Terlalu Tampan: Mempertanyakan Maskulinitas dan Sekitarnya

Foto: Terlalu Tampan (Visinema)

Film Terlalu Tampan (2019) yang disutradarai oleh Sabrina Rochelle Kalangie diadaptasi dari Line Webtoon berjudul sama karya Muhammad Ahmes Avisiena Helvin dan ilustrator Savenia Melinda. Materi asalnya yang berupa gambar-gambar dengan garis sederhana tanpa gambar latar menceritakan mengenai satu keluarga yang tidak sesuai dengan kriteria-kriteria kecantikan atau ketampanan yang biasa dikenal. Penamaan juga dibuat bermain-main, seperti Kulin dan Okis sehingga mereka bisa dipanggil sebagai Maskulin (Ari Ilham) dan Masokis (Tarra Budiman). Ayah mereka bernama Archewe sehingga menjadi Pak Archewe (Marcelino Lefrandt) dan ibu bernama Jer Basuki Mawa Beya disingkat jadi Bu Suk (Iis Dahlia). Semua dibuat bermain-main untuk kepentingan komedik.

Tulisan ini secara khusus akan melihat film Terlalu Tampan dengan kemungkinan sedikit menyinggung cara bercerita gaya anime, gugatan terhadap kriteria maskulin, serta parodi terhadap lad culture dan histeria massa. Dari sini, akan dilihat pula kemungkinan film ini sebagai kritik terhadap institusi-institusi mapan seperti keluarga dan sekolah, serta bagaimana jebakan normalisasi hubungan heteroseksual dan kegagalan mendefinisikan ‘ruang aman’ akhirnya menempatkan film ini kembali pada norma-norma konvensional yang sudah akrab ketimbang menyodorkan kemungkinan lain.

Dengan risiko menjelaskan yang sudah jelas bahkan kemungkinan mansplaining, saya tetap merasa kemungkinan-kemungkinan di atas perlu dijelajahi dalam Terlalu Tampan ini. Tulisan ini juga akan mengungkapkan jalan cerita, jadi bagi yang belum menonton dan tak ingin terganggu ketika menontonnya nanti, silakan membaca sekarang.

Dari materi Webtoon yang bergaris gaya manga, materi Terlalu Tampan cocok untuk dilayarkan dengan gaya anime, seperti yang sempat dilakukan oleh Edgar Wright di Scott Pilgrim Vs The World (2010) yang bersumber dari komik karya Brian Lee O’Malley. Terlalu Tampan menggunakan excessive aesthetics baik dalam narasi maupun dalam gaya visual, demi untuk memelihara komedi garing yang menjadi karakter utama Webtoon-nya.

Pendekatan ini terasa menyenangkan dibandingkan dengan gaya visual realis yang terus menerus berulang di dalam film-film Indonesia. Pencahayaan dengan lampu neon yang terlalu terang, warna-warna elektrik, dan efek khusus digunakan untuk keluar dari gambaran realistik dan mencapai efek komedik untuk menerjemahkan penceritaan pada Webtoon-nya. Dan yang terasa menyegarkan adalah penyuntingan yang bertumpu pada punchline. Meskipun masih memperlihatkan adanya semacam kontinuitas ruang dan waktu, tetapi dalam banyak kesempatan film ini agak mengabaikan kesatuan ruang waktu guna mengejar efek komedi. Sekalipun ini biasa sekali ditemukan di anime, penerapan pada live action di film Indonesia tergolong jarang.

Kriteria Cantik dan Tampan

Film ini, seperti judulnya, bercerita tentang seorang remaja yang terlalu tampan. Saking tampannya, setiap kali perempuan melihatnya, mereka histeris, menjerit-jerit, atau mimisan. Si tampan bernama Mas Kulin ini tidak tahan dirinya diobjektifikasi seperti itu. Ia memutuskan tidak mau keluar rumah dan homeschooling alias belajar di rumah saja, serta ikut tutorial yang mahal harganya. Untunglah ia berasal dari keluarga kaya dan orang tuanya mampu membiayai—sekalipun tidak jelas apa profesi mereka.

