Urgensi Membaca Buku Diverse

urgensi membaca buku diverse

Suatu pagi, saya membuka nominasi Goodreads Choice Awards yang biasa diadakan menjelang akhir tahun. Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, buku-buku yang masuk ke dalam nominasi Goodreads Choice Awards memiliki unsur diversitas. Banyak dari buku-buku diverse tersebut ditulis oleh penulis marjinal.

Perubahan nominasi Goodreads Choice Awards membuktikan bahwa pasar sudah berubah. Pembaca mulai menyuarakan urgensi penerbit untuk merilis buku-buku yang menghadirkan representasi diversitas, serta buku-buku yang ditulis oleh penulis marjinal.

Untuk pembaca yang tidak mempedulikan representasi diversitas dan latar belakang penulis ketika memilih suatu buku, buku-buku ini sekilas terlihat sama. Namun, kategori diverse books hadir untuk mengangkat suara-suara kelompok yang marjinal yang kurang mendapatkan visibilitas dalam medium arus utama.

Apa yang membuat buku menjadi diverse?

Sebuah buku dapat dikatakan diverse jika buku tersebut memiliki  keragaman; seperti tokoh dengan latar belakang dan identitas marjinal (ras dan etnis minoritas, kelompok LGBT), memiliki keragaman budaya dan agama, serta tokoh penyandang disabilitas, penyakit kejiwaan, atau autisme. 

Buku diverse mengangkat pengalaman dari kaum minoritas. Ciri-ciri lainnya adalah ketika sekelompok individu yang terdapat di dalam buku tersebut merasa melihat diri mereka sendiri di dalam buku itu.

Meski demikian, tidak sembarang buku yang memiliki unsur diversitas dapat dikatakan sebuah buku diverse. Dua buah buku memiliki unsur-unsur diversitas, namun hanya satu yang dapat disebut sebagai diverse, sebab buku yang lain justru mempromosikan tokenisme yang justru berbahaya bagi kelompok marjinal.

Diversitas versus tokenisme

Saya percaya bahwa semua penulis dapat menulis buku dengan mengikutsertakan tokoh-tokoh dari kelompok marjinal, seperti yang dijelaskan dalam artikel Beragamnya Karakter Ciptaan: Perlukah Pengarang “Mengalami” Hidup Karakternya?. Namun, apa penulis dapat menuliskan tokoh-tokoh ini dengan baik?

Yang sering terjadi dari buku-buku yang saya baca adalah intensi penulis untuk menyertakan diversitas menjadi bumerang kepada penulis tersebut. Kurangnya riset dan kepekaan terhadap identitas dan isu yang dialami oleh kelompok marjinal dapat membuat buku yang memiliki keragaman tokoh menjadi sebuah tokenisme. 

Berbeda dari diversitas yang mengangkat kelompok marjinal, tokenisme adalah upaya simbolis dalam bentuk merekrut atau menyertakan individu dari kelompok marjinal ke ruang publik agar terhindar dari tuduhan melakukan diskriminasi. Di dalam dunia literasi, keberadaan tokoh-tokoh dari kelompok marjinal digunakan hanya untuk mengisi ruang di antara tokoh-tokoh mayoritas.

Salah satu contoh dari fenomena ini adalah trope gay best friend; sebuah cerita klise yang menggambarkan karakter gay sebagai sahabat si karakter utama. Ia tidak memiliki latar belakang atau kepribadian karena tujuan utamanya hanya untuk menunjukan bahwa si karakter utama tidak homophobic karena memiliki sahabat seorang homoseksual. Identitas dan latar belakang tokoh ini tidak memberikan hal signifikan terhadap plot serta nihil penggambaran kompleks bagaimana tokoh ini menjadi karakter yang kuat.

Seberapa urgen membaca buku dengan unsur diversitas?

