Martin, misalnya menghadirkan karya-karya “eksperimental gagal” menggunakan kosakata yang dibayangkan berkembang dua dekade dari sekarang.

Poin-poin argumen kritik yang ditulis oleh Laura Putri Lasmi juga cenderung klise atau berulang. Seperti yang saya sebutkan sebelumnya, isu yang diangkat seperti representasi perempuan dan penulis dari kawasan di luar Jawa dan Jakarta merupakan permasalahan yang sudah menjadi pembahasan selama beberapa tahun terakhir.

Justru pada poin itulah, kritik Laura Putri Lasmi atas bunga rampai yang disusun oleh Sulaiman H. seakan menunjukkan bahwa pengkaji di tahun 2045 tidak mampu membuka wacana baru dalam melakukan pembacaannya atas karya sastra. Laura Putri Lasmi pun menyadari kecacatan Sulaiman H. dalam hal representasi penulis luar Jawa dan Jakarta yang dianggapnya masih menerapkan kerja penyunting puisi Mastera di era 2020-an, dan pada saat yang sama ia masih menjadikan isu-isu yang juga berkembang di era tersebut sebagai poin-poin argumen dalam tulisannya.

Ambivalensi-ambivalensi tersebut membuat buku kumpulan puisi ini terkesan hanya menggunakan latar tahun 2045 sebagai tempelan untuk memperluas semesta yang sebelumnya telah dibangun oleh Martin dalam novelnya.

Bagaimanapun, penulisan buku Terdepan, Terluar, Tertinggal sebagai karya kritik sastra harus diakui perlu untuk diapresiasi, karena mungkin dapat membuka lebih banyak kemungkinan dan kebaruan dalam ranah tersebut.

Hanya saja, penggunaan semesta futuristik, dua dekade dari sekarang, sebagai latar belakang dari isu atau “tradisi-tradisi bermasalah” yang berkembang saat ini menjadikan buku ini terbaca layaknya pertunjukan teater dengan gagasan-gagasan kurang konsisten sebagai pemainnya, dikendalikan oleh seorang sutradara yang memaksakan peran bagi mereka, yakni menjadi obskur.

Dhianita Kusuma Pertiwi
Dhianita Kusuma Pertiwi lahir di Malang pada 26 Februari 1993. Menyelesaikan program gelar ganda di Program Studi Bahasa dan Sastra Inggris dan Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang (2016). Menamatkan studi magisternya di Program Studi Ilmu Susastra Universitas Indonesia (2019). Telah menerbitkan novel Buku Harian Keluarga Kiri (2016, 2019) dan kumpulan naskah drama Pasar Malam untuk Brojo (2016) dan beberapa tulisannya tergabung dalam sejumlah antologi esai, cerita pendek, puisi, dan jurnal ilmiah. Beberapa naskah dramanya telah dipentaskan dan diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris. Tulisan non-fiksinya dipublikasikan setiap akhir pekan di situs pribadi dhiandharti.com.