Sehari-hari, Kulin di kamar dan bermain bersama sahabat satu-satunya, Anto, seekor ikan di dalam akuarium. Ia ngobrol dan main kartu serta mengungkapkan isi hatinya ke Anto. Keluarganya khawatir akan kebiasaan itu dan ingin Kulin mengakhirinya serta bersedia keluar rumah. Kulin sendiri merasa tidak perlu, karena di tengah tekanan ketampanannya itu, ia merasa keluarganyalah satu-satunya yang bisa menerimanya apa adanya. Keluarga adalah ruang aman bagi Kulin.

Lalu Pak Archewe, Bu Suk, dan Mas Okis pun merancang operasi untuk menggiring keluar Kulin dari rumah. Setelah berpura-pura main sinetron (yang memperlihatkan bahwa Kulin diawasi 24 jam di ruang privatnya), mereka berhasil menanamkan kekhawatiran dan rasa bersalah di hati Kulin sehingga ia bersedia bersekolah. Namun, Kulin punya syarat, ia hanya mau bersekolah di sekolah khusus cowok. Okis—sang penulis buku cara-cara ampuh PDKT—kecewa dengan pilihan Kulin karena berarti Kulin tak akan bertemu dengan cewek-cewek. Namun, mereka sekeluarga merasa itu saja sudah jauh lebih baik ketimbang tinggal di rumah terus dan ngobrol dengan Anto.

Sehari-hari, Kulin bermain dan mencurahkan perasaan hati kepada Anto, seekor ikan yang menjadi sahabat satu-satunya. Saat Kulin melihat keluarganya “mengkhianatinya”, Anto juga dikabarkan mati sehingga Kulin bagai kehilangan segalanya dalam sehari di hidupnya. (Foto: Terlalu Tampan, Visinema)

Kulin memang tampan, tapi ia tidak digambarkan maskulin. Pemilihan Ari Ilham sebagai Kulin menjadi gugatan terhadap ukuran maskulinitas dalam film Indonesia. Ia bukan hanya jauh sekali dari gambaran ketampanan generasi Roy Marten atau Alex Komang, ia bahkan mengganggu gambaran ‘laki-laki baru’ dalam film Indonesia seperti yang dicerminkan lewat tokoh seperti Soe Hok Gie (Gie, Riri Riza, 2005) atau Fahri (Ayat-Ayat Cinta, Hanung Bramantyo, 2008).

Kulin dalam film ini sama sekali keluar dari maskulinitas yang lazim ditemui dalam film Indonesia. Ketika dibandingkan dengan karakter-karakter film Visinema lain—kebanyakan diperankan Chico Jericho dan Rio Dewanto—Mas Kulin sama sekali berbeda. Ia lebih mirip dengan pria karakter utama film drama Korea dan di beberapa kesempatan sengaja diletakkan dalam perbatasan konvensi antara laki-laki dan perempuan. Misalnya, dengan penggunaan pakaian berwarna pastel atau memakai baju milik Oma, nenek dari temannya, Kibo (Calvin Jeremy).

Film ini tampaknya memang sedang bermain-main dengan kriteria-kriteria itu. Dalam cerita aslinya, Bu Suk digambarkan sebagai seorang perempuan yang sangat maskulin, sedemikan rupa sehingga membuat ia dipandang sama sekali tidak cantik. Dalam film, ia diperankan oleh Iis Dahlia, penyanyi dangdut yang memiliki kumis sangat tipis. Sekalipun tidak sepenuhnya membolak-balik kriteria maskulin-feminin, casting film ini terasa menjadi sebuah parodi halus bagi kriteria-kriteria ukuran fisik tentang maskulinits, feminitas, ketampanan, dan kecantikan. Permainan terhadap kriteria-kriteria maskulinitas ini sangat mencolok, membuat film ini menjadi semacam parodi bagi maskulinitas (beserta insecurity mereka) dan lad culture yang biasanya tampil terang-terangan dalam film-film Visinema.