Di tengah-tengah dunia literasi yang didominasi oleh kaum mayoritas dengan praktik diskriminasi dan bias terhadap kelompok marjinal, membaca buku-buku diverse bisa menjadi perlawanan terhadap praktik-praktik yang disebabkan oleh keseragaman. Buku-buku berunsur diversitas tidak hanya ditulis untuk kelompok minoritas, melainkan untuk pembaca dari kelompok mayoritas juga.

Berikut alasan-alasan penting membaca buku diverse.

  1. Menjadikan buku sebagai jendela dan cermin 

Penulis Rudine Sims Bishop dalam esainya Mirrors, Windows, and Sliding Glass Doors menjelaskan bahwa buku dapat menjadi jendela dan cermin. Seperti pepatah antik buku adalah jendela dunia, medium ini mengenalkan dan mengajarkan kita tentang perspektif dan kondisi dunia yang berbeda dari kita. Sedangkan buku menjadi cermin adalah ketika kita dapat melihat refleksi diri sendiri pada buku yang dibaca. 

Membaca buku diverse berarti mengaplikasikan kedua fungsi buku. Apabila kita hanya menjadikan buku sebagai jendela saja, atau cermin saja, kita hanya akan mendapatkan satu perspektif sesuai dengan apa yang tertulis pada buku-buku tersebut. 

Melihat diri sendiri di dalam buku dapat meningkatkan kesadaran diri bahwa kita berharga dan memiliki nilai di masyarakat. Pun akan terbentuk perasaan bahagia dan bangga ketika membaca tokoh yang memiliki banyak kemiripan dengan diri kita. 

Begitu pula dengan membaca buku dengan tokoh dari kelompok marjinal atau dengan budaya yang berbeda dari kita. Tanpa kita sadari, kita memiliki bias terhadap suatu kelompok yang terbentuk dari bagaimana lingkungan dan masyarakat memperlakukan kelompok tersebut. Kehadiran buku diversitas dapat menghilangkan segala stereotip yang dimiliki suatu kelompok marjinal, serta mengubah perspektif dan bias yang kita miliki terhadap kelompok tersebut.

  1. Membangun ruang aman untuk pembaca

Komunitas buku dibentuk sebagai ruang aman untuk para pembaca. Akan tetapi, menjadikan komunitas ini inklusif merupakan pekerjaan rumah setiap pembaca. Jika hanya membaca buku yang hanya merepresentasikan satu komunitas dan budaya, komunitas yang inklusif dan anti-diskriminasi tidak akan tercapai.

Membaca buku dengan unsur diversitas dapat menyatukan pembaca terlepas dari perbedaan yang mereka miliki. Rasa empati yang terbangun akibat membaca buku diverse membuat kita lebih sadar dan peka terhadap isu serta pengalaman yang dimiliki oleh teman pembaca kita. Dengan begitu, buku diverse hadir untuk menghilangkan pengotak-ngotakan yang terbentuk berdasarkan identitas masing-masing pembaca. 

  1. Meningkatkan kesadaran akan isu-isu yang terjadi di dunia

Banyak penulis dari kelompok marjinal menyelipkan isu-isu yang terjadi di komunitas atau negaranya pada buku-buku yang mereka tulis. Penulis bisa saja mengkritik atau membuat tokoh-tokohnya terkena dampak dari isu-isu tersebut.

Saya mengambil contoh The Majesties karya Tiffany Tsao yang menyebut dampak krisis moneter dan kerusuhan Mei 1998 terhadap keluarga tokohnya. Dengan menyertakan krismon sebagai latar belakang, pembaca yang mungkin belum familiar dengan dua kejadian ini pun dapat teredukasi dan menambah wawasan mereka.

  1. Penerbit perlu terus menerbitkan buku-buku diverse 

Penerbitan adalah bisnis yang memproduksi barang sesuai permintaan pasar. Apabila pasar terus membaca buku-buku dengan unsur diversitas yang kaya akan representasi, tentunya penerbit akan merilis lebih banyak buku-buku seperti itu. Penulis dari kelompok marjinal pun akan mendapatkan kesempatan untuk menyuarakan pikiran-pikiran mereka, sedangkan pembaca bisa melihat dirinya terepresentasi di dalam buku-buku yang dibaca. 