Parodi Lad Culture

Hari pertama sekolah, Kulin tiba dibonceng kakaknya. Sampai di sekolah, SMA Horridson—sekolah yang mengerikan—ia tak mau melepas helmnya karena tak mengerti seperti apa sesungguhnya dunia yang harus ia hadapi. Sepanjang hidupnya ia tak berinteraksi dan tak mengenal kehidupan sosial, dan yang ia pahami hanya melindungi sekitarnya dari akibat yang tak diduga jika ia melepas helm. Selama ini yang ia ketahui, jika wajahnya terlihat orang di ruang terbuka, sesuatu yang buruk terjadi.

Karena sekolah itu sekolah khusus cowok, sejak awal ia sudah diperkenalkan pada lad culture yang memang mengerikan. Dalam dunia penuh hormon testosteron yang baru berkembang seperti itu, sejak semula Kulin merasa tak punya tempat dan ia segera dirundung sejak hari pertama.

Namun, para perundungnya itu punya kepentingan terhadapnya. Kulin dianggap bisa menjadi utusan untuk mengirim proposal ke SMA BBM (Brain Beauty Manner), sekolah khusus perempuan untuk mengadakan pesta prom bersama. Para pengutusnya adalah gang 3-Tak yang dipimpin oleh Sidi (Dimas Danang).

Kulin tak terima perundungan itu. Sebagai seorang yang berasal dari generasi yang politically corret, ia pun mengadu ke kepala sekolah, lengkap dengan penjelasan soal jenis perundungan yang ia alami. Namun, ternyata kepala sekolah (Unang) tak bisa apa-apa, karena… ia adalah ayah Sidi! Ia minta agar Sidi dikasihani lantaran sengaja tak meluluskan diri karena terobsesi pada soal prom bersama itu. Ternyata, sekolah yang seharusnya merupakan lembaga yang melindungi anak-anak yang lemah, tak berdaya berhadapan dengan hubungan-hubungan istimewa anggotanya. Ketakutan Kulin akan dunia luar yang tak aman pun terbukti.

Gaya bercerita yang tidak realis seperti ini merupakan penyegaran dalam sinema Indonesia. Pendekatan komedi memberi lisensi bagi cara bercerita seperti ini, misalnya pada adegan ini: Kepala Sekolah SMA Horridson sangat marah ketika mendapati bahwa Kulin bersikeras agar pelaku perundungan terhadapnya ditindak. (Foto: Terlalu Tampan, Visinema)

Namun, saat dirundung itu, Kulin bertemu dengan Kibo, anak kribo baik hati yang banyak senyum. Kibo termasuk korban rutin rundungan gang 3-Tak dan ia segera simpati pada Kulin yang tiba-tiba mendapatkan ancaman kekerasan di hari pertamanya di SMA Horridson. Tak salah jika SMA itu diberi nama “horrid” oleh pembuat cerita, lantaran lad culture seperti yang diperlihatkan oleh gang 3-Tak memang mengerikan, dan kepala sekolahnya setengah terang-terangan mendukung perilaku demikian. Ini sebuah pernyataan penting film ini: lad culture bisa jadi sesuatu yang mengerikan dan institusi seperti sekolah ikut melanggengkan dan mereproduksinya.

Lalu, berangkatlah Kulin beserta Kibo ke SMA BBM membawa proposal. Kulin tentu memakai helmnya mengingat SMA BBM adalah sekolah khusus perempuan. Terbayang risiko apa yang akan terjadi seandainya ia membuka helm itu. Namun, karena didesak, ia tak bisa mengelak lagi, dan dibukalah helm itu.

Yang terjadi adalah salah satu puncak gaya estetika norak (yang berhasil) dalam film Indonesia. Efek khusus dan penyuntingan memperlihatkan salah satu momen paling corny yang mungkin pernah diniatkan untuk dibuat oleh pembuat filmnya–dengan hasil yang optimal. Cahaya yang memancar dari wajah Kulin dan ledakan bom nuklir yang menyertainya menegaskan magnitude masalah yang begitu besarnya, sekaligus persiapan buat parodi terhadap satu hal penting dalam budaya massa di Indonesia: histeria terhadap ketampanan.

Histeria Massa

Kegantengan Kulin membuat kehebohan luar biasa di SMA BBM, menyebabkan banyak siswa perempuan harus dibawa ke rumah sakit, atau kejang-kejang bagai kesurupan. Efeknya begitu besar sampai media televisi melaporkan peristiwa tersebut.

Ini bukan sesuatu yang mengejutkan, karena histeria macam ini terjadi di kehidupan nyata. Contoh: saat media dan sosial media menemukan polisi ganteng saat penyerbuan teroris di jalan MH Thamrin Jakarta tahun 2016. Dengan jitu, Terlalu Tampan memparodikan hal semacam itu, serta kesigapan media dalam menampilkan kecantikan atau kegantengan subjek berita mereka (atau objek?) tanpa malu-malu, baik untuk berita-berita yang serius seperti terorisme di atas, atau sekadar tukang mi ayam cantik. Kegantengan atau kecantikan bisa menjadi sampiran peristiwa yang dieksplotasi terus-menerus oleh media. Bahkan, sering kecantikan dan kegantengan itu sendiri yang jadi berita, tidak perlu terkait dengan peristiwa apa-apa.

Pemujaan orang akan ketampanan dan kegantengan ini menimbulkan sistem kasta tersendiri. Jika di SMA Horridson ada Kulin, maka di SMA BBM ada Amanda (Nikita Willy), yang dijuluki terlalu cantik. Keberadaan Amanda ini, menurut Sidi, menyebabkan SMA BBM menolak terus undangan SMA Horridson untuk prom gabungan selama beberapa tahun terakhir. Bisa diduga karena tak ada yang pantas mendampingi Amanda dari SMA Horridson untuk momen penting itu.

Sepanjang film, Amanda selalu ditampilkan bagai seorang aristokrat. Ia selalu dalam posisi dilayani, ditemani asisten pribadi yang mengelola jadwal dan menerima telepon untuknya. Ia bahkan menjadi model yang berdandan bagaikan seorang putri untuk dilukis oleh beberapa orang (teman sekelasnya?). Amanda adalah perwujudan aristokrasi baru Jakarta yang memadukan kekayaan dan kecantikan. Keduanya bermuara pada kekuasaan yang bisa ia jalankan dalam berbagai kesempatan, bukan hanya kepada pegawainya (atau pegawai orang tuanya, tidak dijelaskan), tapi juga kepada Sidi dan kawan-kawan yang mengaguminya.

Amanda adalah bagian dari kelompok aristokrasi yang terbentuk karena gabungan kemampuan ekonomi dan penampilan fisik, sementara murid-murid lain adalah rakyat biasa yang memujanya. Hanya si terlalu tampan, Kulin, yang mampu menjadi pengimbang bagi Amanda. (Foto: Terlalu Tampan, Visinema)

Hanya Kulin yang mampu mengimbangi Amanda karena berasal dari kasta yang sama. Ia adalah si terlalu tampan yang berasal dari keluarga yang tinggal di rumah dipenuhi sinar matahari tropis, ruang tengah yang luas, dan ring basket di halaman.

Kasta ini beroperasi dengan jelas karena kecantikan dan ketampanan adalah mata uang penting untuk meningkatkan leverage, mendapatkan layanan khusus atau perhatian yang tak henti datang. Bagi Kulin, itu semua adalah siksaan, tapi bagi kakaknya Okis, misalnya, itu adalah sumber daya yang bisa ia manfaatkan. Dan film ini adalah sebuah parodi terhadap kultur semacam itu dan histeria yang mendukungnya.

Kritik terhadap Lembaga Mapan

Terlalu Tampan menggambarkan bahwa eksploitasi ketampanan juga bisa datang dari keluarga sendiri. Ketenaran mendadak Kulin mendatangkan perhatian berlebihan. Para perempuan, terutama anak-anak SMA BBM, berdatangan ingin melihat langsung rumah dan kamar Kulin. Pak Archewe memanfaatkan momen itu dengan menjual tiket masuk ke rumah mereka seharga Rp35.000 per orang!