“Pada dasarnya, buku-buku diverse memiliki fungsi untuk mengangkat suara-suara kelompok marjinal serta menciptakan ruang aman di dunia literasi.”

Bagaimana kondisi buku diverse saat ini?

Kemunculan buku-buku  berunsur diversitas bukanlah fenomena baru. Munculnya gerakan-gerakan yang mengajak pembaca untuk mulai membaca buku diverse membuat buku-buku ini mendapatkan popularitas di kalangan pembaca. Namun, apakah kehadiran buku-buku diverse sudah cukup signifikan?

Berdasarkan data dari The Cooperative Children’s Book Center (CCBC) tahun 2019, persentase buku diverse untuk anak-anak dan remaja muda yang diterbitkan di Amerika Serikat masih cukup rendah. 11,9% buku yang diterbitkan memiliki tokoh utama kulit hitam, 9,2% memiliki tokoh utama kulit coklat (tidak memiliki ras spesifik), 8,7% memiliki tokoh utama Asia/Asia-Amerika, 5,3% memiliki tokoh utama Latinx (orang-orang Amerika Latin), 1% memiliki tokoh utama Native American/First Nation, serta 0,05% memiliki tokoh utama Penduduk Pasifik. Angka ini masih jauh lebih kecil ketimbang buku-buku dengan tokoh utama kulit putih (41,8%). Sedangkan buku dengan tokoh utama LGBT memiliki persentase 3,1% dan buku dengan tokoh penyandang disabilitas memiliki persentase 3,4%. 

Sayangnya, saya belum berhasil menemukan data konkrit perihal kondisi buku-buku diverse di Indonesia. Akan tetapi, dengan munculnya beberapa buku karya pengarang dalam negeri dan terjemahan dengan unsur ras, etnis, seksualitas, dan disabilitas di toko-toko buku lokal menunjukan bahwa penerbitan di Indonesia perlahan-lahan menghadirkan representasi diversitas pada buku-buku yang mereka riliskan. Jika berbicara kondisi pembaca di Indonesia, berdasarkan survei kecil yang saya lakukan, 65,5% dari 264 responden sangat minat membaca buku diverse. 

Meskipun buku-buku diverse semakin banyak diterbitkan dan dibaca, kita masih memiliki pekerjaan rumah untuk meningkatkan kesadaran masyarakat untuk terus membaca buku-buku diverse. Di bawah ini beberapa rekomendasi untuk mulai membaca buku diverse.

  • “Monday’s Not Coming” karya Tiffany D. Jackson (memiliki tokoh kulit hitam dan penyandang dyslexia)
  • “The Weight of Our Sky” karya Hanna Alkaf (memiliki tokoh Muslim-Malaysia, China-Malaysia, dan penyandang OCD)
  • “Na Willa dan Rumah dalam Gang” karya Reda Gaudiamo (memiliki tokoh China-Indonesia)
  • “Sala Dewi” karya Emil Amir (memiliki tokoh LGBT dan Indonesia Timur)
  • “Ayesha at Last” karya Uzma Jalaluddin (memiliki tokoh Muslim-Kanada)
  • “Gadis Minimarket” karya Sayaka Murata (memiliki tokoh Jepang)
  • “Aristotle and Dante Discover the Secrets of the Universe” karya Benjamin Alire Sáenz (memiliki tokoh Mexican dan bagian dari LGBT)
  • “The Song of Achilles” karya Madeline Miller (memiliki tokoh LGBT)
  • “Children of Blood and Bone” karya Tomi Adeyemi (memiliki tokoh Nigerian-coded)

Referensi:

Definisi buku diverse diambil dari diversebooks.org/about-wndb/

Ikram Kiranawidya
Seorang blogger dibalik readlogy.wordpress.com yang menyukai fiksi fantasi serta gemar memberikan rekomendasi di sosial media pribadinya. Saat ini tengah berkutat sebagai content writer di sebuah perusahaan swasta.