Malam hari setelah Kulin membuat kehebohan di SMA BBM, rumahnya segera berubah menjadi arena sirkus. Bu Suk menyajikan minuman, dan Mas Okis memanfaatkan dengan menjual buku rayuan yang ditulisnya. Kulin melihat itu di sebuah TV yang dijual di toko elektronik bernama Toko Gagah (!) dan ia segera mengalami pukulan besar dalam hidupnya. Dalam sehari saja, apa yang selama ini ia percayai dan ia anggap sebagai ruang dirinya diterima apa adanya, ternyata berantakan semua. Ruang aman satu-satunya hancur berantakan. Kulin pun kecewa berat.

Kekecewaan ini membuat Kulin pergi ke atap sebuah gedung tinggi, seperti akan melompat bunuh diri. Tak sengaja, helm yang dipakainya seharian terjatuh, membuat wajahnya terbuka. Saat itulah ia melihat seorang anak SMA BBM yang sedang melihat ke arahnya sambil mengejeknya. Yang membuat Kulin terkejut adalah: anak itu, yang kemudian ia tahu bernama Rere (Rachel Amanda), tidak terpengaruh oleh ketampanannya. Saat itulah Kulin merasa bahwa ternyata ada orang di dunia yang bisa menerimanya apa adanya. Jika selama ini ia anggap hanya keluarganya yang bisa begitu, ternyata ada orang lain! Kulin pun jatuh cinta, atau ia anggap itulah yang terjadi pada dirinya.

Namun, peristiwa di atap gedung ini tidak menyelesaikan masalah Kulin malam itu. Ia lantas memutuskan untuk menghubungi Kibo dan meminta menginap di rumahnya. Kibo, si anak baik hati, bersedia menampung Kulin di kamarnya. Kibo sendiri ternyata tinggal bersama Oma (Ratna Riantiarno), dan tidak tampak kedua orang tuanya di sana—dan tidak dijelaskan apakah mereka ada atau tidak. Dan Kibo digambarkan sebagai anak yang tidak khawatir dan berpembawaan tenang, murah hati, dan murah senyum. Ternyata tidak perlu “keluarga lengkap” untuk menjadi anak remaja yang besar hati, ramah, dan baik budi seperti itu.

Keluarga Kibo hanya ada Kibo dan neneknya. Orang tuanya tidak ada dan tidak dijelaskan. Namun, ini tidak menghalangi Kibo menjadi anak yang ramah, murah senyum, dan merasa diri aman dan nyaman. Di hari sebelumnya, Kulin yang selama ini hidup di keluarga ideal (ibu, ayah, kakak, dan tinggal di rumah yang jauh lebih mewah daripada Kibo) baru saja merasakan bahwa keluarga ideal itu tidak bisa dipercaya lantaran memanfaatkan keterkenalannya yang datang tiba-tiba. (Foto: Terlalu Tampan, Visinema)

Sebaliknya, Kulin menghadapi guncangan besar akan fakta bahwa ia ternyata tak bisa mempercayai keluarganya, yang selama ini ia anggap ideal. Sejak awal film, kita lihat keluarga heteroseksual monogamis Pak Archewe dan Bu Suk tampil seperti keluarga ideal Jakarta. Rasa sayang mereka juga menguar-uar dalam berbagai bentuk kepada Kulin, termasuk kamar tidur yang mewah dan berbagai benda mahal seperti model kapal selam Yellow Submarine serta poster proklamator Mohammad Hatta sebesar dinding. Namun, ternyata mereka mengambil untung dari ketampanan Kulin saat ada kesempatan. Keluarga heteroseksual (ibu-ayah) ternyata tidak menjadi jaminan untuk sebuah keluarga yang ideal. Bahkan, keluarga yang “tak lengkap” sebagaimana keluarga Kibo justru menjadi keluarga yang hangat, penuh kasih sayang, memberi perlindungan, dan Kibo tetap tumbuh menjadi anak yang percaya diri.

Kulin jelas membutuhkan ruang aman bagi dirinya karena selama ini ia merasa ruang luar rumah adalah ruang tidak aman baginya. Pengalaman di sekolah juga membenarkan anggapannya itu. Hal pertama yang ditemui di sekolah adalah territorial pissing yang dilakukan oleh Sidi, pemimpin gerombolan di dalam lad culture yang tumbuh subur di sekolah khusus laki-laki. Ketika Kulin minta perlindungan sekolah sebagai institusi, ternyata perlindungan itu juga tidak ada, dikalahkan oleh budaya nepotisme yang sudah mengakar dan didukung oleh kekuasaan.

Bagi saya, insitusi-institusi mapan orang dewasa ini sebenarnya sedang dikritik oleh film Terlalu Tampan. Mengingat bahwa tokoh utamanya adalah anak remaja yang awkward secara sosial dan membutuhkan perlindungan, maka sesungguhnya parodi yang dibawa oleh Terlalu Tampan berhasil memperlihatkan problem antar-generasi (intergenerasional) di mana institusi-institusi dewasa tidak mampu menyediakan ruang aman bagi anak yang tergolong rentan (vulnerable) dan tertekan seperti Kulin. Kulin yang merasa dirinya perlu diterima apa adanya, ternyata tidak bisa mendapatkan hal itu. Di rumah Kibo lah Kulin menemukan ruang aman itu. Dari sini, tergambar hal terpenting film ini: pembelaan pihak tertindas lewat solidaritas dan persahabatan, dan bukan dengan mengedepankan mentalitas korban.

Pada keluarga Kibo, Kulin menemukan tempat berlindung, tempat mengadu dan penerimaan. Akhirnya pada pertemanan seperti inilah yang sungguh-sungguh berhasil menyediakan ruang aman itu, bukan institusi-institusi yang didefinisikan dan dioperasikan (secara opresif) oleh orang dewasa.

Hubungan Heteroseksual

Tapi, hubungan solidaritas Kulin-Kibo ini kemudian terganggu oleh satu fakta penting: Kibo ternyata suka pada Rere, satu-satunya perempuan (selain Bu Suk dan Oma) yang tak terpengaruh oleh ketampanan Kulin. Sementara bagi Kulin, ia butuh penerimaan diri apa adanya sehingga Rere menjadi orang yang istimewa baginya. Terjadilah semacam cinta segitiga antara Kulin-Rere-Kibo. Dengan cerdas ini dimetaforkan dalam bentuk telenovela yang ditonton oleh Oma di rumah Kibo.

Dilema cinta segitiga ini memang milik trope film-film remaja, dan pemecahannya menjadi bagian dari konflik utama. Masalah ini kemudian mendominasi cerita. Karena di mata Rere ketampanan Kulin tak ada harganya, maka Kulin tak berdaya. Padahal ia merasa membutuhkan Rere dalam hidupnya, bahkan mengabaikan fakta bahwa manusia teman satu-satunya, Kibo, menyukai Rere.

Kulin mencoba mendekati Rere yang disukai oleh sahabatnya, Kibo, padahal mereka bisa tetap menjadi tiga sahabat. Namun, Kulin yang sejak kecil disosialisasikan hubungan heteroseksual oleh kakaknya, Okis, hanya bisa melihat penerimaan terhadap dirinya sebagai rasa cinta yang harus diwujudkan dalam bentuk hubungan romantis. (Foto: Terlalu Tampan, Visinema)

Kulin lalu memutuskan berjumpa kakaknya, Okis, dan mendapat berbagai nasihat serta membaca buku karangan Okis guna menarik hati Rere. Namun, apa daya, segala upaya Kulin tak mempan karena ia datang belakangan dalam hubungan segitiga itu. Kibo sudah kenal Rere lebih dulu dan hubungan mereka sebagai teman sudah berkembang sedemikian rupa sehingga Kibo tahu makanan kesukaan Rere, kebiasaan kecil, hingga zodiaknya. Kibo juga sama sekali tak menampakkan tanda-tanda insecure di hadapan Rere, tak keberatan tampil bodoh, atau kelihatan tak punya uang. Padahal, syarat-syarat itu ditekankan sekali oleh Okis kepada Kulin kalau ingin memenangkan hati perempuan. Dengan penyuntingan yang menggabungkan cut-to-cut antara penjelasan Okis dan bagaimana nasihat itu dijalankan oleh Kibo, kita tahu bahwa Kulin hanya bisa jadi penonton dalam hubungan segitiga ini.

Lalu, Kulin mendapat pencerahan di buku Okis: 99,9% pendekatan akan berhasil saat sang perempuan sedang menangis. Okis ternyata mengajarkan orang mengambil manfaat dari orang yang sedang dalam kondisi rapuh—sesuatu yang sebenarnya berpeluang untuk membangun hubungan yang tidak sehat dalam jangka panjang.

Bayangkan bahwa kemudian Kulin—seorang anak pemalu dan awkward sepanjang hidupnya—lalu mengatur sedemian rupa cara untuk membuat Rere menangis agar meningkatkan peluangnya menjadikan Rere sebagai pasangannya. Apakah ia tak bisa melihat hubungan antar manusia lebih luas dari hubungan-hubungan romantis dan berpasang-pasangan heteroseksual?

Bagi saya, inilah gambaran betapa sosialisasi heteroseksual berakibat buruk pada Kulin. Setiap hari setiap saat, Okis selalu “menyodor-nyodorkan cewek kepada Kulin” dan bergiat mendidik sang adik untuk menjadi laki-laki heteroseksual. Akibatnya, pandangan heteronormatif itulah yang ada dalam diri Kulin. Bahkan penerimaan sekecil apapun—seperti yang diperlihatkan Rere di atap— disimpulkan sebagai tanda cinta, dan harus ditindaklanjuti untuk membangun hubungan romantis heteroseksual. Kulin tak bisa melihat bahwa hubungan dengan Kibo (dan Rere sebagai teman) jauh lebih berharga daripada hubungan romantis dengan Rere. Apalagi, untuk mencapai tujuan hubungan romantis itu ia memulainya dengan merancang konspirasi licik.

Kulin melakukan konspirasi bersama Amanda untuk menyakiti Rere. Ia datang ke ulang tahun sang putri aristokrat ini, tapi membuat kesepakatan. Amanda harus mencium Kibo di depan Rere, dengan tujuan agar Rere merasa dikhianati oleh Kibo. Dan benar: di luar dugaan semua orang, Amanda mencium Kibo di depan semua orang di pesta ulang tahunnya. Semua orang terkejut, tentu kecuali Amanda dan Kulin yang sudah merencanakan itu. Seperti diduga, Rere kemudian meninggalkan pesta berlari sambil menangis merasa dikecewakan oleh Kibo. Kulin mengejarnya, sembari mengabaikan Kibo yang menjadi sasaran kemarahan gang Sidi yang tiba-tiba disadarkan bahwa di luar soal kekerasan, mereka adalah pecundang yang bahkan kalah dengan mudah oleh Kibo yang mereka rundung setiap hari.

Rere merasa dikecewakan oleh Kibo. Katanya, ia menyangka Kibo tidak seperti cowok kebanyakan dan tak mengejar kecantikan semata-mata. Kulin mengambil kesempatan, tentu dengan tagline yang kerap dikatakan oleh laki-laki yang setiap kali disudutkan agenda anti-patriarki: “tidak semua laki-laki begitu kok, aku contohnya”. Lalu ia memeluk Rere (yang menyambut dengan kebingungan—akting yang meyakinkan dari Rachel Amanda) dan menyatakan bahwa ia menyukai Rere, untuk disambut dengan penolakan halus oleh Rere. Rere ingin berteman saja.

Jadi, untuk apa Kulin mengkhianati Kibo? Ia membuat Kibo dipukuli sampai babak belur oleh geng Sidi. Ia juga masih tinggal di rumah Kibo, satu kamar dengannya. Apalagi, episode di telenovela terasa tambah menyindir Kulin, sedemikian rupa sehingga Kulin melihat salah satu tokoh berubah wajahnya menjadi wajah Kibo. Belum cukup, Kibo memberinya hadiah sebagai tanda persahabatan mereka. Rasa bersalah Kulin memuncak sehingga ia kemudian mengaku kepada Kibo mengenai konspirasi yang ia lakukan bersama Amanda. Terbayangkanlah marahnya Kibo.

Kelokan cerita ini menghadirkan tantangan kreativitas berupa penyelesaian konflik. Bagaimana Kulin bisa mengembalikan kepercayaan dua orang teman dekatnya? Lewat sebuah cara yang cukup unik, akhirnya Kulin berhasil melakukannya. Di saat itu juga, Rere berhasil mengetahui perasaan Kibo kepadanya. Tinggal Kulin yang harus membayar utang kepada Amanda untuk berpasangan dengannya pada malam prom gabungan. Cerita berakhir dengan damai untuk urusan mereka bertiga. Pada malam prom, Rere dan Kibo (dua orang indie anti-mainstream) berpasangan, sementara Kulin dan Amanda (dua orang aristokrat mainstream Jakarta) berpasangan, sekalipun bagi Kulin ini hanya formalitas untuk pertukaran jasa Amanda mencium Kibo di pesta ulang tahun.

Ruang Aman versus Zona Nyaman

Lantas, bagaimana dengan keluarga Kulin, yang awalnya digambarkan sebagai keluarga ideal yang melindungi anak-anak tapi kemudian mengomersialkannya? Komersialisasi ini tentu dimaksudkan sebagai efek komedik, tapi ini mengakibatkan hilangnya kepercayaan Kulin terhadap rumah dan keluarga, institusi yang memberinya ruang aman untuk diterima apa adanya—atau ‘normal’ dalam bahasa Kulin. Belakangan, Bu Suk akhirnya menjelaskan bahwa sesungguhnya keluarganya hanya ingin memberinya pelajaran berharga berupa dunia luar. Menurut Bu Suk, hanya melalui pengalaman dunia luar lah Kulin bisa mendapatkan pengalaman sejati untuk mengenal apa itu cinta dan kasih sayang, sekalipun penuh risiko. Bagi keluarga, terutama seorang ibu seperti dirinya, ini berarti kehilangan kesempatan melihat momen-momen penting dalam kehidupan anaknya sendiri—sesuatu yang sangat besar artinya bagi orang tua.

Satu hal yang luput dikatakan Bu Suk adalah betapa tidak seimbangnya hal yang harus dialami kedua pihak. Risiko pada pihak Kulin sangat nyata—termasuk risiko fisik dipukuli, kemungkinan bunuh diri, dan kehilangan satu-satunya ruang aman yang ia tahu sepanjang hidupnya yang bernama rumah dan keluarga.

Maka, apakah perlu ada pertentangan antara ruang aman dan ruang pengalaman hidup seperti digambarkan di sini? Apakah ruang aman bernama keluarga bisa didefinisikan—seperti kata Bu Suk—sebagai zona nyaman? Pendefinsian ini berpeluang untuk keliru karena sebetulnya yang dialami oleh Kulin adalah perasaan bahwa ia “tidak normal”, diobjektifikasi karena berada di luar ukuran-ukuran konvensional masyarakat. Sepanjang hidupnya, ia mendapat perhatian yang tak ia inginkan yang membuatnya jadi terkucil, kehilangan kepercayaan diri dan kemampuan mengembangkan hubungan-hubungan sosial yang wajar. Maka, yang ia butuhkan adalah ruang aman, baik di rumah, sekolah atau di manapun, bukan dilepas untuk mengalami kerasnya dunia dengan risiko yang sangat nyata.

Terlalu Tampan dimulai dengan berbagai ungkapan yang menggugat kriteria-kriteria mapan maupun institusi-institusi dewasa yang dianggap alamiah. Namun, akhirnya harus kembali pada pandangan lama yang terus menerus direproduksi dalam kebanyakan film-film Visinema: idealisasi keluarga dan hubungan heteroseksual. Pemutarbalikan kriteria maskulin dan parodi terhadap lad culture sudah berhasil menghadirkan gangguan yang menarik terhadap pandangan konservatif yang terus dipelihara institusi-institusi mapan. Kemungkinan sudah dibuka. Namun, sayang bahwa peluang untuk menghadirkan gagasan-gagasan berbeda harus berakhir dengan promosi hubungan heteroseksualitas romantis dan dorongan untuk ‘man-up’ dari keluarga ketimbang promosi untuk menyediakan dan memperluas ruang aman bagi pihak-pihak yang rentan. ***

Artikel ini merupakan bagian dari buku tentang Visinema yang ditulis atas permintaan berbayar Visinema kepada penulis dan ditulis dengan mempertahankan independensi penulis.